• Ikuti kami :

M. Natsir dan Hamka: 47 Tahun Persahabatan II
Bagian Ke 1

Dipublikasikan Senin, 17 Juli 2017 dalam rubrik  Perbendaharaan Lama

Tulisan Hamka mengenai persahabatannya dengan M. Natsir ini berada dalam latar zaman revolusi di Indonesia. Masa ketika keadaan di Indonesia amat tak menentu dan banyak hal tak terduga dapat terjadi, terkadang jauh dari perhitungan di atas kertas. Upaya mempertahankan kedaulatan Indonesia dalam masa revolusi ini tidak hanya soal melawan dan mengusir Belanda yang hendak mengambil kembali kekuasaan di Indonesia. Masa ini dipenuhi pertarungan ideologi, gejolak sosial, politik, dan ekonomi dalam negeri serta dilingkupi pula oleh kepentingan politik luar negeri para pemenang Perang Dunia II.

Hamka melihat sosok Natsir sebagai orang yang paling berperan dalam mendamaikan dan mempersatukan berbagai unsur kebangsaan Indonesia. Di tulisan ini, Hamka menyampaikan beberapa cerita mengenai M. Natsir yang sering hadir ke berbagai daerah Indonesia untuk 1) memusyawarahkan keadaan-keadaan negara dan bangsa serta 2) mendamaikan gejolak-gejolak yang timbul dalam berbagai perkara.

M. Natsir adalah tokoh bangsa yang disegani dan didengarkan oleh berbagai elemen bangsa di seluruh tanah air. M. Natsir adalah salah satu tokoh kunci dalam kebersatuan bangsa ini. Hal itu tampak dari mosi integral Natsir, hubungan-hubungan baik yang dijalin oleh M. Natsir dengan berbagai golongan yang ada di Indonesia, dan kepercayaan orang-orang itu kepada sosok dan kepribadiannya.

Meski demikian, M. Natsir dan Hamka pernah pula merasakan tinggal di rumah tahanan bersama beberapa tokoh bangsa lainnya. Penahanan tersebut terjadi lantaran perbedaan pandangan soal ideologi berbangsa dan bernegara serta anggapan Soekarno bahwa M. Natsir kontra revolusioner.

Perlawanan M. Natsir terhadap propaganda Nasakom sebagai tafsir utama Pancasila dan segala usaha untuk mewujudkan hal tersebut membawanya pada kehidupan di tahanan rumah selama empat tahun. Namun hal ini juga menjadi wujud perjuangannya dalam membela agama, kecintaannya pada bangsa juga keteguhannya untuk menggenggam suatu pandangan hidup.

Tulisan berikut adalah bagian akhir dari tulisan Hamka yang diambil dari Majalah Panji Masyarakat No. 251, tahun XX, 15 Juli 1978/ 9 Sya’ban 1398,  halaman 17--23. Nuun.id menyajikan kembali tulisan tersebut dan melakukan penyuntingan seperlunya.

***

Sesudah perpisahan di Bandung itu, setelah pendudukan Jepang (1943) baru lah saya dapat berjumpa kembali dengan Natsir dan Isa Anshari. Natsir, ketika itu, telah bekerja sebagai kepala bagian pendidikan di Kota Praja Bandung. Dia pernah datang ziarah kepada ayah saya di Jakarta.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI pada 1945, Menteri Penerangan RI, Mohammad Natsir, datang ke Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Dia telah menyampaikan, kepada kawan-kawan, keinginannya hendak bertemu dengan saya. Baru saja mendengar dia datang, dengan segera saya berangkat dari Padang Panjang untuk menemuinya di Bukit Tinggi. Partai Masyumi ketika itu telah ada. Dalam satu rapat yang ramai dihadiri oleh kawan-kawan, M. Natsir memberikan pandangan dan pengarahan.

Salah satu hal amat penting yang menyebabkan Natsir datang ialah karena terjadi “peristiwa 3 Maret 1947” di Bukit Tinggi, yaitu semacam pemberontakan dari golongan yang tidak puas yang merasa bahwa revolusi di Sumatera Barat terlalu lamban jalannya. Terjadilah perkelahian bersenjata di antara beberapa anak TNI dengan beberapa anak dari Hizbullah. Tetapi alhamdulillah perlawanan sia-sia ini dapat dipadamkan. Penganjur-penganjurnya ditangkap dan ditahan. Lalu, timbul tuduhan bahwa yang berontak itu ialah Masyumi.

Natsir dari Masyumi datang sebagai Menteri Penerangan Republik Indonesia untuk menyelidiki dan menyelesaikan soal itu dengan memberikan pengarahan. Sepeninggal M. Natsir, perkara “peristiwa 3 Maret” itu dibuka perkaranya dalam sidang pengadilan negeri di Bukit Tinggi pada akhir bulan Mei 1947. Yang menjadi ketua sidang ialah Mr. Harun Ar Rasyid.

Kawan-kawan separtai dalam Masyumi dan Pimpinan Muhammadiyah Minangkabau menyerahkan kepada saya sendiri dengan penuh kepercayaan untuk bertindak sebagai pembela dari kawan-kawan yang tersangkut dalam peristiwa itu. Di antaranya ialah saudara S.Y. Sutan Mangkuto (Alm) yang saya gantikan menjadi pimpinan Muhammadiyah Sumatera Barat karena beliau menjabat Bupati di Solok.

Di zaman revolusi hal yang tidak kita sangka dapat saja kejadian. Sampai saya yang tidak pernah masuk sekolah, jangankan masuk Fakultas Hukum, memberanikan diri menjadi advokat atau pengacara untuk membela suatu perkara yang boleh dikatakan besar dan alhamdulillah pembelaan itu berhasil dengan baik. Dan di waktu itu pula saya ditunjuk menjadi Ketua Front Pertahanan Nasional Sumatera Barat.

Demikianlah saya telah turut sekadar tenaga yang ada pada saya untuk mempertahankan dan membela tanah air sampai pada datangnya Aksi Polisionil Belanda yang ke-2 akhir tahun 1948. Masuk keluar hutan dari dusun ke dusun di bawah pimpinan Pejabat Presiden Pemerintah Darurat Indonesia (PDRI), Mr. Syafruddin Prawiranegara, sampai terjadinya Konferensi Meja Bundar (KMB), bahkan sampai terjadinya perdamaian dengan Belanda.

Pada 18 Desember 1949, saya pun berangkat ke Jakarta, dan pada 28 Desember 1949 itu pula dilaksanakan Penyerahan Kedaulatan.  Dan sejak saat itulah saya menetap di Jakarta.

Di kala Natsir jadi Perdana Menteri (1950), sebuah mobil berhenti di hadapan gang menuju rumah saya, kira-kira pukul 8 malam, di Gang Toa Hong II, No. 141, Sawah Besar. Seseorang memberi tahu dengan berbisik, “Pak Natsir datang menjemput bapak.”

“Perdana Menteri?” tanya saya. Kawan itu mengangguk dan saya pun segera berpakaian dan turun dari rumah. Lalu, langsung menuju ke mobil yang sedang menunggu. Natsir ada di dalam mobil itu. Dia mempersilakan saya naik dan saya duduk di sampingnya.

Demikianlah meskipun tempat berjauhan namun hati terasa selalu dekat di waktu-waktu yang penting juga selalu bertemu dan bertukar fikiran.

Dalam perjalanan berdua, dalam hujan yang sedang rintik, mulailah Natsir menjelaskan kepada saya rencana beliau, berkenaan dengan keamanan terutama tentang DI/TII yang digerakkan oleh Kartosoewiryo. Hendaknya berhasil maksud kita mengajak mereka kembali ke jalan yang benar, supaya mereka bergabung kembali ke dalam pangkuan Republik Indonesia. Akhirnya, terdapatlah fikiran bahwa pendapat pemuka-pemuka Islam harus dipersatukan. Bagaimana ikhtiar agar Kartosoewiryo kembali kedalam persatuan tanah air.

Maka, beberapa hari saja sesudah itu, terjadilah pertemuan-pertemuan pemuka-pemuka Islam di rumah (Alm) Kiai Wahid Hasyim di Jakarta. Hadir juga A. Hassan dari Bangil, Kiai Wahab Hasbulllah dan lain-lain. Dan saya pun dapat kehormatan turut hadir dalam pertemuan itu. Diputuskan supaya K.H. Muslich mencari kontak dengan Kartosoewiryo, menemui fihak mereka itu ke markasnya di Jawa Barat. Besar harapan kita moga-moga berhasil pertemuan ini dan tanah air Indonesia kembali aman.


Tulisan Terkait (Edisi Moh.Natsir)

IKLAN BARIS