• Ikuti kami :

PKI, PKS dan Ketunanalaran Kita

Dipublikasikan Jumat, 20 Oktober 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Beberapa waktu lalu, beredar luas di dunia maya sebuah “telaah” perbandingan antara PKI dan PKS. Kedua partai ini memang memiliki beberapa kesamaan. Singkatan keduanya amat dekat, yang satu berakhiran ‘I’ yang satu berakhiran ‘S’. Persamaan dan kemiripan kedua partai ini nampaknya menjadi (atau dibuat menjadi) wacana yang menarik. 

Selain kemiripan singkatan, ada beberapa hal yang mirip antar kedua partai ini. Paling tidak menurut “telaah” yang beredar beberapa waktu lalu itu. Kesamaan pertama, PKI dan PKS sama-sama menganut “internasionalisme”. Bila PKI kerap dikaitkan dengan Komintern, PKS biasa ditautkan kepada Ikhwanul Muslimin. Kedua, PKI dan PKS sama-sama partai kader yang solid. Ketiga, keduanya sama-sama dianggap membangun sistem sel yang rapi. Paling tidak itulah hasil usaha “tekun” (untuk tidak mengatakan “kurang kerjaan”) dari beberapa fihak guna mencari-cari persamaan antara PKI dan PKS.

Tulisan ini tidak akan menambah 5 lagi persamaan antara PKI dan PKS (sehingga menjadi “8 persamaan PKI dan PKS, nomor 9 sangat mengejutkan!”). Kita hanya akan mencoba mencari tahu, kenapa harus PKS yang dipersamakan dengan PKI. Padahal partai yang dua huruf pertama singkatannya adalah huruf ‘P’ dan ‘K’ bukan hanya PKS. Ada PKB, PKPI dan PKNU. Namun beberapa orang lebih tekun mempersamakan PKI dengan PKS. Padahal PKI dan PKB pun memiliki persamaan, paling tidak sama-sama partai.

Usaha tekun semacam itu memang cukup menghibur. Akan tetapi kalau kita periksa dengan seksama, mencari persamaan dua hal yang berbeda tidak serta-merta membuat dua hal itu menjadi sama. Misalkan begini, kita tahu bahwa kera dan manusia itu sama-sama punya tangan, juga sama-sama punya kaki. Namun kera tetaplah kera meskipun ia tak memiliki tangan. Pun manusia buntung tetaplah manusia. Yang membuat kera menjadi kera bukan karena ia memiliki tangan, tetapi karena ‘kekeraannya’. Pun yang membuat manusia menjadi manusia bukan karena tangan atau kakinya melainkan ‘kemanusiannya’. Kekeraan dan kemanusiaan ini lah hakikat yang membedakan manusia dan kera. Sama-sama memiliki tangan dan kaki tidak membuat kera dan manusia menjadi sama. 

Mari kita terapkan permisalan di atas untuk kasus PKI dan PKS. Anggaplah PKI itu kera dan PKS itu manusia. Persamaan-persamaan antara PKI (kera) dan PKS (manusia) seperti keinternasionalan (misalkan lah itu tangan) dan kerapian sistem (sebutlah itu kaki) tidak serta-merta menjadikan keduanya sama. Sebab di samping persamaan, terdapat perbedaan. Dan perbedaan ini lebih hakikat daripada persamaan keduanya. PKS tetap PKS meski menanggalkan keinternasionalannya. PKI tetap PKI meski Komintern bubar. Yang terjadi ialah ketaklengkapan, seperti manusia atau kera buntung, tak bertangan dan tak berkaki.   

Sampai sini cukup jelas bahwa persamaan dan perbedaan dua anasir perlu diperhatikan untuk melihat hakikat keduanya. Sama-sama partai tidak berarti sama-sama jahat. Sama-sama makhluk hidup tidak berarti sama-sama berfikir. Tata logika semacam ini sebenarnya amat sederhana, umum dan universal. 

Mempersamakan PKI dan PKS tentu tidak dilakukan guna dan dengan bernalar tertib seperti contoh kecil di atas. Ada hal lain di luar ketertiban nalar yang coba dicapai para pengusungnya. Citra PKI yang babak belur dihantam-hantami sejarahnya sendiri ditambah propaganda Orde Baru nampaknya dapat kita jadikan titik awal penelusuran. Citra kelam ini lah yang hendak dicipratkan kepada PKS. Apabila kita asosiasikan PKI dengan ‘pemberontakan’, ‘pembunuhan para jendral’, atau sederhananya dapat kita rangkum dalam kata ‘jahat’, kita akan menemukan kesimpulan sederhana: PKS memiliki beberapa persamaan dengan partai yang ‘jahat’. Jadi nampaknya orang-orang kurang kerjaan itu (maaf, maksudnya orang-orang tekun itu) bermaksud membangun narasi: bukan hanya PKI saja, tapi PKS juga begitu. PKI berbahaya bagi kesatuan bangsa dan negara, PKS juga. Argumentasi yang dibangun: ada beberapa persamaan antara keduanya.

Sama-sama partai, sama-sama serius mengurus kader, sama-sama internasionalisme, sama-sama menjengkelkan, tidak berarti sama-sama berbahaya bagi bangsa dan negara. Ini dapat dimisalkan dengan: sama-sama makhluk hidup, sama-sama bertangan, sama-sama berkaki tidak berarti sama-sama tidak bermoral. Mencitrakan PKI dengan PKS tentu tunanalar.

Selain tunanalar, hal itu juga tak empiris. Sangat sulit menemukan bahaya PKS terhadap bangsa dan negara secara empiris. Kalau mereka dituduh radikal dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah, itu agak janggal. Kader-kader mereka di kampus-kampus negeri ini lucu-lucu kok. Radikal gimana... 

Sejauh ini PKS baru ada di taraf menjengkelkan. Misalnya orang-orangnya terlalu bercitra ahli surga. Ini tidak salah tapi sering disangka atau malah menjadi intimidatif. Keliru cara memang sering mengelirukan akibat. Contohnya ngajak orang lain shalat , kalau salah cara, bisa diartikan sebagai tidak percaya orang yang diajak itu mampu secara sadar shalat sendiri tanpa harus disuruh. Yang salah bukan ngajaknya apalagi shalat-nya, tetapi caranya atau tafsirnya. 

Melihat massa dari kelompok lain sebagai ladang dakwah juga hanya menjengkelkan saja, tetapi jelas tidak membahayakan bangsa dan negara. Ini juga bukan pemberontakan atau pembunuhan jendral-jendral. Salip-menyalip rebutan suara ini sudah membiasa di negeri kita, sudah berlangsung lama dan tidak membahayakan keselamatan bangsa. Hanya menjengkelkan saja. Pun otak-atik urusan politik, dari dulu ya begitu-begitu saja. Gak berbahaya selama masih dalam koridor pertarungan yang wajar.

Ada juga tuduh-tuduhan yang cukup lucu. Katanya lebih baik dituduh PKI daripada dituduh PKS. Padahal tidak ada yang menuduhnya, ini seperti permintaan untuk dituduh yang kekanan-kanakan. Seperti kambing yang berusaha memilih lebih baik dituduh menjadi kera atau manusia padahal tidak ada yang menuduhnya sebagai apa-apa. Ini berkait dengan korupsi? 

Korupsi orang PKS memang lebih menjengkelkan daripada korupsinya orang Golkar, PDIP atau Demokrat (misalnya). Kejengkelan yang berlipat-lipat itu wajar. Kalau orang sekuler salah, jengkelnya memang cuma selipat. Namun kalau orang yang di dirinya tertaut citra ahli surga salah, jengkelnya jadi berlipat-lipat. Kejengkelan begini memang bisa membuat nalar berkabut dan mendorong kita untuk lebih giat menyerapahinya.  

Namun membuat (seakan-akan) PKI menjadi lebih baik dari PKS gara-gara hal begini kurang merenah. Kurang pas. “Kejahatan” PKI dan “kejahatan” PKS tidak pas untuk dipilih. Tidak ada yang menuduh Anda PKI, tidak ada yang menuduh Anda PKS, dan lalu Anda memilih satu di antara keduanya. Itu agak konyol untuk sekadar menunjukkan kejengkelan terhadap PKS.

Kejengkelan-kejengkelan dalam berbangsa dan bernegara sebenarnya hal yang wajar-wajar saja. Akan tetapi bukan kejengkelan itu yang penting, atau paling tidak bukan itu yang paling penting. Lebih penting, misalnya, kita mencari cara untuk menekan budaya korupsi di tubuh bangsa kita daripada menjengkeli PKS terus-menerus. Jengkel pada sesuatu itu harus produktif, bukan membuat kita semakin tunanalar.  

Tapi kenapa PKS sering diserang dan menjadi bahan kejengkelan? Itu bisa jadi karena dua kemungkinan. Pertama, memang PKS yang paling menjengkelkan. Kedua, orang-orang itu memang beraninya cuma sama PKS.

Tulisan Terkait (Edisi Setelah Gestapu)

IKLAN BARIS