• Ikuti kami :

Jilbab, Hijab (atau apa pun namanya) Ditinjau dari Berbagai Aspeknya: Muslimah dan Serba-Serbi Mengenai Jilbab

Dipublikasikan Jumat, 05 Mei 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Pada suatu hari, nuun.id kedatangan beberapa orang Muslimah dari berbagai latar belakang yang berbeda. Kebetulan edisi nuun.id kali ini mengenai pakaian, jadilah hari itu kami berbincang seputar Muslimah dan pakaiannya. Ada tujuh orang Muslimah yang berkesempatan ngobrol-ngobrol ringan dengan kami. Karena Muslimah-muslimah ini adalah makhluk yang lembut dan pemalu, maka untuk melindungi privacy mereka, kami akan menyebut mereka dengan Jasmin, Sakura, Cempaka, Ros, Aster, Lili, dan Kenanga.

Seperti yang kita ketahui bersama, Muslimah memang tidak bisa dipisahkan dengan jilbab dan pakaian-pakaian panjang menutup aurat. Jenisnya ada beraneka ragam, begitupun dengan bahan dan namanya. Untuk penutup kepala saja, misalnya, kita bisa menemukan nama jilbab, hijab, khimar, pasmina, shawl, atau scarf. Sedangkan untuk pakaian kita mengenal kata gamis, abaya, rok, dress, outer, inner, dan lain sebagainya. Dari segi bahan kita mengenal jilbab bahan paris, ceruti, spandex, dan masih banyak lagi.

Tapi tujuan kami berkumpul bukanlah untuk berdiskusi mengenai model, nama, atau bahan jilbab. Kami bukan sedang ingin membangun bisnis online busana Muslimah. Bukan pula untuk merumuskan sebuah tren baru dalam berbusana Muslimah agar bisa menjadi panutan dan diikuti oleh banyak orang. Kami hanya membicarakan hal-hal sederhana mengenai jilbab dan hal-hal yang melingkupinya. Jarang-jarang kan, Muslimah dari lingkungan, pemikiran, gerakan, dan tempat ngaji yang berbeda bisa berkumpul bersama….

Diskusi dimulai dengan pertanyaan, “Kapan mulai berjilbab?”. Sebagian besar kawan-kawan Muslimah kita, yang berusia antara 20-30an ini, ternyata telah dibiasakan berjilbab sejak kecil. Ada yang sejak TK hingga SMP.

“Ana (saya) pakai jilbab sejak kelas 2 SD. Tapi ya gitu, kadang masih pakai celana panjang dan lengan pendek. Baru setelah kelas 5 SD ana mulai dibiasakan pakai gamis, meski kerudungnya masih yang kecil,” jelas Jasmin, seorang guru bahasa Arab dan tahfidz di sebuah SMA boarding school.

“Saya dari SMP, karena dulu sekolah di SMP Islam. Tapi dulu masih bandel-bandel, di luar sekolah suka lepas jilbab dan pakai baju pendek. Waktu kelas 3 SMP, saya mulai malu keluar rumah nggak pakai jilbab, dan waktu masuk SMA saya mulai serius berjilbab,” tutur Sakura, ibu rumah tangga yang hobi berjualan online.

Meski sebagian telah dibiasakan sejak kecil, kawan-kawan kita memilih berjilbab bukan karena paksaan. Mereka menyadari bahwa itu adalah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap Muslimah.

“Selain karena kewajiban, juga karena kebutuhan. Butuh merasa aman. Butuh merasa berharga dan dihargai,” jelas Cempaka, seorang Muslimah yang orang tuanya berlatar belakang NU.

“Saya pernah punya teman lelaki, yang dianggap brengsek oleh orang-orang karena mantan pencandu narkoba dan berasal dari keluarga broken home. Tapi meski begitu, dia nggak pernah bersikap nggak sopan sama saya. Nggak pernah main rangkul atau colek-colek. Ia bilang ke saya, ‘Gue emang bukan orang baik yang paham Islam, tapi gue bisa menghargai dan menghormati lu karena gue tau lu menghargai diri lu sendiri. Meski kerudung lu gak panjang lebar dan lu nggak alim-alim amat, tapi lu tau cara menempatkan diri,’” lanjutnya panjang lebar.

Ros yang sejak tadi asyik memperhatikan, akhirnya turut urun pendapat, “Buat saya, berbusana Muslimah bagi Muslimah bukanlah pilihan. Ibarat polisi berpakaian polisi atau pelajar berseragam sekolah. Saya percaya, kewajiban diberikan karena kita butuh aturan itu, bukan Allah yang butuh. Jadi, pasti mengandung hikmah yang melimpah.”

Setiap pakaian yang kita kenakan, tentu memiliki makna tersendiri. Begitupun dengan jilbab yang dikenakan kawan-kawan kita ini. Aster, yang berprofesi sebagai pengajar Bahasa Jepang di sebuah lembaga di Depok, menganggap jilbab bukan sekadar pakaian penutup tubuh sesuai ajaran Islam, tapi juga sebagai jalan menuju ketakwaan kepada Allah Swt.

“Setuju. Buatku, jilbab bukan hanya sebagai penunjuk identitas Muslimah, tapi juga jadi ‘rem’ untuk tidak melakukan apa yang Allah larang. Jadi, jangan sampai ada orang menyalahkan jilbab dan bilang, ‘Pake jilbab tapi kok begitu, sih?’” tambah Kenanga, yang paling muda di antara kami semua.

Muslimah berjilbab lebar tapi tidak bercadar ini memiliki kisah menarik seputar keputusannya memakai jilbab. Meski tergolong baru, tapi ia tetap teguh berjilbab walaupun keluarga besarnya sempat melarang. Mereka bahkan mencurigainya ikut aliran sesat hingga pindah agama.

“Awalnya dari bertanya-tanya, lalu mulai tertarik ketika model-model jilbab sedang tren. Dari situ aku tanya-tanya ke teman, tapi yang aku tanya justru laki-laki. Dia teman kakak sejak sebelum hijrah. Karena sudah ngaji duluan, dia bisa kasih penjelasan. Setelah itu aku jadi makin penasaran dan Alhamdulillah terbantu dengan tulisan-tulisan Ustadz Felix Siauw di Twitter. Tapi waktu itu belum memutuskan berjilbab. Soalnya anak-anak seumuranku waktu itu kan lagi demennya ‘seneng-seneng’,” ungkapnya menjelaskan perjalanannya mengenakan busana muslimah ini.

Setelah beberapa kali disindir dan diingatkan oleh kakak laki-lakinya, Muslimah berusia 23 tahun ini mantap hijrah pada Februari 2014 silam.

“Aku diingatkan oleh kakak, kalau selama belum berjilbab, yang menanggung dosa adalah almarhum ayah. Dibilangin kayak gitu jadi mikir dan merasa sedih. Padahal selama hidup aja belum sempat nyenengin ayah, tapi sekarang malah nambahin beban ayah di sana,” kenangnya.

Pada awalnya, Kenanga belum mengenakan jilbab selebar sekarang. Berada di antara teman-teman yang suka main dan nongkrong membuatnya merasa segan untuk berjilbab lebar.

“Waktu itu cuma aku sendiri yang pakai jilbab di antara teman-teman genk, jadi malu kalau mau pakai jilbab syar’i. Tapi lagi-lagi diingetin sama kakak. Dia maksa aku pakai jilbab syar’i karena malu kalau bawa adiknya ke kajian, tapi adiknya masih suka pakai celana jeans. Meski awalnya merasa asing, tapi setelah rutin ikut ngaji, aku sendiri yang jadi merasa butuh untuk terus belajar. Alhamdulillah ketemu banyak teman yang merangkul dan saling menguatkan. Akhirnya, 6 bulan setelah berhijab tepatnya pada Idul Fitri 2014, aku memutuskan untuk berhijab syar’i,” tutur Muslimah yang menjadi pegawai kontrak di salah satu kantor pemerintah di Kabupaten Lampung ini.

Jika Kenanga kini merasa nyaman dengan jilbabnya yang lebar, Lili konsisten untuk tetap bergamis setiap kali beraktivitas di luar.

“Iya, harus bergamis, dong. Karena itu sesuai dengan tafsir Q.S. Al Ahzab: 59 menurut Taqiyuddin an-Nabhani. Di sana dijelaskan kalau jilbab adalah baju kurung atau gamis tanpa potongan yang menutupi ujung kepala sampai kaki. Banyak orang salah paham hal ini, karena jilbab beda dengan khimar atau kerudung,” tutur mahasiswi UIN aktivis HTI ini.

Di tengah model-model jilbab yang beredar di pasaran, Muslimah-muslimah kita di sini memiliki kecenderungan fesyen yang berbeda. Model pakaian dan jilbab mereka pun berbeda. Cempaka misalnya, lebih senang menggunakan celana yang longgar dan tidak membentuk tubuh ketika beraktivitas.

 “Saya orangnya dinamis, jadi nggak suka style yang gitu-gitu aja. Tapi, kenyamanan dan kesopanan tetap prioritas. Jadi, kalau pilih jilbab harus yang nyaman, simple, dan menutup bagian dada. Kalau model, beberapa tahun belakangan, lagi suka pakai pasmina, yang biasa atau yang instan, juga jilbab segi empat dengan gaya yang chic tapi tetap simple,” tutur guru Bahasa Inggris di sebuah SMP Islam ini.

Sebagai seorang penjual online, Sakura memiliki ketertarikan yang cukup tinggi dengan model-model jilbab yang sedang tren. Ketertarikan itu dimulai sejak ia lulus kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan non-profit milik asing. Jika ketika kuliah pakaiannya cenderung biasa dan tidak memperhatikan mode jilbab yang sedang tren saat itu, maka begitu bekerja penampilannya berubah drastis. Ia mulai rajin mengunjungi butik-butik desainer hijab ternama dan membeli pakaian serta jilbab di sana.

Ketika ditanya apa alasannya, Sakura menjawab dengan singkat dan lugas: “Sejak saya mulai menyadari bahwa saya harus mempercantik diri untuk mendekatkan jodoh,” tutur ibu dua anak, yang sempat menggandrungi boyband Jepang di masa kuliahnya ini.

Jika Sakura tertarik pada dunia fesyen setelah mulai memikirkan tentang pernikahan, maka Aster tetap istiqomah dengan model jilbab yang sama sejak kuliah.

“Sempat terbersit keinginan untuk mencoba model-model kekinian. Tapi saya sudah merasa nyaman dengan model jilbab yang saya pakai sejak dulu. Yang penting modelnya sederhana, tidak ketat, dan enak dipakai,” ujar ibu satu anak yang rajin membina adik-adik kelasnya di sebuah SMA Negeri di Bogor ini. Bagi Aster, yang penting jilbabnya berasal dari bahan yang nyaman (tidak berat, tidak panas, dan tidak transparan). Selain itu, lebarnya juga harus menutupi lekuk tubuh dan harganya tidak terlalu mahal.

Sementara itu, Jasmin yang telah bercadar sejak lulus SMA lebih menyukai model yang sederhana dari bahan yang adem serta lembut untuk jilbabnya. Ia juga memilih jilbab yang panjangnya hingga lutut agar terhindar dari was-was.

“Kalau sekarang, cari jilbab harus yang di bawah lutut. Itu harus. Kalau tidak ada, ya minimal pas di lutut, lah…. Kalau di atas itu, rasanya risih dan terlalu pendek jilbabnya. Khawatir bokong terlihat dan jadi was-was terus. Kalau untuk warna, ana suka warna-warna yang gelap.”

Jasmin kemudian bercerita tentang prosesnya menggunakan cadar. Ia juga mencurahkan perasaannya yang pernah dipandang dengan tatapan kurang bersahabat hingga diteriaki maling, karena mengenakan cadar.

“Dulu waktu SMP atau SMA, keluarga ana dekat dengan parpol atau punya kelompok sendiri. Tapi di antara mereka nggak ada satupun yang bercadar. Suatu hari, ana pergi ke Kebun Raya Bogor dan melihat banyak sekali wanita bercadar. Masya Allah, mereka tampak cantik sekali. Dari situ, ana spontan bilang ke teman, kalau ana ingin bercadar karena cantik dan lebih aman. Kaki aja yang gak lebih cantik dari wajah harus ditutupin, jadi Ana mau tutupin yang lebih cantik dari kaki,” jelas Muslimah yang selalu berpakaian gelap ini.

Berbeda dengan Jasmin, Ros, yang bercadar sejak tahun 2013, memilih bercadar karena mengambil pendapat bahwa cadar itu sunnah. Mahasiswi Pascasarjana UI ini melihat bahwa cadar adalah syariat sunnah yang pemakainya sering disalahpahami.

“Dalam hidup, saya rasa kita harus memiliki sesuatu yang istimewa yang kita perjuangkan. Saya belum mampu melakukan hal-hal besar, maka saya ingin memperjuangkan hal ‘sederhana’ yang bisa dimulai dari diri sendiri. Cadar ini adalah sebuah bentuk cinta. Seperti kita menambahkan sholat sunnah setelah shalat wajib, karena kita merasa cinta dan dapat ketenangan darinya,” jelas Muslimah yang kadang memakai gamis bercorak atau gamis berwarna muda ini.

Bagi Ros, kesulitan yang dialami setelah bercadar lebih banyak datang dari kekhawatiran diri. Khawatir akan mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari orang lain. Selain itu, alasan teknis seperti takut kerepotan mencari cadar yang sesuai warna jilbab ketika akan pergi atau bagaimana jika harus makan atau minum di tempat terbuka juga pernah menjadi pertimbangannya.

“Namun, ketika dijalani, ternyata banyak hal baik yang saya dapatkan. Alhamdulillah saya jauh lebih sering mendapat perlakuan baik dibanding sebaliknya. Beberapa kawan dan keluarga sempat agak terkejut dan canggung. Sayalah yang harus berkomunikasi lebih dulu dan menunjukkan bahwa saya masih orang yang sama. Saya belajar bahwa jika kita yakin dan percaya diri dengan pilihan kita, kemudian bisa bermuamalah dengan baik, tidak akan ada masalah dengan siapa saja dan di mana saja,” ucapnya.

Kesulitan dalam berjilbab pernah juga dialami oleh Lili. Ia dan teman-temannya yang selalu bergamis sering dianggap radikal oleh orang sekitar.

“Padahal kami kan hanya melaksanakan syariat, tapi orang-orang sering mencibir menganggap aku ibu-ibu. Dosenku juga menyuruhku pindah ke Arab. Sedangkan teman-temanku yang anak kedokteran atau jurusan kesehatan sering kesusahan, karena biasanya nggak diperbolehkan kalau nggak pakai celana panjang. Padahal itu kan nggak syar’i,” jelas aktivis HTI yang gemar orasi dan demonstrasi ini.

Pembicaraan seru kami akhirnya sampai pada masalah jilbab syar’i atau tidak syar’i. Keinginan para Muslimah untuk mengenakan jilbab yang sesuai dengan syariat Islam membuat istilah ini bergulir. Kata yang identik dengan jilbab panjang menutupi dada ini kemudian menjadi tren setelah hijab clothing turut mempromosikan hal ini.

Ada beberapa pandangan dari kawan-kawan Muslimah kita mengenai jilbab syar’i ini. Bagi Aster, jilbab syar’i adalah jilbab yang menutupi lekuk tubuh (minimal menutupi dada), tidak menerawang, dan tidak menjadi pusat perhatian karena modelnya sederhana. “Kalau amannya sih, yang bisa langsung dipakai shalat, jadi tidak perlu pakai mukena,” tambah Muslimah yang sudah liqo sejak SMA ini.

Sedangkan bagi Ros, Muslimah bercadar yang gemar bergamis dengan warna-warna muda, jilbab syar’i adalah kain atau pakaian yang menutupi seluruh badan dengan segala kriterianya. Yang paling penting, ia harus merujuk pada perkataan para ulama mengenai batasan jilbab syar’i.

“Saya mencukupkan kriteria tentang jilbab syar’i dari perkataan para ulama, tanpa mengharamkan yang mubah, memubahkan yang haram, mewajibkan yang sunnah, atau menganggap sunnah sesuatu yang wajib,” terangnya.

Sementara itu, Cempaka yang memiliki latar belakang keluarga nahdliyin, merasa agak kurang sreg ketika istilah jilbab syar’i muncul di tengah masyarakat. Menurutnya, makna syar’i adalah ketika seseorang dalam keadaan menjalankan syariat Islam, yang dalam hal ini adalah menutup aurat.

“Kalau merujuk pada makna ini, maka semua kerudung atau jilbab masuk pada kategori syar’i, karena itu adalah alat untuk menjalankan syariat menutup aurat,” ujar alumni sebuah pesantren ini.

Menurutnya, kemunculan istilah jilbab syar’i bagi sebagian produk jilbab dapat menjadi hegemoni yang akan memecah belah persepsi umat.

“Kita kan tidak bisa menilai kadar kesyar’ian seseorang dari penampilannya. Jadi kalau buat saya, semua jibab itu tergolong syar’i, hanya ukuran saja yang membedakan,” tambahnya.

Baginya, menutup aurat dan perjalanan spiritual seseorang dalam mengenali dirinya tidak bisa disamakan antara satu individu dengan individu lainnya. Dengan mengenal diri dan memahami tujuan keberadaan, maka kadar ketaatan kita kepada Allah akan semakin meningkat.

Waktu yang terbatas akhirnya membuat kami harus mengakhiri obrolan—tanpa kopi—kami di hari itu. Ada banyak jenis busana Muslimah dengan model jilbab yang beraneka ragam yang dikenakan oleh Muslimah kita saat ini. Apapun jenis dan model yang mereka kenakan tidaklah masalah, selama itu sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh agama dan (seperti kata kawan kita di atas) merujuk pada perkataan ulama. Kita memang tidak bisa menilai kadar kesyar’ian dari model pakaian dan jilbab, karena setiap kita memiliki perjalanan spiritual yang unik dan tidak sama dengan yang lain. Yang jelas, apapun bentuknya, busana Muslimah yang kita kenakan adalah bentuk kepasrahan dan sarana ketakwaan untuk menjadi manusia yang lebih baik di hadapan Allah.


Tulisan Terkait (Edisi Pakaian)

Populer

IKLAN BARIS