• Ikuti kami :

Meluka Demi Menjadi Malala atau Mandela: Tuduh Menuduh Sebagai Bentuk Keruwetan Diri (Pandangan Sambil Lalu)

Dipublikasikan Sabtu, 02 Desember 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Seringkali, dalam perdebatan bebas di macam-macam ruang, pendapat-pendapat beradu tak karuan. Ketika sebuah wacana hadir, selain penilaian dan komentar yang wajar, sering muncul pula penghakiman yang berlebihan. Banyak pihak ketika merasa ada pandangan yang agak aneh, si penyampai pandangan segera dihakimi sebagai liberal. Di sisi lain, jika ada orang yang terkesan mengusung pandangan-pandangan Islam, segera mendapat tuduhan menempatkan NKRI tidak dalam harga mati, menolak keberagaman, tekstual dan lain-lainnya.

Kegilaan untuk menuduh lawan bicara ini memang terus menjamur. Penghakiman-penghakiman begitu mudah terucap. Si A liberal, Si B Syiah, Si C radikal, Si D JIL, Si E munafik, Si F tak beradab, Si G dangkal, Si H PKI, Si I antipancasila, Si J tekstual dan seterusnya sampai Si Z aksen seratus. Kita seperti kecanduan untuk membagi segala sesuatu “di luar kita” dengan pembagian-pembagian yang acak-acakan. Kita tak mengenali yang di luar kita dengan tepat, mengkhayalkan secara keliru diri sendiri dan akhirnya tak memahami kenyataan dengan sebenar-benarnya.

Menuduh orang lain dangkal atau merendahkan orang lain, boleh jadi ialah cara untuk meninggikan diri sendiri. Ini semacam kesombongan yang berbelit-belit. Celakanya, orang lain melakukan hal yang sama untuk meninggikan dirinya: dengan merendahkan diri kita. Lantas kita melihat Si W (bukan inisial sebenarnya) merendahkan Si Q (bukan inisial yang sebenarnya juga) untuk menunjukkan dirinya lebih tinggi dari Si Q. Pun sebaliknya, Q merendahkan W untuk menyombongkan dirinya. Kelakuan dua makhluk ini dipertontonkan di muka umum dengan begitu menggemaskan. Celakanya kita simak pula. 

Keanehan lain yang muncul dari proyek saling tuduh ini ialah kebanggaan yang hadir dari masing-masing tertuduh. Dituduh liberal atau Syi’ah seringkali diseartikan dengan keberhasilan mengganggu kemapanan. Para tertuduh berlagak macam Malala yang dianggap melawan kebebalan Taliban dengan otaknya. Mereka bergaya macam para filsuf modern yang mempreteli dogma para agamawan. Nampak gagah dan melawan kemunafikan (di fikiran mereka sendiri dan teman-temannya). 

Demikian juga dalam hal diwahabikan atau diradikalkan. Ketika seseorang dituduh radikal atau wahabi, mereka merasa mengganggu Amerika Serikat dan para kroninya. Seolah Amerika terganggu dengan pikiran dan kegiatan mereka. Orang-orang ini membangun fikiran-fikiran di benak sendiri (biasanya dibumbui teori konspirasi) bahwa ia telah mengganggu kenyenyakan musuh-musuh.

Yang dituduh merasa berhasil mengganggu dan meresahkan penuduhnya. Lalu bertingkah macam ada di keadaan terancam dan melawan kekuatan maha dahsyat. Kita telah terjebak menjadi Rambo kecil yang telah disunat, melibas kekuatan angkara murka. Yang menuduh merasa berhasil membendung arus bahaya. Padahal cuma perang-perangan kata, membalah siapa yang lebih pinter, lebih NKRI, lebih Pancasilais, lebih Islami, lebih shaleh, lebih peduli, lebih progresif dan lebih harga mati. Kita sedang berebut lebih-lebihan tetapi merasa diri menjadi Mandela. Cuma dibilang kalah ganteng, kalah cantik, atau kalah laku, tapi lagaknya macam Malala. 

Boleh jadi kegemaran kita menuduh dan sekaligus mendudukkan diri dalam keadaan tertuduh ialah cara yang tak sehat untuk mengada di ruang terbuka. Dengan merengek-rengek di muka umum karena merasa dituduh sesat, radikal atau liberal, kita telah mengiba perhatian orang lain. Berposisi sebagai korban yang ditindas memang membuka peluang untuk menangguk empati. Di alam yang lebih mengedepankan perasaan belaka, menjadi korban bisa dimanipulasi menjadi berkah. Merengek ialah rekayasa yang tepat untuk mencari perhatian.

Dengan demikian kita terbang ke awan sebagai Mandela atau Malala. Beragam tuduhan kita gores-goreskan sendiri ke wajah sehingga manusia lain melihat kita terluka. Dengan keterlukaan yang kita goreskan sendiri itu, kita tangguk sekadar perhatian demi kekeringan jiwa yang tak tertahan. Kita telah menuduh dengan tidak wajar, dituduh dengan tidak wajar, terluka dengan tidak wajar, merasa dengan tidak wajar dan akhirnya hidup dalam ketakwajaran. Dalam ketakwajaran itu, kita menuduh orang lain pula.

Penuduhan terhadap sekian banyak orang menjadikan kita melihat sesuatu di luar kita menjadi gamang. Ketertuduhan yang disikapi dengan kekhawatiran dan khayalan berlebihan menjadikan kita kesulitan mengenali diri sendiri. Hal ini pula akan menjadikan kita menyandarkan keberadaan pada pandangan orang lain. Kita menjadi sangat bergantung pada ‘apa kata orang’. Ini akan menyibukkan kita pada kehendak untuk membuktikan diri di hadapan orang lain, atau membungkam fihak lain dengan merendahkannya. Kita menjadi berambisi untuk menunjukkan diri, sekadar untuk mengalahkan diri yang lain. Suatu keterlukaan hidup yang tegang dan tak berujung.

Akhirnya kita harus berhenti dari perilaku saling tuduh yang ruwet begini. Kita dapat membangun perbincangan yang lebih sehat, bukan saling stempel berdasarkan asumsi dan imajinasi masing-masing. Kita tak perlu lagi berebut kedirian di muka umum, sebab nafsu semacam itu hanya akan menutup kita dari kebenaran. Kita harus mencoba membangun kefahaman yang lebih baik. Menyaring kenyataan berdasarkan cara-cara yang benar, bukan beralas asumsi dan nafsu. Pun kita harus bersikap tepat pada fihak lain. Jangan asal tuduh, jangan asal merasa dituduh, tetapi bukan berarti tak punya sikap. Yang perlu kita lakukan ialah menata pengetahuan yang benar atas kenyataan (termasuk terhadap orang lain) dan kemudian bersikap benar berdasarkan pengetahuan itu. Yang baik kita akui sebagai baik, yang salah kita sikapi sebagai kesalahan. 

Tidak penting menjadi Malala atau Mandela. Yang penting kita kenali diri. Merengek di ruang umum mungkin menghasilkan sedikit simpati manusia. Akan tetapi, di atas segala pandangan manusia, ada Ilahi Robbi yang cinta-Nya tak pernah bertepi.

Lalu kenapa kita masih meluka dan menuduh untuk sekadar mencari perhatian orang lain? 


Tulisan Terkait (Edisi Pasca-Kebenaran)

IKLAN BARIS