Perdagangan Rempah Melalui Jalur Maritim yang Telah Dimulai Sebelum Abad ke-7
Bagikan

Perdagangan Rempah Melalui Jalur Maritim yang Telah Dimulai Sebelum Abad ke-7

Pada jalur rempah ini, Timur dalam arti Kepulauan Melayu nusantara tidak terhubung secara langsung dengan Eropa yang berada di Barat, melainkan melalui bangsa Arab yang menjadi titik penting dalam pengembangan jalur perdagangan rute laut ini. 

Rempah-rempah merupakan komoditas khas nusantara yang membuat wilayah ini tidak hanya dicari-cari tetapi juga diincar oleh berbagai bangsa dunia sejak berbelas abad yang lalu. Pala, lada, cengkeh, kayu wangi, juga kapur barus boleh dikatakan komoditas yang berpengaruh besar terhadap sejarah dunia dan bangsa-bangsa. Melalui sejarah jalur sutra, Cina berkehendak mengembangkan perekonomiannya dengan membangun kembali jalur sutra abad 21. Sementara, Pemerintah Indonesia juga mencoba membangun gagasan mengenai poros maritim dunia dengan dasar sejarah jalur perdagangan rempah.

Upaya membangkitkan kebanggaan dan nasionalisme Indonesia melalui pengkajian dan pengenalan jalur rempah ini memang sudah dilakukan kepada masyarakat luas. Pada 5 -16 Oktober 2016, Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melaksanakan pameran jalur rempah di Bintaro Exchange Mall. Pameran bertajuk “Jalur Rempah Mengubah Dunia” ini bertujuan memicu masyarakat agar lebih mengenal dan mengembangkan sejarah dan kebudayaan Indonesia melalui rempah-rempah.

Pada tahun yang sama, Direktorat Sejarah Kemdikbud juga menyusun buku mengenai jalur rempah yang diharapkan dapat memberi gambaran rinci perjalanan sejarah rempah di Indonesia yang menjadi komoditas utama perdagangan dunia dan salah satu faktor penentu berkembangnya perdagangan global pada masa lampau. Melalui website kemdikbud.go.id dijelaskan bahwa pada 2016 buku ini mulai disusun dan memuat bukti-bukti mengenai cengkeh yang digunakan sebagai salah satu bahan untuk mengawetkan mumi di Mesir Kuno dan pala yang sudah dikenal oleh masyarakat Yunani dan Romawi kuno. Bahkan disebut pula, antara abad 11 hingga 16 Masehi, perdagangan rempah-rempah menjadi sumber kemakmuran bagi beberapa negara Eropa yang berbatasan dengan Laut Mediterania.

Kemudian pada 2017, Museum Nasional juga melaksanakan Pameran Kedatuan Sriwijaya; The Great Maritime Empire. Meski terfokus pada wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya dan jangkauan maritimnya, pameran ini juga turut menampilkan Sriwijaya sepagai pemegang peran penting dalam perdagangan rempah dunia. Upaya-upaya tersebut dapat dimaknai sebagai usaha untuk menunjukkan diri sebagai suatu bangsa yang memiliki sejarah panjang sekaligus memiliki peran yang signifikan dalam membentuk peradaban dunia.

Dari beberapa jalur perdagangan kuno di dunia, boleh dikatakan jalur rempah merupakan jalur perdagangan penting namun sejarahnya seperti terselubung kabut. Dibandingkan dengan sejarah jalur sutra, sejarah jalur rempah tidak lebih mahsyur di dunia. Studi pustaka untuk menelusuri awal mula dan rute yang pasti mengenai jalur rempah ini juga bukan suatu hal yang mudah. Kajian-kajian seputar zaman perdagangan dan jalur rempah di Asia Tenggara masih lebih banyak mengandalkan sumber-sumber yang berasal dari Eropa. Ada kalanya nama Vasco da Gama disebut-sebut sebagai perintis pelayaran laut ke India yang  mengubah dunia, tetapi mengabaikan signifikansi dari perniagaan yang sudah mapan di sepanjang kota-kota pelabuhan dari Afrika Timur dan Asia Selatan-Barat jauh sebelumnya (Unesco, 1980, hlm 25). Bahkan, beberapa kajian lain menyimpulkan sampai abad ke-16, rempah-rempah belum menjalankan peran yang menentukan dalam perkembangan sejarah Indonesia karena perniagaannya masih dalam tataran lokal dan diusung oleh beberapa kerajaan saja. Perubahan yang menentukan baru terjadi setelah kedatangan bangsa-bangsa Eropa ke Indonesia dengan tujuan utama mencari daerah produksi rempah-rempah.

Ada literatur lainnya mengulas jalur rempah di masa yang lebih awal, yakni abad 13. Anthony Reid, misalnya, menyebut tahun 1400-1650 sebagai zaman perdagangan di wilayah Asia Tenggara dengan keadaan pasar yang amat menggembirakan. Pengaruhnya tidak hanya ke Eropa dan Laut Tengah, tetapi juga sampai ke Cina dan Jepang. Ketika itu, kota pelabuhan merupakan pusat perekonomian regional, politik, dan kebudayaan yang menonjol. Masa ini, jalur rempah bisa ditelusur dengan lebih terang. Saudagar dari berbagai bangsa telah wira-wiri di sepanjang rute yang membentang dari Timur ke Barat. Di wilayah Kepulauan Melayu nusantara sendiri kota-kota pelabuhan tumbuh dan berkembang. Sebut saja Pegu (Burma), Ayutthaya (Thailand), Pnompenh, Hoi An (Faifo), Champa, Malaka, Patani, Brunei, Pasai, Aceh, Banten, Jepara, Gresik, sampai Makassar sangat pesat (Reid, 2011, hlm 3). Di antara abad ketigabelas hingga enam belas, perdagangan rempah-rempah merupakan sumber kemakmuran bagi beberapa negara Eropa yang wilayahnya berbatasan dengan Laut Mediterania, hingga memunculkan negara-negara kota di Eropa sana.

Sebetulnya, bangsa Eropa telah lama mengenal rempah dari Kepulauan Melayu nusantara. Bangsa Romawi, misalnya, mengetahui rempah-rempah sebelum tahun 24 SM.  Ketika itu, Romawi tengah dipimpin Caesar Agustus. Di bawah pimpinan Aelius Gallus,dikirimlah 10.000 pasukan dari Mesir untuk menguasai rute perjalanan yang sudah dimonopoli orang-orang Arab Selatan dan menghantam sumber pendapatan orang-orang Yaman (Hitti, 2006, hlm 57). Yang mereka ketahui, semua daerah di semenanjung Arab menebarkan aroma yang sangat wangi dan dikenal sebagai satu-satunya negeri yang memproduksi pohon gaharu, cendana, akassia, kayu manis, dan lain-lain (Hitti, 2006, hlm 58). Hal ini dicatat oleh Herodotus, Strabo, dan Diodirus Siculus. Bangsa Yunani maupun Romawi pada masa itu meyakini bahwa komoditas yang diperdagangkan oleh orang-orang Arab ini merupakan produk asli tanah Arab (Hitti, 2006, hlm 58). Ilmuwan Rusia, A.M. Petrov, mengatakan bahwa kayu manis yang diedarkan ke Romawi berasal dari Asia Tenggara dan India Selatan dan para pedagang Arab memang merahasiakan tempat asal rempah ini (Denisova, 2011, hlm 216).

Navigasi dari wilayah Barat ke Samudra Hindia memang dipelopori oleh orang-orang Arab. Sepanjang sejarah, bangsa Arab terhitung sebagai elemen yang dominan dalam perniagaan maritim. Seperti yang diketahui dalam catatan Sumeria, sekitar tahun 2000 SM, balok kayu diimpor dari India ke Megan (mungkin daerah Oman) dan diangkut dengan kapal yang pembuatannya di daerah Megan tersebut (UNESCO, 1980, hlm 17). Hal ini dapat menunjukkan para saudagar Arab Oman telah memiliki kapal-kapal layar dan navigasi. Selain itu, ada kemungkinan pula jika Persia dan Yunani memperoleh pengetahuan tentang navigasi dari orang-orang Arab. Persia belum melakukan pelayaran jarak jauh sampai abad ke-5 SM dan Yunani pun belum berlayar sampai zaman Helenistik (UNESCO, 1980, hlm 18). Pada masa itu, samudra luas masih menyimpan misteri yang amat gelap. Banyak hal yang belum bisa disingkap mengenai lautan. Pelayaran pun masih sangat bergantung dengan keadaan alam. Tanpa kemampuan yang memadai untuk memahami ilmu perbintangan dan arah mata angin, pelayaran hanyalah perjalanan berisiko tinggi. Banyak penjelajah yang tak kembali entah karena terdampar di daerah antah berantah atau dilamun badai.

Tidak seperti Mesir dan Babilonia yang termasuk negeri berbudaya sungai-lembah, wilayah semenanjung Arab termasuk ke dalam negeri dengan kebudayaan Maritim (Hitti, 2006, hlm 40). Masyarakat Arab di sebelah tenggara kemungkinan merupakan penghubung antara Mesir, Mesopotamia, dan Punjab, yakni tiga pusat utama perdagangan paling awal (Hitti, 2006, hlm 40). Boleh jadi, inilah cikal bakal jalur rempah yang menghubungkan wilayah Eropa dengan nusantara hingga ke Cina melalui jalur laut. Sebelum ditemukannya jalur menuju India dengan mengitari Tanjung Harapan di Afrika pada 1497, perhubungan antara Eropa dan daerah-daerah di Timur, seperti India atau nusantara, mutlak harus melewati jazirah Arab melalui Laut Merah, Sungai Nil di Mesir, atau Teluk Persia. Hubungan perniagaan Maritim yang telah terbina antara Eropa dan Kepulauan Melayu nusantara selama ribuan tahun itu pada awalnya bukanlah sebuah hubungan langsung melainkan harus melalui wilayah Arab.

Bangsa Melayu sendiri sejak zaman purba sudah pandai dalam aspek perdagangan (Denisova, 2011, hlm 217). Komoditas yang diperjualbelikan adalah emas, timah, tembaga, opium, intan, kayu-kayuan, kain-kainan, senjata (keris jawa dan pedang al-kal), juga hasil laut dan pertanian. Saudagar dari Tanah Melayu ini berniaga di nusantara dan pernah melawat negara di Timur Tengah, Afrika, India, Madagaskar, dan lain-lain (Denisova, 2011, hlm 217). Sejak abad pertama hingga kedua Masehi, wilayah Terusan Kra, Thailand, merupakan pusat perhubungan dari wilayah Timur ke Barat dan dikendalikan oleh bangsa Melayu. Komoditas yang melintasi wilayah ini, antara lain, rempah-rempah, wangi-wangian, kapur barus, hasil hutan, dan logam, seperti emas dan timah. Keadaan alam wilayah Kepulauan Melayu nusantara yang berada di alam kebudayaan maritim memungkinkan bangsa ini untuk menghasilkan teknologi perkapalan sekaligus ilmu pelayaran yang canggih pada ukuran zamannya.

Sejak berhasil memiliki dan mengembangkan ilmu bahari (navigasi) sendiri, bangsa Arab memegang kendali dalam perniagaan maritim yang menghubungkan India dan nusantara dengan Eropa. Pada abad ke-7, bangsa Arab berhasil menaklukkan Mesir dan Persia. Dengan ini, rute perdagangan laut dan darat berada di bawah kendali bangsa Arab (UNESCO, hlm 35). Setelah kebangkitan Islam, bangsa Arab menjelajahi wilayah India, Cina, dan Timur Jauh seiring dengan penyajian laporan geografi, sosial dan politik, agama dan kebudayaan dari tempat-tempat yang mereka kunjungi termasuk navigasi untuk mencapai tempat-tempat itu. Selepas penaklukan Sind (salah satu daerah di wilayah Pakistan) pada awal abad ke-8, bangsa Arab pun menggunakan pelabuhan penting dalam jalur ini, yaitu Al-Daybul dan Al-Mansurah dalam perdagangan ke daerah Timur jauh (UNESCO, hlm 35). Hal ini semakin mengukuhkan peran bangsa Arab dalam perniagaan maritim di masa itu. Rute laut dari Teluk Persia ke Kanton adalah yang terpanjang yang biasa digunakan oleh orang-orang Arab pada abad itu (al - Attas, 2011, hlm 2). Kota-kota pelabuhan di Kepulauan Melayu nusantara kala itu berfungsi sebagai persinggahan dan pembekal bagi saudagar dan pelaut mancanegara dalam perjalanan ke Kanton.

Dengan keadaan demikian, sebelum era Kurun Niaga (1450 – 1680) berlangsung, orang-orang Arab telah menguasai  jaringan perdagangan yang luas dengan Afrika, Cina, India, dan Timur Jauh. Mereka memperoleh keuntungan yang amat besar karena tidak hanya membawa berbagai dagangan asli dari tanah air mereka, tetapi juga dari Afrika, Cina, India, dan Timur Jauh. Barang-barang tekstil dari India, kuda juga parfum dari Persia dan Arab, emas, batu mulia, permata dan gading dari Afrika Timur, serta rempah-rempah, kayu gaharu, dan ambar dari Indonesia, Ceylon dan Malabar, serta sutra dan keramik Cina (al-Attas, 2011, hlm 1).

Dari timur, pelayaran dimulai dengan menyeberangi laut Cina menuju wilayah Kepulauan Melayu nusantara. Dari wilayah Aceh, pelayaran dilanjutkan ke Ceylon (Sri Lanka) lalu ke India. Dari pesisir barat India khususnya kota pelabuhan Cambay dan Gujarat, barang-barang dijual ke pasar-pasar di Asia Tengah dan Persia, atau ke Mesir melalui Laut Merah, Teluk Persia, dan kota-kota pelabuhan di sepanjang pesisir pantai Laut Arab. Dari sana, barang-barang yang melintasi jalur rempah itu mencapai Eropa lewat beberapa kota dagang di dataran Jazirah Arab. Orang-orang Arab dan pedagang lainnya dari Oman dan Yaman termasuk juga dari Ḥaḍramaut dan Teluk Persia memang dikenal sebagai penjelajah hebat dan pedagang yang gigih. Mereka menghubungkan bahkan mengendalikan rantai perdagangan internasional di antara Timur dan Barat selama berabad-abad.

Jaringan perdagangan yang melintasi Cina, Kepulauan Melayu nusantara, India, pesisir Afrika Timur, jazirah Arab, Suriah, hingga beberapa wilayah Eropa telah dijelajahi bahkan dikuasai sebelum dan setelah kehadiran Islam. Pelabuhan dagang pertama yang dikembangkan di pantai Afrika Timur berada di wilayah yang sekarang menjadi pantai Somalia, di Rhapta. Di antara tanda bahwa pelabuhan ini berperan penting dalam jalur perdagangan maritim adalah beberapa kosakata yang hingga kini dipakai di Somalia. Contohnya, seperti, bangaali (beras dari Bengal), bombey (garpu runcing yang dicelupkan ke dalam karung beras untuk menguji kualitas beras), karaarshi (beras dari Karachi), jaawi (yang baik- dupa berkualitas dari Jawa sebagai parfum wanita setelah mandi), mureysi (gula dari Mauritius, mureys di Somali berarti Mauritius), sinjibaari (kain katun berwarna dari Zanzibar), dan xabashi (sedikit kain katun tenunan Abyssinian) (UNESCO, 1980, hlm 24).

Pada jalur rempah ini, Timur dalam arti Kepulauan Melayu nusantara tidak terhubung secara langsung dengan Eropa yang berada di Barat. Bangsa Arab memang menjadi titik penting dalam pengembangan jalur perdagangan rempah pada rute laut ini. Mereka telah membangun hubungan dagang secara langsung dengan bangsa Eropa sejak sebelum Masehi. Mereka pula yang mengembangkan teknologi pelayaran, katografi, hingga geografi ke bangsa-bangsa lain di sekitarnya. Bangsa yang tinggal di Kepulauan Melayu nusantara bukan pula bangsa terbelakang yang tak mengenal dunia atau melakukan perdagangan secara internasional dengan bangsa lainnya. Bangsa ini memiliki corak tersendiri dalam penghidupannya, mengarungi samudra luas, dan menyebarkan aroma khas wewangian nusantara sejak sebelum Masehi. Lagu anak-anak “Nenek Moyangku Orang Pelaut” bukanlah imajinasi anak-anak atau Ibu Soed belaka. Tanpa perlu melakukan penelitian sejarah secara mendalam, melihat keadaan alam Indonesia, tentu menjadi suatu kewajaran apabila bangsa ini memiliki tradisi pelayaran dan perdagangan yang hebat pada masa lampau.

Perdagangan maritim dan terbentuknya jalur perdagangan rempah yang menghubungkan berbagai bangsa dan peradaban sejak sebelum abad ke-7, yakni sebelum masa kenabian, adalah hal yang sangat lazim. Selepas Nabi menerima risalah suci, Islam pun turut melintasi jalur ini dengan membawa serta beragam kebudayaan dan unsur-unsur peradaban. Para pembawanya menyebarkan risalah ini kepada masyarakat di kota-kota yang dilintasi, termasuk masyarakat di Kepulauan Melayu nusantara. Dan, hal ini bukanlah sebuah ketidaksengajaan atau peristiwa sambil lalu. Karena, bagi masyarakat di Kepulauan Melayu nusantara, ada kesan istimewa yang tertanam di sana (al-Attas, 2011, hlm 2) dan bertahan selama belasan abad lamanya.



______________. Historical Relation Across Indian Ocean. (Paris: UNESCO, 1980)

Anthony Reid. Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450 – 1680: Jaringan Perdagangan Global. (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Jakarta, 2011)

Phillip K. Hiti. History of Arabs. (Jakarta: Serambi, 2006)

Tatiana Denisova. Refleksi Historiografi Alam Melayu. (Kuala Lumpur: Penerbit Universiti Malaya, 2011)

Syed Muhammad Naquib al-Attas. Historical Fact and Fiction. (Kuala Lumpur: Penerbit UTM, 2011)