• Ikuti kami :

Nurcholis Madjid Pasca-Gestapu '65 (I)

Dipublikasikan Kamis, 19 Oktober 2017 dalam rubrik  Perbendaharaan Lama

Membaca Indonesia pasca-Gestapu 65, kita tak dapat melewatkan persoalan hubungan Islam dan negara pada masa-masa Orde Baru (baik dari segi wacana maupun praktik politik). Dalam perhubungan Orde Baru dan Islam ini peran Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) amat lah penting. Kita sama tahu bahwa HMI berhasil melalui tahun-tahun yang mencekam di penghujung kuasa Orde Lama. Organisasi ini tak dibubarkan dan menjadi unsur penting dalam politik Islam ketika itu. HMI berhasil "berdialog" dengan kekuasaan Bung Karno meski tuntutan pembubaran dari PKI dan kroninya terus didesakkan. Catatan mengenai perjalanan HMI melewati transisi Orde Lama menuju Orde Baru ini dapat kita baca dalam memoar Sulastomo, ketua HMI ketika itu, dalam sebuah buku berjudul Hari-hari yang Panjang: Transisi Orde Lama ke Orde Baru (Jakarta: Kompas Media Nusantara, 2000).

Selepas Gestapu, HMI terus melaju. Menangguk peran sebagai bagian dari kelompok yang turut serta menumbangkan Orde Lama. HMI berperan penting menggerakan kaum muda dalam berbagai demonstrasi Tritura, yang kelak dianggap melahirkan Angkatan 66. Di masa ini pula HMI mulai membangun patron lain selain Masyumi: Angkatan Darat, cikal bakal Orde Baru. Kelak, HMI benar-benar terbelah secara patron dan ideologi. Satu fihak tetap memegang teguh "jalur" Masyumi, sementara fihak lainnya membelot membangun gagasan liberalisasi dan sekularisasi yang amat menguntungkan Orde Baru.

Keping paling penting dalam wacana ideologi di HMI ini ialah Nurcholis Madjid. Ia adalah pengganti Sulastomo sebagai Ketua Umum PB HMI, terpilih dalam Kongres HMI Ke-8 di Solo, September 1966, tepat setahun setelah Gestapu. Pada masa-masa ini ia sempat dijuluki "Natsir Muda". Gagasannya banyak dimuat di Panji Masyarakat, majalah yang dipimpin Buya Hamka. Hal ini menunjukkan kedekatannya dengan tokoh-tokoh Masyumi. Cendekiawan kelahiran Jombang ini bahkan didudukkan oleh Panjimas sebagai bagian dari ahli-ahli pidato "penjunjung Tauhid, yang hidup mati, bahagia atau sengsara telah dipandang sebagai irama hidup belaka di dalam menegakkan Kalimat Allah yang suci dalam tanah air tercinta ini" (lihat : Pki, Orla, Orba, Kekecewaan, Harapan dan Kita).

Kelak Nurcholis terpilih kembali dalam Kongres HMI ke-9 di Malang, pada Mei 1969. Alih-alih memperjuangkan rehabilitasi Partai Masyumi, Nurcholis malah kemudian mewacanakan sekularisasi melalui pidatonya “Keharusan pembaruan pemikiran Islam dan masalah integrasi umat” setahun kemudian. Dalam pidato itu lah slogan “Islam Yes Partai Islam No” yang digaungkan Nurcholis muncul.

"Natsir Muda" telah memilih jalannya sendiri meninggalkan Bapaknya yang kemudian "terpaksa" memilih jalur dakwah setelah pintu politiknya dikunci Orde Baru. Gagasan-gagasan sekularisasi Nurcholis jelas menguntungkan Orba yang (pura-pura) berhaluan "liberal" dalam menata kebudayaan dan ekonomi.

Namun ada masa-masa ketika Cak Nur (panggilan akrabnya kelak) memuat tulisan-tulisannya di Panji Masyarakat. Salah satunya mengenai Dies Natalis HMI ke-20, 5 Februari 1967. Dalam tulisan berjudul: "20 Tahun HMI Berjuang" tersebut, Nurcholis masih menasbihkan diri sebagai kader Masyumi, tetapi sekaligus sudah menunjukkan pergaulan dirinya dengan elit pemerintahan cikal bakal Orde Baru. Hal itu ditunjukkan dengan menyatakan bahwa resepsi pembukaan Pekan Dies Natalis HMI yang kedua puluh dihadiri oleh pembesar-pembesar pemerintah.

Tulisan tersebut akan kami muat dalam tiga bagian. Bagian pertama ini akan menunjukkan bagaimana pandangan Nurcholis terhadap organisasi yang dipimpinnya: HMI. Ia melihat HMI sebagai organisasi yang lahir dari rahim ummat. Meski tidak menyebut HMI sebagai "anak" Masyumi, tetapi jelas corak HMI yang modernis sewarna dengan Masyumi. Berikut tulisan Cak Nur setengah abad yang lalu. Redaksi Nuun.id menyunting dan melakukan penyesuaian seperlunya dengan tetap berusaha menjaga wacana aslinya:

***

20 Tahun HMI Berjuang

Pada tanggal 5 Februari 1967 di Yogyakarta, kota kelahiran HMI, telah dilangsungkan resepsi pembukaan Pekan Dies Natalis Nasional HMI yang kedua puluh. Selain pembesar-pembesar pemerintahan, seperti Pangdam VII Diponegoro dan lain-lain, dengan sendirinya datang menghadiri resepsi tersebut anggota-anggota Pengurus Besar HMI dari Jakarta.

Resepsi yang cukup meriah itu dilangsungkan di Pendopo Kepatihan dengan bantuan sepenuhnya dari fihak pemerintah daerah setempat. Kemudian pekan Dies Natalis yang berlangsung selama sebulan di seluruh tanah air itu pada tanggal 5 Maret 1967 ditutup secara nasional pula di Jakarta dengan menggerakkan apel akbar di lapangan Pancasila, dan kemudian dilanjutkan dengan pawai yang diikuti beribu-ribu massa HMI Jakarta Raya, Bandung, Bogor, Serang, Purwakarta, Karawang, Ciputat, Ciawi dan lain. Pawai yang sangat meriah itu menggambarkan kebesaran daripada ummat Islam Indonesia, yaitu sebagian daripada bangsa Indonesia yang paling banyak merasakan penderitaan di bawah kekuasaan sewenang-wenang, baik yang dilakukan oleh bangsa asing maupun yang dilakukan oleh sebagian dari bangsa sendiri yang dikepalai Soekarno.

Sejarah Kelahiran HMI

Dalam memperingati dies natalis HMI yang keduapuluh itu, kita teringat akan masa-masa lampau akan sejarah perjuangan organisasi ini untuk kejayaan dan ketinggian kalimatullah. HMI didirikan pada tanggal 5 Februari 1947 di kota Yogyakarta, ibu kota Republik Indonesia pada waktu itu, oleh beberapa mahasiswa Sekolah Tinggi Islam dan Universitas Gajah Mada. Selain untuk menghimpun potensi mahasiswa Islam guna menghadapi Belanda dengan agresinya, HMI didirikan dengan motif yang kuat sekali untuk mengatasi adanya jurang pemisah antara mahasiswa-mahasiswa agama dan mahasiswa-mahasiswa umum. Sekolah Tinggi Islam mendapatkan calon-calon mahasiswanya kebanyakan dari sekolah-sekolah agama, yaitu madrasah-madrasah dan pesantren-pesantren, sehingga dalam keadaan mereka mengetahui banyak tentang keagamaan, mereka kekurangan dalam hal pengetahuan umum. Dan sebaliknya Universitas Gajah Mada, sudah barang tentu calon-calon-calon mahasiswanya berasal dari sekolah-sekolah umum, sehingga kebalikannya dari yang pertama, mereka mengetahui secukupnya tentang pengetahuan umum, tetapi sebagai orang-orang Islam mereka kekurangan dalam hal keagamaan. Maka HMI didirikan antara lain adalah untuk mengatasi keadaan tersebut, yaitu untuk menjembatani pemberian cukup agama bagi mahasiswa-mahasiswa umum, dan cukup ilmu pengetahuan umum bagi mahasiswa-mahasiswa agama. HMI mencita-citakan terbentuknya manusia-manusia muslim yang berkepribadian integral dan konsisten, yaitu pribadi-pribadi ulama-intelek dan intelek-ulama sekaligus, sehingga mampu beramal ilmiah dan berilmu amaliyah. Seperti kita ketahui, cita-cita yang amat mulia itu juga menjadi motif didirikannya lembaga-lembaga pendidikan Islam oleh tokoh-tokoh umat Islam. Dalam hal ini sebuah pesantren di Jawa Timur yang cukup terkenal, yaitu pesantren “Darussalam” Gontor adalah suatu percontohan yang dapat dikemukakan. Maka dengan usaha-usaha yang sungguh-sungguh, teratur dan tepat atas dasar pengertian dan penguasaan atas permasalahannya secara mendalam, cita-cita untuk mempadukan keintelekan dan keulamaan dalam satu pribadi yang integral, ternyata bukanlah suatu hal yang tidak mungkin tercapai, seperti anggapan banyak orang.

Motif Didirikannya HMI

Sampai sekarang cita-cita yang menjadi salah satu motif didirikannya HMI itu tetap dipertahankan dan diyakini oleh organisasi ini, dan telah mendapat perumusannya dalam “Kepribadian HMI” dengan meletakkannya sebagai saah satu essensinya, yaitu essensi “Dasar Keseimbangan”. Sudah jelas bahwa yang dimaksudkan dengan keseimbangan di sini ialah keseimbangan antara tugas-tugas duniawi dan tugas-tugas ukhrowi, antara kerja ilmu dan kerja iman, antara pemenuhan kewajiban intelektuil dan ulama, sehingga merupakan suatu complete integration dan tak terpisahkan satu sama lainnya dalam suatu pribadi yang integral. Pendalaman keislaman adalah salah satu usaha HMI yang dilakukan secara intensif bagi anggota-anggotanya, terutama dalam pendidikan-pendidikan kader. Pengalaman itu diusahakan dengan pendekatan yang terbaru, sesuai dengan perkembangan pemikiran pada tingkat sekarang. Usaha-usaha itu disadari sebagai suatu hal yang mutlak harus dilakukan. Sebab tanpa usaha-usaha itu mahasiswa-mahasiswa Islam yang akan merupakan pemimpin-pemimpin ummat di masa depan itu terancam oleh keadaan disoriented, yaitu penyimpangan dan kekaburan orientasi keislamannya dalam menghadapi masalah-masalah hidup, seperti banyak menimpa pemimpin-pemimpin Islam abad ini.

Apakah HMI telah berhasil dalam usaha itu? Tentu saja hal itu tidak dapat dikatakan sekarang. Mengingat usaha HMI yang masih sangat pendek sebagai suatu organisasi perjuangan modernis-fundamentalis, dan mengingat pertumbuhan kesadaran tersebut di atas belum cukup lama mendapatkan perumusan realisasinya yang konkret. Tetapi sebagai pemuda-pemuda mahasiswa yang beriman dan beramal untuk memperoleh ridlo Allah, setiap anggota HMI meyakini akan tibanya masa memetik buah kemenangan daripada usaha dan perjuangannya, cepat ataupun lambat.

Tetapi latar belakang kelahiran HMI tidaklah terdapat dalam hal-hal tesebut di atas saja. Sebenarnya HMI lahir tidak terlepas dari pertumbuhan sejarah terutama sejarah umat Islam diseluruh dunia dan sejarah tanah air Indonesia sendiri.

***

Tulisan Terkait (Edisi Setelah Gestapu)

IKLAN BARIS