Obrolan Warung Kopi

  • 843

    “Solanin”: Mencari Makna Kehidupan di antara Jiwa-Jiwa yang Letih

    Minggu, 09 September 2018 | Rahmatika D. Amalia

    “Solanin” adalah karya Asano Inio yang ditulis 13 tahun yang lalu, tapi permasalahan-permasalahan yang ada di dalamnya masih relevan hingga saat ini. Meskipun cukup singkat, hanya dua volume saja, tapi komik ini terasa begitu padat dan membahas mengenai masalah-masalah penting dalam kehidupan, seperti soal pekerjaan, karier, keluarga, kehidupan, kematian, dan kebahagiaan.

    Selengkapnya
  • 482

    Suka Cita Kaum Kelas Menengah di Tengah Muslihat Kesejahteraan

    Jumat, 07 September 2018 | Fathiannisa Cesaria

    Kita jadi meyakini bahwa diri amat berharga berkat usaha sendiri. Seluruh kerja keras yang datang dari kemampuan dan kedigdayaan diri itu layak diupah dengan besar. Kita menghabiskan hampir seluruh kehidupan untuk mencari, mengumpulkan, dan menumpuk-numpuk harta atas berkat daya diri sendiri itu.

    Selengkapnya
  • 476

    Wanita, Karir, dan Jodoh: Sepotong Catatan dari Tahun 1984

    Rabu, 05 September 2018 | Rahmatika D. Amalia

    Dalam rubrik Laporan Utama, melalui tulisan “Problema Jodoh Masa Kini” redaksi Panjimas menyoroti soal kesulitan mencari jodoh di kalangan pemuda dan pemudi di masa itu. Majalah ini kemudian membuka rubrik khusus untuk mencari jodoh, yang diharapkan dapat menjadi solusi untuk wanita dan pria yang ingin memiliki pasangan. Rubrik mencari jodoh ternyata bukan hanya terdapat dalam Panjimas, tetapi juga ada di majalah dan koran lainnya. Namun, nilai lebih Panjimas ada pada “keamanannya”, karena pemuda dan pemudi Islam tidak perlu khawatir akan mendapatkan jodoh dari agama yang berbeda. Rubrik mencari jodoh di majalah warisan Buya Hamka ini dikhususkan untuk kaum muslimin.

    Selengkapnya
  • 640

    Menyelamatkan Makna “Kerja” di Era Revolusi Industri 4.0

    Senin, 03 September 2018 | Komunitas NuuN

    Pada 1 Mei 1886, buruh-buruh di Amerika yang telah mengorganisasi diri melakukan demonstrasi besar-besaran dan juga mogok masal. Mereka menuntut pemanusiaan bagi kaum buruh. Masa itu, ada buruh yang bekerja antara 10-16 jam sehari. Para demonstran membawa spanduk berisi seruan: “8 jam kerja, 8 jam istirahat, 8 jam rekreasi”. Demo ini berhasil menunjukkan peran penting buruh. Industri bisa macet dan merugi apabila buruh mogok secara serempak. Mesin-mesin akan menganggur tanpa manusia. Manusia seolah menemukan daulatnya kembali.

    Selengkapnya