• Ikuti kami :

Seni dan Agama: Tinjauan Sepintas Lalu

Dipublikasikan Rabu, 06 September 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Alkisah, tersebutlah dua orang pangeran (Zaid dan Hamid) dipanggil menghadap ayahanda mereka, seorang raja yang telah menua. Baginda ingin menyampaikan wasiat kepada kedua putranya sebelum ajal menjemput. Raja berpesan agar mereka menjaga kolam air mancur warisan kerajaan turun temurun. Masing-masing satu kolam di dua istana yang berbeda. 

Dua orang pangeran menjalankan titah sang raja dengan penuh ketaatan. Sepanjang hari keduanya rajin membersihkan kolam, memastikan airnya tetap jernih dan dasarnya tak berlumut. Namun ada perbedaan antara kakak-beradik itu. Zaid hanya menjalankan perintah ayahnya, sekadar menggugurkan kewajiban. Sedangkan Hamid merawat kolam dengan penuh penghayatan. Ia urus kolam itu dengan saksama, dengan rasa dan fikirannya. 

Semakin lama Hamid semakin menyukai kolam yang ia rawat. Ketika malam tiba dan langit cerah, pangeran muda ini melihat sang purnama tercermin sempurna di kolam yang ia rawat. Sementara di pagi hari atau menjelang petang, beberapa ekor burung hinggap menghirup air di kolam itu. Kemerduan siulan mereka menarik hatinya. Beberapa tangkai bunga teratai mekar pula di kolam itu, mengundang kumbang dan kupu-kupu menari di sekitarnya.

Kepermaian di sekitar kolam yang ia rawat telah menambah kecintaan Hamid terhadap warisan ayahnya itu. Hamid merawat amanah Sang Raja dengan sepenuh hati. Semakin hari semakin bertambah keelokan kolam itu. Menghadirkan kesejahteraan yang khas di hati sang pangeran. Pengalaman mengurus kolam ini memberi kesan dan makna tersendiri bagi jiwa Hamid. Cinta, keindahan, dan empati telah memenuhi relun hatinya. Sedangkan Zaid hanya menjalankan rutinitas tanpa rasa yang mendalam. Suatu saat, kolam yang dirawat Hamid mungkin akan musnah tetapi keindahannya tetap abadi di benak insan yang pernah melihatnya. 

Begitulah sebuah kisah diceritakan. 

Para seniman sanggup “mengabadikan” keindahan yang terkandung dalam dunia zahir (seperti kolam Hamid) ke dalam beragam bentuk seni. Pelukis menggoreskan kuasnya pada selembar kanvas; Penyair menyusun kata menjadi puisi; seorang pemusik mengalunkan kecapi dan serulingnya; dan seorang sufi merenungi dan menyingkap hakikat keindahan yang zahir di dalam batinnya. Semua menggemakan nilai keindahan rupawi, menaik menuju keindahan yang lebih batin. 

J. F. Martel, seorang sineas asal Kanada, mengatakan ada dua hal yang penting dalam berkesenian; sensitivitas seniman dan artistri (bakat seni). Yang pertama berkenaan dengan perenungan serta pengalaman keindahan dan yang kedua berkaitan dengan proses kreatif. Alam menyediakan kesempatan bagi manusia untuk merenung banyak hal. Perenungan seseorang tidak terjadi begitu saja. Selalu ada alasan yang mendorong seseorang merenungkan sesuatu. Alasan terkuat adalah bahwa alam dengan segala keindahan lahiriahnya telah mempesona manusia hingga terpukau ketika memandangnya. Plato menyatakan filsafat bermula dari keterpukauan. Karenanya filsafat dan seni sama berawal dari keterpukauan ini. Keterpukauan melahirkan rasa penasaran atau hasrat ingin tahu yang melahirkan beragam tanya dalam fikiran. Ini lah jalan menuju ke alam filsafat.

Menurut Syed Naquib Al-Attas, seorang pemikir besar Muslim abad ini, sebelum filsafat hadir di tanah Yunani Kuno, para penyair lah yang berperanan dalam menjawab persoalan-persoalan kehidupan. Tentu saja dengan cara dan gaya yang berbeda dengan para filsuf. Seniman tidak memilih jalan pengungkapan diskursif atau dialektik tetapi menekankan perasaan dan meluahkannya ke dalam karya seni. Mereka ini lah yang pada masa-masa awal peradaban Yunani lebih banyak berperan dalam membina batin masyarakat. 

Semesta raya dan beragam kejadian dalam kehidupan kadang bersifat ambigu, samar, atau mutasyābihat. Ia laksana simbol. Kadang kekeliruan akal manusia dalam mengungkap ambiguitas dan bahkan absurditas kehidupan melahirkan tragedi. Alih-alih mencari jalan melepaskan kerisauan diri dalam menjawab berbagai pertanyaan besar dalam hidup, beberapa seniman melampiaskan kerisauan ini melalui seni. Menurut Nietzsche, hanya seni yang dapat melipur lara manusia dan menangani teka-teki kehidupan. Seni ibarat penyihir perempuan yang menebus dan menyembuhkan jiwa yang dirundung kebingungan menjawab teka-teki kehidupan. 

Nietzsche nampaknya telah keliru. Sebab penyihir ini pun hampa akan pengetahuan mengenai makna hidup. Seni yang ia maksud tak mampu menjelaskan asal muasal insan (jiwa), kemana ia akan kembali, apa tujuan hidupnya di dunia, serta apa makna dirinya. Si penyihir tak mampu memberi keyakinan dan kebenaran, ia hanya menampilkan aksi sulap dan keahlian mengelabui penonton yang terpukau. Mereka bertanya bagaimana keajaiban sulap bisa terjadi? Apakah ia nyata atau sekadar tipuan dan sihir? Seni yang ajaib itukah hakikat kehidupan?

Sesungguhnya Allah telah mengutus Rasul-rasul dengan membawa risalah kebenaran. Dan di antara para Rasul ada yang diberi wahyu dalam bahasa kaumnya. Bahasa inilah yang memiliki sifat al-bayyān (penjelas), berbeda dengan simbol atau gambar. Wahyulah yang menjelaskan kepada manusia yang terpukau itu mengenai makna di balik tanda-tanda semesta raya. Islam, seperti disebutkan oleh Al-Attas, telah memilih bahasa dalam bentuk prosa atau puisi sebagai sarana yang paling tepat untuk menafsir perkara-perkara Tanzil. Islam tidak menggunakan lukisan atau patung untung menjelaskan beragam wujud ghaib. Di sini kita telah menempatkan dan menegaskan kedudukan yang tepat bagi pengalaman seni atau estetik dan peranan agama.  

Hamka menyatakan, terharu (keterpukauan, hayrān) oleh pesona alam tabi'i telah mengisi alam khayali (imajinasi) insan yang mau berfikir dan merasa. Alam khayali itu ialah telaga yang airnya mengalir ke alam seni. Manakala keterpukauan dan khayal telah berpadu, datanglah pertolongan dari ilham. Di sanalah permulaan suatu ciptaan. Fikiran kemudian datang menyusun letak dan bentuknya. Bakat seni seseorang tentu akan menentukan pula wujud sebuah karya. Tetapi dari semua itu, kehendaklah (iradah) penggeraknya. Dalam proses penciptaan seni, ilmu dan iradah berpadu dengan qudrah. Qudrah (kuasa) di sini bersifat mental-intelektual. Yakni memikirkan bentuk dan letaknya dan bersifat kreatif. 

Di dunia Barat, penciptaan karya seni hanya ditekankan pada persoalan kehendaknya saja. Kehendak yang dimaksud pun ialah kehendak bebas yang memberi motif bagi seniman dalam mencipta tanpa mempertimbangkan qudrah dan bahkan ilmu. Mereka kehilangan hikmah tentang batas dan kedudukan kehendak seorang insan. Sehingga mungkin nanti kita akan menjumpai pispot berisi kotoran dalam sebuah pameran karya seni hanya karena si “seniman” di bawah bendera kebebasan berekspresi berniat membuatnya sebagai karya seni.

Pengalaman Hamid dalam cerita di atas telah membuatnya meraih surplus (meminjam istilah Rabindranath Tagore). Dalam pengertian yang lebih Islami, hal itu adalah ilhām, yang dapat mengantarkan manusia untuk memperoleh ilmu dan juga ma’rifah. Kita dapat mengibaratkan jiwa manusia sebagai cawan. Pengalaman keindahan telah mengisi cawan itu dengan kesadaran diri akan keindahan Ilahi. Namun cawan itu tak dapat menampungnya, keindahan meluber dan tertumpah menjadi karya seni. 

Nilai sebuah karya seni sangat bergantung kepada kemampuan jiwa seniman penciptanya dalam menyerap makna sesuatu. Pengalaman ruhaniah, pemahaman akliah dan pandangan hidup seorang seniman amat penting bagi karya seni yang ia ciptakan. Seniman yang sekular, tentu akan menciptakan karya seni yang menampakkan nilai-nilai sekular. Di zaman ini, ramai orang menyingkirkan makna batin yang terkandung dalam keindahan alam. Gunung-gunung, sungai, awan dan bintang tak dipandang sebagai tanda kebesaran Tuhan. Ia hanya dianggap kumpulan materi yang tak memiliki pesona ruhaniah. Tak mengherankan apabila kita kerap menemukan karya seni yang tak mampu mencerminkan keindahan yang hakiki. Karya yang hanya berkutat pada absurditas hidup yang tak ada ujung pangkalnya. 

Sedangkan seorang muslim akan menciptakan karya seni yang lebih bersifat spiritual, intelektual, dan moral berdasarkan pandangan hidup Islam. Apa yang dilakukan oleh Hamid dalam cerita di atas adalah iḥsān, bukan sekadar berbuat sambil lalu. Dalam konteksi ini, iḥsān, adalah perbuatan dan pengalaman keindahan yang sebetulnya banyak dialami kaum sufi. Iḥsān berkait secara bahasa dan makna dengan istilah ḥusn yang merujuk kepada keindahan rupawi sebagai manifestasi keindahan yang paling tinggi: al-Jamāl, Allah Ta’ala. Di dalam iḥsān terdapat unsur musyāhadah yang juga dapat diartikan dengan penyaksian atau perenungan keindahan maknawi (al-Jamāl). Musyāhadah inilah yang menentukan kandungan akliah sebuah karya seni. 

Memang tidak setiap Muslim dituntut untuk menjadi seniman. Akan tetapi pengalaman keindahan yang mendorong kehalusan akhlak dan selaras dengan fitrah jiwa insan, mestilah ada. Sebab jika seni adalah juga iḥsān, artinya hal itu adalah satu dari tiga pilar utama dalam agama setelah iman dan Islam. Maka sufi adalah seniman yang sejati dalam pengertian bahwa mereka telah mencapai tahap pengalaman keindahan transendental dan mengungkapkan pengalamannya tersebut ke dalam berbagai bentuk karya seni. 

Bahan Obrolan

Syed Muhammad Naquib al-Attas, Risalah Untuk Kaum Muslimin (Kuala Lumpur: ISTAC, 2001).

Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism (Kuala Lumpur: IBFIM, 2014).

HAMKA, Kenang-kenangan Hidup (Shah Alam: Pustaka Dini, 2009).  

J.F.Martel, Reclaiming Art in the Age of Artiface: A Treatise, Critique, and Call to Action (Kalifornia: Evlover Editions, 2015). 

Friedrich Nietzsche, The Birth of Tragedy (London: Penguin Books, 2003). 


Tulisan Terkait (Edisi Tradisi)

IKLAN BARIS