• Ikuti kami :

Luka Manusia di Pasca-Kebenaran

Dipublikasikan Jumat, 17 November 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Pada tahun 2016, Oxford Dictionary telah melantik post-truth sebagai  "the word of 2016". Frase itu diartikan sebagai keadaan di mana fakta-fakta objektif terpisah dari kesadaran tiap pribadi; fakta telah kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik; emosi dan keyakinan pribadi lebih mengedepan dibandingkan fakta-fakta objektif. Artinya, pandangan pribadi setiap orang terhadap sesuatu yang tanpa prosedur epistemik rapih lebih berkuasa dalam dunia wacana kita. Sebuah kenyataan telah disadari dengan sangat subjektif oleh manusia, sehingga kesadaran itu kadang tidak sama sekali berkait dengan kenyataan yang dimaksud. Ini lah yang sering disebut sebagai indiyah (subjektifisme) salah satu fenomena sufasṭoiyyah.

Pandangan pribadi seseorang terhadap seorang pemimpin, misalnya, boleh jadi telah lepas dari kenyataan diri pemimpin itu sendiri. Seorang pengagum akan membangun ‘kesadaran’ yang melampaui kenyataan yang ada dari pemimpin itu. Ada semacam pelebihan yang menjauhi fakta. Pemimpin yang sebenarnya biasa-biasa saja, kemudian ‘disadari’ sebagai seorang yang amat jujur, pemberani, penyembuh luka, bersih tiada cela, penyelamat bangsa dan jalan keluar untuk setiap masalah. Pribadi sang pemimpin diimajinasikan di luar kenyataan. Pemimpin yang sebenarnya manusia biasa yang berlumur kesalahan telah dianggap sebagai makhluk nyaris nabi yang tanpa noda.

Sebaliknya, seorang pembenci akan membangun ‘kesadarannya’ sendiri mengenai pemimpin itu. Apa pun yang dilakukan sang pemimpin akan selalu salah. Tiada kebaikan yang dapat dilihat, seluruh laku lampah sang pemimpin akan dilihat sebagai sebuah cela. Kenyataan-kenyataan bahwa sang pemimpin sesungguhnya memiliki sisi baik tak dapat ia lihat. Kesadaran yang akhirnya didekap bukan lah hasil dari pencerapan terhadap kenyataan yang ada, melainkan merupakan kehendak dan persepsi pribadi seseorang terhadap sebuah kenyataan.

Otoritas telah tak dipercayai lagi. Orang-orang telah merasa mampu menyerap kenyataan tanpa harus mengujikannya atau memeriksakannya kepada seorang ahli. Kebenaran dan kekeliruan telah bersemrawut saling tukar menukar kedudukan. Pakar dan orang awam seolah berkedudukan setara. Fakih dan mustami telah sama-sama berbicara. Kebebalan membiasa, sementara jalur-jalur pengetahuan yang memadai telah disumbat dengan benci, fanatisme, cinta buta dan kehendak pribadi yang keliru. Benar dan salah telah menghablur, menisbi dan pada keadaan tertentu seseorang tak mampu membedakan keduanya lagi.

Orang-orang telah merayakan dirinya sendiri. Meyakini apa yang ingin diyakini tanpa proses berfikir yang matang; memilih berita yang sesuai dengan kehendaknya; berwacana sesuai dengan keyakinan-keyakinan imajinatifnya;  menampilkan apa yang ingin ditampilkan; dan memberitakan diri sendiri di hadapan umum. Pribadi-pribadi telah menguap dari kenyataan, membangun kesan-kesan yang jauh dari kebenaran. Orang-orang mencerap kesan-kesan keliru dan membangun perkiraan dari kesan itu yang semakin jauh dari kebenaran. Semua kemudian jalin-menjalin menghadirkan dunia yang nir-kesadaran aktual. Yang berkuasa ialah pengimajinatifan kenyataan secara pribadi.

Perkembangan teknologi dan khususnya yang berkait dengan informasi sering dipersalahkan sebagai penyebab keadaan ini. Kehadiran internet, media sosial, dan kegembiraan luar biasa untuk mempribadi di kebudayaan yang tak mampu mewajarkan manusia memang telah mewabah amat kuat pada akhir dasawarsa ini. Teknologi telah dianggap semakin memanjakan kehendak manusia untuk semakin merayakan dirinya sendiri, menikmati ultra-kebebasan dan menjauh dari segala macam pengawasan.

Akan tetapi persoalan pokoknya tidak terletak pada perkembangan teknologi atau berubahnya sarana-sarana informasi. Pangkal masalah justru ada pada manusia yang terjebak pada kenihilan, subjektivisme dan akhirnya ketakbermaknaan. Sikap tak peduli, bebal dan merasa tak memerlukan orang lain untuk mendapat kebenaran membuat kita mengalami kekeringan batin. Kita semakin tak acuh pada kebenaran, tak peduli lagi pada jalan mendapat pengetahuan yang lurus. Yang terjadi kita mudah meyakini sesuatu, melibatkan unsur-unsur emosi sebagai penimbang, dan tidak memeriksa dengan seksama beragam kabar yang mengendap di keseharian kita.

Sebuah berita tak lagi menjadi sarana untuk mencapai kebenaran, tetapi menjadi alat untuk memenangkan kedirian. Orang-orang tak peduli lagi berita mengenai pemimpin yang mereka sorong benar atau salah. Yang kumpulan ini pedulikan ialah pembelaannya terhadap pemimpin itu. Pembelaan itu pun kadang bukan untuk pemimpin kecintaan mereka , melainkan untuk membela kedirian mereka sendiri. Tak penting lagi sebuah berita benar atau salah, yang terpenting kita memenangkan perbalahan dengan “lawan” kedirian kita.

Perdebatan keras mengenai Jokowi, Ahok dan Anies Baswedan (sebagai misal) bukan lagi mengenai ketiga sosok itu sendiri. Namun telah menjadi bagian dari pengejawantahan kedirian manusia-manusia pendukung atau penentangnya. Merendahkan Joko, Ahok dan para pendukungnya pada akhirnya ialah proses semu meninggikan kedudukan penentangnya. Pun sebaliknya. Mempertontonkan kelebihan-kelebihan Anies tak lagi ditujukan untuk membelanya, melainkan untuk menunjukkan kepada umum bahwa pilihan mereka yang mendukungnya adalah benar.

Contoh di atas telah memperlihatkan ada pemusatan pada diri sendiri, pengukuhan yang egois dari ‘keakuan’ dan merendahnya kemampuan untuk melihat kenyataan secara lebih adil. Hal itu terjadi bukan karena menguatnya kepribadian kita sebagai seorang manusia. Sebaliknya, ada penipisan kesadaran batin. Ada luka menganga dalam kedirian masyarakat kita. Perayaan kebebasan, perlawanan (bahkan perendahan) pada otoritas, dan pemencilan diri dari urusan orang banyak telah menggerus kemanusiaan kita. Menghasilkan kumpulan manusia yang  terluka di kerunyaman hidup dan menebusnya dalam imajinasi yang mereka ciptakan sendiri.

Orang-orang semakin jengah dengan pengawasan dan ikatan-ikatan sosial. Mereka tak lagi nyaman dengan berbagai peringatan, tata tertib, dan konsep-konsep nilai yang ada. Setiap orang merasa mampu menentukan nilai dan kebenarannya sendiri sembari melepaskan diri dari pengawasan dan ikatan yang ada. Kerumunan ini kemudian beramai-ramai menggugat kebenaran di sekitarnya, meragukan segala niat baik, tak percaya pada segala hal dan akhirnya terluka dengan batin yang robek dan dahaga. Lantas luka itu mereka panggul untuk berebut kemenangan dengan diri-diri lain.

Dengan luka eksistensial semacam itu orang-orang menafsirkan kenyataan disekitarnya. Menyadari fakta tidak berdasarkan prosedur yang jernih, tetapi berdasarkan kehendak dan imajinasi mereka sendiri. Lantas mereka mengadu kediriannya dengan diri-diri lain. Saling memalsu dan mencari pengakuan dengan membalahkan tafsir imajinatif atas sebuah fakta dengan tafsir imajinatif yang lain. Kerumunan ini terus meragu sembari menenggak luka. Terus menampilkan senyuman, memalsu kebahagian di media sosial tanpa pernah yakin bahwa bahagia itu ada. Keterlukaan mendorong mereka untuk menebusnya dengan berpura baik-baik saja. Orang-orang yang menenggak air laut di cangkir garam untuk menebus dahaga. Semakin mereka menenggak, semakin dahaga di tenggorokannya.

Ini lah pasca-kebenaran. Keadaan ilutif yang penuh emosi pribadi dari kerumunan yang menyeret-nyeret luka eksistensial di media sosial. Situasi di mana pengakuan dan ‘kemenangan’ lebih penting dari kebenaran. Ini lah kepedihan manusia pasca-modern yang dirayakan bersama, diriuhi menjadi lingkaran-lingkaran gelap keseharian kita.

Keraguan, subjektifisme dan nihilisme ialah tarian hitam yang mengabuti batin dari ilmu. Tak ada jalan lain selain meneranginya kembali dengan keyakinan dan kebenaran.

Tulisan Terkait (Edisi Pasca-Kebenaran)

IKLAN BARIS