Dr. Dinar Dewi Kania: Hubungan Laki-laki dan Perempuan Harus Dilihat dari Fitrah Penciptaannya
Bagikan

Dr. Dinar Dewi Kania: Hubungan Laki-laki dan Perempuan Harus Dilihat dari Fitrah Penciptaannya

Kita ada di dalam situasi yang menjebak laki-laki dan perempuan dalam hubungan saling menuntut, saling gugat kesalahan, sekaligus saling berebut ruang untuk memenuhi eksistensi diri dengan merendahkan pihak yang lain.

Manusia pada zaman ini, dalam kehidupan yang serbabenda, mengalami berbagai kesulitan untuk memahami dirinya, kemanusiaannya, kelelakiannya, juga keperempuanannya. Padahal, di dalam kehidupan kita, manusia—baik laki-laki maupun perempuan—pasti melakukan interaksi dan saling membutuhkan, entah itu sebagai anggota keluarga, partner kerja, atau sekadar urusan jual beli. Terkhusus pada urusan di dalam rumah tangga dan keluarga. Kalau diri saja sulit difahami, kemungkinan besar akan lebih sulit lagi untuk memahami orang lain dan menjalani hidup yang sentosa. 

Kita ada di dalam situasi yang menjebak laki-laki dan perempuan dalam hubungan saling menuntut, saling gugat kesalahan, sekaligus saling berebut ruang untuk memenuhi eksistensi diri dengan merendahkan pihak yang lain. Kami mewawancarai Dr. Dinar Dewi Kania, direktur Center of Gender Studies (CGS) dan Ketua Bidang Kajian Aliansi Cinta Keluarga (AILA) untuk mendalami lagi berbagai persoalan mengenai laki-laki, perempuan, dan perhubungan di antara keduanya.

Bagi beberapa kalangan, supremasi laki-laki dalam keluarga menimbulkan pembagian peran dan kerja yang dinilai melemahkan dan merugikan perempuan. Maka, untuk memperoleh hak dan kesempatan yang sama dalam keluarga, ada tiga aspek yang perlu dihindari dari hukum perkawinan. Pertama, anggapan suami adalah kepala keluarga. Kedua, anggapan suami yang bertanggung jawab atas nafkah istri dan anak-anak. Ketiga, anggapan istri bertanggung jawab atas pengasuhan dan pekerjaan rumah tangga. Mengapa kerap timbul anggapan peran perempuan yang semacam itu menimbulkan ketidakadilan dan kekerasan yang intensif terhadap perempuan?

Karena konsep keadilan Barat berbeda dengan konsep keadilan Islam. Bagi Barat, orang yang memiliki harta dianggap lebih hebat dan dominan. Konsep kepemimpinannya bergantung pada materi, siapa yang memberi materi yang terbanyak, itulah pemimpinnya. Ada pandangan, jika tidak bisa mempunyai nafkah, kedudukannya jadi lebih rendah. Esensi dari kemuliaan masih diukur dari kemampuan untuk memberikan materi, yakni nafkah. Kalau tidak bisa memberi nafkah atau menghasilkan nafkah yang lebih kecil berarti “saya ini lebih rendah” dari yang memberi nafkah atau menghasilkan nafkah lebih banyak.

Menurut saya, kalau kembali kepada Islam, laki-laki sebagai kepala rumah tangga dan pencari nafkah itu merupakan perintah dari Allah. Arrijalu qawwamuna ‘alannisa di al-Quran surat Annisa ayat 34 memang menyebutkan laki-laki adalah qawwam, pemimpin dan pelindung bagi perempuan. Saya baca dalam beberapa tafsir bahwa laki-laki itu memberikan nafkahnya kepada perempuan yang berada di bawah tanggungannya adalah salah satu fungsi qawwam itu. Jadi, peran memberi nafkah itu bukan konstruksi budaya atau karena ulamanya berada dalam konstruk sosial yang patriarki sehingga produk ijtihadnya bias gender dan bisa berbeda tafsiran kalau ulamanya perempuan atau tidak patriarkis. Dan, dalam persoalan mencari nafkah saja, dilepaskan dari konsep qawwam secara umum, laki-laki mencari nafkah itu tidak berlaku mutlak karena dalam situasi tertentu ada perempuan yang harus menghidupi suaminya atau laki-laki di dalam keluarganya.

Apa benar rumah tangga dan keluarga meniscayakan perampasan hak-hak kemanusiaan perempuan dan hanya perempuan yang mengalami penindasan di dalamnya? 

Sekarang ini justru laki-laki yang tertindas. Stigma negatif bergeser dan lari ke laki-laki bukan lagi ke perempuan. Misalnya, stigma laki-laki yang sifat dasarnya adalah tukang perkosa dan tidak bertanggung jawab. Ada stereotype, laki-laki harus menindas perempuan supaya memperoleh kebebasan. Dan, kebebasan ini adalah sesuatu yang penting dalam kehidupan. Agar bisa memperoleh kebebasan, laki-laki harus memberi tahu perempuan bahwa dia sukarela untuk ditindas. Kalau laki-laki tidak membuat perempuan merasa rela untuk ditindas, laki-laki tidak memperoleh kebebasan. Dari sini muncul stereotype bahwa laki-laki itu jahat sekali, yakni konsep “man hating movement”. Ini bukan hanya tentang emansipasi, dalam konsep “the other”, laki-lakilah yang esensi sementara perempuan itu aksiden. Perempuan akan selamanya lebih rendah dan di bawah laki-laki. Kaum feminis menolak atau menepis itu, tapi kalau melihat filosofi dasarnya ini justru mengenai kebebasan perempuan. Perempuan itu bisa bebas kalau laki-laki mau dikendalikan. Ini jika terus ditelusuri ke akar-akarnya, feminisme dan gerakan kebebasan seksual ini justru menciptakan stereotype yang menindas laki-laki. 

Kampanye “my body is mine, don’t teach us how to dress, but teach them not to rape”, itu juga bermakna perempuan tidak boleh dikontrol dalam berpakaian dan segala macam, tapi laki-lakilah yang diajarkan agar tidak memperkosa. Dalam konsep kekerasan seksual, definisi perkosaan jadi diperluas, kalau ada perempuan berduaan dengan laki-laki, perempuan hanya ingin bermesraan tapi tidak sampai penetrasi, kemudian sang lelaki kebablasan, itu termasuk perkosaan. Laki-laki harus mengerem nafsunya sementara perempuan bebas mengekspresikan seksualitasnya. Karena definisi ini, di Inggris sampai ada gerakan dan demonstrasi setelah menerima perluasan definisi perkosaan tadi. Karena pada praktiknya, laki-laki yang terdiskriminasi lalu melakukan judicial review. Tapi, saya tidak mengikuti perkembangannya lebih lanjut.

Ada pandangan yang berbahaya tentang perkosaan. Perempuan yang berbaju seksi bukan pemicu perkosaan, perempuan yang menggoda atau flirting yang menjurus ke arah seksual juga bukan pemicu perkosaan. Perkosaan terjadi karena memang laki-laki yang otaknya adalah otak pemerkosa. Sementara, perempuan diperkenankan bebas sebebas-bebasnya. Yang disuruh “puasa” hanya laki-laki dan dalam hal ini laki-lakilah yang sedang dijajah. Penjajahan ini juga berlaku dalam rumah tangga. Misalnya, istri tidak mau diajak berhubungan seksual, tapi tetap behubungan, bisa dianggap perkosaan dalam rumah tangga karena semua kontrol ada di perempuan.

Lalu, bagaimanakah sebetulnya hubungan laki-laki dan perempuan yang benar itu? Bagaimana pula kedudukan yang benar bagi laki-laki dan perempuan dalam keluarga?

Pada dasarnya, tidak ada konsep equality karena konsep keadilan dalam Islam itu bukan equal  melainkan menempatkan segala sesuatu sesuai dengan tempatnya, yakni fitrahnya. Hubungan laki-laki dan perempuan harus dilihat dari fitrah tujuan penciptaannya. Kita jangan bicara tentang kasus-kasus khusus, seperti perempuan yang mencari nafkah atau berperang, yang kewajiban ini dikenakan pada laki-laki. Misalnya, ada Nusaibah (sahabat Nabi Muhammad—Red), perempuan yang berperang, tapi ini tidak berlaku umum pada semua perempuan, di sisi lain sekaligus bisa terjadi di mana pun.

Mengenai kedudukan perempuan dalam Islam, perempuan tetap harus punya relasi dengan laki-laki yang memperhatikan fitrah. Kalaupun punya pekerjaan, harus sesuai dengan fitrah. Tidak bisa juga ada di semua bidang, misalnya, jadi tentara. Sementara, dalam konsep Barat, hubungan laki-laki dan perempuan berdasarkan murni kesepakatan manusia atau convention antara laki-laki dan perempuan. Misalnya, di dalam rumah tangga dibuat kesepakatan tentang siapa yang mencari nafkah, siapa yang mengurus anak, siapa yang mengerjakan urusan domestik, dan lain-lain. Sementara, di dalam Islam, bukan convention semacam itu. Kesepakatan antara suami dan istri ada, tetapi harus bisa ditempatkan sesuai kedudukan masing-masing dalam fitrah yang Allah ciptakan. 

Saat ini, relasi laki-laki dan perempuan ada pada titik ekstrem. Pada titik yang satu, perempuan seperti tidak ada kekuasaan dan tidak bisa memutuskan. Perempuan juga tidak punya kemampuan atau kesempatan pada banyak hal. Sementara, laki-laki adalah pengatur segala macam. Di satu sisi yang pandanganya liberal, keluarga ditetapkan dengan konvensi saja, qawwam atau pemimpin rumah tangga itu bukan laki-laki, tapi dititikberatkan pada soal materi dan kesepakatan saja. 

Saya berusaha melihat pada posisi tengah-tengah. Kalaupun perempuan bekerja mencari nafkah, boleh jadi karena laki-laki tidak mendapat kesempatan bekerja atau laki-lakinya sakit dan dalam keadaan yang lemah. Dan, ini bukan sesuatu yang bisa digeneralisasi. Jika situasi itu juga tidak ada, kalau ada perempuan bekerja di ruang publik bukan semata-mata mencari nafkah apalagi menyaingi laki-laki, tetapi ibadah. Namun, perempuan juga semestinya tidak mendapat beban yang tidak sesuai dengan fitrahnya. Beban melahirkan dan menyusui saja sebetulnya sudah berat. Dalam keadaan begitu, perempuan juga perlu disenangkan agar tidak diberi beban mencari nafkah. Tujuannya agar para ibu ini bisa happy, bahagia dan memberikan kasih sayang penuh kepada anaknya. Karena, bagaimanapun beban mencari nafkah untuk seluruh keluarga itu berat.

Seperti sudah sedikit disinggung, konsekuensi lain dari anggapan mengenai supremasi laki-laki atas perempuan di atas adalah kecilnya peran perempuan dalam ruang publik. Perempuan seolah-olah tak bisa memperoleh peran di wilayah publik, seperti sektor ekonomi, politik, termasuk militer. Di antara alasannya, seperti juga sudah disebutkan, perempuan mempunyai beban biologis yang tidak dialami laki-laki untuk hamil, menyusui, dan mengasuh anak. Organ reproduksi tak jarang dianggap sebagai penghalang perempuan dalam berperan bagi masyarakat. Bagaimanakah kedudukan laki-laki dan perempuan yang benar dalam masyarakat?

Peran di ruang publik dan mencari nafkah itu berbeda. Peran publik itu milik laki-laki dan peran domestik itu milik perempuan. Keduanya jangan dipertentangkan. Perempuan juga punya peran publik, tapi tidak sama dengan mencari nafkah. Perempuan juga punya peran sebagai pendidik masyarakat. Peran ini tidak terbatas pada laki-laki. Kalau kita lihat peran domestik berupa mengurus rumah tangga, mengurus anak, beres-beres, mencuci, laki-laki juga punya tanggung jawab di dalam urusan rumah. Jangan mentang-mentang sudah mencari nafkah lalu merasa tidak punya tanggung jawab soal urusan rumah tangga. Ada yang membagi rumah tangga itu seperti sekolah. Ayah sebagai kepala sekolah, ibu adalah gurunya. Hal-hal yang strategis itu peran laki-laki, bagian teknis operasional adalah bagian perempuan. Saya rasa tidak begitu juga. Itu tetap tergantung karakter laki-laki dan perempuannya.

Memang secara umum, berfikir secara strategis atau konseptual itu lebih umum dimiliki laki-laki. Perempuan dikenal multitasking dan lebih operasional. Tetapi, ini bukan berarti semua laki-laki pasti bisa berfikir strategis dan konseptual atau perempuan tidak ada yang bisa berfikir demikian. Ada istri-istri nabi yang bisa berfikir strategis, misalnya, Khadijah, Aisyah, dan Ummu Salamah. Tetapi, selain soal karakter, hal semacam ini juga mungkin terkait dengan pola pendidikan yang diterima. Ada hal-hal yang bisa dicapai perempuan, ada yang bisa dicapai laki-laki. Tapi, masih-masing sudah ada kadarnya sendiri. 

Kalau beban biologis bagi perempuan seharusnya lebih dipandang sebagai fitrah penciptaan perempuan. Memang Allah memberi perempuan fitrah untuk hamil dan menjadi ibu. Seharusnya tidak dilihat sebagai penghalang, malah ladang pahala, sarana ibadah.

Dengan wacana di atas serta keadaan manusia dan tantangan yang harus dihadapinya di zaman ini, bagaimana cara kita menghadapinya ?

Di antara hal penting yang perlu kita lakukan adalah menggali konsep-konsep khazanah pemikiran Islam, soal keluarga. Ulama kita sudah mengajarkan soal konsep ini. Guru-guru dan ulama perempuan di abad pertengahan itu banyak sekali, tapi mereka tidak pernah merasa rendah diri atau inferior dari laki-laki. Mereka sepenuhnya menyadari dan menerima laki-laki sebagai qawwam. Kalau kita sampai merasa rendah diri atau inferior, berarti ada konsep yang tidak kita fahami dan kita lewatkan mengenai ini. 

Saya ambil sebagai contoh, saat ini kita belum bisa menghadirkan kepemimpinan yang baik, alasannya karena kita belum menggali sepenuhnya konsep mengenai kepemimpinan ini sehingga bisa melahirkan sosoknya. Seperti juga konsep keluarga dalam Islam. Sekarang ini umat Islam seperti meninggalkan otoritas keilmuan, lalu mencari serta membentuk pemikiran-pemikirannya dan ijtihad sendiri tanpa merunut jejak-jejak para ulama yang sebetulnya sudah ada dan terbukti melahirkan pribadi-pribadi yang baik. Jadi yang pertama, kita harus kritis dengan sumber konsep keluarga yang ditawarkan saat ini, khususnya yang berasal dari Barat. Kedua, kita juga harus mulai mau menggali konsep manusia hingga konsep keluarga dalam Islam.