• Ikuti kami :

Gundala Putra Petir dan Harapan-Harapan

Dipublikasikan Rabu, 21 Januari 2015 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Keadaan-keadaan yang akhir-akhir ini sangat njlimet membuat saya jadi berharap bahwa Gundala Putra Petir itu benar-benar ada. Mungkin dia bisa ikut rapat atau paling tidak bantu angkat-angkat barang. Barangkali Gundala punya gagasan cemerlang, selain lari-lari ke sana kemari, buat mengatasi masalah-masalah. Dia juga bisa nyambi menjaga gedung KPK. Atau jadi wasit dari bermacam pertengkaran. Bisa juga diminta bantuan buat mengawasi pejabat negara. Atau paling tidak, kalau ada musibah, Gundala bisa turut serta membantu Basarnas.

Nama asli Gundala adalah Sancaka. Seorang ilmuwan yang di laboratoriumnya menemukan formula untuk menangkal petir. Pada suatu ketika yang entah, Sancaka tersambar petir. Sancaka pingsan, dan dalam pingsannya ia bertemu dengan Raja Kerajaan Petir (bernama Kaisar Kronz). Raja mengangkat Sancaka menjadi putranya. Resmilah Sancaka menjadi anak tiri/anak angkat Raja Petir. Sejak itulah Sancaka memiliki kekuatan luar biasa, tangannya bisa mengeluarkan tenaga sebesar petir dan bisa berlari secepat angin. Angin topan pula. Atau angin puting beliunglah.

Sejak itu Sancaka terbiasa menolong orang dengan ikhlas melalui kekuatan-kekuatannya dan resmi memakai nama Gundala. Dalam menjalankan amal baiknya Sancaka tidak suka pamer, oleh karena itu dia menutupi wajahnya dengan topeng bersayap. Gundala ialah pahlawan yang sangat Indonesia. Ia menerima kekuatan dari dahsyatnya alam Nusantara. Petir, angin puting beliung, adalah sesuatu kekuatan alam yang khas Indonesia. Gundala kuat adidaya tetapi tetap menjaga sopan santun serta menjunjung tinggi gotong royong dan benar-benar memahami arti tepo seliro. Gundala ialah pengamal Pancasila dan UUD 45 yang idiil dan konsekuen. Satu-satunya kesalahan Gundala ialah kesalahan klasik yang dilakukan banyak pahlawan adidaya: memakai cawat di luar celananya.

Tapi tidak apa-apa. Kekeliruan pemakaian celana dalam ini sudah dimulai oleh para pahlawan Amerika. Gundala tetap bisa diharapkan untuk menolong kita.

Bayangkan kalau Gundala benar-benar ada. Dia bisa berlari cepat dan mengeluarkan kekuatan sebesar petir. Gundala bisa membantu banyak demi kehidupan bangsa ini. Ketika pemilu tiba (mari kita andaikan tak ada satu kekuatan politik apa pun yang dapat merenggut hati Gundala dan oleh karena itu, seperti TNI dan Polri, Gundala bersikap netral) Gundala dapat membantu terjaminnya sebuah pemilu yang jujur dan adil.

Setelah penghitungan suara di PPS, Gundala dapat melakukan hitung cepat versi Gundala dengan kecepatan larinya. Gundala cukup berlari secepat angin dari ujung timur Indonesia sampai ke Aceh dan mengumpulkan hasil pencatatannya di Pusat Tabulasi Nasional Lingkar Survey Gundala. Mari kita andaikan bahwa Gundala independen dan dengan demikian tidak dibiayai oleh unsur-unsur politik mana pun dan hasil hitung cepatnya dapat menjadi timbangan bagi kejujuran proses penghitungan suara di KPU.

Selain itu Gundala juga bisa membantu menangani politik uang dengan kecepatannya. Bawaslu bisa minta bantuan Gundala, dengan kekuatan adidayanya, agar para penyebar uang dapat diatasi sedemikian rupa. Kehadiran Gundala akan membuat pemilu menjadi lebih jernih.

Itu semua dengan catatan bahwa andaian Gundala tidak pernah membuka topengnya dan bekerja tanpa tekanan siapa pun adalah benar. Sancaka tidak kita kenal, Metro TV dan TV One, Kompas, Republika, dan Tempo juga Detik.com hanya membahas Gundala dan tidak ada seorang pun wartawan yang bisa menginvestigasi kediriannya. Gundala dalam andaian ini secara niscaya harus menolak wawancara dari media mana pun. Tidak ada liputan khusus dan tidak ada yang mengetahui alamat e-mail atau nomor teleponnya.

Sampai sini, andaian kita pada kepahlawanan Gundala akan tetap aman.

Kehadiran Gundala di tengah-tengah andaian kita tentu adalah sebuah berkah. Berkah yang tentu saja berupa andai.

Lalu Gundala tiba-tiba berkacak pinggang di atas gedung KPK di atas spanduk raksasa bertuliskan “Berani Jujur itu Hebat!” Para wartawan yang ngepos di KPK sibuk memotretnya dari bawah tanpa dapat melakukan wawancara sepatah kata pun dengannya. Dia baru saja membantu Abraham Samad menangkap koruptor-koruptor kelas ulung. Gundala membawa berkas-berkas penting kasus BLBI, Bank Century, mafia migas, transaksi tidak wajar para pejabat negara, dan lain sebagainya.

Segala ancaman dari para koruptor yang berusaha melawan hukum diatasi dengan kekuatan petir. Koruptor yang macam-macam akan dipetir. Para pengawalnya gosong. Saya percaya koruptor sehebat apa pun akan takut disambar petir. Oleh karena itu, selama Gundala memiliki komitmen terhadap pemberantasan korupsi, para koruptor tidak akan berani macam-macam. Lebih baik ditahan KPK daripada dipetir Gundala.

Dan efek psikologis dari tindakan pahlawan kita ini bergulir bagai bola salju. Kejahatan keuangan dari pihak mana pun akan berhadapan dengan telapak tangan yang memuat ribuan kilovolt listrik. Pejabat negara akan serius mengurus negara. Tidak ada lagi PNS yang akan berani merajang sayur di tempat kerja. Merajang sayur di tempat kerja tidak sesuai dengan program Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara. Gundala tidak suka itu. Semua harus kerja, kerja, dan kerja.

Kapal-kapal berpukat harimau yang mencuri ikan di perairan Indonesia akan dijungkal-jungkalkan oleh kekuatan taufan,ikan-ikan kembali ke perairan Indonesia. Bu Menteri Susi dapat merokok dengan tenang tanpa diganggu wartawan dan kaum pembising.

Presiden tidak perlu blusukan karena Gundala lebih efektif dan ramah anggaran ketika melakukan itu. Tak perlu pengawal, tak perlu ajudan dan tak perlu wartawan. Presiden dapat mengerjakan hal lain yang memang tugas presiden selain blusukan. Biar Gundala yang blusukan. Kecepatannya yang setara angin membuat daya jelajah blusukan Gundala menjadi sangat luas dengan waktu yang lebih cepat dan anggaran yang lebih hemat. Hasil blusukan pahlawan dari Yogya ini akan ditampilkan utuh kepada publik oleh Gundala Institute dan dapat diakses melalui www.gundala-institute.org. Semua laporan dalam situs ini adalah valid karena dilakukan oleh Gundala. Siapa saja yang meragukannya akan berhadapan dengan kekuatan petir.

Sampai sini andaiaan kita (atau saya) memang agak terjerumus kepada sesosok PNS super tak dikenal dan sedikit tiran. Tapi tak apa-apa. Kita perlu ketegasan, bukan keluguan.

Meskipun sedikit melanggar undang-undang, Gundala pergi juga ke pertambangan-pertambangan dan kilang-kilang asing. Gundala merusak mesin-mesin dan menghancurkan alat-alat berat penghisap sumber daya alam Indonesia. Amerika, Inggris, Jepang, semua protes terhadap kelakuan Gundala dan mengancam akan menyerang Indonesia.

Tapi setiap pesawat atau kapal perang yang mencoba menyerang dan masuk wilayah udara atau perairan Indonesia akan kena petir. Semua petir adalah saudara Gundala. Dan semua saudara akan tolong-menolong bahu-membahu. Solidaritas petir akan melindungi keamanan Indonesia. Belum lagi angin topan,angin puting beliung,dan angin-angin lainnya. Berguguran kapal perang dan pesawat tempur asing sebelum masuk wilayah Indonesia. Mental TNI meningkat pesat.

Kehadiran Gundala membuat rakyat merasa aman tanpa perlu merasa terancam atau dicurangi oleh pemerintahnya sendiri. Selama ini rakyat memang selalu waswas karena kuatir dicurangi pemerintah, DPR, dan unsur-unsur politik lainnya. Gundala mengikis kekhawatiran itu. Rakyat sejahtera aman tenteram, bekerja dengan aman. Orang-orang tua tidak takut berjalan malam-malam. Para kriminil terpaksa pensiun, sebab apa yang bisa dijahati (dicuri dan dirampoki) sangat sedikit sementara risiko berhadapan dengan petir susah dihindari. Gundala membuat pilihan menjadi kriminil bukanlah sebuah pilihan yang logis, khususnya ketika ditimbang dengan dalil-dalil ekonomi.

Sayangnya keadaan ini kemudian membuat semua orang keasyikan. Para politisi busuk, mafia migas, bajingan-bajingan BLBI, dan para kriminil Bank Century (selanjutnya saya sebut Kaum Naga Hitam) berhasil menemukan kata sepakat untuk mengatasi Gundala. Mereka mencari cara untuk menghubungi Horyona sang mertua bapak tiri Gundala, Kaisar Kronz. Rupanya Pak Kronz bukanlah menantu yang baik dan bertentangan dengan mertuanya sendiri: Horyona.

Seorang tokoh Naga Hitam berhasil mendapatkan nomor telepon Horyona dan mengirim WA kepadanya. Horyona yang kesepian karena selalu ditempatkan sebagai yang kalah dan jahat oleh Hasmi (pengarang komik Gundala) merasa mendapat kawan. Mereka akhirnya bertemu di sebuah rumah makan Jepang di bilangan Kemang, ditemani perempuan-perempuan berkulit langsat.

Mereka setuju untuk meringkus Gundala dengan cara apa pun. Mereka berhasil menemukan kelemahan Gundala.

Sancaka sebenarnya manusia biasa yang dapat mencinta. Kekasihnya (atau mantan kekasihnya), Minarti, telah kecewa kepada Sancaka. Sejak lama. Gara-gara sibuk mencari formula antipetir, Sancaka lupa hari ulang tahun kekasihnya. Minarti kecewa dan menyatakan putus kepada Sancaka.

Kaum Naga Hitam kemudian merasa mendapatkan penemuan baru. Semacam “Eureka!” yang diucapkan Archimedes dulu. Melihat struktur rasa Sancaka yang sebenarnya rentan remuk karena cinta, mereka akhirnya menemukan cara untuk melemahkan Gundala.

Ini rahasia terdalam yang disampaikan Horyona kepada Kaum Naga Hitam: sesungguhnya Sancaka ialah penggemar berat Mella Barby dan Orkes Dangdut Palapa. Mereka kemudian menghubungi banyak penyanyi, khususnya penyanyi dangdut.

Dengan alasan pengembangan kesenian daerah (kepedulian kepada daerah selalu disukai oleh Gundala) mereka memproduksi lagu-lagu dangdut yang melenakan hati, tentang patah hati dan ditinggal kekasih. Lalu jaringan udara dipenuhi lagu-lagu semacam ini sehingga ke mana pun Gundala melompat dan berlari, lagu-lagu yang melemahkan semangat juang itu selalu ada. Gundala menikmatinya sebab lagu itu terasa mewakili hatinya, khususnya lagu berjudul “Sakitnya tuh di sini!” yang dinyanyikan Cita Citata dan “Sejuta Luka” dari Tisna Levia. Tak lupa pula lagu-lagu bertema sejenis dari Orkes Dangdut New Palapa dan Orkes Dangdut Monata (keduanya penguasa pantura) senantiasa hadir di udara.

Serangan udara berupa lagu-lagu patah asmara semacam itu rupanya lebih dahsyat dari pesawat militer V-22 Osprey yang konon berharga $ 118.000.000. Jika peluru, mesiu, senjata biologi atau kimia dapat merusak benda-benda fisik, lagu-lagu itu jelas menyiksa sisi batin.

Dan kini Gundala terduduk bersandar penangkal petir di atas gedung KPK. Rokok yang tinggal setengah batang dihisapnya, mengepul asap-asap membentuk bulatan. Kopi hitam di gelas plastik bekas minuman kemasan yang tadi dibeli Gundala di perempatan Kuningan tinggal ampasnya. Alunan “Sakitnya Tuh Di Sini!” meresam masuk tepat di ulu qolbunya. Terbayang paras Minarti yang marah karena ia lupa hari ulang tahunnya.

“Ah, cinta …,” sesal Gundala.

Di bawah sana, data-data tentang kasus BLBI, Bank Century, mafia migas berceceran dan menghilang. Abraham Samad kebingungan. Ia mencari Gundala tapi Gundala tak ada. Ia berusaha menghubungi Gundala tapi Gundala tak ada. Ia mengharap Gundala tapi Gundala tak ada. Setidaknya susah ditemui. Kalaupun ditemui, ia akan tampak lemah dan tak bergairah.

Kaum Naga Hitam berkumpul di sebuah rumah makan Jepang di kawasan Kemang. Bersama Horyona mereka berpesta.

..,

Kita sudahi saja andaian tentang Gundala ini di sini. Tak ada Gundala dalam hari-hari kita. Tak ada yang menghadang kekuatan Amerika dengan kekuatan setara petir. Tak ada yang berkacak pinggang di atas gedung KPK. Tak ada Gundala. Kalau pun ada, dia akan dikalahkan Cita Citata.

Sudahlah. Kita bekerja saja membangun hari-hari dengan kekuatan kita yang tak adidaya. Sebab, meskipun kekuatan Kaum Naga Hitam begitu besar, tetapi masih ada Allah SWT Yang Mahakuat. Berdoalah memohon kekuatan dan pertolongan, hanya kepada-Nya. Hanya kepada-Nya. Hanya kepada-Nya..,

Tulisan Terkait (Edisi Lama)

Populer

IKLAN BARIS