• Ikuti kami :

Bahasa Nginggris Orang Kota adalah Kekederan Kita

Dipublikasikan Selasa, 17 Januari 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Suatu hari di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, ada hajatan. Ramai sekali. Lalu di pinggir ruangan saya melihat seorang anak yang tampangnya agak merajuk. Ibunya ada di sampingnya. Seperti ibu pada umumnya, wajahnya meneduhkan dan tutur katanya halus sekali menanyakan keadaan sang anak. Sang anak dengan bahasanya sendiri rupanya menjelaskan bahwa ia kesulitan menangani makanan-makanan kecil yang disediakan di tempat prasmanan. Tangannya masih terlalu kecil.

“Do you wanna have a plate?”

Anak itu memang agak indo, bulai, bule. Bapak dan ibunya berasal dari bangsa yang berbeda. Bapak anak itu dari Belanda, sedangkan ibunya dari Indonesia. Maka wajar jika ibunya bertanya dengan bahasa Inggris.

“Let’s have a plate.”

Saya tahu bapak-ibu si anak indo itu karena saya mengenali ibunya. Dialah Zaenab dari Si Doel Anak Sekolahan yang Sekarang Sudah Jadi Gubernur. Oh, betapa bahasa Inggrisnya fasih sekali. Padahal kalau nggak salah dulu dia kursus bahasa Prancis. Takdir memang sulit ditebak.

Hidup di kota, kita tidak terlalu sulit untuk menemukan orang yang bercakap dengan bahasa Inggris. Di jalan, bahasa Inggris bertebaran dan berseliweran, menyusup di tengah pembicaraan, mulai dari pembicaraan serius hingga yang tingkatnya cuma bercanda. Tidak kurang di televisi, radio, atau di video yutub kita bisa menemukannya juga.

Sampai di sini, tidak ada masalah. Perkotaan tempat semua bahasa dan budaya berkumpul. Bahasa dari mana saja bisa berkumpul di kota. Masalahnya, bahasa Inggris yang sering nyelonong itu kadarnya campuran.

Kota memang memiliki daya tarik. Berbeda dengan di desa, tempat yang biasanya hanya menjadi tempat hidup satu bahasa saja. Misalnya desa di Jawa, desa di Betawi, desa di Lampung, ya bahasanya hanya bahasa mereka saja. Ketika datang ke kota, semua bahasa ibu para penutur asli berkumpul.

Bahasa di kota lalu berkembang. Setiap penutur membawa bahasanya masing-masing. Yang Jawa, yang Sunda, yang Batak, semua membawa latar belakang bahasanya masing-masing ke kota. Kota menjadi tempat semuanya meleleh menjadi satu. Begitu seterusnya, begitu alamiahnya. Kita pun maklum.  

Namun, penyelewengan juga kerap terjadi. Misalnya, dalam usaha menyamakan cara komunikasi itu, ada saja penutur bahasa yang membangun sistem bahasa baru. Tujuannya untuk menandai kelompoknya sendiri dengan menyusun sistem bahasa yang menyempal. Sikap ini menciptakan apa yang dulu sempat kita kenal sebagai bahasa prokem, dan sekarang ada bahasa alay. Saya takut dengan yang pertama, dan saya bingung dengan yang kedua. Mau kalian itu apa ngomong kok begitu?

Bentuk penyelewengan bahasa di kota juga terjadi dengan melibatkan bahasa asing, misalnya bahasa Inggris. Ini dia bahasa yang selalu menimbulkan ketegangan dengan bahasa Indonesia setiap 28 Oktober. Bahasa Indonesia yang sudah disumpahi ini pun ternyata masih kagok ketika berhadapan dengan bahasa Inggris.

Bahasa Indonesia kadang dianggap tidak terlalu penting untuk dipelajari atau diseriusi. Misalnya, dulu, sering kawan sejawat saya mengaku bangga ketika nilai ujian bahasa Inggrisnya lebih tinggi dari nilai bahasa Indonesia. Dia sampai menganggap itu sebagai pertanda bahwa dirinya memang lebih pantas menjadi orang Inggris daripada orang Indonesia. Mengingat-ingat raut mukanya ketika dulu ia mengatakan itu, saya tiba-tiba merasa iba.

Tantangan berbahasa Indonesia memang agak lumayan. Banyak dari kita yang mungkin berpikir bahwa berbahasa adalah hal remeh-temeh yang bisa dilakoni sambil lalu. Toh, tanpa belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar kita tetap bisa berkomunikasi. Kita mesti waspada, karena jika sikap ini dipelihara terus, suatu saat akan menjerumuskan kita pada kebingungan dan penyesalan.

Tanpa kemampuan berbahasa yang tertata rapi, kita akan kesulitan menjelaskan hal-hal yang penting. Kerapian jelas diperlukan agar tuturan kita mudah diikuti dan dipahami. Kerapian akan membuat tuturan kita mengalir lancar. Dan dalam tulisan, kerapian punya posisi yang lebih mutlak lagi.

Apa yang membedakan wibawa artikel ilmiah atau pendapat yang otoritatif dengan racauan? Yang paling dasar adalah bahasa yang digunakan, baik itu pilihan katanya, ekspresi yang digunakannya, hingga tata ujarannya. Bayangkan jika kita membicarakan negara dengan cara “cie-cie”, “tuh, kan”, atau “apa gua bilang”. Sungguh mendebarkan. Jika kita mengkritik Amrikiyah dengan cara begini, percayalah, mereka tidak akan merasa terkritik, mereka justru akan merasa terhibur.

Selain kerapian, perkara bahasa yang campur aduk adalah hal lain yang menggelisahkan, terutama percampuran dengan bahasa Inggris itu tadi. Ini fenomena yang jamak sekali dan bisa dilihat di mana-mana.

Salah satu tokoh yang kerap menyoroti fenomena ini adalah Remy Sylado dengan salah satu bukunya yang berjudul Bahasa Menunjukkan Bangsa. Dalam salah satu tulisannya di buku tersebut, Remy menyoroti apa yang dia sebut sebagai nginggris.

Remy berkata, gejala nginggris sebenarnya tidak sama dengan multilingual, poliglot, kecakapan berbahasa banyak, atau apa pun sebutannya, yang mengarah pada kecendekiaan. Nggingris, dikatakannya lagi, lebih aktual sebagai gejala "penyakit keremajaan": kebingungan mencari identitas dalam kepribadian yang pecah, lantas diekspresikan dengan cara yang aneh-aneh, kenes, genit.

Itu kuncinya, saudara-saudara: genit. Seringnya, istilah asing yang menyelinap dalam perbincangan diselubungi maksud untuk membuat pembicaranya menjadi mewah, berharkat, atau terpelajar.  

Seorang remaja di Jakarta ketika pulang sekolah lalu masuk bioskop dan keluar dengan mengatakan pemeran dalam film yang mereka tonton itu adorable sekali. Luar biasa, mereka semacam mendapatkan momen pencerahan di dalam kegelapan ruang bioskop. Tidak berhenti di situ, kata-kata semacam swear, it's OK, oops, yeah, please juga bisa mudah saja mengikuti. Pada satu titik, ini bisa dimaklumi. Toh mereka masih muda. Umurnya bahkan mungkin belum cukup untuk ikut SPMB.

Tetapi, nginggris ternyata juga menyakiti orang-orang tua kita. Dulu, SBY, mantan presiden kita yang tengah kita rindukan itu, pernah dikritik lantaran tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar ketika berpidato, bahkan dalam pidato kenegaraan. Dia sering menggunakan istilah bahasa Inggris yang sebenarnya tidak perlu-perlu amat. Misalnya, alih-alih menggunakan kata fokus, dia lebih sering menggunakan kata focus yang dia ucapkan sebagai fokes. Ganjil kan, ya? Lha iya. Mesti iya.

Ada yang menghitung, bahwa dalam pidato kenegaraan pada 17 Agustus 2012 SBY setidaknya menggunakan 25 istilah bahasa asing. Contohnya, founding fathers, financial inclusion, pro-growth, pro-job, dan pro-poor. Seolah dia tidak punya padanannya sama sekali.

Sayang sekali. Presiden adalah puncaknya. Di bawahnya, ada para menteri yang bicara tanpa kenal kerapian, ada anggota dewan yang sering menggunakan istilah-istilah aneh, bahkan ada gubernur yang sering berbicara kotor. Ini negara mau dibawa ke mana, Bapak-Ibu sekalian? Entah ada berapa banyak guru bahasa Indonesia yang menangis di alam kuburnya ketika bertemu malaikat dan ditanyai amal perbuatannya. Sudah begitu, mereka akan lebih sedih lagi jika diberi tahu bahwa para murid mereka yang sudah jadi orang itu tidak mengamalkan ilmu yang mereka ajarkan. Berkurang sudah satu sumber amal jariyah bagi guru-guru kita. Berlindunglah dari takdir sebagai murid durhaka, ikhwah fillah semua.

Namun, apa benar dengan nginggris harkat pembicara dalam suatu pembicaraan bisa terangkat? Di sebuah ruangan, kadang-kadang saya merasa waswas. Lalu saya bicara begini kepada rekan di sebelah saya.

“Ruangan ini rasanya agak uncomfortable, kurang nyaman. Akan lebih wise jika pencahayaannya, lightingnya, dibenahi. Jendela juga perlu tetap in open state. Supaya kita bisa tetap ready dan prepare jika tiba-tiba ada tabung gas yang leaking.”

Alamak. Apa saya sudah terdengar keren? Kalau kata orang Betawi, ini mah namanya keder.

Menggunakan bahasa Inggris saya niatkan untuk berlagak bahwa saya paham bahasa Inggris, tetapi saya justru terlihat tidak fasih dalam bahasa Inggris dan gagal dalam bahasa Indonesia. 

Tulisan Terkait (Edisi Kota)

IKLAN BARIS