• Ikuti kami :

Dr. Alwi Alatas: Penghubung Identitas Keturunan Arab dengan Indonesia adalah Keislaman

Dipublikasikan Selasa, 05 September 2017 dalam rubrik  Ngobrol Ngobrol

Pakaian adalah salah satu ciri khas tradisi suatu masyarakat. Soal pakaian ini adakalanya dapat menimbulkan syak wasangka mengenai hati seseorang. Misalnya gamis dan sorban bagi laki-laki seringkali diidentikkan dengan kearab-araban. Pemakaianya kerap dituduh tidak nasionalis dan tak cinta tanah air Indonesia. Bahkan lebih jauh lagi, semua tradisi Arab sering dianggap bukan Indonesia, bukan sesuatu yang berasal dari nenek moyang bangsa kita. Kita seperti ditakut-takuti dengan ancaman Arabisasi. Kita juga kerap bertikai dalam permasalahan yang sebetulnya lebih perlu ditelaah daripada dipertengkarkan ini.

Memang ada pengaruh tradisi atau kebudayaan Arab pada masyarakat Indonesia. Itu menunjukkan pembauran keturunan Arab di Indonesia berjalan alami dan berterima. Salah satu contohnya adalah busana pengantin pria Betawi yang bernama Dandanan Care Haji. Penggunaan jubah beludru berwarna cerah dan sorban penutup kepala yang disebut alpie dianggap sebagai cerminan pengaruh tradisi Arab. Boleh dikatakan, sejak awal kedatangannya membawa Islam, orang Arab bisa mengkomunikasikan tradisi mereka dengan orang-orang yang berada wilayah Indonesia sebelumnya dengan cukup baik.

Untuk memahami keturunan Arab di Indonesia dalam konteks tradisi dan kesukuan, redaksi nuun.id mewawancarai Ustadz Alwi Alatas, seorang keturunan Arab-Hadramaut dan doktor dalam bidang sejarah. Wawancara dengan ustadz yang pada 2017 berhasil mempertahankan disertasi berjudul: Economy of The Pribumi in Late Colonial Java 1900-1942: Continuity and Change in Priangan di IIUM ini, dilakukan melalui media elektronik. Di tengah kesibukannya menjadi Mudir/Direktur PRISTAC (Pesantren for the Study of Islamic Thought and Civilization), Ustadz Alwi telah berkenan untuk menjawab beberapa pertanyaan dari kami.

Berikut wawancara kami dengan Ustadz Alwi Alatas

Ustadz, sebenarnya Arab yang saat ini ada di Indonesia adalah tradisi atau keturunan? Apakah keturunan Arab yang tinggal di satu daerah tetap menjadi orang Arab atau telah menjadi bagian dari suku yang tinggal di daerah itu? Misalnya, keturunan Arab yang tinggal di daerah Jakarta, apakah tetap menjadi orang Arab yang tinggal di Betawi atau telah menjadi orang Betawi keturunan Arab?

Sebenarnya komunitas keturunan Arab di Indonesia mirip dengan komunitas dari suku lainnya, seperti Jawa, Sunda, Padang, Makasar, dalam arti ada sebagian dari mereka yang sudah berbaur dengan anggota masyarakat lainnya sementara ada pula sejumlah besar yang masih memelihara identitas dan tradisi lamanya. Bahkan, mereka yang masih mempertahankan identitas kearabannya tidak bisa dikatakan sepenuhnya terpisah dari masyarakat tempat mereka tinggal. Dengan kata lain, ada cukup banyak ciri-ciri lokal yang mereka serap dan telah menjadi bagian integral dari identitas budaya mereka.

Sebagai contoh, banyak orang Arab di Jakarta yang berbicara dengan dialek Betawi yang kental, sebagaimana mereka yang lahir dan besar di Jawa biasanya bisa berbahasa Jawa dan berbicara dengan logat Jawa yang sangat kentara. Orang yang tidak tahu hal ini mungkin akan merasa takjub saat melihat seseorang yang berwajah Timur Tengah berbicara dengan logat Jawa yang pekat. Sepintas si pengamat mungkin akan berpikir ada yang tidak sesuai antara perawakan dan gaya bicara pada orang tersebut. Tapi itulah kenyataannya. Pada tingkat tertentu, mereka telah menjadi bagian dari masyarakat tempat mereka hidup, walaupun mungkin masih mempertahankan identitas mereka sebagai orang keturunan Arab.

Adakah tradisi-tradisi dari nenek moyang (leluhur) Arab yang masih dijalankan di Indonesia? Bagaimana tanggapan masyarakat setempat terhadap tradisi itu (jika masih ada)?

Tradisi orang-orang keturunan Arab di Indonesia kebanyakannya berkaitan dengan praktek keagamaan, yang sedikit banyak juga dijalankan oleh kaum Muslimin di Indonesia. Sebagian, misalnya, menjalankan kebiasaan membaca tahlil bagi orang yang meninggal dunia dan membaca maulid setiap tahunnya. Hal ini juga merupakan tradisi yang banyak dijalankan oleh masyarakat lainnya di Indonesia.

Selain itu, ada juga budaya yang lebih umum sifatnya, seperti Tari Zafin atau makanan khas seperti nasi kebuli. Namun, hal-hal ini juga telah menjadi sesuatu yang relatif populer di tengah masyarakat Indonesia sehingga sebagiannya boleh jadi tidak terlalu dikenali lagi asal-usulnya.

Tradisi yang kadang sering dikritik oleh masyarakat setempat adalah kebiasaan untuk mempertahankan pernikahan di antara sesama orang keturunan Arab. Tetapi, kecenderungan semacam ini sebenarnya bisa kita jumpai pula pada suku-suku lainnya di Indonesia, walaupun mungkin dengan kadar yang berbeda.

Orang-orang keturunan Arab di Indonesia sebagian besarnya berasal dari Hadramaut. Hubungan beberapa abad di antara kedua negeri ini telah melahirkan kedekatan dan pertukaran budaya. Bukan hanya orang-orang Arab Hadrami yang menyumbangkan sebagian budayanya kepada masyarakat Indonesia (misalnya Tari Zafin), tetapi beberapa kosa kata Indonesia juga telah diserap ke dalam bahasa Arab yang digunakan di Hadramaut, seperti kata sarung, kerupuk, selimut, sandal, dan sambal. Jadi, tradisi dan budaya tidak selalu berjalan terpisah atau memberi pengaruh satu arah, tetapi dapat terjadi pula pertukaran di antara kedua belah pihak. Ini menunjukkan adanya saling penerimaan terhadap budaya tertentu dari masing-masing pihak.

Di daerah Indonesia ada tradisi-tradisi kesukuan, bagaimana sikap orang Arab terhadap tradisi-tradisi itu. Apakah mereka ikut menjalankan tradisi itu?

Pada umumnya tradisi-tradisi lokal ini diterima oleh masyarakat Arab yang hadir di tempat itu, selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang mereka yakini dan amalkan. Jadi, yang menjadi ukuran utama adalah agama. Tradisi yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam sudah tentu ditolak. Walaupun begitu, orang-orang Arab di masa lalu umumnya masuk ke berbagai wilayah di Nusantara dengan membawa adab serta nilai-nilai tasawuf, sehingga mereka tidak menggunakan cara-cara yang kasar atau keras terhadap budaya yang bertentangan dengan Islam. Mereka mengutamakan dakwah yang lemah lembut dan mengharapkan perubahan yang bertahap pada tradisi yang tidak baik, sehingga kehadiran mereka umumnya tidak menimbulkan gejolak di tengah masyarakat setempat.

Bagaimana hubungan antara identitas Arab dan identitas lokal?

Orang-orang keturunan Arab pada umumnya masih membawa identitas kearaban mereka. Namun, pada saat yang sama, mereka juga menyerap identitas lokal tempat mereka dilahirkan dan dibesarkan. Identitas sebagai orang Arab mungkin membedakan mereka saat berada di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Tetapi saat berada di tengah masyarakat Arab sendiri, barangkali identitas lokal atau identitas mereka sebagai orang Arab Indonesia yang tampil mengemuka, karena bagaimanapun juga mereka tidak bisa lepas dari lokalitas tempat mereka lahir dan dibesarkan. Seorang pelajar keturunan Arab yang sedang belajar di Hadramaut, misalnya, pernah mengajak teman-temannya untuk mengadakan upacara bendera 17 Agustus sebagai ekspresi syukur atas kemerdekaan Indonesia, dan tidak ada yang menahan mereka untuk melakukan hal itu di sana.

Bagaimanapun, hal terpenting yang menghubungkan kedua identitas ini, Arab dan lokal, adalah identitas keislaman. Islamlah, yang dalam banyak hal memberi nilai utama di balik identitas Arab dan identitas lokal yang ada pada diri mereka. Kadar nilai-nilai Islam ini mungkin berbeda-beda di antara orang yang satu dengan yang lainnya. Namun, tidak berlebihan jika kita katakan Islam masih memberi warna dan corak yang menonjol pada identitas orang-orang keturunan Arab maupun Muslim Indonesia pada umumnya.

Akhir-akhir ini isu Arabisasi muncul di Indonesia. Bagaimana perspektif Ustadz mengenai hal ini?

Isu Arabisasi yang muncul belakangan ini sebenarnya agak ganjil. Kadang, tidak ada pengertian yang jelas tentang mana yang budaya Arab dan mana yang budaya Islam. Perintah Islam bagi kaum perempuan berupa penggunaan hijab untuk menutup aurat kadang diidentifikasi secara salah sebagai budaya Arab. Hal ini menimbulkan kesan bahwa yang sebenarnya menjadi sasaran akhir dari isu Arabisasi adalah Islam itu sendiri, bukan semata-mata penolakan terhadap tradisi atau budaya Arab.

Mungkin ada sebagian kalangan Muslim di Indonesia yang sangat bersemangat dalam menjalankan nilai-nilai Islam sehingga mereka suka berpenampilan kearab-araban, seperti menggunakan baju gamis dan semisalnya. Namun, ini bukan sesuatu yang bisa dianggap sebagai ancaman terhadap budaya Indonesia. Bahkan sebetulnya, hal-hal semacam ini bisa saja dianggap sudah menjadi bagian dari budaya Indonesia juga, karena banyak santri yang biasa berpakaian seperti orang Arab sejak waktu yang lama, dan beberapa pahlawan Indonesia sendiri digambarkan mengenakan kostum seperti orang Arab. Kalaupun hal ini dianggap sebagai sebuah persoalan, mengapa hanya “Arabisasi” yang dipersoalkan dan diributkan, sementara “Westernisasi” yang jauh lebih banyak pertentangannya dengan budaya Indonesia malah didiamkan dan tidak dipersoalkan?

Menurut Ustadz, apa perbedaan Islamisasi dan Arabisasi?

Islamisasi memang tidak selalu sama dengan Arabisasi. Apa yang merupakan budaya Arab belum tentu Islami, sebagaimana budaya Islam juga belum tentu dijalankan sepenuhnya oleh orang-orang Arab. Ukuran Islamisasi adalah syariat dan nilai-nilai agama, sementara ukuran Arabisasi adalah praktek dan kebiasaan masyarakat Arab pada umumnya. 

Bagaimanapun, tidak sedikit budaya Islam yang dianggap identik dengan budaya Arab, karena sudah terserap ke dalam kultur masyarakat Arab selama berabad-abad. Karena itu kedua hal ini seringkali tidak bisa dipisahkan. Di antara Islam dan Arab telah terjadi keterkaitan identitas dan tradisi dalam banyak aspeknya. Oleh karena itu, kita perlu menyikapi kedua hal ini secara proporsional. Memang tak semua orang Arab baik, tetapi itu jangan menjadi alasan untuk membenci segala hal yang berbau Arab. Bagaimanapun Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan orang Arab dan al-Qur’an yang kita baca sehari-hari itu berbahasa Arab.

Islam merupakan agama yang penuh rahmat dan kasih sayang, yang menjadi identitas utama bagi seorang Muslim, dari suku mana pun dia, Arab maupun bukan Arab. Tidak perlu ada pemisah-misahan Islam Arab, Islam Indonesia, ataupun yang semisalnya. Akhirnya, setiap Muslim didorong untuk mempelajari dan mengamalkan agamanya dengan baik serta menyampaikan dakwah kepada masyarakat luas, agar rahmat Islam tadi dapat dirasakan secara luas oleh banyak umat manusia.


Tulisan Terkait (Edisi Tradisi)

IKLAN BARIS