• Ikuti kami :

Mengenang Kemeriahan Festival Islam Internasional 1976

Dipublikasikan Kamis, 27 April 2017 dalam rubrik  Cerita Foto

Kira-kira empat puluh tahun silam, tepatnya pada tahun 1976, sebuah festival Islam nan meriah diadakan di salah satu pusat kebudayaan Barat, Inggris. Festival yang diberi nama World of Islam Festival atau Festival Islam Internasional ini diselenggarakan selama kurang lebih tiga bulan, dari April hingga akhir Juni 1976 di London. Kabar mengenai festival ini mendapatkan reaksi yang beraneka ragam di kalangan umat Islam. Mohammad Natsir, dalam bukunya World of Islam Festival dalam Perspektif Sejarah menggambarkan bagaimana reaksi umat Islam ketika itu.

Bagi Ummat Islam di Indonesia, di Asia Tenggara dan sekitarnya ini, agak aneh kedengarannya bila orang mengadakan suatu “Pesta Dunia Islam” secara besar-besaran itu dewasa ini. (hlm. 10)

Kenapa demikian?

Rupanya kondisi dunia Islam ketika itu sedang berada dalam kondisi yang tidak perlu dirayakan, apalagi dengan sebuah festival. Ketika itu, di anak benua India Indo-Pakistan, Republik Islam Pakistan sudah pecah dua. Di Bangladesh, Muslim mengalami penderitaan berupa bencana alam dan perang, sementara Muslim di Myanmar tidak boleh menunaikan ibadah haji. Umat Islam di Asia Tengah, Kamboja, dan Vietnam menderita di bawah komunis sehingga banyak di antara mereka yang harus melarikan diri ke luar negeri. Di Filipina, umat Islam belum henti-hentinya “berkuah darah”, sementara Palestina dan Masjid al Aqsa yang ketika itu sudah berada di bawah Zionis juga mengalami penderitaan tiada henti.

“Semua itu memberi gambaran yang suram, jauh dari menciptakan suatu suasana gembira, suatu ‘festive mood’”, tulis lelaki yang pernah menjadi Perdana Menteri kita ini.

Meskipun demikian, ada juga kalangan umat Islam yang menyambut kehadiran festival ini dengan rasa bangga. Bagi mereka, bisa melaksanakan sebuah festival berkaliber internasional di tengah dunia barat modern yang jauh dari Islam adalah suatu kehormatan yang luar biasa. Namun, tidak sedikit juga yang mempertanyakan maksud di balik festival ini dan kenapa London menjadi tempat perhelatannya.
Festival Islam Internasional rupanya diselenggarakan oleh World of Islam Festival Trust, sebuah badan yang terdiri dari tokoh-tokoh Inggris pencinta kebudayaan. Badan ini diketuai oleh Sir Harold Beeley, seorang diplomat dan ahli bahasa Arab. Dua dari delapan orang anggota badan ini, yaitu Yahya Al Tajir (Duta Besar Federasi Emirat Arab) dan Sheikh Shukri (bankir), adalah Muslim.

Tujuan festival ini adalah untuk memperkenalkan budaya Islam, yang dinilai sebagai “satu kebudayaan yang sedikit sekali dikenal dan dipahami oleh Dunia Barat”. Festival yang diselenggarakan selama 3-5 bulan ini bekerja sama dengan berbagai lembaga seperti The British Library, The British Museum, The Arts Council of Britain, The Commonwealth Institute, dsb. Festival ini menghabiskan dana sekitar £ 2.000.000 yang sebagian besarnya adalah sumbangan dari beberapa negara Islam di Timur Tengah.

Di tengah-tengah berbagai kontroversi dan reaksi dari kalangan umat Islam di seluruh dunia, festival yang meriah ini digelar, bahkan dibuka secara langsung oleh Ratu Inggris. Di dalam festival ini diselenggarakan kira-kira 30 pameran di bidang kesenian dari berbagai negara Islam, 60-an ceramah dan konferensi tentang berbagai tema mulai dari arsitektur hingga tasawuf, juga konser seni musik Islami.

Tulisan Terkait (Edisi Pakaian)

IKLAN BARIS