• Ikuti kami :

Antara Ijazah Ustadz Parenting dan Kesalehan Anak

Dipublikasikan Kamis, 13 April 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Pengasuhan anak (parenting) sekarang menjadi satu tema populer di kalangan umat Islam setelah sebelumnya kita menerima begitu saja pola pengasuhan anak secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Atau mungkin ini menjadi terasa populer karena saya sejak tiga tahun lalu mempunyai anak.

Jika Anda laki-laki atau perempuan dewasa yang hendak menikah atau sudah berkeluarga, satu tema diskusi yang kadang berujung perdebatan di dalam keluarga adalah pola pengasuhan anak. Masing-masing kepala punya rujukan pengasuhan berbeda sesuai dengan pengalamannya sendiri saat masih menjadi anak dalam suatu keluarga. Tentang cara pendisiplinan anak, tingkat toleransi “bahaya” untuk anak, sampai mainan/baju apa yang perlu dibeli juga bisa menjadi perdebatan.

Tidak mengherankan jika kepribadian anak bisa berbeda antara satu dan yang lain. Kerumitan dunia orang dewasa senantiasa menyesaki kehidupan anak—di tengah pikiran, perabotan, kelakuan orang dewasa. Di mana sebenarnya kedudukan anak?

Sebagian orang ada yang mengangap anak adalah seonggok daging hasil produksi laki-laki dewasa dan perempuan dewasa. Sebagai produk, dia dapat dibuang atau dibesarkan. Jika dibesarkan, produk tersebut terus dikembangkan, diberi input, diinvestasikan, dimodifikasi, dan dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kepentingan orang tua. Sebagai barang, ia bisa dititipkan dan bisa dijaga siapa saja.

Fenomena anak sebagai barang investasi merasuk tanpa sadar ke banyak benak orang tua. Nasihat "Ayok, Nak, belajar yang giat, biar lulus cepat dan dapat kerja" dilontarkan tanpa kesadaran tentang apa itu belajar. Apa yang harus anak pelajari? Apa etika dalam belajar? Mengapa mesti "dapat kerja"?

Di lain sisi, ada orang yang menganggap anak sebagai manusia bebas seutuhnya. Anak sedari dini dididik untuk seolah menjadi orang dewasa. Bebas belajar apa yang dimaui, tidak boleh dibilang tidak, harus selalu dipuji, jangan dibebani banyak aturan, dan sekian banyak jangan bagi orang tua agar si anak bebas. Ndilalah anak-anak yang diprogram untuk bebas menjadi dirinya sendiri dilayani sedemikian rupa sehingga dia benar-benar bebas dari rasa tanggung jawab merasa empati dan memikul penderitaan orang lain.

Pertanyaan tentang kedudukan seorang anak sebetulnya bukan pertanyaan yang mudah dijawab. Seorang filosof Muslim, Imam Abul Hasan al-Asy’ari, bahkan sampai keluar dari mazhab Mu’tazilah untuk kemudian mendirikan mazhabnya sendiri, Asy’ariyah—yang kemudian disepakati jumhur ulama sebagai mazhab Ahlussunnah wal Jamaah—akibat menanyakan kepada gurunya kedudukan seorang anak di akhirat kelak.

Dalam Islam, anak adalah amanah. Dia bukan produk hasil hubungan intim laki-laki dan perempuan. Karena ada beratus juta lebih pasangan suami istri yang melakukan hubungan intim tetapi mereka belum juga dikarunia anak. Anak juga bukan lembar kertas putih yang dapat menuliskan apa saja yang ia inginkan untuk kemudian bangga menjadi dirinya sendiri. Ia adalah fitrah, sifat asali diri yang bersaksi bahwa Allah SWT sebagai Tuhannya, yang harus dibimbing dan diarahkan oleh orang tua sehingga dia tidak terpengaruh oleh “tuhan” yang lain.

Al Qur’an menceritakan tentang orang bijak yang mengajarkan anaknya untuk menyembah kepada Allah semata. Juga bercerita tentang anak yang begitu berbakti kepada orang tuanya sehingga rela mengorbankan diri untuk disembelih sang Ayah. Namun, ada juga anak yang membangkang kepada orang tuanya; anak yang membunuh saudaranya sendiri dan anak yang menyekutukan Allah SWT.

Banyak ajaran yang dapat dipetik dari kisah dan teladan para Nabi di Al Qur’an, tetapi Al Qur’an tidak mengajarkan cara penyampaian ajaran tersebut harus dilakukan kepada orang tua. Tidak ada step-by-step atau how-to pengasuhan anak dalam Al Qur’an karena Al Qur’an bukan modul pengajaran anak, melainkan petunjuk hidup orang berakal. Maka, dari dulu tidak ada ijazah pengangkatan ulama parenting atau ustaz parenting. Yang akan selalu ada adalah orang tua-orang tua mukminin dan mukminat yang mengajarkan anaknya untuk menjadi anak saleh.




Tulisan Terkait (Edisi Anak)

IKLAN BARIS