• Ikuti kami :

Keadilan Warta Berita, Sudut Pandang Nasida Ria: Kajian Sambil Lalu atas Budaya Media Massa Masa Kini

Dipublikasikan Jumat, 05 Februari 2016 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Ratu dunia, ratu dunia, oh wartawan ratu dunia

Apa saja kata wartawan mempengaruhi pembaca koran

Hiruk pikuk kata-kata di media massa makin meriah dengan kehadiran media dalam jaringan. Kesertaan masyarakat (partisipasi publik) dalam dunia pewartaan semakin besar. Pembaca “hadir” dalam berita, mereka lebih terlibat dan memiliki kuasa lebih dari sekadar membaca. Pembaca berita masa kini dapat memberi komentar, bersikap, marah, memuji, dan mencuri-curi menyebarkan kepentingan pribadi pada sebuah berita. Lebih lanjut, orang-orang bisa membuat halaman berita sendiri, membuat kantor berita sendiri, dan menjadi wartawan secara mandiri.

Andai takaran keberhasilan sebuah berita itu adalah keramaian, tentu masa ini ialah masa ketika berita sering menjadi berhasil. Ramai sekali hari ini. Bukan hanya Kompas, Republika, Tempo, Media Indonesia, Harian Rakjat, Suara Masjumi, dan Berita Yudha yang hadir. Melainkan juga “Detak”, “Detik”, “Menit”, “Jam”, “Cimindi Pos”, “Tribun Rancaekek”, sampai “Warta Pondok Cina” semua bisa dan boleh hadir dengan nama semau mereka. Sesuka mereka. Semua kelompok, semua orang, semua pihak boleh membuat dan boleh merasa mampu membuat media, khususnya media dalam jaringan.

Lulusan dan jurusan apa pun atau tidak pernah lulus sama sekali pun bisa menjadi wartawan. Masalah kemampuan kewartawanan itu bisa diasah meski tak selalu menjadi tajam. Salah asah tetap tumpul. Membuat berita telah menjadi semacam hobi yang dibayar. Membuat berita telah tidak perlu memperhatikan etika. Menggarong, merampok, memotong-motong tulisan atau berita orang lain tak jadi masalah.

Perayaan kebebasan untuk turut serta dalam dunia kewartaan ini disokong pula oleh kehadiran media sosial. Orang-orang boleh menulis berita sendiri dan kemudian menyebarkannya sendiri di media sosial. Boleh merasa berhasil sendiri dan boleh merasa gagal sendiri. Bahkan boleh menentukan sendiri takaran mutu dan keberhasilan sebuah berita. PWI atau yang lain tak lagi bisa mencabut SIUP sebab media-media ini tak pernah memiliki SIUP. Banyak dari mereka yang tak pernah minta izin pada siapa-siapa untuk membuat situs berita apa saja. Media-media ini tak bisa diberedel. Apanya yang mau diberedel?

Hal ini bukan hanya disebabkan oleh sudah dibubarkannya Departemen Penerangan atau karena tak ada lagi pengawasan ketat dari unsur militer terhadap media massa. Tidak. Akhir-akhir ini tidak ada wartawan yang ditangkap, dipenjara, dan dicabut hak-hak kewartawanannya karena menggugat kekuasaan yang lalim. Tidak ada lagi Mochtar Lubis. Yang ada orang-orang saling somasi, saling melaporkan kepada pihak berwenang dengan alasan pencemaran nama baik hanya karena saling ejek di media sosial. Tidak ada kritik yang dibungkam sebagaimana tidak ada juga kritik yang didengarkan.

Penyebab utama dari semua itu ialah sudah makin usangnya dua baris pertama lirik lagu “Wartawan Ratu Dunia” yang didendangkan Nasida Ria pada zaman Oder Baru dahulu kala. Wartawan sudah semakin bukan lagi ratu dunia. Apa saja kata wartawan sudah tidak memengaruhi pembaca koran. Sebab, sekarang yang dibaca adalah media dalam jaringan. Koran-koran sudah kehilangan wibawanya. Majalah juga. Wartawan sudah tidak lagi punya takaran yang terukur tentang berita. Sebab, yang bukan wartawan bisa menjadi wartawan dan yang wartawan bisa berperilaku seperti bukan wartawan. Menjadi wartawan tak lagi menjadi semacam Mochtar Lubis atau Rosihan Anwar. Tuntutan harus cepat sering diutamakan daripada harus akurat. Terlalu banyak berpikir dan meramu kata adalah pemborosan. Para juragan media tidak lagi perlu ketepatan, ketidakberpihakan, apalagi keadilan dan kebenaran. Yang diperlukan sekarang ialah sebanyak-banyaknya dibaca orang agar menarik iklan.

Nilai-nilai kewartawanan dan harga diri sebuah berita di ambang kepunahan.

Bila wartawan memuji, dunia ikut memuji

Bila wartawan mencaci, dunia ikut membenci

Wartawan dapat membina, pendapat umum di dunia

ilustrasi media tanpa harga diri Media massa dengan orientasi keliru

Dendang merdu Nasida Ria itu benar dan hanya akan benar bila wartawan menyampaikan kebenaran—jika wartawan masih percaya kebenaran dan kenyataan bisa dikabarkan. Berapa banyak wartawan yang enggak ngejale hari ini? Berapa banyak wartawan yang yakin pada kebenaran? Benarkah masih ada media yang berdiri di kaki dan pikiran mereka sendiri dan terlepas dari kepentingan-kepentingan? Kita berharap harga diri sebuah berita tetap dijaga. Tapi siapa yang mau baca? Dan (yang lebih penting) siapa yang mau bayar?

Media-media yang tak punya harga diri bertumbuhan di sana-sini. Berita-berita tidak dibuat dengan sungguh-sungguh. Ada sebuah peristiwa di Tolikara, tak ada wartawan di sana, atau belum ada wartawan di sana, tapi di Jakarta media-media sudah ribut luar biasa. Fakta dan pendapat bersicampur tak keruan. Juga cerita. Banyak media yang bisa membuat berita tentang sebuah peristiwa di sebuah tempat tanpa perlu mengirimkan pewartanya ke sana. Bahkan, berita di Bulan dan di dalam kuburan dapat mereka sampaikan, entah bagaimana cara mendapatkannya.

Tidak ada pengadil yang benar dan salah. Yang punya kuasa adalah pembaca. Itu pun semu. Kekuasaan pembaca bukan diraih karena karier atau perjuangan tertentu, tapi karena industri iklan menjadikan mereka ukuran utama. Pembaca tidak mengadili, mereka membaca. Pembaca adalah pembaca sebagaimana pembeli adalah pembeli. Tapi, pembaca (seperti halnya pembeli) diiming-imingi “kekuasaan” untuk kemudian diperah. Dipaksa membaca berita-berita bukan untuk kebaikan mereka, tapi agar meningkatkan kelayakiklanan media yang dibaca. Seperti pembeli yang sering diupahi sebutan raja agar betah untuk membeli lagi. Padahal mereka sedang diperas.

Persaingan keras menjurus kasar dalam memperebutkan jumlah pembaca telah menjadikan beberapa media jatuh pada titik minus harga diri mereka. Kata-kata disusun sedemikian rupa untuk menarik minat pembaca. Gambar dibuat seolah-olah mungkin untuk menarik perhatian pembaca. Banyak yang mengarah mesum. Baik mengarah mesum yang agamis maupun tidak. Semua dilakukan demi pembaca. Maksudnya demi dibaca sebanyak mungkin manusia. Ah … bahkan media-media tertentu mencoba merayu Tuhan dan memperlakukan-Nya seperti pembaca. Blasphemy!

Para pewarta yang kurang ajar, menyebarkan berita-berita tak keruan dengan kata-kata urakan. Kata-kata yang menjurus ke arah pengeksploitasian bagian tubuh (khususnya tubuh perempuan) dan peristiwa ranjang menjadi pilihan umum untuk menarik perhatian pembaca. Kurang ajar betul dan tak punya harga diri. Inilah mereka yang merusak cara berpikir. Merusak dunia, racun dunia. Nama orang ditulis sembarangan. Peristiwa ditafsirkan seenaknya. Fakta dikhianati. Benarlah apa kata Nasida Ria itu:

Tetapi bila wartawan suka membuat keonaran

Tak jujur suka bedusta, tak beriman tak bertaqwa

Biasa merusak dunia, ibarat racun dunia

Berita-berita tak keruan yang dihasilkan wartawan yang suka berdusta tak beriman dan bertakwa itulah racun dunia. Itulah yang merusak dunia. Kedudukannya setara minuman keras dan narkotika dalam lirik lagu Rhoma Irama. Tulisan-tulisan mereka layak diabaikan. Mereka telah memilih kata-kata yang menjurus ke arah murahan untuk menarik pembaca dan itu jika terus-terusan dimamah dapat merusak tatanan berpikir kita sebagai pembaca.

Media apa pun yang melakukan itu dan cara-cara semacamnya, baik kita sebut sebagai media yang tak punya harga diri. Demi merawat akal sehat kita, demi masa depan anak-anak kita kelak, media-media macam itu tak perlu lagi dibaca. Campakkan saja. Terserah mau media Islam, media Kristen, media Yahudi, ateis, Gafatar, jika mereka mengkhianati kebenaran, campakkan saja!!!

Media-media yang suka melambungkan kata-kata; mereka menulis judul “mencengangkan”, “mengejutkan”, “tak terduga”, dan lain sebagainya padahal tidak ada yang membuat tercengang atau terkejut dalam berita mereka. Bahkan isi berita media-media itu lebih sering terduga. Pemuatan judul-judul dan isi yang retoris omong kosong yang membuat penasaran ialah ciri-ciri lain yang menunjukkan kerendahan harga diri sebuah berita. Yang seperti itu tidak perlu kita perhatikan. Abaikan saja. Lebih baik mengaji bersama anak-anak daripada baca media begitu.

Akan tetapi, masih adakah wartawan yang baik, media yang benar? Kebenaran tidak akan dimusnahkan oleh kepicikan untuk meraih pembaca sebanyak-banyaknya. Kebenaran juga akan tetap ada meski orang-orang makin sering bertanya perihal wujudkah kebenaran itu. Ini zaman zaman postmodernism, zaman pascamodernisme, ketika kecurigaan terhadap kebenaran dirayakan besar-besaran, kesalehan disinis-sinisi, kenyinyiran terhadap ketakwaan diagung-agungkan, kebaikan diragu-ragukan. Tak ada pegangan. Semua dinisbikan.

Akan tetapi, jangan pernah takut, sebab seperti apa kata Rendra:

Kenyataan harus dikabarkan,

aku bernyanyi menjadi saksi!!!

Jangan lupa pula lirik lagu Nasida Ria itu:

Bila wartawan terpuji, bertanggung jawab berbudi

Jujur tak suka berdusta, beriman serta bertaqwa

Niscaya besar jasanya dalam membangun dunia

Maka yang kau sebut bukanlah senja kala kami. Itu senja kala kalian. Bagi orang beriman dan bertakwa, senja kala bukanlah masalah. Itu cuma pengingat untuk segera berwudhu dan melaksanakan shalat Maghrib..,

*Dengan segala hormat kepada mereka yang masih percaya bahwa kebenaran dan kenyataan dapat diberitakan dengan wajar.

** Penghargaan dan rasa hormat kepada KH Bukhori Masruri, pencipta lagu “Wartawan Ratu Dunia”.

Tulisan Terkait (Edisi Lama)

Populer

IKLAN BARIS