• Ikuti kami :

Mentalitas Manusia Modern ala Mochtar Lubis

Dipublikasikan Selasa, 08 Agustus 2017 dalam rubrik  Perbendaharaan Lama

Mochtar Lubis adalah sosok wartawan yang terkenal dengan kritik-kritik tajamnya. Ia tak segan mengkritik Presiden Soekarno di tahun 1950-an. Setelah itu, Mochtar menjadi tahanan rumah dan lembaga pemasyarakatan hampir terus menerus selama sembilan tahun. Pada masa Orde Baru, ia ditahan lagi selama 2,5 bulan. Mochtar Lubis juga merupakan Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi harian Indonesia Raya yang telah tujuh kali dibredel: enam kali pada masa Orde Lama; satu kali pada masa Orde Baru, tetapi berakibat fatal. Ia adalah wartawan yang melakukan investigasi mendalam dan tak gentar menyuarakan kebenaran.

Salah satu yang paling dikenal dari Mochtar Lubis adalah potretnya mengenai stereotip manusia Indonesia. Munafik, berjiwa feodal, percaya takhayul, cenderung boros, dan suka jalan pintas adalah beberapa ciri masyarakat Indonesia yang oleh Mocthar Lubis dicurigai menjadi sebab bangsa Indonesia menjadi bangsa paria. Ciri-ciri ini pun ditampilkan dalam sebuah liputan pidato kebudayaan yang diadakan di Taman Ismail Marzuki pada 6 April 1977. Liputan di Majalah Panji Masyarakat nomor 221, Tahun XVIII, 15 April 1977/26 Rabiul Akhir 1397, halaman 46--47 ini diketengahkan kembali dengan beberapa penyuntingan dan penyesuaian. Pada tahun 2001, pidato Mochtar Lubis ini kemudian dibukukan oleh Yayasan Obor Indonesia dengan judul Manusia Indonesia.

Mochtar Lubis menganggap ciri-ciri tersebut sudah paten dan bakat bawaan orang Indonesia. Bawaan orang Indonesia yang seperti itu disebutnya sebagai hasil dari sekian lama dan sekian banyak persinggungan peradaban, serta reaksi atas kejadian yang menimpa sejarah Indonesia. Baginya, persoalan dunia yang terkait dengan kondisi Indonesia kala itu, antara lain keroposnya dunia akibat kapitalisme, peran adikuasa (lembaga-lembaga internasional dan korporasi multinasional) dan makin sedikitnya pemimpin dunia bijak.

Gagasan Mochtar Lubis ini sebetulnya gagasan mengenai manusia modern. Untuk menghentikan persoalan korupsi yang seperti mendarah daging dan mencapai kemajuan, masyarakat di negeri ini harus dijauhkan dari mentalitas mistis, jiwa feodal, penyalahgunaan wibawa spiritual, dan mental tertinggal lainnya. Sebab, hal-hal ini bukan ciri kemajuan, tidak bersesuaian dengan sains, humanisme, kesetaraan, dan demokrasi. Ia menganggap, hanya dengan mentalitas modernlah bangsa ini dapat maju, tidak lagi menjadi paria dan mencapai cita-cita kemerdekaan serta kemakmuran.

Beberapa pemikiran mengenai hal ini kadang-kadang terlihat bermakna positif. Kita bisa melihat tata birokrasi yang diupayakan oleh Jokowi, Ahok, Tri Rismaharini, sampai Ridwan Kamil. Dengan tata kelola birokrasi dan manusia macam ini, Surabaya menjadi kota bak Singapura: bersih, rapi, disiplin, juga efisien sehingga harapannya investor akan datang dan mendorong pembangunan. Pujian seperti tak berhenti datang kepada keberhasilan Tri Rismaharini membangun Surabaya.

Sayangnya, tata kelola seperti itu hanya memerlukan penegakan aturan dengan tegas dan terkontrol. Agama dan moralitas tidak lagi diperlukan. Yang harus dilakukan adalah mengedukasi masyarakat agar dapat berubah menjadi pintar, rasional, serta yakin pada kemampuan dirinya untuk keluar dari keruwetan dan menciptakan perbaikan-perbaikan. Agama tidak perlu hadir dalam tata kelola kenegaraan, justru agama yang perlu diatur oleh negara agar bisa memberikan keuntungan bagi kemakmuran dan kesejahteraan negara.

***

Ceramah Budaya Muchtar Lubis: Manusia Indonesia Sekarang

Berapa di antara sekian banyak umat beragama di Indonesia yang sungguh-sungguh menghayati ajaran agama masing-masing dan membuat ajaran-ajaran agama tersebut jadi pedoman hidup, dasar tingkah laku dan budi pekerti mereka setiap hari?

Bukan tiap Minggu pergi ke gereja melakukan konvensional; atau rajin ke masjid dan berpuasa saja; tetapi juga dalam tingkah laku setiap hari dapat mencerminkan nilai-nilai dan ajaran-ajaran mereka?

Jawaban pertanyaan-pertanyaan ini saya kembalikan pada saudara-saudara semua. Tetapi saya melihat adanya jurang yang semakin besar antara manusia ideal kita dengan manusia Indonesia yang sebenarnya, yaitu kita-kita semua ini. Jurang besar antara pretensi-pretensi kita dengan kenyataan-kenyataan sebenarnya.

Demikian budayawan anggota seumur-hidup Akademi Jakarta, Mochtar Lubis, membuka ceramahnya malam ybl di TIM tentang “Situasi Manusia Indonesia Kini, Dilihat dari Segi Kebudayaan dan Nilai-nilai”; yang mendapat perhatian hadirin yang memenuhi Teater Arena dari awal sampai selesai.

Mitos dan Mistik  

Warisan sejak zaman animisme yang dianut nenek-moyang kita dulu-dulu dan sampai kini sampai banyak sisanya di masyarakat kita ialah kuatnya mitos dan mistik. Kita masih amat suka dan amat mudah mengarang mitos-mitos baru untuk memberi kita kekuatan atau kepercayaan, terutama jika menghadapi keadaan krisis dan serba sukar, dan kekuatan rasional kita pun terasa kurang kuat buat menghadapinya. Dengan dongeng-dongeng lama dan baru, kita seakan-akan medapat perisai penolak bahaya dan ancaman, yang kita lihat mendatangi kita.

Mistik yang populer disebut dengan aliran kebatinan selalu jadi tempat pelarian dalam keadaan-keadaan penuh tekanan, kebimbangan, was-was dan kekhawatiran, dan orang merasa serba tak menentu, mengambang-ngambang tak karuan. Hal ini berlaku pada hampir semua orang, baik yang beragama maupun yang mengaku berfikir secara rasional, berpendidikan luar di dalam ataupun di luar negeri.

Orang-orang Indonesia yang sudah amat rasional seperti ahli matematika pun, yang bisa menghitung atom sampai ke partikelnya yang paling kecil itu, banyak juga yang tidak dapat menghindarkan diri tertarik gerakan kebatinan. Baik akibat dilanda kebimbangan dan ketidakpastian, maupun sebab didorong keinginan berkuasa, mendapat jabatan tinggi, mempertahankan kekuasaan atau kedudukan atau ingin mengumpulkan harta dan sebagainya.

Mochtar Lubis, kemudian menyinggung ciri-ciri mistik di Jawa yang menurut ahli-ahli adalah dorongan hendak mencari kesatuan hakiki yang mencakupi semuanya. Harmoni antara diri dengan manusia lain, dengan alam, dengan Illahi, juga antara lahir dengan batin. Sehingga lahirlah “sepi ing pamrih rame ing gawe, amemayu ayuning bawana” (kerja keras tanpa pamrih, pribadi demi kesejahteraan dunia).

Salah satu kelemahan kita, menurut penglihatan saya, demikian Mochtar Lubis selanjutnya, ialah tidak berdaya melakukan pilihan. Semua kita terima dan kita biarkan hidup bersama, tanpa mengganggu jiwa kita. Pergi meminta ke pohon keramat atau lainnya, tidak mengganggu perasaan kita sebagai orang Islam atau Nasrani. Orang yang beragama pun tidak janggal menjadi murid seorang ‘guru’ atau dukun yang mencari tanda-tanda di bintang, dalam mimpi dan firasat-firasat.

Munafik

Salah satu ciri manusia Indonesia yang cukup menonjol adalah Hipokrisi alias Munafik, berpura-pura. Lain di muka lain di belakang adalah salah satu ciri utama manusia Indonesia sejak dulu-dulu, sejak dipaksa kekuatan dari luar buat menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakannya, dipikirkannya ataupun dikehendakinya; karena takut mendapat ganjaran yang membawa bencana bagi dirinya.

Menurut Mochtar Lubis, sistem feodal kita di masa lampau yang begitu menekan rakyat telah menindas inisiatif rakyat, sehingga menjadi salah satu sumber dari hipokrisi yang dahsyat ini. Dan ini berlangsung terus sampai kini.

Di soal seks umpamanya, di depan umum kita angkat mengecam penghidupan seks yang terbuka atau setengah terbuka. Majalah dan penerbitan luar negeri yang ada gambar-gambar demikian dicat hitam agar rasa susila Indonesia yang sangat peka itu jangan sampai tersinggung. Tapi kita buka tempat-tempat mandi uap, kita atur tempat-tempat protitusi, melindunginya dengan berbagai sistem resmi, setengah resmi atau swasta.

Manusia Indonesia karena semua itu jadi penuh hipokrisi. Dalam lingkungannya, dia pura-pura alim, tapi begitu turun di Singapura atau Hongkong atau Paris, New York dan Amsterdam, dll. lantas loncat taksi dari night-club dan pesan cewek pada bellboy hotel. Dia ikut maki-maki korupsi tetapi dia sendiri seorang koruptor.

Sikap munafik serupa itulah yang menurut Mochtar Lubis memungkinkan korupsi begitu hebat berlangsung terus selama belasan tahun di Pertamina, umpamanya. Meski fakta-fakta sudah jelas dan terang, tapi hingga kini belum ada tindakan hukum diambil terhadap pelaku-pelaku utamanya. Selain itu, kita juga mengatakan bahwa hukum di republik ini berlaku sama terhadap semua orang. Prakteknya kita lihat pencuri masuk penjara, tetapi pencuri besar akan bebas atau masuk penjara sebentar saja.

Akibat kemunafikan Indonesia yang berakar jauh ke masa sebelum kita dijajah bangsa asing itu, demikian penulis novel “Senja di Jakarta” itu lebih lanjut, maka manusia Indonesia kini dikenal dengan sikap “asal bapak senang”-nya. ABS ini dari dulu dan entah berapa lama lagi masih berlaku dalam diri  bangsa Indonesia. Yang kuasa senang di-ABS-i oleh yang diperintahnya, dan yang diperintah pun senang meng-ABS-kan atasannya.

Ogah Tanggung Jawab

Dalam ceramah yang teksnya dibaca selama dua jam lebih 20 menit itu, Mochtar Lubis juga melihat dan menganjurkan dikembangkannya nilai-nilai positif bangsa Indonesia terutama di bidang kreativitas dan artistik. Dia yakin bahwa kesenian mampu menjadi pembebas bangsa kita dari belenggu tata nilai yang selama ini menghambat manusia Indonesia sehingga menjadi kerdil.

Tapi, dikatakannya pula bahwa ciri manusia Indonesia kini yang juga cukup menonjol adalah enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, sehingga “bukan saya”, jadi populer. Atasan menggeser tanggung jawab tentang sesuatu kesalahan atau kegagalan kepada bawahannya. Dan bawahannya kepada bawahannya lagi, demikian seterusnya. Kasus Pertamina dan Budiaji menurut Mochtar Lubis mewakili ciri tersebut.

Menyinggung feodalisme, dikatakannya bahwa meskipun berubah nama dan bajunya, akan tetapi kini justru berkembanglah feodalisme-baru.  Itu terlihat dalam acara-acara resmi kenegaraan, dalam hubungan-hubungan organisasi kepegawaian, dalam pencalonan istri pembesar yang bukan berdasar kecakapan dan bakat leadership atau pengetahuan dan pengalamannya.

Dalam ceramah yang dibanjiri mahasiswa, seniman-seniman muda dan tua, maupun sarjana-sarjana itu, Mochtar Lubis antara lain mengusulkan agar sebutan “bapak” diganti saja dengan “saudara” atau “bung”. Tanyanya: “Tidakkah sapaan Saudara Menteri, Saudara Presiden, Saudara Jenderal, Saudara Rektor, dll, lebih indah dan lebih tepat, tanpa menghilangkan hubungan mesra manusia yang hendak kita pertahankan?”

“Saya mengusulkan”, katanya pula, “Kita di Indonesia bersikap lebih manusia terhadap sesama manusia.”

***

Di balik gagasan dasar Mochtar Lubis ini, ada pandangan yang keliru tentang manusia. Pengurusan manusia sesuai tatanan manusia modern macam ini hanya akan membuat manusia kehilangan makna hidupnya. Modernitas membawa kehidupan kita dipenuhi faham bahwa yang benar-benar ada dan dapat dikaji adalah materi, bahkan sebagai satu-satunya substansi. Kehidupan kita hanya akan dipenuhi pengagungan terhadap rasionalitas ala Barat dan menganggap manusia sebagai pengatur utama arus kehidupan.

Pada akhirnya, kita memiliki kencenderungan yang kuat untuk menjadikan hal-hal kebendaan sebagai ukuran dalam berbagai aspek kehidupan dan keyakinan untuk mencapainya dengan kekuatan sendiri. Kita jadi yakin betul bahwa kekayaan diukur dengan kepemilikan benda dan ketidakteraturan pun dapat diselesaikan dengan mesin atau benda. Kita merasa dapat mengendalikan kehidupan dan kemanusiaan, tetapi tidak mengenali hakikat kehidupan dan kemanusiaan itu sendiri. Dalam kehidupan macam itu, kita jadi kesulitan bersikap wajar. Kemungkinan besar, kita akan gagal mengenali realitas kehidupan dan mendudukkannya dengan benar.

Allah menciptakan kita dengan keadaan terbaik meskipun kita mengira berada dalam keadaan yang buruk atau paling buruk. Ada hal buruk yang membawa kita pada kebaikan, seperti juga kemungkinan hal baik yang dapat mengantarkan kita pada keburukan. Kita perlu menempatkan diri kita sebagai manusia, pendosa, tak bisa sempurna sekaligus memiliki potensi terbaik di antara seluruh makhluk Allah.

Manusia sangat bisa menjadi lebih buruk dari iblis, tetapi manusia juga mampu dan berbakat untuk menjadi lebih baik, taat, dan bermanfaat dibandingkan malaikat. Memang ada manusia-manusia unggulan dan istimewa, tetapi tentu bukan dalam ukuran materi dan kesukaan kita belaka. Kita hanya perlu tahu diri dan merendahkan diri di hadapan Yang Maha Agung, mengenali kehendak-Nya akan penciptaan seluruh alam semesta dan derajatnya masing-masing.


Tulisan Terkait (Edisi Menata Fikiran)

IKLAN BARIS