• Ikuti kami :

Nasihat Sopan Santun dari Tuan Hassan Bandung

Dipublikasikan Kamis, 18 Mei 2017 dalam rubrik  Perbendaharaan Lama

Peradaban Islam sesungguhnya merupakan sebuah peradaban yang sangat mengedepankan ketertiban. Berderajat-derajat ketertiban telah diamalkan oleh kaum Muslim selama berabad. Ketertiban harian seperti bangun tidur, tertib makan, menjaga kebersihan, tertib terhadap tubuh hingga ketertiban dalam soal-soal keimanan terhampar rapi dalam ajaran Islam.

Salah satu dasar ketertiban kita ialah adab yang biasa dimaknai secara umum sebagai menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Segala hal memiliki tempat dan kedudukan yang wajar. Ayah dan ibu perlu dipanggil dengan hormat, adik yang lebih muda harus disayangi, kepada orang-orang alim kita harus bersikap sopan. Pun kedudukan seorang guru. Murid harus benar-benar mengenali gurunya, dan bersikap menuruti kewajaran akan kedudukan gurunya tersebut.

Pada masa kini, hubungan murid dan guru semakin meluntur. Kadang kesopanan dan tata adab ditinggalkan, digantikan asas-asas profesionalitas. Di banyak pendidikan tinggi, hubungan dosen dan murid lebih sering terlihat serupa hubungan transaksional. Guru seperti seorang yang “menjual” jasa pengajaran kepada mahasiswa. Pengelolaan pendidikan dengan cara gaya industri pun semakin melanggengkan kedudukan ini. Banyak mahasiswa atau murid (atau malah orang tuanya) menuntut pelayanan terhadap lembaga karena merasa telah membayar dengan biaya yang mahal. Pendidikan telah seruba usaha bidang jasa. Dikelola sebagaimana orang dagang. Pada keadaan ini pantaslah hadir berbagai cerita kelam di dunia pendidikan kita berkaitan hubungan guru dan murid.

Alangkah baiknya, di keadaan kita yang sedemikian kita mengingat nasihat baik dari seorang cerdik abad lalu. Namanya Ahmad Hassan. Dikenal pula dengan panggilan Hassan Bandung. Boleh dikata beliau ialah pemikir tebesar dalam sejarah organisasi Persatuan Islam (PERSIS). Sering kita dengar bahwa lembaga yang dibinanya, PERSIS, ialah lembaga pengusung modernisme Islam yang banyak menyisihkan tradisi yang dianggap menghalangi ketangkasan dan kedinamisan hidup. PERSIS dikenal sebagai lembaga yang sering melabrak kekakuan berfikir dan kebekuan tradisi. Akan tetapi tidak selamanya demikian. Tulisan di bawah menunjukan bahwa beliau pun sebenarnya masih menekankan pentingnya tradisi. Ada kekhawatiran pula jika kemudian tradisi itu digantikan oleh gaya Barat yang sekular.

Maka, marilah kita nikmati pandangan Tuan Hassan mengenai “Kesopanan Manusia Terhadap Kepada Orang ‘Alim” yang kami nukil dan sunting dari buku beliau berjudul Kesopanan Tinggi Secara Islam (Bandung, C.V. Dipenogoro, 1981 [Cetakan Ke-XII, Cetakan pertama 1939]). Kami kutip dari halaman 25 sampai halaman 28.

***

Kesopanan murid terhadap pada gurunya

Tiap-tiap seorang yang belajar itu maksudnya hendak mendapat ilmu. Sungguh pun ilmu itu ada tertulis di kitab-kitab, tetapi kunci dan rahasianya ada di tangan atau di dada guru. Kalau tidak begitu tentulah orang-orang tidak perlu kepada guru.

Terang terlihat kepada kita bahwa tak seorang pun memaham sesuatu ilmu melainkan apabila sudah ia belajar, sekurangnya pokok-pokok ilmu itu.

Pokok-pokok sesuatu ilmu kita dapat dari guru-guru dan supaya tidak tersia-sia tempo, seyogyanya kita mendapat dengan terang, lekas dan jelas.

Guna menghasilkan maksud itu patut lah pula kita pandai mengambil hati guru dan tingkah laku yang baik serta menyenangkan hatinya. Sabda Nabi saw:

“Memujuk-mujuk itu bukannya perangai orang mu’min kecuali dalam hal menuntut ilmu” (HR Ibnu Adi)

Bukan kita berkata, bahwa kalau tidak dengan pujukan, guru itu tidak akan mengeluarkan ilmunya, tetapi harus kita perhatikan dan ketahui, bahwa murid yang dibenci oleh gurunya lantaran tidak baik perangainya itu, sering tidak jaya dalam kebanyakan urusan-urusannya. Inilah yang orang namakan tidak berkah. Adapun murid yang disukai oleh gurunya itu, kita lihat selalu dapat mencapai cita-citanya yang tinggi.

Lantaran sekalian itu, manislah kita menghormati guru, berlaku sopan di hadapannya, turut perintah-perintahnya, di hadapannya dan di belakangnya. Sabda Rasul Saw:
“Muliakanlah orang yang kamu belajar daripadanya” (HR Abul Hasan Al Mawardi)
Sabda Nabi Saw:

“Muliakanlah guru-guru agama, karena barang siapa muliakan mereka itu berarti ia muliakan daku” (HR Abul Hasan Al Mawardi)

Perkara-perkara yang tidak sopan terhadap guru

Ada banyak murid-murid yang bertingkah laku kasar di hadapan gurunya, berpaling kanan dan kiri, tertawa atau beromong-omong di waktu mengajar

Perbuatan-perbuatan yang serupa itu dinamakan perbuatan orang yang tidak indahkan (pedulikan, hormatkan) gurunya.

Orang yang tidak indahkan guru itu dinamakan tidak sopan kepada guru dan kepada ilmu yang ia ajarkan. Maka orang yang tidak muliakan ilmu itu, ialah orang yang tidak muliakan perintah  Allah. Lantaran itulah nampaknya, bersabda Nabi kita saw.

“Barangsiapa menghormati orang alim, berarti ia menghormati Tuhannya” (HR Abul Hasan Al Mawardi)
Karena menghormati orang alim itu berarti menghormati ilmunya, dan menghormati ilmu itu berarti menghormati perintah Allah.

Ada sebahagian lagi dari pada murid-murid suka  mengatur-ngatur beberapa pertanyaan dari perkara-perkara yang ia sudah tahu, lalu ia tanyakan kepada gurunya di hadapan murid-murid yang lain atau di hadapan orang ramai. Ia merasa senang kalau gurunya tidak bisa menjawab, karena memang maksud ia bertanya itu tidak lain melainkan supaya gurunya tak dapat menjawab, atau supaya dipuji yang ia seorang yang bisa membikin pertanyaan yang tinggi-tinggi hingga gurunya tak bisa menjawab.

Pernagai yang tersebut itu sudah tentu perangai orang yang tidak sopan, kalau terhadap kepada orang lain, istimewa pula terhadap kepadanya gurunya sendiri.

Hendaklah murid-murid yang begitu, mengetahui, bahwa kelakuan tersebut, selain tidak sopan, ada menghina kepada guru, sedang guru itu patut dimuliakan.

Murid yang tidak berlaku sopan kepada gurunya itu sungguh pun gurunya tidak akan menyembunyikan pengetahuan yang wajib ia ajarkan, tetapi murid itu tidak akan dapat pandangan atau pendapat sang guru, yang mana tidak akan keluar daripada lidahnya melainkan apabila girang hatinya.

Orang-orang kuno sungguh pun menghormati guru-guru amat keterlaluan, hingga perkataan guru itu disamakan dengan perkataan Allah dan Rasul, bahkan lebih, tetapi adab yang mesti mereka unjukkan kepada guru-guru itu tidak ketinggalan.

Adapun orang-orang kita sekarang ini sudah hampir hendak meniru anak-anak sekolah Barat yang kebanyakan sama sekali tidak berlaku hormat kepada guru-gurunya.

Kalau begitu tentulah pantas begitu! Karena ada diriwayatkan bahwa sabda Nabi saw:

“Hormatilah orang yang kamu ajar” (HR Abul Hasan Al Mawardi)

Maka guru yang tidak hormat kepada murid sebagaimana mestinya, tentulah tidak dapat kehormatan dari murid sebagaimana mestinya. Hanya yang kita rasa aneh, mengapa keadaan itu mau diturut oleh bangsa kita tehadap kepada guru bangsa kita!         



Tulisan Terkait (Edisi Tertib)

IKLAN BARIS