• Ikuti kami :

Habibie dan Masa Depan Cita-Cita Anak-Anak Indonesia

Dipublikasikan Senin, 27 Maret 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Beberapa waktu lalu Baharuddin Jusuf Habibie berulang tahun. Sebuah harian Muslim nasional terkemuka merayakannya dengan cara khusus. Harian itu, tepat di hari ulang tahun Habibie menampilkan gambar beliau sambil bermain-main dengan pesawat kertas. Dengan latar siluet hitam, beliau terlihat padu terpampang pada halaman muka, satu halaman penuh. Habibie memang pantas untuk dihargai, terlepas dari kekurangan-kekurangan yang juga dimilikinya.

Tahun 80-90 manusia-manusia berada dalam kuasa Orde Baru. Pada masa ini, pembangunanisme menjadi faham akhlak dan dasar moralitas yang dianut oleh pemerintahan pimpinan Bapak Soeharto. Semua langkah hingga nafas manusia Indonesia ketika itu dibimbing, diarahkan, bahkan mungkin dipaksa dan dijebak ideologi daripada tersebut di atas. Manusia Indonesia versi Orde Baru hanya memiliki dua tujuan dan cita-cita: menyukseskan pemilihan umum, dan mendukung pembangunan nasional.

Pun kanak-kanak era Orba, terjebak (atau dijebak secara sengaja) dalam pandangan ini. Segala institusi pendidikan berusaha dengan sepenuh tenaga, hati, dan pikiran untuk mewujudkan “amanat” pembangunanisme. Anak-anak Indonesia ditata dengan beragam program dalam jalur anak-anak pembangunan dan remaja pembangunan. Termasuk soal cita-cita. Para guru, orang tua, lingkungan, dan TVRI, mengarahkan anak-anak untuk bercita-cita menjadi seorang yang memang dikehendaki oleh nilai-nilai pembangunanisme. Cita-cita anak Indonesia musti berkesesuaian dengan pekerjaan yang dibutuhkan gerak kemodernan dan ke-industrial-an. Dua hal terakhir ini adalah dua konsep turunan dari pembangunanisme.

Menjadi seorang dokter, insinyur, dan pilot ialah beberapa cita-cita anak-anak Indonesia yang sering dianjurkan Orde Baru. Namun, pilot memang berguna untuk industri penerbangan. Insinyur dibutuhkan dalam industri barang yang bernilai ekspor, juga untuk industri minyak dan gas. Dokter dibutuhkan untuk merawat kesehatan manusia Indonesia yang di beberapa daerah masih memprihatinkan. Dokter diperlukan untuk mengatasi para dukun dan penggunaan bahan herbal tak ilmiah sebagai obat.

Di sinilah peran penting Pak Habibie. Sebagai seorang Menteri Riset dan Teknologi nyaris di sepanjang hidup Orde Baru, Habibie merupakan imajinasi ideal para guru di Indonesia. Akhirnya Habibie ialah imajinasi ideal anak-anak sekolah Indonesia. Ya Habibie adalah salah satu pusat, sebut saja suri tauladan para guru dalam membimbing anak didiknya. Diusahakan para peserta didik menjadi seperti Habibie: cerdas, enerjik, dan tanggap teknologi (baca: teckhnolokhy dengan dua huruf kho tebal). Bagi sebagian besar anak-anak Indonesia—yang rajin belajar, patuh kepada orang tua dan guru, rajin mengerjakan PR, tidak nakal, tidak suka mengganggu anak yang lebih kecil darinya, dan suka membantu nenek-nenek menyeberangi jalan—Habibie adalah sosok yang pantas dijadikan cita-cita. Menjadi seorang Habibie adalah tindakan mulia dalam timbangan ilmu Pendidikan Moral Pancasila (PMP), yang kemudian menjadi PPKn. Lebih mulia daripada mengerjakan PR dan membantu nenek-nenek menyeberangi jalan.

Pusat lainnya, adalah Soeharto. Tapi tidak bisa dijadikan suri tauladan. Sebab, bercita-cita menjadi seorang Soeharto--menjadi presiden--adalah  sebuah cita-cita makar, subversif, dan mengganggu ketertiban umum. Tidak ada guru yang berani mengajarkan cita-cita menjadi presiden kepada anak didiknya. Tidak ada seorang ayah yang berani dan tidak ada seorang ibu yang tega untuk mengajarkan hal itu kepada anak-anaknya. Bercita-cita menjadi seorang presiden pada waktu itu adalah haraamun lil-dzaatihi, sekaligus haraamun lil-sabab. Pelakunya ditindak tegas oleh aparat dalam rangka menegakkan wibawa pemerintah, atau minimal lapor diri seminggu sekali ke Komando Distrik Militer (Kodim) terdekat dari rumah.

Pernah suatu ketika, ada orang yang bercita-cita menjadi seorang presiden. Namanya Haji Naro. waktu itu beliau adala seorang tokoh terkemuka di Partai Persatuan Pembangunan. Ia bercita-cita menjadi seorang presiden, diusahakannya melalui partainya itu. Tapi kemudian kandas. Pemerintah langsung memberangus cita-citanya. Partai politiknya diakali untuk sekian lama. Itulah bahayanya bercita-cita menjadi seorang presiden kala itu. Peristiwa ini diabadikan di koran dan televisi (tentu diabadikannya dalam aturan main Orde Baru). Para guru dan para orang tua murid mestilah tahu peristiwa itu.

Sepertinya ada semacam perintah khusus dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan kepada para guru di institusi pendidikan untuk mengarahkan cita-cita anak didik kesayangannya kepada Habibie, dan menjauhi Soeharto.

Pengarahan ke Habibie sebagai tempat menyandangkan cita-cita memang baik. Akan tetapi disempitkan oleh Orde Baru sebagai Habibie seorang teknokrat (baca: tekhnokghrat). Memang keteknokratan menjadi pokok dalam peradaban Orde Baru. Cita-cita lainnya dianggap akan mengantarkan anak menjadi warga kelas dua. Tak boleh didukung bahkan musti dijauhi. Menjadi seorang penyair bukanlah yang dikehendaki oleh pemerintah, guru, apalagi orang tua. Menjadi penyair alamat miskin dan menggembel hidupnya di emperan. Menjadi seorang ulama memang cita-cita mulia, namun memancing kecurigaan pemerintah. Menjadi seorang ulama kala itu berarti mengikhlaskan hidupnya untuk dibayang-bayangi intel negara, dan sewaktu-waktu bisa diciduk, khususnya menjelang Pemilu. Tidak semua orang tua dan guru setuju kalau si anak ingin menjadi ulama. Bahkan umumnya tidak setuju.

Hingga pada satu masa—dalam bahasa kanak-kanak Orde Baru: pada suatu hari—Habibie menjadi presiden menggantikan Pak Harto. Seketika itu pula, menjadi presiden masuk ke dalam bayangan cita-cita anak Indonesia. Para guru lega, tidak perlu lagi menghindarkan anak murid dari keinginan menjadi presiden. Para orang tua tenang hatinya, tidak perlu lagi melarang anak-anaknya menjadi presiden. Dan yang paling senang, tentu saja Kodim, tidak perlu lagi disambangi oleh orang-orang sipil, tidak perlu lagi mengisi formulir kasus. Tentara-tentara di Kodim lega, mereka punya waktu yang lebih luang untuk latihan, main bola volly, melihara burung, dan mencari jodoh untuk anak gadis dari warga sekitar.

Habibie telah menyelamatkan cita-cita anak Indonesia.

                                                                                ***

Sekarang, cita-cita sudah semakin luas perbendaharaannya. Anak-anak Indonesia tidak akan kekurangan cita-cita. Menjadi seorang ulama, contohnya, adalah hal mulia dan didukung oleh banyak orang (Islam). Tidak perlu takut lagi diintimidasi oleh penguasa. Alhamdulillah. Tetapi tentu saja, kalau begitu, menjadi seorang ulama di zaman kini pastilah tidak seheroik zaman dulu.

Tapi anehnya, setelah banyak pilihan cita-cita dihidangkan di depan mata anak-anak Indonesia, mereka tidak tertarik. Mereka lebih suka memenangi permainan daring. Mereka lebih suka menjadi pembeli pertama gawai model terbaru. Dan paling tinggi mereka lebih suka menjadi anak motor yang saban malam gentayangan di jalan-jalan pinggiran kota. Yang laki-laki bercelana denim ketat dan lusuh, yang perempuan bercelana lima belas senti di atas paha buriknya yang berwarna hitam lusuh.  Setelah bebas, mereka tak mau lagi jadi Habibie atau Presiden.

Ada apa ini?


Tulisan Terkait (Edisi Anak)

IKLAN BARIS