Wanita, Karir, dan Jodoh: Sepotong Catatan dari Tahun 1984
Bagikan

Wanita, Karir, dan Jodoh: Sepotong Catatan dari Tahun 1984

Dalam rubrik Laporan Utama, melalui tulisan “Problema Jodoh Masa Kini” redaksi Panjimas menyoroti soal kesulitan mencari jodoh di kalangan pemuda dan pemudi di masa itu. Majalah ini kemudian membuka rubrik khusus untuk mencari jodoh, yang diharapkan dapat menjadi solusi untuk wanita dan pria yang ingin memiliki pasangan. Rubrik mencari jodoh ternyata bukan hanya terdapat dalam Panjimas, tetapi juga ada di majalah dan koran lainnya. Namun, nilai lebih Panjimas ada pada “keamanannya”, karena pemuda dan pemudi Islam tidak perlu khawatir akan mendapatkan jodoh dari agama yang berbeda. Rubrik mencari jodoh di majalah warisan Buya Hamka ini dikhususkan untuk kaum muslimin.

Wanita bekerja atau yang kerap disebut wanita karir bukanlah hal asing di zaman modern ini. Kita bisa melihat wanita dari berbagai usia, mulai dari yang baru lulus SMA hingga menjelang pensiun, menempati ruang-ruang kerja. Meskipun sudah membiasa tapi perdebatan mengenai hal itu bukan tak ada. Apalagi jika menyentuh hal-hal seperti pernikahan, rumah tangga, dan anak. Perdebatan mengenai ibu bekerja atau ibu rumah tangga selalu membuat panas para wanita baik yang mengalaminya ataupun tidak.

Permasalahan seperti di atas memang bukan hal baru. Lebih dari tiga puluh tahun yang lalu, kita dapat menemukan pembahasan persoalan itu. Majalah Panji Masyarakat No. 422, 9 Jumadil Awal 1404 H/11 Februari 1984 ialah salah satunya. Setidaknya terdapat tiga tulisan di majalah itu yang membahas persoalan ini. Pertama terdapat dalam rubrik Dari Hati ke Hati dengan judul “Wanita Modern yang Letih”, disusul dengan rubrik Laporan Utama yang memuat dua tulisan, “Problema Jodoh Masa Kini” dan “Wanita, Antara Cita dan Cinta”.

Dalam tulisan pertama berjudul Wanita Modern yang Letih, Panji Masyarakat mengangkat permasalahan wanita yang dinilai cukup mengkhawatirkan, yaitu mengenai kebingungan wanita modern yang harus menghadapi beberapa pilihan: pendidikan, karir, atau rumah tangga.

“Akan tetapi dalam zaman yang semakin maju ini, khususnya yang dicapai oleh kaum wanita, nampak sekali bahwa kaum wanita kita kadang-kadang menunjukkan keletihannya, sehingga tanpa dikehendaki mereka banyak mendapat kesulitan dalam pergolakan masyarakat yang terus bergerak maju ini.

Berapa banyak kita lihat wanita-wanita modern yang berpendidikan tinggi serta disebut sebagai wanita karier, saking sibuknya mengurus rupa-rupa pekerjaan, gagal mendirikan rumah tangga, sampai berusia lanjut tetap tanpa suami.”

Dalam paragraf sebelumnya, dibahas terlebih dahulu mengenai emansipasi wanita Indonesia yang dianggap tanpa hambatan karena wanita Indonesia telah memenuhi berbagai jenis lapangan pekerjaan, mulai dari menteri hingga buruh. Namun, kebebasan wanita dalam memilih pekerjaan ternyata tidak membuatnya bebas dari rasa letih. Meskipun memiliki pendidikan tinggi dan karir yang bagus, tapi wanita modern dinilai gagal karena banyak di antara mereka yang tetap melajang hingga usia tua, sehingga mereka kesulitan dalam mengikuti perkembangan masyarakat modern yang progresif ini.

Dalam rubrik Laporan Utama, melalui tulisan “Problema Jodoh Masa Kini” redaksi Panjimas menyoroti soal kesulitan mencari jodoh di kalangan pemuda dan pemudi di masa itu. Majalah ini kemudian membuka rubrik khusus untuk mencari jodoh, yang diharapkan dapat menjadi solusi untuk wanita dan pria yang ingin memiliki pasangan. Rubrik mencari jodoh ternyata bukan hanya terdapat dalam Panjimas, tetapi juga ada di majalah dan koran lainnya. Namun, nilai lebih Panjimas ada pada “keamanannya”, karena pemuda dan pemudi Islam tidak perlu khawatir akan mendapatkan jodoh dari agama yang berbeda. Rubrik mencari jodoh di majalah warisan Buya Hamka ini dikhususkan untuk kaum muslimin.

Apakah yang menyebabkan para pemuda dan pemudi di masa itu kesulitan menemukan jodohnya? 

“Akan hal sebab-sebab kesulitan dalam mendapatkan jodoh, sedikit banyak telah disinggung dalam Panjimas No. 421 lalu. Pergeseran nilai yang berlangsung hebat, mengakibatkan sulitnya mendapatkan jodoh yang betul-betul bertanggung jawab, berpendidikan dan beragama (taat) tentu saja. Namun, ada baiknya diskusi itu kita perpanjang.

Semua responden yang dihubungi nyaris bersepakat, bahwa kesulitan mencari jodoh bagi wanita terutama berkaitan dengan gagasan-gagasan mengenai emansipasi. Sebagai konsekuensi emansipasi, tidak ada lagi sekolah yang tertutup bagi wanita, dan tak ada lagi kantor yang tak dimasuki kaum Hawa; pendek kata hampir semua bidang kehidupan masyarakat dapat dimasuki kaum wanita dengan tekad memperoleh hak-hak yang sama dengan kaum pria. Dalam konteks ini pulalah kemudian muncul istilah ‘wanita karir’ dengan pengertian bekerja di luar rumah. Patut dicatat, pengertian ‘wanita karir’ dalam zaman emansipasi lebih bercitra elitis, borjuis dan glamour. Karena itulah, meskipun sebelum gebrakan emansipasi telah banyak sekali wanita yang bekerja di luar rumah, seperti menjadi guru, berdagang dan sebagainya, tetapi mereka ini tidaklah dimasukkan ke dalam pengertian ‘wanita karir’.”

Rupanya, pergeseran nilai yang hebat dianggap sebagai salah satu penyebabnya. Pergeseran nilai membuat pria dan wanita Muslim sulit untuk mendapatkan jodoh yang diinginkan hatinya, yaitu orang modern berpendidikan yang taat beragama. Di sini, kita juga dapat melihat definisi wanita karir di masa itu. Meskipun sejak ribuan tahun lalu wanita sudah bekerja dan menghasilkan uang di luar rumah, tapi jika tidak ada citra elit, borjuis, dan glamor di dalamnya, dia tidaklah bisa disebut sebagai wanita karir. Citra elit, borjuis, dan glamor ini tampaknya dibangun dari tingginya tingkat pendidikan dan posisi di tempat kerja yang menjanjikan kenaikan pangkat setiap tahunnya.

Selain itu, emansipasi wanita juga dianggap sebagai biang keladi. Wanita yang berpendidikan tinggi lalu meniti karir dilihat memiliki pandangan dan citra ideal yang berbeda soal pernikahan, termasuk dalam hal memilih calon suami. Wanita yang berpendidikan tinggi menginginkan suami yang memiliki pendidikan setidaknya sama—atau lebih tinggi—dengan dirinya. Sementara itu, pria justru menginginkan istri yang berpendidikan lebih rendah karena sebagai laki-laki mereka tidak mau ‘terhimpit’ oleh istrinya. Untuk mempertemukan kedua insan ini, muncullah berbagai biro jodoh di masa itu, baik yang dilakukan oleh media seperti Panjimas ataupun perusahaan khusus yang bergerak di bidang itu. 

Narasumber, yang dimintai pendapat oleh Panjimas di artikel ini, menyebutkan bahwa karir tidak semestinya menjadi hambatan bagi wanita ataupun pria untuk membangun rumah tangga. Menurutnya, Islam telah mengatur waktu untuk segalanya dan berumah tangga adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Namun, tentu saja tidak ada angka yang pasti mengenai di usia berapakah waktu yang tepat itu atau berapa tahunkah waktu yang ideal untuk berkarir sebelum kita diharuskan berumah tangga.

“Berkembangnya rubrik jodoh di suratkabar, majalah atau munculnya lembaga perjodohan, barangkali karena ingin membantu wanita atau pria karir. Kenapa? Karena pria/wanita karir yang belum punya pasangan, apalagi di kota besar seperti Jakarta banyak sekali yang waktunya tersita untuk itu. Tapi jangan lantas diartikan karir seseorang jadi alasan untuk memperlambat kawin. Dan ini tidak boleh. Karena dalam agama kita (Islam) semua sudah diatur, kapan kita berkarir dan kapan kita harus sudah berumah tangga. Kodrat Ilahi menggariskan kita harus berumah tangga. Tapi kenapa terjadi sampai memperlambat berumah tangga, bahkan malah tidak berumah tangga? Itu karena mereka melepaskan sedikit perintah Tuhan.”

Lebih lanjut, ia memaparkan soal berkurangnya keseriusan pria dan wanita muda dalam melihat pernikahan. Akibatnya, ada nilai-nilai yang bergeser khususnya bagi mereka yang tinggal di perkotaan. Mereka tidak sanggup menghadapi zaman modern yang ia nilai sama dengan westernisasi. Padahal menurutnya, modernisasi tidak perlu dipertentangkan dengan ajaran Islam dan keduanya dapat dipadukan. Sang narasumber kemudian memberi saran untuk mempersiapkan kondisi psikologis pria dan wanita sejak kecil, sehingga ketika dewasa dan berumah tangga, mereka dapat menghadapi berbagai tantangan zaman dan kesulitan-kesulitan dalam berumah tangga.

Dalam tulisan ini, Panjimas juga menyoroti mengenai lebih banyaknya jumlah wanita yang mencari jodoh ketimbang para pria. Permasalahan pendidikan yang terlampau tinggi dinilai menjadi sumber masalah kenapa para wanita sulit mendapatkan jodoh. Wanita yang berpendidikan lebih rendah cenderung lebih mudah mendapatkan suami ketimbang wanita yang sudah sarjana. Masalah adat istiadat juga dinilai berkontribusi dalam permasalahan ini. Panjimas mengambil contoh di Minangkabau, yang menurut adatnya pihak wanita harus membayar uang dalam jumlah tertentu untuk pihak laki-laki, yang jumlahnya akan semakin tinggi tergantung pada tingkat pendidikan si pria.

Tulisan ketiga berjudul “Wanita, Antara Cinta dan Cita” membahas mengenai peranan wanita di dalam rumah tangga dan negara. Wanita memiliki peranan yang begitu penting dalam pembinaan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, khususnya dalam rumah tangga. Wanita adalah penentu baik dan buruknya suatu negara sehingga perlu dilakukan pembinaan. Permasalahan pada kaum wanita di Indonesia bukanlah mengenai persamaan hak, tapi lebih kepada peningkatan kemampuan mereka, baik sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai anggota masyarakat. Seorang narasumber Panjimas lainnya mengatakan:

“Oleh sebab itu, wanita di tengah keluarga seperti diungkapkan dr. H. Ali Akbar, bahwa wanita sudah ditakdirkan Allah sebagai ibu. Sebagai ibu yang melahirkan dan mendidik putra-putrinya, sebagai pendamping suami; dan itu bukan berarti menghambat perkembangan kemajuan wanita. Pada bagian lain dikatakannya, ‘Dari kacamata nasional, kita ini terlalu banyak dicampuri oleh pengaruh Barat, dan kebiasaan kita ini mudah sekali mengakui milik orang lain itu sebagai milik kita. Dari segi pendidikan, memang baru terasa sejak Orde Baru. Bagi kaum wanita memang suatu tantangan untuk melihat diri mereka. Yang penting jangan sampai karena merasa ketinggalan, lalu mengejar sesuatu yang akhirnya akan mengecewakan diri mereka sendiri. Oleh sebab itu selalu saya tekankan supaya wanita-wanita kita, di samping bekerja keras mengejar persamaan hak itu, kembalilah pada agama. Dan ini adalah kunci dalam kehidupan keluarga,’ demikian tuturnya kepada Mahyuddin Usman dari Panjimas….”

Menurut narasumber di atas, wanita dinilai harus menjalani takdirnya sebagai seorang istri dan ibu. Namun, dalam menjalani takdirnya itu wanita Muslim haruslah memiliki kedirian yang teguh dan tidak mudah mengikuti barat. Wanita bukan hanya harus bekerja keras dalam mengejar persamaan hak tapi juga harus kembali kepada agama agar hidupnya terselamatkan dari hal-hal yang menyimpang.

“Di tengah modernisasi yang segalanya mudah berubah dan diubah, memang memerlukan ketahanan dari tiang keluarga yaitu kaum wanitanya di samping laki-laki. Modernisasi memungkinkan membangun kehidupan masyarakat dengan tata moral keagamaan yang menjadi prinsip kenegaraan kita. Sebaliknya apabila terlepas dari kendali, dibawa arus modernisasi, maka modernisasi akan menjadi destruktif karena semata menurutkan tuntutan nafsu. Apabila seperti ini yang terjadi, maka kaum wanita akan menjadi gigi roda dari mesin produksi atau cuma angka semata dalam organisasi sosial dan birokrasi, yang pada akhirnya akan kehilangan eksistensi sebagai manusia Indonesia, kehilangan integritas pribadi dan harga diri. Memang ini suatu tantangan, tetapi sekaligus suatu kehormatan, suatu perjuangan yang sangat ideal bagi wanita Indonesia yang diidam-idamkan.” 

Modernisme memang membawa banyak tantangan bagi umat Islam, tidak terkecuali bagi kaum muslimah. Kedirian dan keislaman kita dipertanyakan kembali dan tidak sedikit yang merasa kebingungan bagaimana harus menyelaraskan antara keduanya. Bagaimana menjadi Muslim yang modern? Yang tetap mengikuti perubahan zaman tapi memiliki kedirian yang kokoh sebagai orang Islam. Tidak jarang pula kita justru terjebak pada hal-hal yang bersifat kebendaan, seperti pendidikan, karir, ataupun uang.

Modernisasi, bagi wanita, memunculkan pertanyaan-pertanyaan soal persamaan hak, emansipasi, dan karir. Pertanyaan-pertanyaan ini tentu harus ditelaah dan dipikirkan dengan baik-baik. Wanita Muslim akan terus bekerja, baik itu dulu, sekarang, ataupun di masa depan. Wanita akan terus mengisi sektor-sektor lapangan kerja, baik sebagai wanita karir ataupun bukan. 
Jika kita lihat, ada banyak alasan wanita terjun ke dunia kerja. Ada yang ingin mengamalkan ilmu yang telah dipelajari, ada yang menggunakannya sebagai bentuk eksistensi diri, ada pula yang untuk mencari nafkah demi keluarga. Alasan lain yang diungkapkan Panjimas, adalah untuk berjaga-jaga bila nanti suami ternyata ditakdirkan meninggal dunia terlebih dahulu. Jika hal itu terjadi, maka hidupnya dan anak-anaknya dapat terjamin meskipun suami telah tiada. Bekerja dinilai memberikan jaminan terhadap takdir masa depan yang belum diketahui seperti apa bentuknya. 

Di dalam Islam, wanita bekerja bukanlah hal baru dan tidak menjadi masalah selama hal itu (sebagaimana juga bagi kaum lelaki) dilakukan sesuai kodrat sejati penciptaannya. Kodrat sebenar wanita bukan hanya ada di rumah tangga, karena urusan rumah dan anak adalah tanggung jawab bersama. Rumah tangga tidak mungkin didirikan sendirian saja oleh wanita. Lagipula tidak semua wanita ditakdirkan untuk menjadi istri ataupun ibu karena tidak sedikit wanita shalih di agama kita berkesempatan mengalaminya. Contoh yang paling nyata adalah ibunda kita, Aisyah Ra. Meskipun tanpa predikat istri dan ibu, wanita Muslim tidaklah kehilangan kewanitaannya. Maka, kodrat wanita yang paling hakiki adalah sebagai hamba yang memiliki kedudukan sama di mata Allāh Subḥānahu wa Ta’ālā dan yang mampu membedakannya hanyalah ketakwaan.