• Ikuti kami :

Kemeja Kotak-kotak dan Beberapa Cerita Ala Kadarnya tentang Pilkada DKI Jakarta

Dipublikasikan Kamis, 04 Mei 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Apabila kita menyelidik agak saksama pakaian pejabat-pejabat sejak masa Orba hingga pasca Reformasi 1998 kita akan menemukan beberapa kesamaan. Jas satu stel lengkap dengan dasi, sepatu pantalon, serta kopiah menjadi pakaian khas para pejabat. Presiden, wakil presiden, para menteri, gubernur, walikota, dan bupati berpakaian “resmi” macam begini.

Dalam Pemilihan Presiden 2004 hingga 2014, pola pakaian macam ini mendominasi surat suara resmi dari KPU. Pada 2004, dari 5 pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden hanya Megawati Soekarnoputri yang tidak berpakaian demikian. Kita mafhum Bu Mega muskil berpeci dan agak sulit berjas-dasi. Sisanya 9 lelaki berjas-dasi dan hanya 1 yang tak berpeci. Wiranto-K.H. Solahuddin Wahid, K.H. Hasyim Mujadi (Alm), Amien Rais-Siswono Yudohusodo, Susilo Bambang Yudhoyono-Muhammad Jusuf Kalla, dan Hamzah Haz gagah dan tegap berkostum lengkap jas-dasi dan peci. Hanya Agum Gumelar yang berjas-dasi tetapi tak memakai peci.

Hal serupa terulang pula pada Pemilihan Presiden 2009. Kembali hanya Bu Mega yang tak berjas-dasi. Kali ini tampilan Bu Mega di kertas suara lebih sekuler dari Pilpres sebelumnya. Di Pilpres 2004, Bu Mega berkerudung, sedikit menutup rambutnya, tapi 5 tahun kemudian Putri Bung Karno ini tampil tanpa penutup kepala sama sekali. Mungkin karena tak lagi berpasangan dengan kiai. Sisanya, kaum lelaki yang seperti biasa berjas-dasi dan peci. Prabowo Subianto (Calon Wapres Bu Mega), Susilo Bambang Yudoyono-Boediono, dan Jusuf Kalla-Wiranto kompak berjas-dasi-peci di kertas suara.

Baru di kertas suara Pilpres 2014 kita melihat perubahan. Hanya peci yang tersisa. Itu pun dipakai 1 pasangan saja, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Di sebelahnya, Jusuf Kalla tersenyum dengan kemeja putih, tak berjas, tak berdasi dan tak berpeci. Pak JK mendampingi Joko Widodo yang tersenyum polos, tentu saja tanpa peci, tanpa jas, dan  tanpa dasi. Pak Joko memakai kemeja kotak-kotak. Ini perlawanan (atau penyimpangan) terhadap pakem yang telah kukuh hampir 15 tahun lamanya (atau lebih lama dari itu). Peci-jas-dasi ditinggalkan Pak Joko, diganti kemeja kotak-kotak.

Tentang kemeja kotak-kotak ini kisahnya tak hanya berkisar pada Pilpres 2014. Kita tahu Pak Joko mulai memakai kemeja ini pada Pilkada DKI Jakarta 2012. Kebetulan Pak Joko bersama pasangannya, Basuki Tjahaya Purnama, memenangkan perlombaan politik Ibu Kota. “Penyimpangan” terhadap pakem berpakaian dalam politik telah dimulai pada Pilkada yang ramai itu. Kemeja kotak-kotak menghadirkan kebaruan, keberbedaan bahkan kebertentangan dengan pakem kostum politik sebelumnya.

Pilkada DKI pertama (2007) masih menampilkan peci pada dua pasangan. Fauzi Bowo-Prijanto memakai beskap khas Betawi lengkap dengan peci hitam yang bersih. Sementara Adang Daradjatun-Dani Anwar memakai baju koko dan berselendang sarung, khas orang Betawi. Tentu saja peci hitam tegap mereka kenakan. Pada 2012, tiga pasangan memakai peci, sementara 3 pasangan lainnya tidak. Fauzi Bowo memilih pakaian yang sama dengan Pilkada sebelumnya. Hanya calon wakil gubernurnya yang berbeda, kali ini Foke berpasangan dengan Nachrowi Ramli. Hidayat Nur Wahid-Didik C. Rachbini jelas berpeci, menyempurnakan batik berwarna oranye. Hendardji Soepandji-Ahmad Riza Patria memakai kostum yang sama dengan yang dipakai Adang-Dani pada 2007. Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama kita tahu tak berpeci, keduanya berkemeja kotak-kotak. Faisal Batubara-Biem Triani Benjamin dan Alex Noerdin-Nono Sampono berkostum sama. Kedua pasangan tak memakai peci, hanya memakai kemeja putih.

Joko-Basuki menjadi pemenang perlombaan politik DKI Jakarta 2012. Mereka senantiasa memakai kemeja kotak-kotak semasa kampanye. Pasangan ini mulai memakai kostum ini ketika melakukan pendaftaran ke KPUD DKI Jakarta pada 19 Maret 2012. Keduanya datang ke KPUD dengan menggunakan Kopaja. Kemeja kotak-kotak, naik Kopaja, dan wajah polos wong ndeso. Tiga penyimpangan sekaligus perlawanan awal terhadap segala keresmian politik kita.

Cerita “resmi” kemeja kotak-kotak Joko-Basuki memang terkesan agak basa-basi. Konon baju itu dibeli ajudan Pak Joko ketika itu, Hanggo Henry. Sang calon gubernur meminta si ajudan membeli baju untuk dipakai saat pendaftaran ke KPUD. Walikota Solo itu meminta dibelikan baju kotak-kotak, cerah, dan ada merahnya. Si ajudan kemudian membeli baju tersebut di Tanah Abang. Toko yang mana, ajudan sudah lupa. Harganya Rp 400.000,- tiga potong, diskon 30%. Paling tidak begitu yang dikisahkan dalam artikel “Siapa Lelaki di Balik Kemeja Kotak Jokowi?” yang termuat di tempo.co (Selasa, 03 APRIL 2012, 11:55 WIB).

Tak sampai di situ, pasangan Joko-Basuki juga mengaku tak punya uang untuk kampanye. Guna menyiasatinya, Pak Walikota Solo memproduksi kemeja kotak-kotak dan menjualnya. Alih-alih mendapat uang dari pengusaha atau jalan lain yang sering tak terungkap, Pak Joko tak malu menjual baju untuk dana kampanye. Ini perlawanan sekaligus penyimpangan kedua dari kebiasaan politik kita. Benar tidaknya dana kampanye Pak Joko pada 2012 itu sungguh berasal dari hasil jualan kemeja, tak ada yang mengaku tahu pasti. Namun begitulah yang kita dapat baca dari bermacam media. Kemeja kotak-kotak dijual Pak Joko seharga Rp 100.000,-. Dengan modal produksi sekitar Rp 40.000,-, lelaki yang kini malah jadi Presiden RI ini konon membuat ribuan potong kemeja kotak-kotak untuk dana kampanyenya. Siapa pun boleh percaya boleh tidak.

Apa filosofi di balik kemeja kotak-kotak? Pak Bas, pada 1 April 2012, pernah mengatakan, "Baju kotak itu sebenarnya kan baju pekerja. Saya ingin, jika terpilih nanti, orang Jakarta merasa punya pembantu, orang yang bekerja untuk mereka" (tempo.co, Minggu, 01 April 2012, 18:28 WIB). Selain itu, warna-warna yang saling menganyam dalam motif kotak-kotak itu dianggap sebagai tanda keberagaman warga Jakarta. Banyak lagi makna kotak-kotak yang kerap diujarkan pasangan Joko-Basuki.

Dari banyaknya artikel dan ujaran Pak Joko dan Pak Bas mengenai makna kemeja kotak-kotak, nampaknya kemeja ini memang tak memiliki arti yang ajeg, cenderung cair, dan siapa pun bebas memaknainya. Orang-orang diajak merayakan kotak-kotak tanpa perlu berfikir keras mengenai makna filosofis atau arti yang berat dari tanda ini. Kotak-kotak sangat mudah sekaligus bebas, lepas, dan yang terpenting bisa dipakai bersama. Ia tak mewakili kelompok mana pun karena memang tak pernah ada satu pun kekuatan politik Indonesia yang menggunakan kotak-kotak sebagai simbol. Seluruh narasi yang berkaitan dengan kemeja kotak-kotak pada akhirnya ialah juga sebuah pola baru yang menerobos banyak hal dalam politik kita.

Jas-dasi boleh kita terjemahkan sebagai pakaian para penggede, orang penting atau orang yang berkecukupan. Pakaian resmi dalam pergaulan orang-orang kelas atas. Jas-dasi bukan pakaian pekerja kasar, ia pakaian khas direktur, orang penting, cendekiawan, pejabat resmi, pakaian akad pengantin, dan seles parfum. Jas-dasi dipakai untuk acara-acara penting. Kaum miskin tak berpakaian begitu. Mereka menggunakan belacu, kaos partai sisa kampanye, dan kemeja murah.

Jas-dasi ialah pakaian yang sesungguhnya berjarak. Orang banyak akan segan pada mereka yang memakainya. Sebagaian besar masyarakat kita sebenarnya tak terbiasa dengan pakaian ini. Kalau iseng-iseng menelusur ke sana ke mari, jas-dasi itu pakaian orang Barat, bukan pakaian anak Melayu. Pakaian ini kemudian memang membiasa jadi lambang perlente dan gengsi. Hanya orang-orang kelas tinggi yang memakainya.

Sementara kopiah kita sadari sebagai penutup kepala laki-laki yang biasa dipakai untuk shalat. Sebutan lainnya ialah peci dan songkok. Setidaknya begitu yang termuat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Banyak orang menyebut Sukarno sebagai orang yang mengangkat peci ini ketingkat nasional. Namun, peci lebih kuat dan kokoh ketika dipakai oleh Haji Oemarsaid Tjokroaminoto ketika berfoto pada 1915. Peci (dan sarung) menjadi ciri khas masyarakat Islam di dunia Melayu. Juga simbol nasionalisme kita.

Perpaduan antara jas-dasi dan peci kemudian sangat menghambur dalam politik kita. Seolah itulah pakaian resmi kenegaraan bangsa kita. Inilah pakaian simbol kegagahan, keberwibawaan, keresmian, keberagamaan, dan nasionalisme bangsa kita. Ini bukan pakaian orang kebanyakan, ini pakaian khusus orang-orang tertentu. Banyak orang yang memakai pakaian ini hanya sekali saja, ketika mengucapkan akad nikah. Sisanya keseharian dipenuhi dengan kaus dan kemeja bermacam-macam jenis.

Joko-Basuki kemudian membuat perbedaan pada Pilkada 2012. Keduanya meninggalkan bahkan menentang “mitos” jas-dasi-peci itu. Mereka memakai kemeja. Pakaian keseharian banyak orang Indonesia. Kemeja dimiliki oleh siapa saja. Dipakai dalam banyak kegiatan. Yang resmi dan yang tak resmi. Petani, sopir bus, office boy, pedagang pasar, nelayan pasti punya kemeja. Juga anak-anak sekolah. Kemeja ialah milik banyak orang. Jarak banyak orang dengan kemeja lebih dekat dibandingkan dengan jas.

Sementara kotak-kotak dengan warna-warna melajur saling menganyam terlihat lebih lugas dan santai. Ia seperti meninggalkan keserbakakuan dan lebih terbuka. Kotak-kotak bukan milik siapa-siapa (pada awalnya). Berbeda dengan hijau, merah, kuning, biru, putih yang jelas hanya dimiliki partai tertentu. Sementara pink, ungu, pastel, toska, krem, dan mocca telah lama dikuasai para perancang jilbab dan garis-garis hitam putih ialah milik Persidafon Dafonsoro. Dari semua itu, kita melihat bahwa di Indonesia kotak-kotak ialah sebuah terobosan, keterbukaan, dan juga pembaruan  dalam politik kita.

Tentu saja kita tak dapat menebak terlalu jauh apa yang ada di balik kemeja kotak-kotak Pak Joko dan Pak Bas. Yang pasti, ada kejemuan yang menahun dalam politik kita. Ada kebosanan akut yang dialami bangsa kita dengan beragam tindak dan pola yang begitu-begitu saja. Ucapan para pejabat yang meruah-ruah, boros, dan hampa telah lama menggenangi keseharian kita. Nyaris basa-basi dan hanya segaris di atas omong kosong. Serba resmi, tak gaul, kolot, tidak turut serta mengamini semangat zaman, tua, dan tidak cocok dengan dunia yang semakin segar dan memuda.

Keseharian penyelenggaraan negara kita pun dipenuhi pungutan liar, ketidakbecusan, serba lambat, korup, normatif, dan kaku. Banyak omong dan petatah-petitih tetapi lapuk dalam bekerja. Mengurus KTP dan administrasi formal lainnya menjadi sesuatu yang senantiasa memerlukan biaya di luar yang resmi kalau mau lancar. Di desa-desa, warga memandang wajah Pak Lurah sebagai beban. Rakyat putus asa pada negara yang terlalu sering main-main mengurus urusan orang banyak. Tidak serius, pongah, sok kuasa, berjarak, lelet, dan amatiran.

Dan semua hal yang menjengkelkan itu seringkali berbungkus peci, jas, dan dasi. Para koruptor yang seperti hama babi menggasak palawija itu seringkali berjas-dasi dan peci. Serba ketakbecusan sering kali digembongi mereka yang berpakaian serba resmi. Seolah semua yang ruwet selalu menampilkan diri dengan serba ketinggian sopan santun yang melelahkan.

Pada keadaan demikian, Pak Joko dan Pak Bas menajajakan kemeja kotak-kotak. Kemeja yang sering dipakai orang biasa, para pekerja, anak muda, Kurt Cobain, Axl Rose, Brawny Man, dan prajurit Skotlandia. Mereka tak pandai bicara yang manis-manis serba resmi dan berwibawa. Mereka merajuk diri sebagai orang biasa yang pandai bekerja dan mampu mengatasi macam-macam kemacetan birokrasi. Tidak dengan kekerasan dan ketegasan ala militer, tetapi dengan pendekatan yang sistemik dan manusiawi. Keduanya (seolah) sangat memusuhi penyimpangan wewenang. Mereka berdua juga dikenal rigid dalam mengurus anggaran. Praktis, cepat, dan tak terlalu protokoler. Pak Joko di Solo dan Pak Bas di Belitung konon ialah wajah baru pejabat kita.

Pak Joko menampilkan diri sebagai orang biasa sepertimana kebanyakan dari kita. Apa adanya, penampilan dan gaya busananya tak berjarak. Ia bukan penggede dengan sikap rikuh penuh tata upacara resmi dan busana rapi membalut tubuh menjadi kaku tetapi nol besar dalam kerja. Pak Joko menjanjikan diri sebagai orang biasa yang bisa mengatasi masalah dengan cara biasa dan mudah. Tak ruwet dengan macam-macam falsafah dan teori. Pak Bas menawarkan keberanian menghardik ketidakbecusan, korupsi, kolusi, dan keserbalambatan. Keduanya ialah jajaan sempurna untuk rakyat yang bosan dengan macam-macam kejorokan birokrasi dan keresmian yang basa-basi.

Kemeja kotak-kotak sebenarnya telah menelan warna-warna tunggal milik partai. Joko-Basuki tidak merah, mereka kotak-kotak. Pilkada yang biasanya riuh dengan lambang partai yang membosankan menjadi lebih cerah dengan cara Joko-Bas. Bu Mega tidak merah, Pak Prabowo tidak putih, keduanya dipaksa menjadi kotak-kotak. Bukan Joko-Bas yang dimerahkan atau diputihkan, tetapi partai-partai yang dibuat menjadi kotak-kotak.

Tak ada ideologi yang kental. Joko-Bas bukan Islam, bukan kapitalis, bukan marxis, bukan sosialis. Ideologi mereka berdua ialah kerja membereskan keruwetan (konon katanya). Manis betul. Orang-orang kemudian terbius dan berbondong-bondong mendukung pasangan ini di Pilkada 2012. Bukan hanya mendukung secara politik, tetapi merayakan perlawanan terhadap macam-macam kebusukan yang akut membenalui pengurusan negara kita. Dukungan terus mengalir, anak-anak muda dan kelas menengah ramai-ramai menepuktangani pasangan ini. Kalangan yang selama ini dikenal abai terhadap politik, tiba-tiba merasa senang untuk lebih terlibat. Mereka menjadi relawan. Yang kerelaannya tidak selalu gratis tentu saja.

Joko-Basuki menang. Mereka mulai beres-beres balai kota. Joko kemudian mengingkari janjinya. Dulu ia berkali-kali berucap akan menyelesaikan tugasnya sebagai Gubernur Jakarta sampai 2017. Alih-alih tuntas, Joko malah menjadi Presiden RI pada 2014. Basuki kemudian melanjutkan proyek beres-beres itu dengan penuh hardikan, kata-kata kasar, dan tantangan terhadap banyak orang. Tentu saja ini menjadi hiburan bagi orang-orang yang memang jengkel dengan birokrasi kusut. Mereka tak peduli jika Basuki juga sering makan bersama para petualang yang senang menguruk laut. Yang penting mereka puas melihat pejabat-pejabat lambat dan korup itu dibentak-bentak Basuki.

***

Kemeja kotak-kotak bisa kita maknai secara naif sebagai kemeja biasa yang kebetulan dipakai Joko-Basuki. Tapi kemeja itu telah meluruhkan dominasi partai-partai yang kukuh dengan warna tunggal. Kemeja kotak-kotak juga telah merubuhkan serba keresmian yang kaku dalam peci-jas dan dasi.

Kostum Pak Joko dan Pak Bas juga merupakan simbol politik baru, politik tanpa keriuhan partai yang sok kuasa. Politik dengan keseolah-olahan bahwa rakyat lebih terlibat. Orang-orang dibuat senang karena merasa berperan dalam keputusan-keputusan penting bangsa ini.

Kemeja kotak-kotak juga bertaut dengan perkembangan teknologi informasi. Di mana orang-orang dilayani untuk berkhayal menjadi lebih penting dan berperan dalam kehidupan berbangsa. Pak Joko dan Pak Bas telah menghasilkan pendukung dan penentang yang sama-sama menghamburkan kata-kata delutif dalam perpolitikan hari ini.

Orang-orang merasa mendukung dan melawan, berperan menjatuhkan atau menjadikan, terlibat dalam kemenangan dan kekalahan. Kemeja kotak-kotak telah mendekatkan politik pada keseharian kita. Mengiris sikap tak peduli sekaligus merampas jutaan energi untuk sekadar berbalah dan bermusuhan. Kemeja kotak-kotak ialah pola politik baru yang semakin menghablur dan menelan banyak hal, termasuk kewarasan kita.   


Tulisan Terkait (Edisi Pakaian)

IKLAN BARIS