• Ikuti kami :

Agama Sebagai Dasar Etika Perusahaan

Dipublikasikan Sabtu, 13 Mei 2017 dalam rubrik  Tafakur

Dalam bisnis modern saat ini, para pebisnis percaya bahwa moralitas bisnis yang utama ialah moralitas bisnis yang sekuler. Hal tersebut dapat ditelusuri pada gagasan etika utilitarianisme dan etika relativisme. Kedua teori etika tersebut dianggap dapat memberikan manfaat kepada masyarakat, baik penjual maupun pembeli. Produsen maupun konsumen. Agama sebagai sumber etika, dianggap tidak relevan untuk diterapkan dalam kegiatan bisnis. Bahkan lebih jauh lagi, banyak yang beranggapan agama harus senantiasa dipisahkan dari praktik bisnis.

Padahal menurut Desjardins (2009), etika Utilitarianisme dapat mengorbankan kepentingan individu-individu demi kepentingan yang dianggap lebih besar. Sedangkan etika relativisme telah menjadi tantangan serius bagi etika itu sendiri. Termasuk bagi etika bisnis karena dalam etika relativisme tidak ada kebenaran yang dianggap obyektif. Jika etika relativisme benar, maka tak ada gunanya mempelajari etika bisnis. Evaluasi terhadap keputusan-keputusan etis di dalam bisnis tidak mungkin dilakukan apabila semua pendapat adalah sama validnya.

Isu-isu etika yang terjadi dalam dunia bisnis, sebenarnya dapat diatasi apabila nilai-nilai agama yang universal dapat diadopsi sebagai sumber etika, khususnya di Indonesia yang masyarakatnya cenderung religius. Carrol dan Buchol mengkonsepsikan 4 (empat) tingkat tanggung jawab perusahaan, yaitu tanggung jawab sosio ekonomi, hukum, etika dan filantropi. Tahapan terakhir adalah tanggung jawab filantropis, yang mengacu pada kegiatan yang tidak diperlukan sebuah bisnis tetapi kegiatan tersebut dapat mempromosikan kesejahteraan manusia atau goodwill (Ferrel, 2011 :33). Tanggung jawab filantropis akan sulit untuk diwujudkan apabila manusia tidak mengadopsi spiritualitas agama. Nilai-nilai agama, sangat efektif menanamkan tanggung jawab filantropis tersebut karena agama tidak semata-mata mengukur suatu aktivitas dari takaran untung-rugi atau timbangan materi.

Berdasarkan hasil wawancara dengan ahli ekonomi Islam dari Bahrain Institute of Banking and Finance, setiap bisnis harus patuh pada corporate governance. Etika bisnis hanya akan efektif sekiranya disertai dengan keimanan yang bersumber dari agama. Tanpa agama etika hanya akan menjadi sebuah gagasan falsafah yang tak dapat diamalkan. Dalam nilai-nilai agama, manusia berbuat baik karena adanya motivasi transendental. Setiap perbuatan akan bernilai pada sisi kehidupan dan terhubung pada Tuhan. Perbuatan baik dan buruk akan mendapat balasan pada hari akhir kelak. Manusia yang tidak beriman pada akhirat tentu tak akan memiliki etika semacam itu sehingga sulit untuk menerapkannya.

Etika tanpa landasan agama hanya akan menjadi sebuah gagasan untuk berbuat baik tetapi manusia tidak memiliki dorongan yang kokoh untuk melakukannya. Ia juga menjelaskan, penerapan etika agama dalam sebuah perusahaan dengan keragaman agama pada karyawan dan stakeholders-nya bukanlah sesuatu yang sulit. Terdapat nilai-nilai universal yang terdapat dalam semua agama. Contohnya nilai-nilai kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan sebagainya. Semua agama seharusnya melahirkan etika yang positif yang dapat diterapkan dalam sebuah perusahaan.

Ahli etika profesi hukum dari Universitas Indonesia berpendapat, agama adalah bagian atau salah satu sumber etika bisnis. Ia mencontohkan di maskapai penerbangan Royal Brunei, para petugas kabin perempuan di sana mengenakan jilbab yang merupakan kewajiban bagi seorang muslimah; pun doa bersama yang dilakukan sebelum pengarahan mengenai prosedur keselamatan; Maskapai Lion Air, Indonesia, memiliki panduan doa bagi semua agama. Maskapai penerbangan Emirates menyesuaikan seragam petugas kabin mereka dengan gaya Timur Tengah. Cebu Pacific memperingati hari raya agama Katolik di udara bersama para penumpangnya. Sedangkan Malaysia Airlines mengumumkan jadwal buka puasa di pesawat bagi penumpangnya yang berpuasa. Semua itu merupakan bagian dari etika bisnis perusahaan penerbangan  yang bersumber dari ajaran agama.

Nilai agama dapat mengatasi pelanggaran etika apabila nilai agama tersebut dapat diintegrasikan ke dalam hukum nasional. Pendekatan agama bisa juga digunakan untuk  menyelesaikan perselisihan atau pelanggaran etika yang belum sampai ke dalam tahap pelanggaran hukum. Selain nilai agama, lingkungan sosial budaya harus berperan dalam mengatasi pelanggaran etika bisnis. Misalnya melalui penyelesaian secara adat seperti musyawarah, minta maaf, ganti rugi dan sebagainya untuk kasus-kasus etika yang bukan merupakan pelanggaran hukum (perdata maupun pidana). Tentu saja penyelesaian pelanggaran etis melalui cara-cara seperti harus tetap memperhatikan asas profesionalitas. Korporasi harus tunduk pada aturan hukum dan juga pada aturan budaya dan agama di Indonesia.

Nilai atau prinsip yang diadopsi dari nilai agama yang universal, harus diinternalisasikan oleh perusahaan kepada para karyawannya melalui pembentukan budaya organisasi dan kepemimpinan yang berbasis etika. Salah satu manifestasi kunci dari kepemimpinan yang beretika adalah artikulasi nilai-nilai dalam sebuah organisasi. Artikulasi ini bisa berevolusi setelah proses identifikasi nilai-nilai yang dilakukan secara inklusif dan terbuka pada perubahan untuk menghadapi tantangan bisnis yang baru. Pada akhirnya, menurut Duska (2007), sebuah perusahaan yang menerapkan perilaku beretika akan mendapatkan 4 (empat) hal;  keuntungan perusahaan, integritas diri dan kepuasan terhadap manajemen, kejujuran dan kesetiaan dari karyawan, serta perusahaan akan mencapai kepuasan pelanggan.

Perusahaan-perusahaan dalam berbagai bidang perlu menyadari pentingnya program-program terkait isu-isu etika. Selain bermanfaat bagi umat manusia dan kelestarian lingkungan, hal ini pun dapat menjamin keberlangsungan sebuah perusahaan di masa mendatang. Perhatian yang kuat terhadap isu-isu etika dapat membangun citra positif sebuah perusahaan di mata publik dan konsumen. Oleh karena itu melaksanakan dan peduli terhadap permasalahan etika bisnis merupakan sebuah investasi jangka panjang. Namun demikian, diperlukan mekanisme pengawasan internal yang menjamin pelaksanaan etika bisnis tersebut di level organisasi. Program etika seharusnya tak hanya sekadar lip service atau kampanye public relations demi mendapatkan citra positif di masyarakat. Penggunaan agama sekadar untuk membangun citra dan meraih keuntungan tentu saja merupakan sebuah kenaifan.

Peran agama sebagai dasar bagi etika perusahaan bukan saja bertujuan demi citra positif yang berdampak bagi keuntungan perusahaan. Lebih jauh dari itu, agama seharusnya memberikan makna yang transendental dalam kegiatan berbisnis. Sehingga kesadaran kemanusiaan setiap pelaku bisnis dapat terus terawat. Tujuan-tujuan perusahaan tidak hanya berpusat pada penumpukan keuntungan materi semata, melainkan juga akan turut serta membangun kesejahteraan batin manusia di dalamnya. Pada akhirnya keseimbangan yang transendental dapat kita raih dari kegiatan berbisnis.

Agama tentu saja dapat lahir di ruang-ruang kehidupan kita. Termasuk dalam kehidupan berbisnis. Penempatan agama sebagai sekadar pembangun citra agar konsumen tertarik tentu saja tak tepat. Lebih dari itu, agama seharusnya dapat menghadirkan nilai-nilai transendental dalam kehidupan, termasuk di lingkungan perusahaan.

Rujukan:
Joseph Desjardins, Introduction to Business Ethics (Edisi Ketiga), (McGraw Hill, New York, 2009).
O.C Ferrell, d.k.k, Business Ethics: Ethical Decision: Making & Cases, 8th Edition, (South-Western Cengage Learning, Mason, 2011).
Ronald Duska, Contemporary Reflections on Business Etchics, (Springer, Dordrecht, 2007).
Syed M. Naquib Al-Attas, Islam: The Concept of Religion and The Foundation of Ethics and Morality, (IBFIM, Kuala Lumpur, 2013).

Tulisan Terkait (Edisi Tertib)

Populer

IKLAN BARIS