• Ikuti kami :

Turunan Nabi, Sarung, dan Silat

Dipublikasikan Jumat, 10 Februari 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Sebenarnya, apa hubungan antara sarung dengan silat? Main silat pake sarung itu masalah. Tidak dosa memang, namun berbahaya. Sarung membatasi langkah si pesilat kala adu tanding. Lantas apa hubungannya turunan Nabi dengan kedua hal itu?

Tahun 2010, saya diajak seorang teman yang anak Betawi menyambangi temannya di bilangan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Di sana kami berjumpa dengan seorang turunan Nabi Suci. Turunan itu di tanah Betawi dan beberapa tempat lainnya disebut dengan habib, di tanah Sumatra disebut dengan sayyid. Habib itu bertempat tinggal di Tebet, Jakarta Selatan. Ia sengaja bertamu ke sana, mau berjumpa dengan murid pengajiannya, temannya teman saya itu. Oleh tuan rumah, kami dijamu makan malam sederhana. Sayur asem, jengkol-petai, ayam goreng, dan sambal. Habib lahap betul makannya.

Selesai makan, kami berbincang-bincang tentang agama. Atau lebih tepatnya Habib yang berbincang tentang agama, dan kami mendengarkan. Hanya sesekali kami campur omongan, itu juga berupa pertanyaan. Dengan langgam ber-e-e yang kental, Habib meneruskan tausyiahnya tentang kisah Nabi, tentang kehidupan, tentang jodoh, dan banyak macam.

Unik memang, ia menggunakan kata panggil ane untuk dirinya dan ente untuk lawan bicaranya. Dua kata itu sebenarnya derivasi dari kata ana dan anta/antum dalam Bahasa Arab. Entah kenapa, orang Arab sesampainya di bumi Betawi kepeleset lidahnya hingga tidak lagi taat kepada ilmu tajwid bahasa Arab. Seperti orang pribumi yang sering kepeleset menyebut setrika menjadi triskaan. Ber-e-e menjadi ciri khas orang Arab tanah Betawi, terjerumus langgam dialek pribumi. Diterusi pula oleh pribumi, digunakan mereka dalam perbincangan kesehariaannya.

Hingga sampailah pada pembicaraan tentang silat. Temannya teman saya yang satu lagi dikenal sebagai salah satu guru silat tanah Betawi. Beksi, nama silat itu. Pendiri Beksi adalah Lie Ceng Ok dari Kampung Dadap, Tangerang. Dari namanya saja kita sudah tahu keturunan mana dia.

Salah seorang anak Habib belajar silat kepada si guru yang sudah saya sebut tadi. Habib melontarkan anjuran Nabi Suci tentang bergulat, memanah, berenang, dan lain sebagainya. Habib melihat bergulat itu sebagai bela diri. Di sini pembahasan mulai menarik. Habib senang anaknya diajarkan silat, yang kalau dalam bahasa Betawinya maen pukul. Ia memuji kawan guru silat itu. Bagi Habib, belajar silat itu menjalankan anjuran njitnya (njit/jid adalah sebutan untuk kakek dalam tradisi turunan Arab Betawi), Nabi Suci SAW, dan melestarikan kebudayaan Betawi.

Sembari menyenderkan tubuh besarnya di dinding ruang tamu rumah, ia meneruskan tausyiahnya. Habib merasa kegerahan. Memang saat itu meskipun malam hari, hawa udara panas. Tausyiah terus lanjut, sambil itu Habib melepas jubahnya, tinggal kaus putih berlengan agak panjang yang biasa disebut orang Betawi baju pangsi, atau baju kampret. Di pinggangnya tersemat ikat pinggang seperti di dalam film “Si Pitung”-nya Dicky Zulkarnaen. Sabuk si Pitung itu mengikat sarung yang terurai dari pinggang ke mata kaki. Sarung.

Kaum sarungan. Istilah ini sempat terkenal khususnya pada era pemerintahan Orde Baru di bawah Soeharto, presiden saat itu. Istilah kaum sarungan diidentifikasi sebagai masyarakat yang kumuh, tertinggal dari kemajuan, bodoh, dan tidak memiliki guna bagi bangsa. Ternyata stigma macam ini sudah ada semenjak zaman kolonial dahulu. Sarung, di mata kaum kolonial, menjadi simbol kepapaan dan kebodohan. Sarung, di mata kolonial pula, adalah simbol ketertinggalan.

Kaum sarungan, meskipun ternyata tidak ilmiah, diidentifikasi sebagai orang-orang desa yang menempuh pendidikan agama di madrasah-madrasah. Berlainan dengannya, kaum yang sebut saja masuk kategori  bercelana pantalon, menempuh pendidikan di sekolah-sekolah formal milik Belanda seperti MULO dan HIS. Era itu, manusia yang menempuh pendidikan model ini dianggap sebagai manusia yang beradab.

Hingga akhirnya, Hadji Oemar Said Tjokroaminoto membalikkan pandangan kolonial tentang sarung seratus delapan puluh derajat. Dimaknai oleh Pak Tjokro, sarung kemudian naik pangkat menjadi simbol manusia yang unggul.

Sarung adalah salah satu khazanah budaya dari peradaban Melayu. Di tanah Betawi, sarung menjadi pembeda antara kaum kolonial dan asing dengan pribumi. Sebab, mana ada Meneer (tuan) dan Juffrow (nona) yang sarungan. Habib itu, yang saya tahu, bukan satu-satunya turunan Arab yang memakai sarung. Di Tanah Abang, di Mampang, di Kwitang, saya juga sering melihat orang-orang berhidung mancung besar biasa menggunakan sarung sebagai pakaian kesehariannya. Apalagi kalau ke langgar (mushalla) atau masjid. Biasa. Sarung bukanlah sesuatu yang asing buat mereka.

Menjelang bulan Ramadhan hingga tanggal 1 Syawal, sarung menjadi bagian penting dari ritual masyarakat Muslim. Iklan-iklan tentang sarung gentayangan di televisi. Beragam corak dan mereknya. Mulai dari gajah yang baru belajar ngerangkak sampai yang berlabel buah-buahan sekeranjang. Begitu dekatnya sarung dengan tradisi keagamaan kita.

Tanah Abang, sebagai pusat tekstil di Jakarta (bahkan terbesar di Asia Tenggara, katanya) tidak sepi dari sarung-sarungan. Tidak perlu sampai di blok pasar, di deretan Masjid al Makmur Tenabang (bahasa orang sana dalam menyebut Tanah Abang), seberang Sekolah Islam Jami’atul Khair sudah berderet pertokoan pakaian. Bermacam-macam dijual di sana. Salah satunya sarung. Deretan toko itu umumnya dimiliki dan dikelola oleh orang-orang turunan Arab dari Tenabang dan sekitarnya.

Tidak hanya pengguna, mereka juga penjual sarung.

Soal sarung dan silat sudah menjadi budaya para turunan Arab. Bersama dengan nasi briyani (biryani) dan nasi kebuli—yang seharusnya menggunakan beras basmati aslinya, kemudian diganti sama beras pera di sini—sarung dan silat bahu membahu ikut ambil bagian dalam tradisi budaya Betawi. Juga unsur-unsur kebudayaan lainnya ikut serta menambah khazanah kebetawian.

Mengenai habib, atau dalam bentuk jamaknya haba’ib, memang punya tempat tersendiri di hati masyarakat Betawi. Islam sebagai agama yang dianut etnis ini diajarkan dan disebarluaskan oleh kelompok haba’ib ini. Mereka tidak semata sebagai turunan Nabi yang dihormati oleh masyarakat di tanah Betawi. Yang lebih penting lagi adalah mereka sebagai guru yang mengajarkan agama dan kehidupan yang agamis kepada orang-orang di tanah Betawi. Silsilah tradisi keilmuan ulama-ulama Betawi tidak dapat dipisahkan dari silsilah guru-murid para haba’ib ini. Soal ini dijelaskan oleh Ahmad Fadli H.S. dalam tesis masternya yang berjudul Ulama Betawi: Studi tentang Jaringan Ulama Betawi dan Kontribusinya terhadap Perkembangan Islam Abad Ke-19 dan 20 yang kemudian dibukukan dengan judul yang sama.

Maka, turunan Nabi dan Betawi seperti satu tubuh yang tidak dapat terpisah. Saling memengaruhi dan saling menerima pengaruh hingga membentuk ikatan identitas yang unik. Jadi, tak heran kalau Habib asal Tebet itu suka pake sarung dan seneng anaknya diajarin maen pukul.

Tulisan Terkait (Edisi Peranakan)

IKLAN BARIS