• Ikuti kami :

Urgensi Adab dalam Pembangunan Umat*

Dipublikasikan Senin, 04 Desember 2017 dalam rubrik  Tafakur

Perkataan adab, sesungguhnya berkaitan dengan banyak kata dan konsep lain. Salah satunya ialah konsep ilmu. Ilmu ialah sesuatu yang berbeda dengan informasi. Pada hari ini banyak informasi-informasi yang kita dapatkan dari internet, dari media massa. Informasi ini dalam bahasa Arab disebut khabar. Dalam bahasa Indonesia dikenal menjadi kabar. Khabar ini ada yang benar dan ada yang salah. Ada khabar kadzib dan ada khabar ṣâdiq

Seandainya kita mendengarkan kabar, Si Fulan meninggal. Itu baru kabar, itu baru berita. Kalau kita kemudian datang ke rumahnya dan melihat jenazahnya, maka khabar tadi itu menjadi khabar ṣâdiq, kabar yang benar. Tapi kalau kita datang ke rumahnya ternyata dia masih hidup, maka kabar tadi itu adalah kabar yang tidak benar. Jadi khabar ini bisa menjadi khabar yang kadzib dan bisa menjadi ṣâdiq. Khabar ṣâdiq itu lah yang dikatakan sebagai ilmu.

Jadi bermacam informasi yang datang ia hanya menjadi informasi saja, hanya menjadi kabar saja pada awalnya. Untuk menyatakan ṣâdiq atau tidaknya sebuah kabar ada banyak sumbernya. Bisa melalui akal, bisa melalui panca indera, dan bisa melalui wahyu. Pada akhirnya kita harus belajar epistemologi. Harus belajar sumber-sumber ilmu. 

Ketika ada kabar bahwa Si Fulan meninggal dunia, kita melihatnya dengan mata. Maka kabar itu telah kita buktikan kebenarannya dengan panca indera kita, dengan mata kita. Maknanya kabar itu dapat kita buktikan dengan panca indera. Kita juga dapat membuktikan kebenaran sebuah kabar dengan akal dan juga dengan wahyu. Dan khabar ṣâdiq inilah yang menjadi ilmu.

Jadi Islam ini agama yang berdasarkan kepada ilmu. Ilmu-ilmu ini harus kita letakkan pada tempatnya. Ilmu mengetahui tempat-tempat yang betul, itu namanya ḥikmah. Kita tahu ini sepatu dan itu topi. Dan kita tahu bahwasannya sepatu itu letaknya di kaki dan topi itu letaknya di kepala. Mengetahui tempat-tempat tersebut, itu lah ḥikmah. Jadi ḥikmah ini masih dalam cakupan ilmu juga tetapi sudah lebih tinggi dari mengetahui. Kalau ilmu itu sekadar tahu tentang tempat sesuatu tapi belum lagi kita letakkan pada tempatnya. 

Kalau kita sudah letakkan pada tempatnya, maka ilmu tersebut sudah menjadi ḥikmah. Hikmah ini penting karena kalau kita salah menempatkan ilmu, kita akan menjadi tidak bijaksana. Dalam masalah agama, hal ini banyak terjadi. Kadang-kadang ilmu itu tidak ditempatkan pada tempatnya. Yang tidak bid’ah dikatakan bid’ah. Padahal sesuatu itu khilâfiyah, misalnya, tetapi dikatakan bid’ah. Ini tidak meletakkan sesuatu pada tempatnya. Yang harusnya sunnah kemudian dikatakan wajib, ini juga keliru. Seharusnya yang wajib diletakkan sebagai yang wajib, yang sunnah biarlah berada sebagai sunnah, yang khilâfiyah biarlah khilâfiyah, yang furu' biarkan furu'. Jadi bersikap proporsional. Kita letakkan sesuatu itu pada tempatnya. 

Nah, ini banyak lagi, dalam masalah hukum misalkan. Perkataan hukum itu dari perkataan ḥikmah. Akar katanya sama ḥa-ka-ma. Ḥukum - ḥâkim - ḥikmah. Jadi hukum itu harus ditempatkan pada tempatnya, baru ianya menjadi hukum yang indah. Ulama kita sudah mengajarkan, bagaimana istinbath hukum, misalnya. Melahirkan al-aḥkâm al-taklîfiyyah dalam Ushul Fiqh. Menurut jumhural-aḥkâm al-taklîfiyyah  ada lima: wâjib, sunnah, mubâh, makrûh  dan haram. Tapi kalau menurut Imam Hanafi, dia ada tujuh: farḍu, wâjib, sunnah atau mandûb, mubâh, makrûh tanzîhiy (makruh yang dekat kepada halal), makrûh tahrîmiy  (makrûh yang dekat kepada haram), dan haram. Bagaimana para ulama meng-istinbâth hukum-hukum kepada yang lima atau yang tujuh tersebut, ini dipelajari dalam ushul al-fiqh

Ilmu ini sesungguhnya membantu kita untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya. Nanti bagaimana melaksanakan hukum yang lima tersebut, hal itu nanti dibantu dengan yang namanya al-ahkam al-waḍ’iyyah, hukum-hukum waḍ’iy. Contohnya shalat. Shalat Ashar apa hukumnya? Wajib. Itu hukum taklifi-nya. Tapi apakah sekarang kita wajib Shalat Ashar? Tidak, kan. Karena syaratnya belum masuk waktu lagi. Di dalam al-ahkam al-waḍ’iyyah dibincangkan tentang sabab, mâni’, sihâh, buṭlân, ’azîmah, rukhṣah  dan sebagainya. Ini membantu kita dalam melaksanakan hukum-hukum itu.

Para ulama sesungguhnya telah memberikan contoh, bagaimana ilmu tadi diletakkan pada tempatnya. Hukum-hukum tadi diletakkan pada tempatnya. Inilah ḥikmah. Kalau tidak begitu, kita tidak berhikmah, tidak bijak. Misalkan, langsung mengambil hukum dari hadîth:

Man taraka as-ṣalâta muta‘ammidan faqad kafara jihâran (Barangsiapa yang meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja maka dia telah kafir secara terang-terangan)

Misalnya kita melihat tetangga kita tidak shalat langsung kita cap kafaran jihâran karena memang ada hadithnya. Ini baru selapis. Dia tidak meletakan hadith pada tempatnya. Apa makna kafir di situ? 

Nanti di fiqih kita akan belajar bahasa. ẓâhir ada naṣṣ. Ada muṭlaq ada muqayyad Ada haqîqiy ada majâziy. Jadi hukum itu memiliki akar kata yang sama dengan hakim dan ḥikmah. Hukum itu harus tepat, supaya melahirkan kebaikan. Apabila sesuatu telah diletakkan pada tempatnya maka keadaan itu adalah adil. Tindakan kita dari pada ḥikmah kepada adil, itulah yang disebut adab. Adab itu artinya melaksanakan keadilan, menuju ke arah keadilan, menerapkan keadilan. Itu lah yang disebut adab. Melaksanakan keadilan. Adab adalah act dan adil adalah state. Adil itu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Tempatnya itu apa maknanya? Tempat itu artinya hak-nya. 

Sebagai manusia, kita punya relation. Kita punya teman, teman kita punya hak. Kita punya orang tua, orang tua kita punya hak. Kita punya guru, guru kita punya hak. Kita punya bos, bos kita punya hak. Kita punya bawahan, bawahan kita punya hak. Kita punya isteri, isteri kita punya hak. Kita punya anak, anak kita punya hak. Jika kita sudah memenuhi hak-hak mereka, maka kita telah berlaku adil dan beradab kepada mereka. Begitu pula dengan panggilan. Jika kita memanggil orang tua kita dengan panggilan “Saudara!”, maka kita tidak beradab dan tidak adil kepada mereka. Karena kita tidak meletakkan orang tua kita sesuai tempatnya. Karena adillah maka kita panggil mereka “Bapak”, “Ibu”, bukan “Saudara”. 

Adil itu luas. Ketika kita bertindak adil maka itulah yang disebut adab. Proses melatih seseorang berlaku adil dan beradab disebut ta’dîb, yaitu pendidikan. Pendidikan itu memberi tahu dari khabar menjadi ilmu, dari ilmu menjadi ḥikmah, dan dari ḥikmah menjadi adil. 

Tidak terpenuhinya hak dan keadilan disebut zâlim. Sementara terpenuhinya hak seseorang melebihi haknya disebut sebagai ihsân

Innallâha ya’muru bil ‘adli wal-ihsân
Sesungguhnya Allah SWT memerintahkan kita untuk berlaku adil dan ihsan. 

Jika seseorang meminjam uang Rp1.000,- maka kita memiliki hak meminta kembali dengan jumlah yang sama. Itu yang disebut adil. Tapi jika kita meminta Rp1.500,- maka kita termasuk zâlim. Jika kita meminta Rp500, maka itulah yang disebut ihsân. Akhlak seorang mukmin itu minimal berlaku adil, lebih baik jika berlaku ihsan. Sementara kepada orang tua diharuskan berlaku ihsân karena:

Wa bil wâlidaini ihsânâ
Berbuat baiklah kepada orang tua. 

Karena tidak mungkin hanya sekedar berbuat adil kepada orang tua. Adil itu ada itung-itungannya

Allah SWT dalam hadith kudsi-nya mengatakan,

Sesungguhnya aku mengharamkan berbuat zâlim, maka janganlah saling menzâlimi di antara kamu. 

Jadi serendah-rendahnya adab adalah berlaku adil, tanpa mengurangi hak orang lain.

Keadilan memiliki tiga tingkatan. Tingkatan pertama adalah keadilah kepada Allah SWT. Maknanya adalah kita tempatkan Allah SWT pada tempatnya. Hak Allah SWT adalah untuk disembah dan dijadikan Tuhan. Apabila kita tidak memberikan hak itu, maka kita telah jatuh pada syirik padahal syirik adalah kezâliman paling besar. 

Wa inna as-syirka laẓulmun aẓîm

Risalah ketauhidan ini lah yang dibawa oleh para nabi yakni kembali kepada Allah SWT dan beradab kepada Allah. Allah telah menciptakan kita dari tidak ada menjadi ada. Beradabkah kita jika Allah diabaikan? Beradabkah kita kala kita hampir tenggelam dan seseorang menolong kita, kita sama sekali tidak berterima kasih? Padahal pepatah Melayu mengatakan: utang uang boleh dibayar, tapi utang budi dibawa mati. Selagi kita masih hidup, utang itu tidak akan pernah terbayar. Sama halnya seperti jasa orang tua, sampai mati pun kita tidak bisa membayar jasa-jasanya. Apalagi dengan Allah SWT. Oleh karena itu orang yang tidak menyembah Allah adalah orang yang zâlim, tidak beradab, tidak bersyukur, dan berdosa kepada Allah SWT. 

Ketidakadilan atau kezâliman di tingkat yang kedua adalah kezâliman kepada diri sendiri. 

Rabbanâ ẓalamnâ anfusanâ,
Ya Allah kami telah menzâlimi diri sendiri. 

Zâlim yang dimaksud di sini adalah melakukan dosa. Ketika kita sedang melakukan dosa, baik kepada Allah, diri sendiri, maupun orang lain, berarti kita sedang zâlim kepada diri kita sendiri. Kita tidak meletakkan diri pada tempatnya. Pembahasan tentang diri ini sangat luas karena berkaitan dengan psikologi. Prof. al-Attas pun membahas kedirian ini dalam bukunya The Psychology of Human Soul. Di dalam diri kita ini ada nafs, nafsu, dan aql, akal. Di dalam diri kita nafs nâṭiqah, nafsu yang lebih tinggi. nafs nâṭiqah, inilah yang harus mengawal nafs ḥaywâniyyah, nafsu yang rendah. Jika nafsu yang lebih tinggi dikuasai oleh nafsu yang lebih rendah maka kita telah zâlim

Jadi, nafsu ini ada tempat-tempatnya. Nafsu makan ada tempatnya, nafsu berhubungan jenis ada tempatnya. Semua ditempatkan oleh syariah. Syariah itulah yang akan mengatur. Adakalanya kita wajib makan seperti saat berbuka puasa dan Idul Fitri. Adakalanya kita sunnah makan, yakni pada sahur. Adakalanya kita haram makan, yakni saat berpuasa. Semua hal ada tempatnya supaya adil, tepat, dan beradab. Jika kita melanggar maka kita berdosa. 

Berdosa ini lah yang disebut menzâlimi diri sendiri. Jalan kembalinya adalah taubat. Jika berdosa kepada Allah maka bertobat. Jika berdosa kepada sesama manusia, maka kita bertobat dan meminta maaf. Inilah cara agar kita bisa keluar dari kezâliman. 

Wa fii badanika ‘alaika haqqun
Tubuh kita memiliki hak. 

Badan kita juga harus diberikan keadilan. Oleh karenanya Rasulullah pun melarang beribadah saat ngantuk atau berkeras-keras dalam ibadah. Ada riwayat yang menceritakan seseorang yang shalat dengan menggunakan tali. Rasul pun bertanya, “Tali siapakah ini?”, “Tali si fulanah yang terkenal shalatnya”. Rasulullah mencelanya. Jika mengantuk maka tidur karena tubuh kita punya hak untuk istirahat. 

Kezâliman yang ketiga adalah kezâliman kepada masyarakat. Hari ini, jika berbicara keadilan maka langsung ke masyarakat, socio-justice. Padahal adil yang pertama itu harus kepada Allah SWT, kedua kepada diri sendiri, baru setelah itu adil kepada masyarakat. Jangan terbalik. Jika kita mendahulukan adil kepada masyarakat namanya riya, dan riya adalah tindakan tercela. Misalnya kita menyuruh orang tidak korupsi padahal kita sendiri korupsi. As long as seen to be clean. Orang seperti ini hanya memikirkan orang lain hingga lupa kepada Allah SWT. 

Kemanusiaan yang adil dan beradab. Kalimat ini sebenarnya menarik untuk dikaji lebih dalam. Sila ke-2 dari Pancasila. Kemanusiaan saat ini disebut humanism. Tapi humanism yang bagaimana. Ini yang harus kita fikirkan yakni apa makna humanism, apa makna adil dan apa makna beradab. 

Kembali lagi kepada pokok bahasan kita, jadi tingkatan adil yang ketiga adalah kepada masyarakat. Ta’dîb kita mengajarkan kita untuk adil dan beradab kepada Allah SWT, diri sendiri, baru kepada masyarakat. Itulah peringkat keadilan dalam Islam. 

Setiap kezâliman dan ketidakadilan akan dibalas oleh Allah SWT. Seorang ahli surga tidak akan masuk surga sebelum hak-haknya terpenuhi. Karena di dunia telah merampas hak orang, dan itu dosa. Dosa itu harus terbayar. Oleh karena hari akhir disebut sebagai hari pembalasan maka semua hak-hak akan dibayar dan dibalas. Hari itu sudah tidak bisa beramal lagi. Tinggal tukar menukar hak saja. Hari itu ada orang yang muflis, bangkrut. Rasulullah pernah bertanya, “Siapakah orang muflis?”. 

Ini menarik karena muflis berasal dari perkataan falasa, fulûs. Di Bahrain kalau uang besar namanya Dinar, tetapi kalau uang kecil namanya Fils. Makanya orang muflis itu adalah orang yang asalnya punya Dinar dan Dirham, tapi sekarang tidak lagi, orang muflis hanya punya Fulus saja, Fils. Maka ketika Rasulullah bertanya, “Manil muflis?”, sahabat menjawab, al-muflisu fîna man lâ dirhama wa lâ matâ‘. Orang muflis adalah orang yang sudah tidak mempunyai Dinar, Dirham, dan barang dagangan. “Al muflisu min ummatî man ya’tî yaumal qiyamah bis ṣalâti waz zakâti, tapi dia menyakiti orang lain” kata Rasulullah. Maka ketika di akhirat, kata Rasulullah, pahala-pahalanya akan diberikan kepada orang-orang yang telah disakiti. Kalau pahalanya sudah habis maka dosa orang yang disakiti akan diberikan kepada dia dan dia akan masuk neraka. Begitulah orang muflis. Karena hari akhir adalah hari keadilan.

Ilmu keadilan ini kita pelajari dalam ta’dib, pendidikan. Itulah kaitannya antara khabar,‘ilmu, ḥikmah, adil, ihsân, zâlim. Kalau masing-masing muslim menjaga hak dan kewajiban maka Insya Allah dunia aman. Tapi itulah yang paling sulit. Yang paling gampang adalah berlaku zâlim dan ekstrim yakni melebihkan sebagian dan mengurangi sebagian dengan tidak adil. Ekstrim dalam ibadah misalnya terus menerus ibadah dan melupakan kerja. Tidak boleh begitu. Kita harus tawâzun, seimbang karena masing-masing punya hak. Jika masing-masing muslim menjalankan hak-haknya maka masyarakat yang adil akan terbentuk karena umat ini tidak lain adalah gabungan dari individu-individu. 

Sekarang ini orientasi kita adalah masyarakat dan ummat dan seringkali kita lupa pada diri sendiri. Cara pandang ini telah dipengaruhi oleh Barat karena Barat lebih menekankan pada society. Bukan berarti society ini tidak baik. Tapi Islam lebih mendahulukan diri dan keluarga dibandingkan dengan society

Misalnya wanita. Dalam Islam, wanita itu posisinya di keluarga. Tapi oleh Barat, wanita telah diletakkan dalam konteks masyarakat, bukan keluarga. Pada hari ini pun kita selalu berbicara dalam konteks masyarakat dan ummat. Padahal cara penyelesaiannya dari dalam diri dan jiwa. Baru kepada umat. Kalau sekarang terbalik, penyelesaiannya dimulai dari masyarakat hingga lupa diri dan lupa kepada Allah SWT. Oleh karena itu masalahnya tidak selesai-selesai. 

Jadi urgensi adab dalam pembangunan umat terjadi dengan sendirinya apabila masing-masing diri beradab, masing-masing diri meletakkan sesuatu pada tempatnya, sudah tentu akan terlahir umat yang wasathon. Ummatan wasaan, yaitu umat yang menjadi wâsiṭ bagi orang lain. Ummatan wasaan inilah yang menjadi khairul ummah.


*Transkip ceramah Ustadz Ugi Suharto dalam Daurah Sehari: “Adab dan Urgensinya dalam Pembangunan Umat” yang diselenggarakan Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan (Pimpin) Bandung, Ahad, 10 Syawal 1434/18 Agustus 2013, di ruang GSS Masjid Salman ITB.

Tulisan Terkait (Edisi Pasca-Kebenaran)

IKLAN BARIS