• Ikuti kami :

Merindukan Anak yang Bertanya Pada Bapaknya

Dipublikasikan Rabu, 21 Juni 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Di sebuah masjid, seorang bapak asyik membaca al-Qur’an. Anak lelakinya berlari kian kemari, merajuk mencari perhatian minta bermain. Bapak mengeluarkan telepon genggam dan memberikannya pada si anak (mungkin 4 atau 5 tahun usianya). Bapak kembali membaca al-Qur’an, anak khusyu diasuh gawai.

Di rumah-rumah, anak-anak tak lagi mendengar dongeng tentang nabi-nabi. Bapak dan Ibu telah membelikan mereka macam-macam cakram DVD. Juga laptop dan komputer. Ada pula tab dan telpon genggam pintar 14 inci. Anak-anak menonton video animasi tentang kisah para Nabi, sementara Bapak asyik mengawasi perkembangan zaman di media sosial.

Tak ada lagi anak yang bertanya pada bapaknya, “buat apa berlapar-lapar puasa?”. Semua pertanyaan dapat diajukan kepada Google, dan Bapak tidak perlu repot-repot menjelaskan. Memang begitu tugas teknologi, mempermudah hidup manusia. Google tidak hanya menjawab tentang arti puasa. Tetapi juga menyediakan jawaban berbagai pertanyaan. Termasuk pertanyaan semacam: “apa itu ciuman?”. Dunia telah semakin mudah, dan semakin sedikit Bapak yang sanggup dan bersedia menjawab pertanyaan: “tadarus tarawih apalah gunanya?”.

Anak-anak berkembang dengan pesat. Teknologi mendampingi hidup mereka dengan sangat baik. Hiburan, pendidikan, perkembangan sosial dan kebutuhan ekonomi dilayani sedemikian rupa oleh teknologi. Banyak anak yang sudah menjadi pengusaha di usia dini. Mereka sudah sukses dan terkenal sebelum Kementrian Pendidikan mampu mengatasi masalah tawuran. Anak SD sudah pacaran, anak SMP sudah berbisnis, anak SMA sudah menulis dan orang dewasa ribut macam anak SMP mengomentari anak SD pacaran.

Ketika Ramadan tiba, Bapak dan anak tidak lagi berdialog seperti guru dan murid. Mereka saling berkomentar di media sosial. Menyambut kehadiran bulan suci melalui instagram dan buka puasa bersama secara online di Facebook. Ramadan telah semakin ramai dengan teknologi foto dan video. Semua orang bisa bersyukur, berdoa, berbahagia, mengeluh, bersedih atau apa saja dengan perangkat-perangkat komunikasi yang amat canggih.

Ada yang pergi ke masjid bersama bapaknya untuk taraweh. Di masjid mereka berfoto bersama dan foto itu diunggah di media sosial. Mereka telah menjadi saleh dan merasa menjadi saleh tanpa perlu ada tanya jawab tentang arti berlapar-lapar puasa. Foto mengaji, video shalat, rukuk, sujud dan tangisan khusyu dengan air mata berderai membanjir di telepon pintar nyaris setiap hari. Kita sadar sepenuhnya sadar bahwa “lapar mengajarimu rendah hati selalu”.

Anak-anak di masa kini mungkin asing dengan tanya jawab dengan Bapak seperti mana di lagukan Bimbo. Bapak-bapak di masa kini, kemungkinan besar pernah di asuh Bimbo di masa kecilnya, telah lebih sering menjadikan anak seperti pajangan. Sejak masa kecil. Bayi-bayi yang belum bisa membaca telah berfoto bersama buku. Kadang bersama buku filsafat yang rumit. Kehidupan telah menjadi semacam karnaval kebanggaan yang tak sudah-sudah, ramai, gempita dan dangkal makna.

Perbincangan dan saling menyimak telah lama ada dalam keadaan gawat. Orang dewasa dan anak-anak dapat menjadi setara. Anak SMA bicara tentang agama, dan orang dewasa berperang kata seperti anak SMA. Ada jarak generasi antara anak-bapak-kakek. Anak telah semakin mandiri dengan tanya-tanya yang dijawabi Google. Bapak lupa mengajarkan tata krama yang dulu diajarkan Kakek. Dan kakek terkejut kata-katanya tak disimak dengan seksama oleh anak dan cucunya. Mereka lebih sibuk dengan teknologi dan tak punya banyak waktu untuk mendengarkan nasehat kakek atau nenek.

Tak ada lagi dialog antar generasi mengenai tarawih, puasa dan tadarus. Setiap generasi telah terpisah dan sibuk dengan urusan masing-masing. Anak-anak telah memiliki tarawihnya sendiri, tadarusnya sendiri dan puasanya sendiri. Terpisah dari lapar dan sekian banyak kebajikan dan kebijakan kakek-nenek bersilam-silam yang lalu. Tak ada ketersambungan rasa yang kuat. Rendah hati, memahami kitab suci, dan mendekatkan diri pada Ilahi telah dikuasai anak-anak dengan cara mereka sendiri. Pengalaman kakek atau bapak tentang hal-hal itu boleh jadi telah ketinggalan zaman dan tak relevan lagi bagi anak-anak itu.

Maka keampunan seluas langit tak akan mudah terlihat ketika perasaan tak punya salah selalu ada. Tak penting lagi kemampuan untuk mengendalikan nafsu angkara. Anak-anak telah melihat nafsu angkara nyaris sebagai dongengan belaka. Pada penghujungnya, hari-hari musti dilalui tanpa kemampuan memetik keindahan bunga ibadah berselendang ikhlas sedekah.

Namun tak ada masalah. Semua telah berjalan sebagaimana mestinya sesuai anjuran teknologi. Di lebaran nanti semua orang telah sedia mengawetkan kebahagiaan masing-masing. Semua akan berfoto bersama. Anak-anak menggaya dengan macam-macam tingkah. Membuka mulut selebar empat jari, mengembukan pipi, menadah dagu dengan tangan terbuka dan menahan senyum kualitas manis sekali selama beberapa detik. Di saat itu lah kaum Bapak dan Kakek (juga Ibu dan Nenek) akan tak sanggup lagi menerima kenyataan bahwa berfoto bersama sambil melompat ialah keharusan zaman yang tak terelakan. Tuntutanan zaman yang lebih ganas dari revolusi jenis apa pun.

Kita semua akan sangat merindukan tanya anak tentang tarawih, puasa dan tadarus.
Kita merindukan Bimbo dan Taufik Ismail dengan segala kemurniannya.


Tulisan Terkait (Edisi Ramadhan)

IKLAN BARIS