• Ikuti kami :

Buat Kota

Dipublikasikan Jumat, 15 April 2016 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Mari kita singgah sebentar untuk memuji kota yang menjanjikan kegelimangan pendar-pendar cahaya lampu neon di papan iklan sebesar lapangan badminton. Di jalan-jalan nan rapi tertata tanpa lenguh dan bau keringat orang-orang susah kita bisa saling menunggu. Di taman-taman tertata, di stasiun-stasiun yang megah dan berwarna cerah, di pertokoan-pertokoan tanpa becek dan bau lumpur mari kita memuji kota. Kota indah dan bersih. Di kota ini ada warung kopi dan kita bisa menenggak secangkir kopi seharga Rp 45.000.  Jayalah kita. Kita bisa membeli penganan-penganan khas macam otak-otak di tempat yang mewah. Kita bisa membeli dan memamah makanan Prancis, Italia, Spanyol, atau Vava’ Tonga (kalau ada) sekaligus mereguk minuman kelas dunia.

Mari bayangkan, di kota ini, di pantai yang bersih Teluk Jakarta kita makan malam di sebuah rumah makan terapung. Langit yang gelap kita tentang dengan lampu-lampu yang temaram. Suara laut dan udara segar terbuka. Malam itu kita memesan Jumbo Lump Crabmeat Cocktail sebagai appetizer, kemudian kita tambah Porterhouse Steak with Asparagus. Jangan lupakan Fresh Raspberries or Mixed Berries sebagai dessert.

Dan mari kita tidak berhenti membayangkan keindahan kota ini sampai di situ saja sebab kita masih bisa memesan Hofstätter Joseph Lagrein, wine dari buah plum merah yang mengalir lembut di tenggorokan. Tentu saja kita perlu mengingat-ingat Che Guevara dan sekutunya yang tua Fidel Castro, kita perlu menyebut diri sebagai pejuang. Cohiba Behike kualitet terbaik ialah pasangan sepadan bagi Hofstätter Joseph Lagrein, pas untuk menemani obrolan mengenai demokrasi, hak asasi manusia, pluralisme, atau mungkin persoalan lingkungan dan kemiskinan yang melanda dunia.

Kepulan-kepulan berat dari Kuba itu, kepulan US$ 470 itu, sangat baik untuk mengiringi diskusi filosofis mengenai nasib bangsa. Dan biarkan peraman buah plum merah itu melayangkan kita pelan-pelan sembari membakari kolesterol yang dikandungi Porterhouse Steak with Asparagus. Ah, demokrasi akan sangat indah malam itu..,

Tidak, jika itu terjadi, kita tidak hanya sedang makan malam. Dengan semua itu kita telah membeli martabat. Menenggak wine tidak hanya perkara penyirnaan dahaga. Dengan menenggaknya benak kita melayang, kita terbang menjadi setara dengan orang-orang dari peradaban tinggi. Orang-orang yang berani, orang-orang yang bebas, berani membantah dalil agama. Kita menenggak wine yang diharamkan Islam dan kita merasa menjadi cerdas dan berperadaban. US$ 20 untuk buah plum merah yang diperam lebih dari lima tahun entah di negeri jauh mana ialah harga untuk sebuah peradaban. Kita sedang membeli martabat.

Inilah cita-cita kita. Menjadi bangsa yang berani menenggak wine US$ 20 dan cerutu Kuba US$ 470 di tepi indah Teluk Jakarta yang tanpa sampah, tanpa bau amis ikan dan kemiskinan. Inilah puncak-puncak peradaban yang sedang kita tuju. Inilah cita-cita demokrasi kita. Tak ada yang berhak melarang kita sebab undang-undang telah kita perjuangkan untuk menyepakati makan malam kita.

Tidak, kita bukan orang-orang yang abai pada nasib orang lain. Kemiskinan telah kita susun dalam proposal-proposal pemberdayaan. Orang-orang miskin telah kita berdayakan sebaik mungkin, menjadi sekrup-sekrup industri paling kokoh. Dan kita telah menggembirakan demokrasi dengan kebebasan berpendapat dan keberanian politik yang menembus batas-batas sopan santun jenis apa pun. Rakyat, atau kita sebut saja pasar yang melelehkan air liur, telah kita didik dengan program-program yang mencerdaskan mereka. Mereka telah menjadi pintar dan tunduk patuh bekerja keras, memilih pemimpin dan menyatakan “Ya!” untuk setia menjadi pembeli apa saja. Mereka para pengusaha-pengusaha kecil pinggir jalan telah kita beri pilihan: bergabung menjadi bagian dari yang besar atau mati dilindas pertarungan yang kejam.

Soal agama jangan terlalu banyak lagi kita perbincangkan, simpan saja di lemari atau kuburan. Kita tetap beriman dan mencintai Tuhan sembari minum arak, sebab toh kebaikan tidak ditentukan oleh masa lalu. Kita telah mendaulat diri kita sendiri sebagai penentu baik dan buruk.

Kita telah bersih seperti Eropa, telah mewah seperti Amerika, telah bergaya kelas dunia sebagaimana kita telah dungu memandang dunia. Kita telah minum wine, kita telah makan seperti mereka makan, kita kepulkan apa yang mereka kepulkan, kita telah bergaya dan berpikir dangkal seperti mereka. Kita telah mewarisi watak dungu kolonialis abad-abad lalu. Merasa berperadaban, paling tinggi martabat, sekaligus merendahkan yang lain. Kita telah berwatak rendah dengan membeli martabat seharga US$ 20 di sebuah pantai yang tak lagi berbau amis dan keringat nelayan.

Mari bersulang! Kita telah membereskan kota ini. Kita telah membeli keberadaban. Kita telah menang secara politik.

Mari bersulang! Untuk kedunguan yang kita ulang-ulang selalu..,

Tulisan Terkait (Edisi Lama)

Populer

IKLAN BARIS