• Ikuti kami :

Khabar Ṣādiq: Sebuah Metode Transmisi Ilmu Pengetahuan dalam Islam
Bagian Ke 1

Dipublikasikan Selasa, 28 November 2017 dalam rubrik  Makalah
“We must question the way they arrive at their theories, their way of reasoning and analysis, their setting forth of premises and arrival at conclusions, their raising of problems and arrival at their solutions, their understanding of recondite matters of meaning, their raising of doubts and ambiguities and their insistence upon empirical fact.”

 —Syed Muhammad Naquib al-Attas1

A.  Pendahuluan

Diskursus mengenai al-Qur’an dan hadist Nabi, sejak zaman dahulu hingga saat ini selalu menarik untuk diperbincangkan. Selain sebagai sumber tertinggi dari ilmu pengetahuan,2 keduanya juga diriwayatkan dari berita yang benar (khabar ṣādiq) yang bersifat absolut (absolute authority)3 sehingga dapat dipertanggungjawabkan kebenaran dan validitasnya. Namun, banyak sarjana Barat (baca: orientalis) yang menuduhnya sebagai sumber yang palsu dan tidak otentik. Hal ini didasari atas asas dasar epistemologi4 mereka yang terbatas, yaitu hanya bersumber dari pancaindra dan akal semata.5 Keterbatasan asas dasar epistemologi ini berdampak kepada kesimpulan atas autentikasi dan validitas ilmu pengetahuan.

Berbeda dengan Barat, di dalam epistemologi Islam, selain pancaindra dan akal, sumber ilmu pengetahuan juga melingkupi intuisi dan kabar yang benar atau yang biasa disebut dengan khabar ṣādiq (true report).6 Di sini tampak bahwa dimensi epistemologi Islam lebih kaya dan jauh lebih luas. Hal ini juga berarti, tradisi khabar ṣādiq hanya dapat ditemukan di dalam epistemologi Islam. Dengan tradisi khabar inilah al-Qur’an dan hadist menjadi sumber yang tetap otentik dan terjaga keasliannya dari dahulu kala hingga saat ini.

Bukan tanpa alasan jika para orientalis bersikap ragu-ragu kepada al-Qur’an dan hadist. Mereka berasumsi bahwa ilmu pengetahuan yang bersumber dari khabar tidak bisa dipertanggungjawabkan. Arthur Jeffery misalnya, menganggap bahwa sejarah kodifikasi al-Qur’an adalah fiktif serta meragukan keabsahan Mushaf Utsmani.7 Hal yang serupa juga diungkapkan oleh William Muir—seorang orientalis berdarah Inggris—yang menganggap dalam literatur hadist, nama Nabi Muhammad SAW sengaja dikutip untuk menutupi kebohongan serta berbagai keganjilan-keganjilan.8

Pernyataan yang serupa juga dikemukakan oleh seorang orientalis kebangsaan Inggris, Alfred Guillaume. Ia mengatakan sangat sulit untuk mempercayai literatur hadist secara keseluruhan sebagai sebuah rekaman yang betul-betul otentik, bahwa semua berasal dari perbuatan serta perkataan Rasulullah SAW.9 Joseph Schacht juga mengemukakan tuduhan yang kurang lebih serupa bahwa tidak ada hadist yang benar-benar terbukti asli dari Nabi Muhammad.10 Ia juga berasumsi bahwa hadist baru muncul pada abad kedua hijriah,11 serta meragukan keaslian hadist-hadist yang tertulis dalam al-kutūb al-sittah.12 Di sini, Schacht secara tidak langsung tidak hanya meragukan hadist, tetapi juga menuduh para perawi sebagai pendusta yang menyembunyikan kebenaran dengan mengarang cerita dan berita. Dengan kata lain, argumen para orientalis yang telah disebutkan sebelumnya mengindikasikan keraguan bahkan ketidakpercayaan akan keaslian al-Qur’an dan hadist, yang autentikasinya diriwayatkan oleh kabar yang benar (khabar ṣādiq).

Untuk itu, tulisan ini berusaha menjawab asumsi-asumsi, preposisi-preposisi serta tuduhan-tuduhan para orientalis di atas yang menafikan berita yang benar (khabar ṣādiq) sebagai metode transmisi ilmu pengetahuan dalam Islam. Selain itu, tulisan ini juga berupaya membuktikan bahwa khabar ṣādiq merupakan sumber ilmu pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan validitasnya.

----------

1 Syed Muhammad Naquib al-Attas, Historical Fact and Fiction, (Kuala Lumpur: UTM Press, 2011), hlm.xi

2 Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam: an Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam, (Kuala Lumpur: ISTAC, 2001), hlm.121

3 Adi Setia “Epistemologi Islam Menurut al-Attas Satu Uraian Singkat” dalam ISLAMIA: Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam, Tahun II (Nomor.6, Juli-September 2005), hlm.54

4 Epistemologi berasal dari istilah Yunani, episteme, yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti ilmu. Lihat, Nicholas Rescher, Epistemology: an Introduction to the Theory of Knowledge, (USA: State University of New York, 2003), hlm.xiii-xvii. Lihat juga, Ibrahim Madkūr, Mu’jamu al-Falsafah, (Mesir: Hai’ah al-‘Ammah li al-Shu’ūn al-Maṭba’ al-Amīrah, 1983), hlm.1. Lihat juga, Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu: Kajian atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan, Cetakan ke-5 (Yogyakarta: Belukar, 2008), p.28    

5 Adnin Armas, Krisis Epistemologi dan Islamisasi Ilmu, (Ponorogo: CIOS-ISID, 2007), hlm.1-2. lihat juga, Adian Husaini dkk., Filsafat Ilmu Perspektif Barat dan Islam, (Jakarta: Gema Insani, 2013), hlm.7

6 Lihat, komentar Sa’ad al-Din al Taftazani, terhadap buku Najm al-Din al-Nasafi, dalam A Commentary on the Creed of Islam, translated and notes, Earl Edgar Elder, (New York: Columbia University, 1950), hlm.19

7 Teks asli berbunyi, “…the text which Uthman canonized was only one out of many rival texts, and we need to investigate what went before the canonical text.” Arthur Jeffery, Materials for the History of the Text of the Qur’an: the Old Codices, (Leiden: E.J. Brill, 1937), hlm.x

8 Teks asli berbunyi, “…the name of Mahomet was abused to support all possible lies and absurdities.”  William Muir, The Life of Mahomet and the History of Islam to the Era of Hegira, Jilid 4 (London: t.p, 1861), hlm.1

9 Teks asli berbunyi, “It is difficult to regard the hadith literature as a whole as an accurate and trustworthy record of the sayings and doings of Muhammad”. Lihat Alfred Guillaume, The Traditions of Islam: An Introduction to the Study of Hadith Literature, (Oxford: Clarendon Press, 1924), hlm.12

10 Teks asli berbunyi, “We shall not meet any legal tradition from the Prophet which can be considered authentic” lihat Joseph Schacht, The Origins of Muhammadan Jurisprudence, cetakan kedua, (Oxford: Clarendon Press, 1959), hlm.149

11 Aslinya berbunyi, “A great many traditions in the classical and other collections were put into circulation only after shafi’i’s time. The first considerable body of legal traditions from the Prophet originated toward the middle of the second century” Ibid, hlm.4

12 Aslinya berbunyi “Even the classical corpus contains a great many traditions which cannot possibly be authentic” Ibid, hlm.4

Tulisan Terkait (Edisi Pasca-Kebenaran)

IKLAN BARIS