• Ikuti kami :

Umat yang Sering Disuruh Bersatu Tapi Enggak Mau-Mau

Dipublikasikan Jumat, 03 Februari 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Umat Islam adalah umat yang sering diseru untuk bersatu, saling mengasihi, saling menasihati, saling berlomba-lomba dalam kebaikan, saling menghormati, juga saling membela. Tetapi nasihat-nasihat itu amat sulit terwujud. Seruan-seruan itu seperti memenuhi langit tapi tak pernah mendarat di hati. Seruan-seruan itu seolah disapu oleh keyakinan diri yang amat sulit diganggu gugat. Ceritanya kira-kira begini.

Pada suatu masa di negeri Pulau Kelapa yang kaya tanah dan airnya, seorang sarjana yang telah menempuh pendidikan di negeri Terusan Suez kembali pulang. Ia mengajak sahabat-sahabat baiknya berjuang. Dari negeri jauh sana, ia membagi semangat perbaikan kepada umat Islam di negerinya. Kita harus konkret menunjukkan bakti kepada agama.

Berhari-hari, bermalam-malam yang didiskusikan adalah karut marut keadaan umat, kelemahan dan kebodohan umat, ramainya perpecahan, dan sulitnya persatuan umat di negeri itu. Mereka merumuskan suatu keadaan persatuan, yakni ketika seluruh umat mau sama-sama belajar, berada di bawah bendera Islam, dan konkret bekerja dengan dakwah siyasah. Mereka mendalami perkataan bijak: kebaikan yang tidak terorganisasi akan kalah dari kebatilan yang terorganisasi. Segala kebaikan yang hendak disebarluaskan harus dibuat secara terstruktur dan proses perekayasaan yang sesuai kebutuhan masa kini.

Umat Islam diyakini akan bersatu manakala mau bersama-sama bahu-membahu mendorong dakwah siyasah yang rapi dan terorganisasi, agar kader-kader terbaiknya dapat menguasai lini-lini strategis pemegang kebijakan di negeri Pulau Kelapa. Dengan begitu, harapannya, ada yang membela umat dan menyejahterakannya. Semua pasti menginginkan kehidupan semacam itu. Seluruh umat pasti mau bersatu dan berjuang bersama jika sudah mengetahui maksud-maksud tersebut.

Tidak jauh berselang, seorang sarjana yang menempuh pelajaran di Palestina juga pulang ke kampung halamannya di Pulau Kelapa. Hatinya pedih melihat masyarakat di kampungnya dikungkung sistem yang serbazalim. Kapitalisme merobek-robek kekayaan umat. Liberalisme membelah jantung umat. Demokrasi merobohkan persendian umat.

Padahal, di negeri tempat ia belajar, gurunya menyampaikan bahwa kemenangan umat Islam hanya akan diperoleh jika kita menerapkan Islam secara kafah, seluruhnya. Kehidupan akan semakin berat dan sulit untuk dijalani jika hukum-hukum Tuhan jauh dari kehidupan dan tak dipersiapkan untuk ditegakkan. Dan tampaknya umat cenderung terlena dengan sistem yang dianutnya, menganggap semua baik-baik saja.

Baginya, juga kawan-kawan dekatnya, cara terbaik yang perlu dilakukan adalah mengganti sistem yang zalim lagi mencelakakan dengan sistem Islam. Umat Islam pasti akan bersatu di bawah suatu kekhalifahan, seperti halnya kekhalifahan Islam yang pernah lebih dari seribu tahun terbina dan memimpin dunia. Mereka secara rutin membuat kajian dalam lingkaran-lingkaran kecil sambil menyeru umat, syariat di dadaku, di bawah khilafah umat Islam bersatu.

Dalam rentang yang tak demikian lama. Adik angkatan mereka yang melanjutkan pendidikan di negeri Nabi juga turut kembali pulang. Di sana ia rajin sekali belajar hadis. Sejak pesantren, di kepalanya selalu terngiang, Rasulullah hanya mewariskan dua hal kepada umat Islam, Al Qur’an dan hadis.

Hatinya bergemuruh dan menangis manakala melihat umat di negerinya jauh dari hadis, tak menjalankan sunah Nabi. Praktik perdukunan, menambah-nambahi ibadah, hingga perilaku syirik amat mengancam keimanan dan keislaman. Jika sudah begini, tak mengherankan apabila Allah menurunkan bencana demi bencana, deraan demi deraan.

Maka cara untuk terbebas dari belenggu keterpurukan adalah mengenalkan umat Islam pada sunah Nabi secara lebih mendalam. Jangan sampai amalan umat menyimpang dari hadis yang sahih-sahih. Ia mengajak kawan-kawan sealmamater berkumpul, membuat majelis dari daerah ke daerah, safari dakwah. Islam akan bangkit kembali jika seluruh umat Islam mau menjalankan sunah Nabi dengan sebaik-baiknya, menjalankan laku ibadah yang jelas ada contohnya. Jika sudah begitu, pasti persatuan umat akan terwujud. Tak diragukan lagi. Nabi dan sunahnya adalah simbol persatuan umat yang paling sejati.

Tahun berganti, waktu berlalu, jargon-jargon persatuan terus-menerus dilagukan. Masing-masing sarjana dan seluruh kawan-kawannya meluaskan seruan dan dakwah ke seluruh penjuru Pulau Kelapa; kepada para pengusaha, anak sekolah, guru-guru, hakim, orang tua, remaja, juga pemimpin Pulau Kelapa, seluruhnya.

Akan tetapi, Pulau Kelapa masih saja dihuni umat yang hobi bertengkar. Kadang-kadang pertengkaran menajam, saling tak bertegur sapa lebih dari hitungan minggu. Saat suasana mulai agak tenang, pertengkaran bisa tiba-tiba meruncing, kemudian saling berlepas diri cenderung tak peduli. Di lain waktu, pertengkaran sampai kepada saling tuduh dan saling laknat dulu-duluan masuk neraka.

Kita yang mungkin bukan lulusan perguruan tinggi agama, yang sebetulnya ingin berusaha serius belajar agama, akhirnya hanya tergugu sendiri. Mengapa kita bisa lebih nyinyir dan galak kepada saudara sendiri? Mengapa tangan kita mudah sekali menampari saudara sendiri? Mengapa lisan kita seperti lupa pada kalimat-kalimat kasih sayang yang diajarkan Rasul? Siapa sosok yang sebenarnya kita tiru?

Tahun 90-an kita bersekolah di SD inpres, tetapi guru agamanya tak pernah galak, menampar-nampar, atau berlisan kasar kepada kawan kita yang sama sekali tak tahu cara shalat dan mengaji. Bapak guru yang badannya kurus, hatinya penuh cinta membimbing tata cara wudhu dan shalat. Ia hanya ingin muridnya selamat. Ibu guru yang cuma lulusan sarjana agama dalam negeri Pulau Kelapa amat gigih mengajarkan huruf hijaiah beserta makhrajnya. Sesekali diselingi dengan kisah pembelaan para sahabat terhadap Nabi, juga kasih sayang Nabi untuk umat di masa depan yang sama sekali belum dikenalinya.

Demikianlah ceritanya. Para penyeru persatuan umat yang kesulitan memberi teladan bersatu mungkin bukan karena enggan atau tak pernah memberi teladan. Mereka sesungguhnya amat mencintai, mendambakan, lagi mengusahakan persatuan umat.

Aduhai, jangan-jangan memang ada yang kurang pas dengan dasar seruan kebersatuannya. Ada yang kurang lengkap disampaikan dari sekadar siyasah, khilafah, atau sunah. Atau jangan-jangan masih ada pembacaan persoalan yang lebih mendasar yang terlewat tanpa sadar, tak kita telaah dengan benar. Atau bisa jadi ada ulama berwibawa yang tak kita kenali sehingga perkataan dan cara pandang mereka tak pernah bisa kita turuti—telanjur yakin pada ulama sendiri.

Kebersatuan yang hadir sering kali karena adanya musuh bersama. Niatnya menjadi kurang lempeng. Bersatu dengan memusuhi. Kebersatuan macam itu hanya akan bertahan sampai musuh kalah atau bubar. Habis itu, kita ikut-ikutan bubar dan malah berseteru lagi.

Kebersatuan itu jangan pula hanya dilihat dari kacamata ekonomi, politik, qunut/enggak qunut, atau tahlil/enggak tahlil. Perbedaan dan keragaman di dalam umat ini perlu dikenali dan didudukkan secara tepat pada tempatnya. Kalau belum bisa memahami, jangan main hantam kromo: beda berarti bukan sodara!

Apalagi kalau sampai mazhab dalam fikih dianggap sumber perpecahan. Alamak! Justru ketika kita tahu cara memperlakukan para ulama agung berwibawa itu dan mengetahui posisi kita dibandingkan mereka, kita yang akan tertunduk-tunduk, tak berani secuil pun menyingkirkan pendapat mereka apalagi menuduh mereka adalah sumber perpecahan. Kita harus belajar mengenal dan mengakui kewibawaan yang menjadi tabiat yang sudah Allah tetapkan di alam semesta ini. Kita yang bodoh, kok ulama yang dituduh memecah belah?

Semoga kita masih punya waktu untuk bisa saling berangkulan dan belajar mengenal agama secara hakiki disertai dengan kegigihan yang panjang. Semoga pula Allah bukakan dan lembutkan sekaligus jauhkan hati dari kekelaman dan kedengkian kepada saudara-saudara kita. Semoga kita akan setia saling menghormati sekaligus saling bela. Karena jika kita memukuli saudara sendiri, itu sama dengan merontokkan badan sendiri.





Tulisan Terkait (Edisi Politik)

Populer

IKLAN BARIS