• Ikuti kami :

Berlindung Kepada Pencipta Manusia: Mentadabburi Surat an-Nas

Dipublikasikan Jumat, 04 Agustus 2017 dalam rubrik  Tafakur

Manusia merupakan makhluk Allāh yang telah dimuliakan dengan bermacam rupa nikmat dan karunia. Begitu juga ia dimuliakan dengan sebutan-sebutan kemuliaan dalam al-Qur’ān seperti ahsani taqwīm yang berarti makhluk paling sempurna. Firman Allāh: “wa laqad karramnā banī Ādam (Sungguh telah Kami muliakan anak keturunan Adam)”. Ia juga dimuliakan karena karunia ilmu. Ilmu yang Allāh karuniakan ini berada pada jiwanya (an-nafs), hatinya (al-qalb), dan akalnya (al-‘aql). Dengan perangkat tersebut dan dengan petunjuk yang Allāh karuniakan, manusia mampu mengenal Allāh dengan mentauhidkan-Nya sebagai Tuhan sejati dan selanjutnya menjalankan ibadah kepada Allāh semata. Hal ini menjadi tujuan utama manusia, sebagaimana firman Allah dalam aẓ-Ẓāriyat (51) ayat 56 yang artinya: “Tiada Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”.

Bagi seorang Muslim, salah satu bentuk beribadah kepada Allāh adalah tawakkal dan memohon perlindungan kepada Allāh dari keburukan makhluk-makhluknya. Di antara makhluk-Nya, yang berlaku buruk kepada manusia adalah setan. Oleh karena itu, Allāh memerintahkan kita untuk senantiasa memohon perlindungan kepada-Nya dari godaan setan.

Pada kesempatan ini, akan diuraikan mengenai tafsir surat an-Nās yang membahas tentang manusia dan ancaman godaan setan. Adapun pembahasannya disarikan dari kitab tafsīr al-Fakhrurrāzī yang biasa dikenal dengan tafsir mafātīh al-ghaib atau at-tafsīr al-kabīr, kitab tafsir  yang memuat banyak cabang ilmu pengetahuan, terdiri dari 32 jilid, dan setiap jilidnya cukup tebal.

Pengarangnya adalah Muhammad bin ‘Umar bin al-Husain bin al-Hasan bin ‘Ali at-Taymy al-Bakry ar-Rāzī as-Syāfi‘ī. Beliau dikenal sebagai Imām Fakhruddīn ar-Rāzī. Ia lahir di kota Rayy tahun 544 H dan meninggal di Herah tahun 604 H. Ia adalah seorang Ulama besar bermazhab Syāfi‘ī dengan karya-karya dalam cabang keilmuan yang bermacam-macam.

Berikut ini adalah pembahasan tafsir surat an-Nās.

A. Allāh adalah ar-Rabb, al-Malik, dan al-Ilāh-nya Manusia

Allāh Subḥanahū wa Ta‘ālā berfirman :

قل أعوذ برب الناس (1) ملك الناس (2) إله الناس (3)

“Katakanlah (Hai Muḥammad): Aku berlindung kepada Tuhan Sejati (Rabb) dari manusia,
 Raja dari manusia, Sesembahan manusia.”

Allāh adalah Tuhan seluruh makhluk, tetapi dalam surat ini, disebutkan dengan lebih khusus: Tuhan dari manusia. Penyebutan khusus tersebut bukan tanpa tujuan, setidaknya ada beberapa maksud. Pertama:  seseorang memohon perlindungan kepada Tuhan-nya, Yang berkuasa secara mutlak terhadap seluruh urusan orang itu, dan hanya kepada Tuhan-nya, ia mengabdi dan menyembah. Kedua: adanya isyarat bahwa manusia merupakan makhluk yang paling mulia di seluruh alam raya. Ketiga: yang diperintahkan untuk memohon perlindungan kepada Allāh adalah manusia. Oleh karena itu, jika manusia membaca surat ini, seolah-olah ia sedang meminta seraya mengucapkan: Wahai Penguasaku, Wahai Rajaku Yang Agung, Wahai Sesembahanku.

Dalam surat ini, disebutkan secara berturut-turut bahwa Allāh adalah Rabb an-Nās, Malik an-Nās, dan Ilahi an-Nās. Artinya: Allāh adalah Tuhan manusia, Sang Raja Yang merajai manusia, dan Sesembahan Yang berhak disembah oleh manusia. Penyebutan tiga sifat di atas secara berurutan menunjukkan bahwa Allāh adalah Sang Pemilik Mutlak, Sang Raja, dan Sang Ilāh sekaligus. Hanya Ia saja yang berhak disembah. Maha Suci Ia dari dipersekutukan.  

Pada surat tersebut, kata an-Nās (manusia) diulang sebanyak tiga kali dan disandingkan dengan Asma Allāh. Hal ini menunjukkan kemuliaan manusia. Karena Allāh memperkenalkan Diri-Nya bahwa Dia adalah Tuhan Sejati, Raja, dan Ilāh (Sesembahan) dari Manusia.

Setidaknya ada beberapa demonstrasi yang dipakai Imam ar-Rāzī dalam menjelaskan hubungan antara Rabb, Malik, dan Ilāh.

Yang pertama: ar-Rabb adalah nama bagi Ia yang mengurus dan yang merawat. Allāh-lah yang mengurus dan merawat manusia serta memberinya akal sehingga dengan mempergunakannya manusia mampu mengetahui bahwa dirinya adalah hamba sahaya dan Allāh adalah Tuhannya. Setelah ia menyadari bahwa Allāh adalah Tuhannya, maka ia akan memuja-Nya dengan menyebut al-Malik atau Sang Raja. Kemudian, setelah hamba tersebut mengetahui bahwasanya beribadah adalah kewajiban bagi dirinya dan ia tahu bahwa Allāh berhak atas ibadahnya tersebut, maka nampak jelas baginya bahwa Allāh adalah Ilāh-nya atau sesembahannya.

Yang kedua: menurut Sang Imam, hal pertama yang dapat seseorang ketahui dari Tuhannya adalah ia mesti taat kepada-Nya karena ia telah mendapatkan berbagai nikmat dari-Nya, baik nikmat zahir maupun batin. Ketika seseorang menyadari karunia tersebut, ia akan memahami makna ar-Rabb (Sang Pemilik). Begitu seterusnya, pengetahuan terhadap sifat-sifat Tuhan akan terus berkembang (berpindah) menuju pengetahuan akan Keagungan-Nya dan betapa Dia tidak membutuhkan apa pun, sama sekali dari makhluk-Nya. Dengan demikian, ketika seseorang telah memperoleh pengetahuan tersebut, ia akan mengetahui bahwa Allāh adalah al-Malik (Sang Raja). Yang disebut sebagai al-Malik adalah Yang pada-Nya makhluk lain senantiasa membutuhkan dan Dia sendiri sama sekali tidak membutuhkan yang lain. Setelah seseorang memperoleh pengetahuan akan al-Malik, ia akan tahu bahwa Allāh senantiasa dalam Keagungan dan Kebesaran di atas segala-galanya sehingga akal manusia tidak akan mampu lagi mencapainya. Saat itulah, ia sadar bahwa Allāh adalah Sang Ilāh, yakni hanyalah Dia yang berhak menjadi Sesembahan dan kepada-Nya lah manusia menyembah.

B. Salah Satu Sifat Setan adalah Membisiki (al-waswās) dan Bersembunyi (al-khannās)

Allāh Subḥanahū wa Ta‘ālā berfirman:

من شر الوسواس الخناس ( 4) الذي يوسوس في صدور الناس (5)

“Dari keburukan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang membisiki hati manusia.”

Waswāsah (kata dalam bahasa Arab) merupakan kata benda (isim) yang berarti ‘pekerjaan subyek saat berbicara dengan nada rendah berulang-ulang’, biasa kita kenal dengan berbisik-bisik. Yang dirujuk oleh kata waswās dalam ayat di tersebut adalah setan. Pekerjaan setan adalah membisiki perihal keburukan.

Sedangkan kata al-khannās berarti siapa saja yang mempunyai kebiasan bersembunyi atau kabur. Yang dimaksud adalah setan, karena kebiasaannya adalah kabur dan bersembunyi ketika seseorang mengingat Allāh. Ia akan kembali berbisik ketika seseorang lalai dari Allāh.

C. Setan Dari Golongan Jin dan Setan dari Golongan Manusia.

Allāh Subḥanahū wa Ta‘ālā berfirman:

من الجنة و الناس (6)

“Dari (golongan) jin dan manusia.”

Setidaknya ada tiga pendapat mengenai tafsir ayat di atas.

Pertama: seolah-olah Allāh mengatakan bahwa bisikan setan dapat berasal dari golongan jin dan dari golongan manusia. Sebagaimana firman Allāh dalam surat al-An‘ām (6)  ayat 112, yang artinya: “Dan demikianlah untuk setiap Nabi, Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan, manusia, dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan [...]”. Oleh karena itu, sebagaimana setan dari golongan jin senantiasa membisiki manusia dan bersembunyi ketika disebutkan asma Allāh, setan dari golongan manusia juga akan terus membisiki sesamanya dan akan pergi ketika mereka yang dibisiki menolaknya.

Kedua: kata al-Insān merupakan kata yang mencakup dua arti, yaitu jin dan manusia. Ini didasarkan kepada kisah seorang manusia yang meminta tolong kepada seorang jin yang terekam dalam surat al-Jinn (72) ayat 6. Oleh karena itu, menurut pendapat ini, bisikan-bisikan buruk itu juga berlaku pada golongan jin dan tak terbatas pada golongan manusia saja. Akan tetapi, pendapat ini lemah karena takwil yang jauh dan tidak sesuai dengan kaedah bahasa Arab.

Ketiga: Allāh menyuruh hamba-Nya untuk memohon perlindungan kepada-Nya; yang pertama: dari godaan setan, dan yang kedua: dari keburukan jin dan manusia.

Apabila kita perhatikan, bisikan setan yang dibisikkan ke dalam dada manusia merupakan sesuatu yang tidak nampak secara inderawi, tetapi Allāh menyuruh kita untuk berlindung kepada-Nya, bahkan Allāh sampai mengulang asma-Nya sebanyak tiga kali dalam tiga ayat pertama. Menurut Imam Fakhruddīn ar-Rāzī, hal ini menunjukkan ada maksud tertentu, yaitu bahwa bisikan setan itu menggiring manusia untuk berpaling dari agama. Berpaling dari agama lebih besar bahayanya ketimbang bahaya-bahaya fisik. Oleh karena itu, Allāh mewanti-wanti hamba-Nya untuk senantiasa berlindung dari bisikan setan yang dapat memalingkannya.

Wallāhu a‘lam bi aṣ-Ṣawāb.
_______________________________________________________________

Bahan bacaan:

Muhammad bin ‘Umar bin al-Husain bin al-Hasan bin ‘Ali at-Taymy al-Bakry ar-Rāzī as-Syāfi‘ī, Tafsīr al-Fakrurrāzī  (Beirut: Dārul Fikr, 1981).

Abul Husain Ahmad bin Fāris bin Zakariyyā, Mu‘jam Maqāyīs al-Lughah (Beirut: Darul Fikr, 1979).

Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islām dan Sekularisme, terj. Khalif Muammar (Bandung: Pimpin, 2011).

Mu‘jam al ma‘ānī online, http://www.almaany.com/ar/dict/ar-ar/


Tulisan Terkait (Edisi Menata Fikiran)

IKLAN BARIS