• Ikuti kami :

Kita Semua adalah Korban Kemacetan yang Tak Sudah-sudah

Dipublikasikan Rabu, 07 Juni 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Geliat kehidupan Ibu Kota telah dimulai sejak matahari belum bersinar. Selepas Shubuh, orang-orang mulai bersiap menyambut aktivitas. Perlahan-lahan, jalan dan gang di Jakarta dan kota-kota sekitarnya, mulai dipenuhi manusia.

Ada bapak-bapak atau ibu-ibu yang memboncengi anak mereka pergi ke sekolah. Sementara anak-anak yang sudah agak besar meski masih kagok dan baru bisa tancap gas, memacu motor berkejar-kejaran dengan bel sekolah. Terkadang mereka memakai helm, tetapi lebih seringnya tidak. Alasannya rumah mereka dekat dengan sekolah, tak perlu pakai helm. Toh cuma beberapa KM saja. Yang penting tidak ada polisi, karena hari masih pagi.

Yang lebih beruntung diantarkan dengan kendaraan roda empat. Putra-putri kelas menengah ke atas, yang bersekolah di sekolah negeri unggulan ataupun sekolah swasta idaman. Di sekolah-sekolah semacam ini kemacetan mudah ditemui. Para bapak (atau mungkin supir) menurunkan anak-anaknya (atau anak-anak majikannya) di pinggir jalan. Mobil-mobil berbagai jenis, mulai dari yang kecil dan yang besar (yang belakang kini banyak ditemui, meski sesungguhnya ukurannya sering tak cocok dengan jalan Jakarta yang kebanyakan minimalis), seakan berparade menanti giliran untuk menurunkan penumpang.

Yang ingin menghemat, yang rumahnya lebih jauh, atau yang memang tak punya kendaraaan memilih (atau tak ada pilihan) naik bis sekolah dan transportasi umum lainnya. Angkot dan bis telah siap ngetem di pengkolan strategis, menanti penumpang datang. Mereka tidak peduli dengan suara klakson yang dibunyikan dengan geram disertai teriakan tak sabar orang-orang. Yang penting dapat setoran, supaya hari ini bisa makan.

Semakin siang, keramaian semakin menjadi. Bapak-bapak, ibu-ibu atau supir-supir yang kembali dari mengantar anak-anak (atau anak majikan) mereka, bertemu dengan mas-mas, mbak-mbak, bapak-bapak, ibu-ibu, om-om, dan tante-tante yang akan pergi bekerja atau melakukan aktivitas lain. Jalanan semakin ramai, kendaraan semakin tumpah ruah dan kesemrawutan semakin menjadi.

Mas-mas yang bangun kesiangan, karena habis kencan semalam, memacu motornya dengan cepat. Mobil-mobil berderet dengan kecepatan lambat di perempatan sana. Tanpa berpikir ulang—karena sudah terlalu biasa— mas-mas kesiangan melawan arah dan menerobos jalur sebaliknya. Di sana sudah ada beberapa motor mengantre menunggu lampu berubah hijau. Melihat antrean motor di jalur tetangga yang semakin panjang, sebuah motor menerobos tanpa ragu-ragu, diikuti bapak-bapak yang merokok dengan santai di motornya, mengirimkan abu ke pengendara di belakangnya.

Ojek online yang melaju kencang tiba-tiba melipir ke kiri jalan, tanpa sen atau pemberitahuan, begitu melihat telepon pintarnya menunjukkan tanda pesanan penumpang. Sementara itu, pemilik sah jalur yang jalannya diserobot, hanya bisa berang karena haknya diambil orang. Jalan yang seharusnya bisa dilewati dua mobil tersendat karena motor-motor menyumpal sebuah jalur. Bermacam mobil, yang ukurannya semakin lebar dan panjang, mandek tak bisa melewati jalan. Macet. Klakson berbaur dengan sumpah serapah memenuhi udara.

Kebisingan itu diramaikan juga oleh Mbak-mbak yang tidak sempat sarapan karena terlalu lama dandan. Si Mbak menggunakan kesempatan macet ini untuk sedikit ngemil dan minum susu kemasan. Setelah selesai, sampah sisa ngemil ia lempar begitu saja ke jalan. Hadir pula ibu-ibu bergamis dan berkhimar lebar—yang sedang ngetren sekarang, yang lupa mematikan lampu sen sejak keluar dari rumah. Ramai dan meriah.

Di perempatan, setelah lampu merah atau tepat di belokan, orang-orang menunggu bis dan angkot dengan santai. Bis dan angkot macam-macam jurusan dengan antusias segera berhenti untuk menjemput penumpang tercinta. Pengendara lain hanya bisa menekan klakson dengan frustasi sampai si angkot dan bis selesai menaikturunkan penumpang.

Sementara itu, seorang tante-tante yang sibuk menelepon rekan-rekan arisannya di dalam mobil impornya, tidak sadar bahwa lampu sudah berubah menjadi hijau. Ia baru berjalan setelah mendengar raungan klakson tiada henti dari berpuluh mobil di belakangnya. Mas-mas dan mbak-mbak eksekutif muda mengklakson sambil mendengus kesal di dalam city car dan SUV terbaru mereka.

“Dasar, orang Jakarta norak dan tidak bisa disiplin!!! Bikin macet saja!!!” hardik para eksmud itu di media sosial.

“Memangnya tidak bisa lihat kalau lampu sudah hijau?” seru mereka lagi di dalam hati, sembari membayangkan ketertiban di kota-kota negara maju tempat mereka belajar, berbisnis atau sekadar jalan-jalan.

Mereka rindu lalu lintas Tokyo, Hongkong, Seoul, Amsterdam, Paris, London, juga kota-kota di Amerika Serikat atau Kanada yang rapi.

Berbagai jenis orang dengan berbagai jenis transportasi pilihan tumpah ruah di jalanan Ibu Kota disertai berbagai pikiran dan tingkah laku yang sedikit ataupun banyak turut berkontribusi pada kemacetan kota. Berdasarkan laporan CNN Februari 2017 lalu, Jakarta menempati posisi keempat sebagai kota termacet di dunia. Sementara menurut hasil penelitian TomTom Traffic, Jakarta menempati posisi ketiga perihal kemacetan.

Secara umum, penduduk yang beraktivitas di Jakarta harus mengeluarkan 58% waktu lebih untuk mencapai tujuan mereka pada jam-jam sibuk, atau sekitar 48 menit per hari dan 184 jam per tahun. Jika diturunkan lagi, jumlah waktu ekstra yang dibutuhkan untuk perjalanan di pagi hari sekitar 63% sedangkan di sore hari mencapai 95%. Jalan tol yang seharusnya menjadi solusi kemacetan ternyata tidak lebih baik daripada jalan-jalan biasa, karena waktu ekstra yang dibutuhkan jika melewati jalan tol sebanyak 68% dan jalan biasa sebesar 54%.

Menurut data BPS Provinsi DKI Jakarta 2014 silam, ada 11.201.620 penduduk di Jakarta pada siang hari. Sementara pada malam hari, jumlah penduduk Jakarta hanya sekitar 10 juta orang saja. Artinya, ada 1,4 juta orang yang tinggal di kota-kota seperti Depok, Bogor, Bekasi, dan Tangerang mencari nafkah di Ibu Kota. Ini berbanding terbalik dengan jumlah penduduk Jakarta yang bekerja di luar Jakarta, yaitu hanya sekitar 256 ribu orang saja.

Masih di tahun yang sama, Polda Metro Jaya mencatat bahwa pertumbuhan kendaraan bermotor di Jakarta mencapai 12 persen, dengan perkiraan pertambahan sebesar 4.000-4.500/hari untuk kendaraan roda dua, dan 1.00-1.500 unit/hari untuk kendaraan roda empat. Dengan pertambahan semacam itu, diperkirakan ada sekitar 13 juta motor dan 3,3 juta mobil pribadi berseliweran di Jakarta dan sekitarnya setiap hari. Sedangkan angka pertumbuhan jalan hanya 0,01 persen saja. Dapat kita bayangkan apa yang akan terjadi jika kendaraan-kendaraan ini keluar pada waktu yang hampir bersamaan.

Tak mengherankan apabila ketidakteraturan, ketaktertiban dan kesemena-menaan mudah terjadi di jalan-jalan Ibu Kota. Kita seperti anak kecil yang baru saja diberi mainan, tapi tidak mengerti cara memakainya. Kita piawai mengendarai motor, tapi tidak tahu bahwa lampu sen harus dinyalakan sebelum belok dan langsung dimatikan setelah belok. Kita bisa mengendarai mobil, tapi kita tidak sadar bahwa parkir di pinggir jalan atau mengambil tempat di kiri padahal mau belok ke kanan, sehingga menyumbat jalan orang-orang, adalah sebuah kesalahan. Kita tidak mematuhi peraturan, padahal peraturan itu ada untuk mengatur diri kita, mengatur kehidupan kita. Lebih jauh lagi, kita tidak pernah menghayati atau memikirkan kenapa peraturan itu ada dan untuk apa ia ada.

Kita sering menempatkan diri kita sebagai korban kemacetan. Kita merasa kesal jika jalan kita diserobot orang lain, padahal kita sudah mengantre lama. Kita kesal jika kendaraan masih berlalu dengan santai meskipun lampu lalu lintas sudah merah. Kita sebal dengan mobil-mobil dan motor-motor yang berhenti sembarangan di pinggir jalan, atau dengan angkot dan bus yang berhenti seenaknya untuk menaikturunkan penumpang.

Banyak hal yang membuat kita sebal, kesal, hingga marah dengan kelakukan pengendara ataupun penumpang di bermacam jalanan. Namun, pernahkah kita memikirkan bahwa kita pun turut andil dalam kemacetan yang terjadi di jalan-jalan kita? Bahwa dengan keberadaan kita saja di sana, kita telah ikut menyumbang kemacetan yang terjadi.

Kita selalu merasa bahwa hanya kita saja yang memiliki urusan yang harus segera diselesaikan. Kita selalu merasa terburu-buru dan dikejar-kejar sesuatu, meski kita sendiri tidak tahu apa yang memburu-buru dan mengejar-ngejar kita. Jiwa kita tak tenang, sehingga perilaku kita di jalan pun menjadi tak tenang. Serobot sana, salip sini, dengan harapan bisa segera sampai tujuan. Padahal sikap itu justru menambah ruwet dan membuat semakin lama di jalan. Kita tidak mau menunggu beberapa detik (apalagi menit) untuk mengantre. Kita merasa rugi jika harus menunggu dengan tertib barang sebentar, sementara kita tidak merasa rugi ketika menyerobot, menyelak, atau mengambil jalur orang lain. Kita tidak merasa rugi ketika orang lain merasa kesal dan melontarkan sumpah serapah mereka kepada kita. Kita tidak merasa khawatir sedang menyakiti hati orang lain, yang juga adalah saudara seiman, sebangsa, ataupun setanah air kita.

Pak RT, yang dalam kesehariannya ramah dan selalu peduli dengan warganya, menjadi orang yang tak mau mengalah di jalan raya dan selalu menyerobot jalan pengendara lainnya. Bu RW, yang menjadi guru PKn di SD, dengan santainya mengendarai motor di jalur cepat dengan kecepatan rendah. Pak Budi, yang selalu baik kepada tetangga, tanpa ragu-ragu lebih memilih melawan arus daripada kehilangan beberapa liter bensinnya jika harus memutar. Mbak Susi, yang ramah dan sering senyum, tidak merasa bahwa menerobos lampu merah salah karena orang lain pun melakukan hal yang sama. Mas Anto, yang rajin ikut pengajian dan memiliki semangat tinggi, sering memarkir mobilnya di jalan, sehingga pengguna jalan yang lain tidak bisa lewat dengan bebas.

Kita, bangsa yang dikenal ramah ini, tidak menunjukkan keramahan itu di jalan-jalan kita. Tidak ada istilah ladies first atau orang yang lebih tua first di jalan raya. Semua setara. Semua sama-sama ingin menjadi penguasa jalan. Kita tidak memberi tempat untuk pejalan kaki, untuk kakek-kakek pedagang buah dengan gerobaknya, atau bapak-bapak pengangkut sampah.

Kita sering sekali melanggar hukum yang telah ditetapkan. Kita selalu mencari celah untuk kenyamanan kita sendiri. Hal terkecil bisa kita temui di jalan, yang terbesar mungkin ada di kantor-kantor pemerintah atau pengadilan. Kita tidak percaya bahwa dengan taat pada peraturan, kita bisa mendapatkan kenyamanan. Kita sangsi bahwa peraturan bisa membawa kepada ketertiban dan keadilan. Kita justru merasa, bahwa peraturan itu membuat kita semakin jauh dari tujuan.

Akibatnya, kita menjadi semena-mena. Hal tersebut tercermin dalam perilaku berkendara orang-orang di Ibu Kota kita tercinta, Jakarta. Tidak heran banyak orang mengangguk-angguk setuju jika dikatakan bahwa Ibu Kota jauh lebih kejam dari ibu tiri. Padahal sebagian besar dari kita tidak memiliki bapak yang kawin lagi.


Tulisan Terkait (Edisi Tertib)

IKLAN BARIS