• Ikuti kami :

Puasa "ala" anak Bengkalis

Dipublikasikan Sabtu, 24 Juni 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Puasa ialah kewajiban bagi setiap Muslim. Ada orang yang mulai berpuasa sejak kecil, sejak remaja, setelah dewasa bahkan ketika sudah lanjut usia. Pemaknaan kita terhadap berpuasa tentu tidak ujuk-ujuk final dan ideal ketika pertama kali menjalankannya. Dalilnya memang tetap sama, al-Baqarah 183-185 namun refleksi dan kontemplasinya tetap menuntut pengalaman. Setiap orang pasti memiliki pemaknaan sendiri terhadap puasa dan berlebaran.

Bagi saya, pemuda rantau yang menamatkan masa kanak di Bengkalis (Riau), mengingat-ingat masa kecil yang tanpa huru-hara gadget ialah sesuatu yang menyenangkan. Ramadan di masa kanak menjadi sesuatu yang selalu saya rindukan. Ada pemaknaan yang khas pada kanak-kanak terhadap puasa. Pemaknaan yang masih sederhana tetapi juga murni. Belum tercampur macam-macam ambisi atau niat-niat tersembunyi.

Kalau tidak salah, saya pertama kali puasa penuh pada waktu kelas tiga SD walau sejak TK telah muncul keinginan untuk turut berpuasa. Sewaktu TK, murid yang berpuasa dibolehkan bermain balok-balokan dari kayu dan bongkar-pasang lego serta tidak diwajibkan ikut belajar. Saat itu kehendak untuk berpuasa memang lebih dirangsang keinginan untuk bermain lego. Dan karenanya, puasa di masa TK cuma berlangsung hingga pukul satu siang. Meski demikian, di masa jauh sebelum baligh itu, kami telah mengenal kewajiban berpuasa.

Memasuki kelas tiga SD, saya sudah berikrar pada orang tua, “Bu, Abang puasa, ya, Bu. Sampai Maghrib”. Ibu saya hanya senyum-senyum melihat anaknya berikrar demikian. Maklum aroma Rendang dan Dendeng yang dimasak ibu, bisa membuat anak-anaknya nangis minta makan. Pada masa itu, anak yang tak berpuasa biasanya kena bully. Menjalankan ibadah puasa, menjalankan perintah Tuhan, mampu menahan lapar sesuai ajaran agama ialah kebanggan. Saya selalu mengingat-ingat hal ini. Bagi kami, anak Kampung Duri (Mandau, Bengkalis, Riau), izzah ke-Islaman yang diekspresikan dengan kuat berpuasa Ramadhan sebulan penuh adalah kebanggaan. Sebaliknya, tak kuat berpuasa menghasilkan rasa risih. Kami malu kalau tidak berpuasa.

Tiap waktu selama Ramadan selalu berbalut kebahagiaan. Ketika bedug Magrib ditabuh, saat shalat, waktu sahur selalu memberika nuansa yang khas, rasa yang makin sulit dirasakan di Ramadan kini. Pada saat tarawih, kami ramai-ramai mendengarkan Ustadz penceramah dengan sekasama. Tak lupa kami mencatat ceramah itu di Buku Laporang Amaliah Ramadan. Selesai tarawih, kami berbondong-bondong meminta tanda-tangan Ustadz di bawah catatan ceramah itu. Ketika masuk sekolah, buku itu wajib kami kumpulkan kepada Guru Agama Islam di Sekolah. Sayang sekali buku-buku amaliah seperti itu sudah jarang terlihat sekarang.

Padahal dulu adalah hal yang khas dan indah melihat anak-anak berbondong-bondong keluar rumah sambil menggulung buku amaliah Ramadhan, ditaruh di saku celana. Berjalan dengan izzah ke Masjid, bangga memakai peci, bangga bersarung ke Masjid, mendatangi Pesantren Kilat Ramadhan. Tak lupa ikut Shalat Tarawih dan menghabiskan malam di masjid atau surau, bertadarus, lalu pulang ke rumah ketika waktu sahur tiba.

Ibadah Shalat Tarawih di kampung kami selalu berkesan. Pak Ustadz sudah mengatur jadwal, setiap murid mengaji mendapat giliran untuk menyampaikan kultum (kuliah tujuh menit). Sebelum masuk puasa kami sudah dapat jadwal menjadi MC atau mengisi Kultum. Pun naskah-naskah untuk Kultum tak lupa kami siapkan. Sampai saat ini tradisi tersebut masih terus berjalan. Tradisi yang mendidik anak-anak untuk berani tampil di depan umum, ngomong perkara agama. Saya tentu juga merasakan kesempatan itu. Menjadi Ustadz sehari. Saya masih ingat, Kultum pertama saya ialah tentang makna dan hikmah puasa di dalam Surat al-Baqarah ayat 185 di malam pertama bulan Ramadhan. Orang tua kami tentu bangga melihat anaknya tampil menjadi dai cilik walau hanya semalam.

Kebahagiaan lain ialah lebaran. Di akhir Ramadan, di awal Syawal, orang sekampung berpawai takbir keliling. Yang berjalan kaki membawa obor, yang menaiki mobil pick-up ramai menabuh bedug. Semua benar-benar bertakbir keliling sepanjang malam. Di kampung kami yang jauh dari kebisingan Jakarta, takbir keliling tak pernah dilarang.

Di pagi hari, kami berbondong-bondong ke lapangan untuk Shalat Ied. Menggunakan baju koko baru, sarung baru, dan peci baru dengan penuh riang gembira. Namanya juga anak-anak, kami lari kesana-kemari ketika Khatib naik mimbar berkhutbah. Tapi ya begitulah, anak-anak selalu merasa bahagia ketika Idul Fitri tiba. Tunai sudah puasa sebulan penuh.

Sampai di rumah, kami berbaris sungkem kepada orang tua, nenek, kakek dan sanak saudara lainnya. Saya paling suka bagian setelahnya, makan-makan. Hidangan khas di Idul Fitri di Kampung Duri adalah lontong sayur dengan topping daging rendang, ditaburi bawang goreng dan kerupuk merah. Setelah lontong sayur, kue-kue kering dan kacang toujin yang gurih renyah dapat dinikmati. Bersama itu tamu-tamu datang bergantian. Menjamu tamu dengan hidangan-hidangan terbaik sudah menjadi tradisi kami.

Dari lebaran saya belajar bahwa Islam sangat mengagungkan orang tua, saudara, dan juga tetamu yang hadir. Kita wajib memberikan hidangan yang terbaik, memberikan kenyamanan, membangun keakraban melalui cerita-cerita ringan berseling canda tawa. Keluarga kami selalu menyempatkan dahulu bertamu dan menerima tamu dari rekan-rekan dan tetangga sekitar sebelum esoknya mudik pulang ke kampung Ayah atau Ibu, tempat Kakek-Nenek tinggal bersama saudara-saudara lainnya.

Beginilah pemaknaan kanak-kanak dulu terhadap puasa dan lebaran. Dengan berpuasa saya mendapatkan kebahagiaan. Dan kebahagiaan itu kami sadari hanya bisa didapatkan di bulan Ramadhan saja sehingga tidak boleh disia-siakan begitu saja. Beginilah kebahagiaan anak-anak muslim di kampung kami dulu.

Kebahagiaan-kebahagiaan sederhana pada bangun sahur, pada makanan-makanan enak, pada tarawih. Kebahagian itu terletak pada amalah rutinan Ramadan itu sendiri yang kami jalani dengan riang gembira dan penuh kebanggaan. Semua dilakukan bersama-sama meski kami dulu belum tahu betul apa arti Jama’ah alih-alih Ukhuwwah.

Di usia dewasa ini, cara pandang kanak-kanak terhadap puasa sebetulnya dapat terus kita jalankan. Bergembira dengan kehadirannya dan bangga menjalankannya. Tentu dengan kualitas kekhusyuan yang lebih dalam. Segala sibuk dan cemas di dunia di luar sana dapat kita istirahatkan. Pada tiga puluh hari tiga puluh malam yang khusus, kebahagiaan dan keriangan di masa kanak-kanak itu harus kita rawat. Agar kedewasaan tidak menjadi beban dan waktu yang berlalu dapat terus menebalkan makna keberadaan kita di dunia.

Wallahua’lam. Wassalam.


Tulisan Terkait (Edisi Ramadhan)

IKLAN BARIS