• Ikuti kami :

Cap PKI dan Mereka yang Tertuduh

Dipublikasikan Sabtu, 14 Oktober 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Mari kuperkenalkan kepadamu, seorang perwira yang hidup dan integritasnya pernah diberikan utuh kepada bangsa dan negara. Kau tak akan menemukan namanya dalam jajaran pahlawan nasional, tidak pula pada deretan jendral berbintang. Ia hanyalah seorang perwira pada umumnya. Namun ada bagian yang menarik dalam kisah hidupnya yang hendak kuceritakan kepadamu.

Tahun 1966, di tengah gonjang ganjing politik Indonesia, ia lulus dari akademi militer dengan nilai yang memuaskan. Harapannya ketika itu sederhana saja, bisa memiliki hidup yang layak dan membantu keluarga. Ayahnya adalah generasi kedua asal Purworejo yang tinggal Binjai dan bekerja di perkebunan tebu di Sumatera Utara. Ia anak kedua dari delapan bersaudara. Menikah empat tahun selepas kelulusan, didampingi oleh Jenderal A.H. Nasution beserta istri sebagai pengganti orang tua yang tak dapat hadir ke tanah Jawa.

Ia adalah bagian dari Kontingen Garuda VIII yang dikirim ke Timur Tengah dalam rangka misi perdamaian PBB pasca Perang Yom Kippur. Tergabung dalam Pasukan Garuda VIII/3, ia berangkat tahun 1976 dan kembali ke Indonesia awal tahun 1977. Ketika itu Panglima Pasukan Perdamaian PBB/United Nations Emergency Forces (UNEF II) adalah Jenderal Rais Abin. Sampai saat ini Jenderal Rais Abin adalah satu-satunya jenderal Indonesia yang pernah memimpin pasukan internasional PBB dalam misi perdamaian yang beranggotakan ribuan orang dari berbagai negara di dunia.

Sepulang dari Timur Tengah, Sang Perwira mendapat kabar jika pada Februari 1977 enam pesawat OV-10 Bronco dari Rockwell International Corporation bantuan Foreign Military Sales milik Amerika Serikat dikirim ke Timor bersama dengan 10.000 tentara. Tahun 1977 – 1978 itu merupakan masa pengepungan dan pembersihan akhir dalam operasi kontra-pemberontakan di sana. Maka hal pertama yang ia lakukan begitu tiba di tanah air adalah meminta izin komandan untuk turut serta dikirim sebagai bagian dari Pasukan Seroja. Sayang tidak dikabulkan meski sudah gigih meminta.

Dalam masa pengabdiannya sebagai tentara, ia menjalani pendidikan dan kursus-kursus di Amerika dan Australia dalam kurun 10 tahun. Di tengah-tengah itu, selama dua tahun, ia pindah bersama keluarga ke Thailand untuk menjalani tugas sekaligus mengikuti Sesko. Dalam masa ini pula, ia menjadi salah satu guru di Sekolah Calon Perwira (Secapa), Bandung.

Usai tumbangnya PKI, Islam memang dilihat sebagai salah satu kekuatan politik besar yang harus dikendalikan. Ketika itu, pemerintahan Orde Baru didominasi oleh militer dan kita dapat dengan mudah menelusuri bahwa kelompok Islam kembali mendapat tekanan dan pengawasan ketat. Persepsi itu cukup kuat di kalangan tentara yang oleh Jenderal Z.A. Maulani disebut sebagai jarum kecurigaan politik terhadap muslim dan perwira muslim.

Pada masa ini kita mengenal istilah politik belah bambu. Di satu sisi suatu kelompok diangkat tinggi-tinggi perannya, tapi di sisi lain, keberadaan kelompok lainnya diinjak-injak, selayak orang tengah membelah bambu. Boleh dikatakan segala anasir politik PKI dan Islam adalah sasaran utama yang diinjak-injak rezim Orde Baru. Upaya pembersihan kedua unsur tersebut pun diprioritaskan di dalam tubuh militer.

Pembersihan yang dilakukan di tubuh militer Indonesia pada masa Orde Baru memang tidak ditandai dengan pemecatan perwira secara besar-besaran. Beberapa yang secara terang benderang terlibat dalam PKI dihukum mati. Namun pada masa berikutnya, pembersihan perwira dari unsur-unsur yang dianggap mengancam negara tampak dari perwira-perwira yang kariernya dipindahkan ke “jalur lambat”. Para perwira sendiri mengistilahkannya dengan karier obat nyamuk. Hidup perwira demikian hanya habis terbakar berputar-putar pada tugas-tugas tak jelas tanpa ada harapan kenaikan karier.

Untuk menemukan perwira yang memiliki unsur PKI atau Islam fundamentalis, ada beberapa cara yang dilakukan. Mulai dari ujian, wawancara sampai penelusuran intelejen. Salah satu cara praktis yang pernah dilakukan di tubuh militer untuk mengidentifikasi unsur Islam fundamentalis di tahun 1980-an adalah dengan mengadakan rapat dinas di tingkat pucuk pada instansi-instansi ABRI pada hari Jum’at. Perwira yang minta izin dan meninggalkan rapat untuk sholat Jum’at segera dikategorikan sebagai fundamentalis. Kariernya pun tak lama kemudian masuk ke “jalur lambat”.  Dalam pengakuan Jenderal Z.A. Maulani, selama masa itu pun ada perintah tidak tertulis kepada Komisi Penerimaan Calon Taruna AKABRI untuk tidak meluluskan para pemuda yang memiliki latar belakang santri. Alasan yang biasanya digunakan adalah tidak lulus ujian psikologi.

Entah dapat dihitung sial atau beruntung, perwira dalam cerita ini secara tidak langsung memiliki unsur PKI sekaligus Islam fundamentalis di dalam keluarga besarnya. Di akhir tahun 1980-an, tidak lama setelah kepulangannya yang kesekian kali dari Amerika Serikat, ia mengikuti ujian karier untuk menjadi atase pertahanan di salah satu negara Eropa. Ini sebetulnya bukan upaya pertama untuk kenaikan kariernya, tapi rupanya menjadi upaya yang terakhir kali.

Ada yang mengatakan, masuknya Sang Perwira pada karier "jalur lambat" karena persaingan tak sehat di angkatannya. Melalui penelusuran sederhana pada dokumen-dokumen primer, wawancara, serta pustaka, disimpulkan empat hal yang mengantarkan perwira ini ke dalam karier “jalur lambat”. Pertama, ia diketahui memiliki bapak yang pernah menjadi anggota serikat buruh perkebunan di Sumatera Utara. Konon serikat buruh itu onderbouw PKI. Meski demikian, bapak Sang Perwira tak pernah mendapat cap atau dijauhi oleh lingkungan sosialnya karena tuduhan PKI. Setelah pensiun dari perkebunan tebu, Bapak Sang Perwira malah memiliki kedai yang ramai dan dikenal sebagai muslim yang rajin beribadah. Kedua, bapak mertuanya merupakan Kyai Muhammadiyah di salah satu kota di Jawa Barat dan memiliki hubungan baik dengan beberapa orang dari kelompok DI/TII. Ketiga, ia tercatat menunaikan umroh usai tugasnya di Pasukan Garuda VIII dan mendaftar haji beberapa saat sebelum wawancara sebagai calon atase pertahanan. Keempat, dalam hasil tes wawancara pada ujian karier sebagai atase pertahanan itu, ia dianggap tidak sesuai karena ‘memiliki sikap fanatisme yang cenderung fundamentalis’.  

Kabar ketidaklulusan itu memukulnya dengan sangat keras. Seorang perwira yang gigih dan mengabdikan dirinya bagi dinas ketentaraan dan Indonesia menangis hebat hari itu. Pendidikan, kursus-kursus serta cara-cara baik dan lurus lainnya untuk memperoleh kenaikan karier, seperti tak berguna. Atas peristiwa ini, ia mengajukan pengunduran diri yang tak pernah dikabulkan. Karena itu, ia meninggalkan dinas ketentaraan begitu saja dan berusaha meniti jalan nafkah lain untuk keluarganya. Ia menjaga marwah diri, tidak menggadaikan agamanya demi karier, tidak menggunakan kedekatan pribadinya kepada beberapa jenderal berpengaruh atau menyogok para pejabat militer untuk menyelamatkan kariernya.

Dalam cerita ini, persoalan karier dan cap PKI bagi keluarga Sang Perwira baru muncul dua puluh tiga tahun setelah Gestapu '66. Setelah puluhan tahun atau dalam deretan angka yang lebih banyak lagi, cap PKI memang selalu efektif untuk membunuh karakter seseorang. Cap PKI dapat dengan mudah menyeret kedudukan seseorang pada sisi pengkhianat bangsa, anti-agama, anti-Islam, hingga menumbuhkan benih kebencian pada hati orang-orang yang berkedudukan di seberangnya. Lucunya, dalam cerita perwira ini, cap PKI dapat disandingkan sekaligus dengan cap Islam fundamentalis.

Cap-cap macam begini seketika dapat mematikan karier atau bahkan kehidupan seseorang. Perlu pula kita catat, merupakan suatu ironi menetapkan umat Islam sebagai ancaman bagi negara. Karena kalau kita bersedia jujur, sepanjang zaman pada negeri di bawah angin ini, dalam masa-masa ringan apalagi sulit, umat Islam selalu berdiri teguh membela dan menjaga bangsa dan negara.

Di luar sana jauh lebih banyak cerita dan kepedihan dari anak, cucu dan keluarga anggota PKI atau organisasi-organisasi di seputar PKI. Termasuk juga mereka yang tak sengaja di-PKI-kan. Telah banyak penelitian dilakukan. Jumlah orang yang dituduh PKI dan diciduk lalu dihukum tanpa diadili hanya karena wajah yang mirip atau nama yang sama amatlah banyak. Sebagian besar atau mungkin semuanya, nyaris tak pernah melewati proses verifikasi, pengadilan, pengampunan, apalagi pembersihan nama di kemudian hari. Keluarga mereka didera kesulitan, dijauhi dan dikucilkan lingkungan sosial akibat tekanan rasa takut pada penguasa. Sebagian sampai menderita kebencian pada tentara atau negara. Pelabelan dan penggiringan opini memang dapat memberi dampak yang amat mengerikan pada batin seseorang. Lebih mengenaskan lagi jika orang-orang yang memberi cap tak betul-betul tahu soal hakikat cap yang  disematkan.

Kita memang pantas jengkel dan mangkel pada kelakuan PKI atau organisasi-organisasi onderbouw-nya di masa lalu. Mereka pernah menciptakan teror di tengah masyarakat untuk menaikkan suhu politik, menggunakan bulu domba di atas seringai haus kekuasaan demi beroleh kepercayaan, juga mempermalukan dan membunuhi ulama serta pemimpin bangsa dengan cara memilukan. Segala ragam cara dilakukan untuk mencapai tujuan dari ajaran yang dianutnya.

Trauma yang dihasilkan dari tindakan partai ini lumayan kuat dan membekas dalam di masyarakat kita. Namun, kita tak dapat menutup mata. Korban kelakuan PKI dan dampak susulan pem-PKI-an itu ada, bahkan mungkin banyak. Sampai hari ini, kita bisa periksa, orang-orang yang berlaku seenaknya di lingkungan masyarakat masih sering secara sembarangan dituding sebagai PKI tanpa latar belakang apapun yang berkaitan.

Tak perlulah nama Sang Perwira disebutkan. Ia sudah wafat beberapa tahun silam. Rupanya, dalam kadar tertentu ia tetap sedia berkhidmat dalam ketentaraan. Di usianya yang 70 tahun, Jenderal Rais Abin memanggilnya. Jasanya diminta untuk mengurusi Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI). Di usia senjanya yang masih bergelora itu, setiap Senin, Selasa dan Rabu ia berangkat ke kantor LVRI, mengurusi data-data purnawirawan untuk menjadi veteran secara resmi. Ia sendiri berhak menjadi veteran karena pernah menjadi bagian dari Pasukan Garuda. Ketika dinas di LVRI, ia memperoleh kenaikan pangkat penghargaan: Kolonel (Har). Akan tetapi sampai wafatnya di usia 72 tahun, surat keputusan sebagai veteran baginya tak terbit jua.

Di hari wafatnya, banyak sekali yang takziah, mendoakan dan mengirimkan karangan bunga. Bahkan keponakannya yang bekerja di Depertemen Pertahanan membawa perlengkapan pemakaman yang menunjukkan selah-olah perwira ini adalah bagian dari Kementrian Pertahanan RI.

Ada empat orang, termasuk keponakannya, yang mendatangi anak, menantu dan adik Sang Perwira agar dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Mereka mengatakan, sebagai perwira garuda, guru sekaligus pengurus LVRI, ia berhak dimakamkan di sana dan pengurusannya bisa dibantu agar terlaksana hari itu juga. Namun baik anak, menantu, hingga adiknya menggeleng. Mereka tahu persis salah satu keinginan Sang Perwira untuk dimakamkan dengan cara yang wajar, sederhana, cukup di dekat rumah dan tidak di taman makam pahlawan mana pun.

Luka memang selalu menyisakan trauma. Ada orang-orang yang menghadapi luka dan trauma dengan mengeluh, tak menerima keadaan bahkan meraung-raung dengan kesah yang amat parah. Marah pada dunia dan mungkin juga marah kepada Tuhan. Hati orang-orang macam ini menjadi kelam tanpa kasih sayang yang dapat membersitkan maaf dan rasa damai. Lukanya bisa saja sembuh, tetapi traumanya tak habis membayang-bayangi dan menjadi penyakit yang menyiksa diri. Kalau pun hendak melawan, kemungkinan besar akan meninggalkan luka baru bagi orang lain.

Namun ada pula orang-orang yang mampu menghadapi luka dan trauma dengan kepala tegak serta dada yang dipenuhi keyakinan bahwa bahunya diciptakan Tuhan Semesta Alam untuk menanggungnya. Orang-orang semacam ini mungkin jatuh tersungkur juga, tetapi mampu mengiringi luka dan trauma dengan rasa syukur karena dijauhkan dari keburukan yang lebih besar. Dengan hati yang teguh dan tenang, mereka mampu bertahan dan melawan kezaliman sambil memaafkan. Sepayah apapun melangkah, orang-orang seperti ini pasti berupaya untuk selalu bersandar pada kekokohan janji Tuhan Yang Maha Adil Timbangannya.

Tulisan Terkait (Edisi Setelah Gestapu)

IKLAN BARIS