• Ikuti kami :

Apa Jadinya Silat Tanpa Islam? (Interpretasi Film Surau dan Silek)

Dipublikasikan Senin, 28 Agustus 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Pertanyaan pada judul tulisan ini muncul dalam bentuk teks pada trailer Surau dan Silek. Film Surau dan Silek arahan Arif Malinmudo mencoba menjawab pertanyaan tersebut.

Barangkali banyak hal yang menarik dan dapat diapresiasi dalam film ini. Namun demikian, pesan mengenai makna silat yang disampaikan dalam film tersebut akan menjadi perhatian dalam tulisan ini. Pertautan silek dengan surau yang digambarkan film produksi Mahakarya Pictures ini amat menarik untuk disimak.

Surau dan Silek hadir pertama kali di beberapa bioskop Indonesia pada 27 April 2017. Film ini berkisah tentang kehidupan seorang anak lelaki bernama Adil, melalui silek (silat) ia akhirnya sampai pada makna hidup itu sendiri.

Adil, seorang anak yatim, memiliki berbagai keinginan: ingin menjadi anak shalih, ingin agar bapaknya masuk surga, ingin memenangkan pertandingan silat, membahagiakan ibunya, dan keinginan lainnya. Dari keinginan-keinginan itulah, konflik dimunculkan. Adil dengan tingkat pemahaman yang khas kanak-kanak dan kehidupan di tengah lingkungan yang mengitarinya harus menghadapi berbagai persoalan. Beragam konflik hadir, yang pada akhirnya mengantarkan diri Adil mengerti akan makna hidup.

Beragam jenis bela diri (termasuk silek), sering kita anggap sebagai sebuah olahraga yang bersifat praktis. Orang-orang berlatih bela diri untuk membuat tubuh berkeringat, guna menurunkan berat badan, agar badan sehat, sekadar kegemaran, dan yang terpenting: bisa dipertontonkan di depan khalayak. Bela diri dapat menjadi show yang menarik bagi para pencari hiburan, kesenangan, atau bahkan keisengan. Demikian pula dengan Silek yang dapat dikelola sekadar sebagai gaya hidup dan menjadikan orang-orang yang menggelutinya terkenal. Silek juga dianggap menggambarkan kegagahan, kehebatan, kekuatan fisik, dan kebanggaan akan itu semua.

Citra demikian kerap dilekatkan pada orang-orang yang ber-silek. Silek seringkali hanya dipandang pada unsur-unsur lahirnya saja. Silat hanya berkutat pada persoalan kegagahan, kelelakian dan kemampuan berkelahi. Sisi batin dari silat kurang mendapat perhatian yang saksama. Karenanya, silek tradisional masih dianggap berarti bagi sebagian orang hari ini.

Itu semua setidaknya diperlihatkan dalam film Surau dan Silek. Pandangan umum kerap melihat silek sebagai ilmu berkelahi. Makna yang lebih dalam dari bela diri ini kurang mendapat perhatian. Nampaknya hal ini lah yang menjadi latar belakang penyusunan cerita film ini.

Surau dan Silek, Menelusuri Makna Silat Melalui Tokoh Adil

Adil, seorang anak SD di Sumatra Barat, telah mempelajari silek sejak usia dini. Hal yang telah membudaya di sana. Pemahaman Adil kecil terhadap silek ialah juga ceriminan pemahamannya atas kehidupan. Pemahamannya tentang silek, dalam hal ini: silek Minang, sama seperti pemahaman masyarakat pada umumnya di wilayah tempat tinggalnya. Pada tingkat itu, Adil menjadi bagian dari kebanyakan masyarakat. Ia menganggap silek adalah soal gengsi, terlebih-lebih melalui silek, ia merasa bisa mengembalikan citra dirinya yang tercemar oleh fitnah yang telah dilakukan teman sebayanya di arena silek. Ia juga bisa menyalurkan dendamnya (atas kecurangan dan kekalahan yang diterimanya pada turnamen sebelumnya) melalui silek. Dendam yang menurut orang-orang modern merupakan dendam positif karena disalurkan dengan cara yang benar, menjadi motivasi untuk melakukan hal yang lebih baik. Dalam kasus Adil di film ini, dendam menjadi pendorong untuk memenangkan pertarungan dalam turnamen silek.

Dengan pemahaman seperti itu, Adil tertatih-tatih menggapai keinginannya. Ia bertemu berbagai peristiwa dan perenungan hingga sampai pada pemahaman silek yang lebih dalam. Di tengah usahanya memenangkan turnamen, ia ditinggal merantau oleh guru silatnya. Adil berusaha mencari guru yang lain namun ia mengalami kesulitan dan hampir putus asa.

Dalam pencariannya anak ini kemudian bertemu dengan Dr. Johar Hakim (Gaek Johar). Pada masa mudanya Gaek Johar ialah seorang jawara silat. Pertemuan itu membuat Adil seperti melihat harapan yang sebelumnya hampir sirna. Bersama kawan-kawannya, Dayat dan Kurip, Adil berharap dapat berguru dengan ahli silat ini. Mereka menganggap telah bertemu dengan orang yang tepat, sosok yang dapat mengantarkan mereka menjadi jawara dalam pertandingan silek. 

Akan tetapi tak serta merta sosok tua ini bersedia menerima Adil dan kawan-kawannya menjadi murid silek. Gaek Johar digambarkan sebagai seorang jawara sejati. Ia adalah salah seorang yang masih memaknai silek sebagai jalan untuk mencari kawan dan Tuhan. "Lahir silat mencari kawan, batin silat mencari Tuhan." begitu kata Gaek Johar. Tidak ada arogansi sama sekali dalam hakikat silek. Dalam bersilat, seseorang tidak mencari musuh/lawan, justru yang dicari adalah kawan. Bahkan, di tingkat batin, seseorang itu berusaha mengenal Tuhan. Kesehatan, pertunjukan, kegagahan, dan dendam sebenarnya bukan persoalan utama dalam ber-silek. Tuhan lah yang utama. Gaek Johar tiada berkeinginan menjadi guru silek. Ia semakin tak berminat mengangkat murid, manakala melihat generasi baru yang memiliki kekeliruan dalam motivasi ber-silek.

Namun demikian, setelah melalui pemikiran yang panjang dan bujuk rayu orang-orang di sektarnya, Gaek Johar luluh. Ia memutuskan untuk mengajarkan silek, khusus kepada Adil, Dayat, dan Kurip. Gaek Johar mengajarkan makna silek yang sesungguhnya terhadap anak-anak ini. Dikembalikannya silek ke surau. Baginya, kalau urusan dengan surau belum selesai, maka urusan silek pun tak akan pernah selesai.

Anak-anak dibiasakannya dengan surau. Mereka yang kian hari kian terbiasa dengan surau mulai senang mendengar azan. Begitu azan berkumandang, berlarianlah mereka ke arah sumber suara. Mereka memulai segalanya di surau, termasuk memahami hakikat silek. Adil yang terlihat paling fokus terhadap latihannya, mulai melupakan dendamnya. Bukan karena kesibukannya berlatih, melainkan karena penjalinan hubungannya dengan Tuhan. Adil terlihat mulai memahami hakikat silek, mencari Tuhan. Baginya, silek tidak lagi identik dengan tempat bertanding atau suatu turnamen, tetapi ia identik dengan surau.

Dari uraian tersebut, dapat dilihat bahwa terdapat proses dalam memaknai silek oleh tokoh Adil dari makna pertama kepada makna kedua: (1) silek sebagai metode bela diri, kebanggaan, wadah pertarungan dan balas dendam; (2) silek sebagai sarana mengenal Tuhan. Perubahan tersebut terjadi secara signifikan setelah tokoh Adil bertemu dengan seorang tokoh bernama Gaek Johar.

Islam pada Tradisi Silek dalam Surau dan Silek

Silek adalah salah satu tradisi di Indonesia yang sarat makna. Dapat dilihat melalui film Surau dan Silek. Pada hakikatnya, silek hendak menyampaikan suatu pesan: lahirnya mencari kawan dan batinnya mencari Tuhan. Silek dinyatakan sebagai aktivitas yang serangkai dengan shalat dan shalawat. Ketiganya tidak dapat dipisahkan. Itu semua dipelajari di surau. Melalui silek, seseorang dapat berjumpa dengan agama, mempelajarinya, dan kemudian mengamalkannya, menjalankan perintah Tuhan, khususnya dalam silat: mengolah jiwa dan raga serta untuk menjalankan amar ma'ruf nahi munkar.

Kesehatan jiwa, raga, dan kehidupan sosial merupakan unsur yang diperhatikan dalam silek. Namun demikian, itu semua, hakikatnya, adalah demi menjalankan perintah agama, Islam. Di sisi lain, dendam, citra gagah, dan kebanggaan akan hal-hal tersebut dengan sendirinya luntur karena hakikat silat itu pula, menjauhi larangan Tuhan, menjalankan perintah agama, Islam.

Dalam cerita, Adil mencapai titik balik ketika ia mampu menguasai dirinya sendiri, memahami makna silek, bahkan ketika harus berada di dalam arena silek. Ia menjadi pemenang yang sesungguhnya. Ia menang, baik secara permainan bagi orang kebanyakan maupun secara capaian pengalaman batin yang dilaluinya sendiri.

Persoalan yang muncul dalam cerita, konflik batin, berakhir ketika Adil mampu mengejawantahkan makna kehidupan yang dia pelajari melalui silek. Ia menyambung hubungan (ber-silat-urahmi) dengan memaafkan orang yang pernah berlaku salah padanya. Ia memaafkan pasangan bersilatnya sebelum ia menghadapinya di arena. Ia bersilat tanpa dendam, walau dendam itu dikata positif, dan tanpa ambisi, walau ambisi itu sekadar untuk menguasai dirinya sendiri.

Pengalaman Adil terhadap pemaknaan silek tersebut telah memperlihatkan betapa hampanya silek tanpa Islam (direpresentasi oleh surau). Dikatakan hampa karena silek akan menjadi pragmatis semata dan hanya akan diisi oleh hasrat. Silek tanpa surau bagai kata tanpa makna. Ia dapat saja didengar bunyinya, tetapi tidak memberikan pesan apa-apa, selain bunyi itu sendiri sekalipun ia indah.

Film Surau dan Silek cukup dapat menggambarkan pandangan orang-orang hari ini terhadap tradisi, dalam hal ini silek. Bagi kebanyakan orang di hari ini, tradisi bisa dipertahankan apabila ia memiliki faedah (guna). Kata faedah/ guna di sini maknanya menyempit, menjadi hanya sesuatu yang praktis dan materialistis. Tradisi (dianggap) tak berguna tanpa kepraktisan. Dengan kata lain, ia dianggap berguna hanya karena kepraktisan atau nilai materinya. Dari itu semua, dapat disadari bahwa tradisi tanpa makna memang akan kehilangan hakikatnya. Begitu pula silek, ia akan kehilangan hakikatnya tanpa Islam.

Silek sebagai salah satu tradisi yang ada di negeri ini sesungguhnya mempunyai nilai yang berharga apabila kita memahaminya. Tanpa mengenalnya, orang hanya akan menjadikannya komoditas atau akan meninggalkannya, baik karena alasan kurang berarti maupun kurang berfaedah. Kurang tersebut muncul karena latar belakang ketidaktahuan. Hal semacam itu adalah tindakan yang sewenang-wenang, jauh dari representasi adil. Adil di sini bukan saja nama tokoh utama dalam Surau dan Silek, melainkan juga merupakan sebuah kata yang apabila diamalkan, dapat menjadi kunci untuk dapat membuka pintu pemahaman akan banyak hal, termasuk menganai tradisi.

Hari ini, kita masih mendengar pernyataan bahwa penting untuk melestarikan budaya, tetapi tanpa dasar yang kukuh. Dengan demikian, hari ini juga, kita menjadi faham akan alasan orang meninggalkan tradisi: ketidaktahuan. Dari pada itu, sebuah pertanyaan muncul, “Relakah kita menukarkan tradisi yang berharga semacam itu dengan tradisi ‘bertindak sewenang-wenang’?”

Film Surau dan Silek yang didominasi oleh penggunaan bahasa Minangkabau dalam komunikasi antartokoh ini cukup berhasil menampilkan silat sebagai fenomena metode bela diri hari ini sekaligus sebagai tradisi yang hampir terlupakan.

Yang tidak kalah menarik dari film ini adalah meskipun membawa nama silek, keindahan gerakan silek itu sendiri tidak tampak dieksploitasi dalam film tersebut. Gerakan silek tidak berusaha dipamerkan untuk sekadar mengundang decak kagum penonton. Film tersebut justru mengemukakan narasi mengenai hakikat silek yang sungguh langka untuk ditemukan akhir-akhir ini, keindahan yang akan mengantarkan kita pada kesadaran akan keagungan Islam. Barangkali pembuat film Surau dan Silek melakukan hal itu karena mereka tidak ingin terjebak dalam tindakan menyempitkan makna silek itu sendiri.

Tulisan Terkait (Edisi Tradisi)

IKLAN BARIS