• Ikuti kami :

Syarat Baru Menjadi PKI

Dipublikasikan Ahad, 15 Oktober 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

“Barang siapa yang mengatakan bahwa Komunisme telah usang dan PKI tak akan pernah bisa bangkit lagi, itu lah orang PKI!”

– Sebuah suara, pada sebuah tempat, di suatu ketika –


Partai Komunis Indonesia (PKI), khususnya pada masa kepemimpinan D. N. Aidit, dikenal sebagai partai kader yang disiplin, keras dan militan. Partai ini menerapkan ketentuan-ketentuan tegas bagi anggotanya. Para anggota partai (khususnya pengurus Central Comite) dilarang keras korupsi dan musti hidup sederhana. Bahkan Aidit amat menjengkeli sikap sok Don Juan beberapa birokrat bahkan beberapa Jendral. Konon katanya ia juga jengkel pada Si Bung Besar yang doyan kawin. Kejengkelannya pada hal-hal begini juga yang (seperti biasa, konon katanya) membuat Aidit kecewa terhadap Njoto. Bung Aidit menyayangkan affair Kamerad Njoto dengan seorang perempuan Rusia. Padahal anak Njoto banyak.

Menjadi PKI ialah bersedia hidup susah! Begitu kira-kira teriakan Aidit berpropaganda. Ini partai memang benar-benar militan. Semangat dan nyali anggota-anggotanya terus dipompa dengan berbagai retorika dan karya-karya yang meledak-ledak. Teriakan-teriakan berisik berhamburan dalam tubuh partai ini guna menyorong militansi para kader. Tak heran, meski baru siuman dari peristiwa Madiun 1948, PKI dalam komando Aidit dapat memperoleh 6.179.914 suara pada Pemilu Konstituante 1955. Elektabilitas dan popularitas PKI selalu tinggi, mengancam partai-partai di atasnya meski waktu itu belum ada Lembaga Survei Indonesia. 

Dengan disiplin tinggi, indoktrinasi tiada henti, dan militansi menggarap semua wilayah dan politik sebagai panglima, PKI benar-benar menjadi kekuatan besar di Indonesia. Sayangnya, para pemimpinnya kurang sabar dan ceroboh. Terburu-buru dan kurang rencana. Persis kritik Tan Malaka 39 tahun sebelum Gestapu. Partai kaum komunis ini porak-poranda karena salah nyari musuh. Dengan sembrono PKI menantang tentara dan ummat Islam. Dua kekuatan yang pernah mengkocar-kacirkan berbagai pasukan dan kekuatan politik kolonial.  

Pada masa kini, PKI sering digadang-gadang akan bangkit kembali. Beberapa fihak menelaah beberapa keadaan di masa kini yang konon katanya mirip dengan masa-masa kejayaan PKI. Salah satunya keberanian orang-orang untuk mengejek agama; kecenderungan pada ateisme; moralitas yang menurun; dan masalah-masalah sosial di mana jurang ekonomi antara yang kaya dan yang miskin amat menganga. 

Kasus-kasus ini boleh jadi mirip dengan saat-saat terjadinya pemberontakan PKI. Akan tetapi itu tak serta merta membuatnya tersebabkan oleh kehadiran PKI. Kaum komunis memang kejam, tetapi tak semua yang kejam itu komunis. Orang PKI di masa dulu memang suka mengejek-ejek agama, tapi tak semua penista agama ialah PKI. Komunisme memang berkecenderungan pada ateisme, tetapi tidak semua yang ateis adalah orang komunis. Bisa jadi seorang liberalis sekali pun tak percaya dan menolak keberadaan Tuhan. Bahkan pemuda-pemuda patah hati dapat menjadi ateis dan bertanya di mana keadilan Tuhan di hari pernikahan pujaannya hatinya (yang menikah dengan orang lain). Sementara masalah-masalah sosial dan jurang ekonomi lebih disebabkan karena kita jarang sedekah dan kurang mahir mengelola zakat.

Tata berfikir yang menisbatkan beragam kekelaman kepada PKI boleh jadi berasal dari trauma yang dalam. Pada masa jayanya, PKI memang gemar memanaskan suasana dengan cara-cara yang kurang elok. Mengejek otoritas keagamaan, menyentuh keyakinan suatu kaum dengan provokasi yang lancang dan memainkan kekerasan (khususnya melalui Pemuda Rakyat) sebagai instrumen penekan musuh-musuh politiknya. Njoto, Aidit dan lain-lain tokoh gemar memobilisasi gertakan untuk mengintimidasi lawan politiknya. Bukan hanya dalam kata-kata, tapi juga penyerangan yang nyata (kasus Kanigoro misalnya). 

Tindakan-tindakan “kultural” PKI ini lah yang sebenarnya lebih menancap pada ingatan dan sanubari kelompok lain, khususnya ummat Islam. Ingatan akan sakitnya penghinaan PKI pada keyakinan kita. Ingatan akan hitamnya tindakan PKI di Madiun 1948 dan eksperimen gagal mereka di 1965. Bahkan boleh jadi, pembunuhan lebih mudah dimaafkan daripada penghinaan terhadap keyakinan. 

Dari sini kita bisa memahami kenapa “sumbu” kita jadi amat mudah “tersulut” ketika dibakar isu komunis, PKI dan ateisme. Ada pengalaman muram dalam sejarah kita terhadap kata-kata itu. Kekejaman dengan ancaman, hinaan kepada tokoh-tokoh yang kita hormati dan ejekkan terhadap keyakinan ialah ingatan tak terperi yang amat menusuk.

Orang tentu akan rela untuk mati ketika keyakinannya dihina dan hal ini musti dikelola dengan sebaik-baiknya. Pengalaman buruk terhadap PKI harus menjadikan kita waspada dan awas secara wajar dan tak berlebihan. Jangan sampai amarah yang berasal dari ingatan kelam itu menunjuk ke sana kemari dan salah arah. Sebab bukan hanya kita yang menjadi korban, ada banyak korban salah tuduh yang juga menderita.

Yang terpenting, jangan sampai ingatan kelam kita terhadap PKI dimanfaatkan fihak lain untuk menyulut emosi kita, sehingga kita bergerak dalam tabuhan gendang yang keliru. 

Jangan sampai kita memperbanyak anggota PKI karena menuduh siapa saja yang menyebut “komunis telah usang” sebagai orang PKI. Jangan kita membangkitkan PKI dengan memasukan orang yang menyatakan “PKI tak mungkin bangkit lagi” sebagai anggota PKI. Dulu berat orang masuk partainya Aidit ini dan lebih berat lagi mengeluarkannya. Kalau kita memasukkan yang bukan PKI sebagai anggota PKI, susah lagi kelak mengeluarkannya. Kalau begini, tak heran jumlah orang PKI makin banyak, 50 juta konon katanya. 8 kali lipat lebih dari jumlah pemilih mereka di tahun 1955. 

Kalau begitu 'kan cilaka!


Tulisan Terkait (Edisi Setelah Gestapu)

IKLAN BARIS