• Ikuti kami :

Anak-anak Muda dengan Sangu 20 Ribu Sehari

Dipublikasikan Rabu, 14 Juni 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Di kota-kota besar, ribuan anak SMA hanya punya uang sangu Rp 20.000,- sehari. Untuk ongkos, jajan dan lain-lain. Uang sebesar (atau sekecil) itu tentu sangat kurang untuk menghadapi beragam hasutan hidup dan iklan yang menyerbu ramai, nyaris sedetik sekali. Segala macam bisikan untuk menjadi “keren” dan terlibat dalam masyarakat kota tentu tak cukup ditempuh dengan Rp 20.000,- sehari. Pergaulan di mall, cafe, fast food, bioskop adalah pergaulan mahal di atas angka sangu anak-anak itu.

Ruang memang telah dikelola sedemikian rupa oleh para pemangku kebijakan. Setiap manusia bisa bermain di taman-taman gratis atau car free day. Tetapi meladeni segala tuntutan kegayaan kota tidak pernah gratis. Sepatu, topi, kemeja, kaos, jam tangan sampai gawai pintar dan motor ialah sesuatu yang musti dibeli dengan uang yang banyak. Celakanya, barang-barang itu telah meracun menjadi identitas anak-anak muda. Yang tak mampu memiliki, anak-anak bersangu 20 ribu itu, tersingkir dengan sendirinya. Mereka tidak ada di mall, tak ada di cafe, tak ada di rumah makan cepat saji, tak pula di bioskop.

Untuk sekadar makan di mall paling tidak mereka perlu menabung seminggu lamanya. Untuk nonton film di bioskop mereka harus jalan kaki memotong ongkos berhari-hari. Untuk menjadi “ada” di ruang kota yang sesak dengan pembangunan, mereka harus menghemat hidup ketat sekali. Dan sebagian mereka gagal. Terlempar dan tak menemukan arti mereka di mall, bioskop atau cafe. Mereka dikalahkan oleh ruang-ruang di keseharian mereka.

Anak-anak ini terserak-serak mencari penemuan atas diri mereka sendiri di berbagai tindakan sebisa-bisa. Mereka berkumpul di gang-gang, bergerombol di malam hari, menguji kelelakian di anggur oplosan atau sekadar terseret perkelahian untuk sekadar menemukan arti keberadaan mereka di kepungan ruang yang tak berpihak pada mereka. Sisanya mencobai sekian kedewasaan di bermacam kebimbangan.

Di balik gedung-gedung kokoh jalan utama, ada perkampungan-perkampungan yang terkucil, yang disesaki anak-anak bersangu 20 ribu sehari itu. Orang-orang kalah yang terus diejek televisi dan internet. Mereka menontoni pergaulan kota dengan gamang, pergaulan yang selalu hadir di depan mata tetapi tak pernah jadi bagian dari kehidupan mereka. Ribuan, puluhan ribu, ratusan ribu atau jutaan anak-anak muda terperangkap dalam pencarian makna keberadaan mereka. Sementara sekolah semakin sumpek dan tak berwibawa.

Anak-anak itu tak ada di perbincangan, tak dibicarakan. Berbagai macam persoalan bangsa menumpuk tak karuan, mengantre minta diselesaikan. Dan anak-anak itu tak kebagian ruang untuk sekadar diperhatikan. Tak ada yang menegur ketika mereka mulai merokok di pojok jalan. Tak ada yang mengingatkan ketika mereka memberandal. Semua serba sibuk dan menutup diri dari urusan orang lain. Kota telah menyeret manusia untuk lebih saling tak peduli lagi.

Gairah muda, pencarian makna hidup dan gemuruh yang membuncah-buncah menggelegak tak menemukan penyaluran. Kaum sangu 20 ribu sehari mendidih di atas kekalahan atas ruang. Mereka tergelepar di luar mall, bioskop dan cafe mencari-cari penyaluran kedirian yang gagal disediakan sekolah. Diam-diam, di luar kesadaran anak-anak itu, mereka mendendam atas sekian kekalahan yang tak mampu mereka tebus.

Di jalan-jalan mereka mengancam, mencari jalan bagi penemuan makna diri tanpa bimbingan siapa pun. Mereka telah berjalan jauh, mencobai banyak hidup tanpa pengawasan, tanpa teguran, tanpa cinta yang memadai. Anak-anak yang keluyuran, menyulang gelas-gelas keresahan yang tak pernah mereka mengerti.

Lalu kita dihantam angka aborsi 2,6 juta setahun banyaknya, 50 orang meninggal setiap hari karena narkoba dan seks bebas yang semakin membiasa. Anak-anak muda yang kehilangan ruang, kalah oleh iklan dan nyaris tanpa cinta bertumpuk-tumpuk di keseharian dan orang-orang semakin tak peduli. Hidup telah menjadi urusan masing-masing. Pagar-pagar rumah ditinggikan, pintu ditutup rapat dan berkunci ganda. Setiap orang telah saling memencilkan diri, sibuk dengan diri sendiri.

Anak-anak muda dengan sangu 20 ribu sehari, membuat resah di persimpangan jalan. Sementara kebijakan pembangunan terus menyingkirkan mereka tak sudah-sudah. Mereka mengancam, memberandal, berlaku kasar dan akan terus menggedor-gedor tatanan yang telah menyingkirkan mereka.

Dan kita, telah kehilangan kemampuan untuk mencintai mereka.


Tulisan Terkait (Edisi Tertib)

IKLAN BARIS