• Ikuti kami :

PKI, Orla, Orba, Kekecewaan, Harapan dan Kita

Dipublikasikan Jumat, 13 Oktober 2017 dalam rubrik  Perbendaharaan Lama

“Umat Islam adalah benteng terakhir yang dapat menyelamatkan NKRI”. Akhir-akhir ini, kalimat itu menjadi semacam mantra yang berhasil mempesona banyak orang. Sebagian ummat Islam di Indonesia yang merasa kalah secara politik setelah Jokowi mengungguli Prabowo, seperti berusaha mencari figur yang bersedia membela dan berfihak kepadanya. Mungkin karena tak ada sosok dari rahim kandung ummat yang dapat diandalkan secara politik, kita mulai meraba-raba harapan pada fihak lain.

Dahulu, hanya berselang belasan tahun dari proklamasi kemerdekaan, ummat ini pernah mengalami himpitan yang cukup keras. Setelah bersama-sama menghadapi deraan demi deraan memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, beberapa tokoh bangsa yang dianggap berseberangan  dengan Presiden Soekarno dibungkam, disingkirkan dan diantarkan ke tahanan. Di dalamnya termasuk tokoh-tokoh seperti M. Natsir, Syafrudin Prawiranegara, Isa Anshari, Burhanudin Harahap, Yunan Nasution, dll. Mereka merasakan dinginnya tahanan selama beberapa tahun dengan masa yang berbeda-beda. 

Ketika rezim Soekarno yang disebut Orde Lama digantikan suatu orde baru pimpinan seorang Tentara Nasional Indonesia bernama Soeharto, ummat Islam menyambutnya dengan syukur dan kebahagiaan yang membahana. Hal ini tampak amat jelas dalam rubrik Dari Hati ke Hati Majalah Panji Masyarakat yang berjudul “Bismillah dengan Orde Baru”. Meskipun rubrik tersebut biasa ditulis oleh Hamka, tapi dalam edisi Tahun I Nomor 8 yang terbit pada 20 Januari 1967/9 Syawwal 1386 ini (halaman 2 dan 3), nama penulis tidak disertakan.

Dalam tulisan ini, kita akan kembali merasakan gelora asa umat Islam kala itu. Orde yang baru datang ini digadang-gadang sebagai orde keadilan dan kebenaran. Ummat Islam ketika itu sempat berkeyakinan kuat bahwa bangsa ini akan segera memasuki suatu orde yang menjanjikan keberfihakan dan pembelaan yang kuat kepada rakyat dan Islam. Kejengkelan terhadap PKI, komunisme dan “diktatoriat” Orla telah melahirkan puja puji berlebihan terhadap Orde Baru.Dukungan pada Orba pun diberikan.

Dan kita tahu hasilnya adalah kekecewaan yang cukup dalam. Kekecewaan yang berpuncak pada Petisi 50 yang masyhur itu. Tidak semua yang menghantam PKI ialah kawan, tak mesti yang menentang Orde Lama itu sefaham dan tidak serta merta yang seperti sefihak dengan kita akan membela agama ini lahir batin. Pelajaran berharga setelah Gestapu 65.

Bismillah dengan Orde Baru

Bulan Syawal telah hampir habis, hari raya telah mulai usai. Namun kesan hari raya setahun ini amat mendalam di jiwa seluruh kaum Muslimin.

Di dalam kota Jakarta saja misalnya: di tahun-tahun yang lampau orang sembahyang ke tanah lapang hanya sekitar 4 dan 5 tempat. Tetapi tahun ini pada 40 dan 50 tempat. Dengan bertambahnya tempat sembahyang, bukanlah menjadi kurang orang sembahyang di tempat yang lama, sedang di tempat yang baru ramainya di luar dugaan.

Khatib-khatib kawakan tampil kemuka; sejak dari Hamka di Kebayoran Baru, M. Natsir di lapangan Universitas Indonesia, Prof. Rasjidi di Taman Surapati, Sjafruddin Prawiranegara di Grogol, Prof. Muchtar Lintag di Jatinegara, Drs. Sjarif Usman, Ghazali Sjahlan, Malik Ahmad, Yunan Nasution, Duski Samad, Zhazali Thajib, Nurcholis Madjid dan lain-lain, semuanya telah mengisi rohani ummat dengan khutbah yang sama isinya, meskipun iramanya lain-lain menurut pribadi masing-masing khatib. Semuanya sejalan dengan Orde Baru yang sedang kita menangkan sekarang ini.

Ada orang luar menyangka bahwa khatib-khatib ini telah mengadakan pertemuan lebih dahulu untuk mengatur kesamaan khutbah. Padahal itu sama sekali tidak ada. Hanya orang yang tidak mengenal, tegasnya orang yang jiwanya di luar pagar “pandangan hidup Muslim”-lah yang akan menyangka khatib-khatib ini telah musyawarah lebih dahulu. Yang memerlukan musyawarah lebih dahulu untuk “menyatukan” isi khutbah ialah orang yang tidak sama pandangan hidupnya dan tidak sama perjuangannya.

Ajaran Tauhid Islam yang menimbulkan dinamika jiwa, itulah yang menyebabkan isi khutbah itu menjadi sama. Dan mereka mendapat sambutan yang demikian meriah, tidak disangka-sangka. Beribu-ribu umat Islam ditarik oleh rasa ibadahnya tumpah ruah ke tanah lapang, bersembahyang Hari Raya dan menyambut khutbah dengan penuh perhatian. Malahan di satu tempat ada yang tidak dapat menahan hati lagi, sehingga saking terpesonanya oleh isi khutbah mereka bertepuk. Apa sebab?

Sebabnya ialah karena ada pertalian di antara jiwa khatib dengan yang mendengarkan. Yang terasa dalam hati merekalah yang dikeluarkan oleh khatib-khatib itu. 

Cobalah fikirkan! Bertahun-tahun lamanya ajaran Islam yang sejati, yaitu ajaran Tauhid, tidak ada tempat memuja melainkan Allah, tidak ada tempat takut melainkan Allah, didesakkan oleh ajaran Nasakom, Usdek, Manipol, Panca Azimat Revolusi dan macam-macam, sehingga pernah dalam tahun 1964 “Jubir Usman” Prof. Dr. H. Ruslan Abdulgani pernah mencoba memakai khutbah Hari Raya untuk mengadakan indoktrinasi, menyebut ganyang Malaysia, menyebut hijrah dari PBB dan sebagainya, yaitu segala berkas dari Orde Lama. Hasilnya ialah, belum lima menit dia “berkhutbah” isi lapangan Masjid Agung al-Azhar menjadi lengang, beribu-ribu ma’mum habis keluar, sehingga tinggallah beliau di atas mimbar dengan serba salah; Akan diteruskan semangat sudah mualai patah, akan turun saja khutbah belum habis. Dan yang tinggal mendengar hanyalah beberapa orang pengurus dan panitia masjid menjaga Yang Mulia “Menko” jangan kehilangan muka. Mungkin seumur hidup Pak Ruslan tidak akan dapat melupakan kejadian itu. Padahal umat hadir beribu-ribu itu tidak berapat lebih dahulu buat memberi malu beliau.

Bertahun-tahun lamanya dengan secara halus dipengaruhi dari atas, supaya khutbah-khutbah itu, menyesuaikan diri dengan keadaan. Tetapi ada yang tidak peduli. Yang masih terus saja menjalankan khutbah, baik Jum’at maupun Hari Raya dengan ajaran Islam sejati, yang belum dicampuri dan dikacaukan oleh Usdek-Manipol, Panca Azimat Revolusi, Nasakom dan lain sebagainya itu. Maka salah seorang korban dari “kepala batu” mempertahankan kesucian mimbar masjid dari kekotoran khayal manusia itu ialah Imam Khatib Masjid al-Azhar: 2 tahun 4 bulan meringkuk dalam tahanan.

Hari raya tahun yang lalu (1385) belum sehebat sekarang karena keragu-raguan masih ada dan khatib-khatib utama yang selama ini menjadi “penyalur perasaan umat” masih dalam tahanan dan Orde Lama masih mendabik dada dengan “Aku” dan “Aku”-nya Subandrio masih dalam puncak kekuasaan.

Fihak yang berkuasa sekarang, khususnya Kabinet Ampera di bawah pimpinan Jendral Soeharto niscaya bersyukur melihat betapa meriahnya sambutan Hari Raya kaum Muslimin di tahun ini. Kemeriahan dan rasa bahagia yang meliputi hati di tahun ini adalah gelora dari rasa syukur karena telah mendapat kembali kebebasan dan kemerdekaan, keadilan dan kebenaran. Kemeriahan ini adalah dari sangat percaya bahwa pimpinan Soeharto-Nasution, yaitu pemegang Surat Perintah 11 Maret dan Ketua MPRS tidak akan mengecewakan Kaum Muslimin sebagai yang dialami selama ini. Dipandang dari segi agama, nyata bahwa mereka adalah orang-orang Islam yang baik, bukan Islam “politik”; yang pada hari ini menyuruh membelah dadanya, bahwa di dalamnya adalah Islam, dan pada esok harinya menyuruh membelah dadanya pula dan di dalam akan bertemu Marxisme.

Khatib-khatib yang memberikan khutbah itu hampir semuanya ialah orang-orang yang oleh Orde Lama telah dibungkamkan; baik dengan dipenjarakan atau dicopot pangkatnya. Kesalahan mereka hanya satu, yaitu mereka tidak mau menjadi budak-hamba dari manusia tirani, sebab seluruh jiwa raga telah mereka perhambakan kepada Allah. Mereka tidak mau jadi budak dari dua kekuasaan. Hanya Satu, yaitu Allah.

Mereka telah disingkirkan atau dibungkamkan selama bertahun-tahun lamanya. Tetapi mereka sekali-kali belum pernah hilang dari dalam hati dan ingatan ummat. Walaupun bertahun mereka hilang dari mata, ummat tidak ada niat hendak menggantinya dengan yang lain. Sekarang mereka telah pulang; herankah kita jika orang berduyun hendak mendengarkan ucapan mereka kembali? Sebab mereka yakin dan ingat benar bahwa Orde Baru sekarang ini sesuai benar dengan irama suara khatib-khatib itu di zaman lampau, sebelum 7 tahun yang lalu.
Seminar Angkatan Darat di Bandung mengakui bahwa orang-orang itu telah sangat banyak bantuannya dalam pembangunan Orde Baru.

Hendaklah orang mengetahui isi yang di dalam lubuk jiwa mereka.
Mereka adalah penjunjung Tauhid, yang hidup mati, bahagia atau sengsara telah dipandang sebagai irama hidup belaka di dalam menegakkan Kalimat Allah yang suci dalam tanah air tercinta ini. Jika mereka tampil ke muka ummat, dan ummat menyambut khutbah mereka dengan penuh semangat pengorbanan, bukanlah itu karena mengharapkan upah manusia, dan bukan karena mengharapkan kursi atau pangkat. Mereka adalah melaksanakan tugas kewajiban yang jauh lebih tinggi daripada apa yang dikira-kirakan oleh manusia yang jiwanya telah diikat oleh benda.

Bukankah selama ini mereka itu telah menempuh berbagai penderitaan karena mereka tidak mau negeri ini dijadikan budak Komunis? Mereka anti-komunis sejak dari urat, darah, daging dan tulangnya. Untuk itu mereka menempuh berbagai pengorbanan dan penderitaan. Tetapi ketika orang masih lengah, orang masih dinina-bobokan oleh pidato-pidato berapi-api dan pejuang-pejuang Islam itu disalahkan oleh segala golongan, bahkan pernah suatu masa nasib mereka lebih malang dari Yahudi di negara Hitler atau Negro di Amerika atau penduduk asli di Afrika Selatan, atau kaum Paria dalam masyarakat Hindu.

Berangsur-angsur laksana terbitnya fajar menghilang gelap malam, mulailah terbuka mata orang betapa besar bahaya komunis. Komunis yang membunuh enam jendral. Dan menurut keterangan Komandan Gestapu/PKI Brigjen Supardjo, dalam keterangannya kepada tim pemeriksa, bukan saja ditepuk-tepuk pundaknya, bahkan dia dirangkul karena telah berhasil membunuh 6 jendral itu. Tetapi dia disesali mengapa Jendral Nasution tidak turut terbunuh.
Dengan kejadian itu, tidak usah dipropagandakan lagi, seluruh bangsa Indonesia telah mengerti sekarang, bahwa Komunis adalah bahaya kehancuran yang besar. Mao Tse Tung adalah Jengis Khan abad ke-20!

Lantaran itu maka Komunisme, Marxisme, Leninisme, Atheisme, Maoisme, dan segala antek-anteknya telah dilarang di negeri ini.

Angkatan muda telah bangkit, ABRI telah bersatu padu dengan Angkatan 66 mengganyang dan menyapu bersih bekas-bekas komunis dari negeri ini dan baru-baru ini (22 Januari 1967) Mayjen Dharsono, Komandan Siliwangi, Pahlawan Orde Baru yang terkenal, telah menjelaskan bahwasanya di antara Orde Lama dengan Komunis tidak dapat dipisahkan.

Menilik kepada semuanya itu, dapatlah diherankan jika sekiranya pemuka-pemuka atau “Khadam-khadam” dari Kaum Muslimin, yang suara mereka telah terdengar memenuhi udara di 1 Syawal 1386 itu, dengan tegas membantu Orde Baru?

Meskipun muka mereka telah babak belur bekas dipukuli, meskipun fisik mereka telah sekian lama merana di belakang teralis besi dan tembok yang pucat, mereka semuanya sekarang lebih gembira, jiwa dan raga telah sehat. Sebahagian besar cita mereka telah terkabul. Orde Baru adalah anti-komunis.

Mereka adalah bangsa Indonesia, dilahirkan dalam bumi Indonesia. Mereka didorong oleh Kewajiban dan Tanggung Jawab, bukan saja dihadapan tanah air dan bangsa, malahan lebih dari itu, ialah dihadapan Tuhan Rabbul ‘Alamin, buat turut berjuang menggawang Orde Baru. Mereka tidak menampak jalan lain.

Mereka tidak ragu buat masuk ke dalam gelanggang, walaupun tidak ada yang menyambut dan mempersilakan duduk. Ini bukan undangan jamuan makan, yang di sana orang tidak diundang malu-malu masuk.

Mereka telah bersyukur kepada Tuhan karena jiwa mereka telah bersih oleh latihan derita bertahun-tahun, sehingga rasa dendam tak ada lagi. Dan bersujud syukur karena setelah mengadakan introspeksi, kenyataan bahwa mereka belum pernah melacuran diri dan keyakinan kepada tirani dan ateis dan belum pernah menjual, apatah lagi menggadaikan ‘aqidah di dalam membina tanah air. Mereka belum pernah menjadi “Yes Men”. Bahkan karena mereka tidak mau menjadi “Yes Men” itulah mereka disingkirkan.


Orde Baru

Mereka akan terus dan telah terus menggalang dan menyokong Orde Baru, walaupun jari-jari mereka akan mumpun dan luka-luka menggali tanah untuk mendapatkan perumahan Orde Baru, walaupun dari tangan-tangan itu akan mengalir darah.

Mereka akan tetap menyelingkit bersama menegakkan Orde Baru, walau pun mereka insyafi bahwa masih ada yang benci dan takut melihat mereka ada pula di dalam. Sehingga bermacam fitnah dibuat menyingkirkan mereka ketepi.

Mereka maafkan orang-orang yang berjiwa kecil itu bila mereka ngotot dan bertingkah menunjukkan jiwa kecilnya. Sebab ini adalah Orde Baru, Orde Keadilan dan Kebenaran.
Prawoto Mangkusasmito salah seorang penderita karena keyakinan hidup itu pernah mengatakan dalam satu pertemuan Halal bi halal di Karawang (Kamis, 19 Januari) bahwa Orde Baru tidak boleh ada kompromi dengan Orde Lama. Sebab selama dunia berkembang yang Hak tidak akan ada kompromi dengan yang bathil. Kalau kompromi juga, artinya ialah campur aduk kembali di antara yang hak dengan yang bathil. Hanya ada satu, yaitu konfrontasi terus menerus, sampai Orde Lama itu hancur dan tak bangun lagi.

Tidak boleh ada keraguan bagi kita, baik kita diakui atau pun belum diakui.
Walau berjuta orang yang mengatakan bahwa kita TIDAK ADA. Namun kita tetap ADA selama kepercayaan kita masih ada bahwa di atas dari segala kekuasaan dunia ini, ada lagi kekuasaan yang lebih tinggi; Yaitu Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Ada.

Dikutip dari rubrik “Dari Hati Ke Hati”, Majalah Panji Masjarakat, Tahun I, Nomor 8, 20 Januari 1967/9 Syawwal 1386. Halaman 2-3.

Harapan adalah salah satu amunisi bagi manusia untuk terus hidup, bertahan bahkan melawan. Kekecewaan, kesedihan dan kepiluan karena penderitaan memang dapat pulih berkat harapan. Pada dasarnya kita pun bebas menaruh harapan kepada apa saja atau siapa saja. Persoalan akan pengharapan seringkali mengemuka jika kita menyandarkannya pada sesuatu yang lemah atau rapuh. Persoalan lainnya, kita sering menyangka manusia itu cukup kuat dan tangguh sebagai tempat utama bersandarnya harapan. Manusia hanya tampak kuat dan tangguh akibat kemurahan dan kasih sayang Tuhan yang meminjamkannya berbagai daya untuk berkembang dan menjadi hebat. Tanpa keagungan dan kebesaran-Nya, manusia lata belaka.

Kita perlu waspada, harapan yang membuncah-buncah setengah abad lalu itu boleh jadi terulang di masa kini dalam kadar dan wujud yang berbeda. Kita pernah jatuh tersungkur lumayan dalam. Dihabisi oleh Orde Soekarno, bebas, bersyukur, mendukung penuh Orde Baru, mengharapkan Masyumi direhabilitasi, dan sempat memiliki cita-cita  yang tinggi bahwa Orba akan mengantarkan kita pada kehidupan yang penuh tanggung jawab kepada Tuhan Pencipta dan Pemilik Semesta Alam. Kenyataannya harapan dan kepercayaan itu dikhianati. 

Kekecewaan kita pada pemerintah hari ini, pada “kekalahan” (politik) 2014, tak boleh membenamkan kita dalam kekeliruan yang sama. Memuja siapa saja yang "menentang" rezim ini sebagai “Umar bin Khatab” sembari lupa membangun tata kedaulatan politik kita sendiri. Diprovokasi, bergerak dan berusaha menumbangkan "musuh bersama" untuk dikecewakan kembali. Semua itu jangan pernah terulang lagi. Kita harus benar-benar belajar dari sejarah.

Kita harus lebih tenang dan membangun daulat politik kita sendiri dalam saluran-saluran resmi dan jernih.

Tulisan Terkait (Edisi Setelah Gestapu)

IKLAN BARIS