• Ikuti kami :

Toleransi Tersandung "Pancasila"

Dipublikasikan Rabu, 21 Mei 2014 dalam rubrik  Perbendaharaan Lama

Toleransi dan Pancasila kita dibajak. Setelah Orde Baru tumbang dan Reformasi mendorong keterbukaan, beberapa kalangan mencekoki kita resep kerukunan dari Barat bernama pluralisme. Para penganjurnya berargumen gagasan itu senapas dengan Pancasila yang ber-bhinneka tunggal ika.

Pluralisme mengasumsikan semua agama menuju kebenaran yang sama. Agama-agama diseragamkan, melebur dalam dalam wadah pluralisme itu. Padahal setiap agama punya bangunan kebenarannya masing-masing. Lantas untuk apa menganut satu agama? Bukankah itu jadi kehilangan makna? Dan di mana keberagaman itu kalau semua agama dianggap “sama”?

Mereka seperti lupa kerukunan beragama masyarakat Indonesia sudah dibangun sejak berabad-abad lalu tanpa rumusan pluralisme. Dan kita membuktikan bisa hidup berdampingan dengan cara sendiri tanpa harus meniadakan kebenaran masing-masing agama. Tafsir keliru atas Pancasila justru jadi sandungan toleransi.

Buya HamkaJika saat ini kita menghadapi retorika kosong pluralisme, di masa lalu, Orde Baru mengerdilkan toleransi atas nama stabilitas dan keamanan. Demi “Pancasila” versi Orde Baru, “toleransi” dipaksakan harus ikut cara tertentu. Hal ini digambarkan Buya Hamka dalam rubrik Dari Hati ke Hati, majalah Panji Masyarakat tahun 1969. Dalam esainya, Buya Hamka mengupas pertentangan-pertentangan yang justru tidak toleran akibat “toleransi” model begitu.

Namun akhirnya, saran ulama sekaliber Hamka diabaikan. Orde Baru malah makin menjadi dengan “toleransi”-nya. MUI, yang diketuai Buya Hamka, sampai mengeluarkan fatwa bahwa perayaan Natal dan Idul Fitri bersama haram hukumnya. Pemerintah meminta fatwa itu dicabut. Singkatnya, Buya Hamka membuat keputusan legendaris itu: mundur dari posisi ketua Majelis Ulama Indonesia.

Berikut kami sajikan tulisan Buya Hamka untuk kita renungi.

***

Toleransi, Sekularisme, atau Sinkretisme

Tahun 1968 yang baru kita lalui adalah tahun yang luar biasa. Di tahun 1968, kita berhari raya Idul Fitri sampai dua kali, yaitu 1 Januari dan 21 Desember 1968.

Maka timbullah inspirasi pada beberapa orang kepala jawatan dan juga pada beberapa orang menteri Kabinet Pembangunan, dan keluarlah perintah supaya peringatan halal bi halal Idul Fitri dan hari Natal digabungkan jadi satu. Diadakan pertemuan serentak di satu tempat, biasanya di jawatan-jawatan, dan departemen-departemen: “Lebaran-Natal”. Maka tersebutlah perkataan bahwasanya bapak Kepala Jawatan atau Bapak Menteri atau Bapak Jenderal memulai sambutan beliau, bahwa demi kesaktian Pancasila yang wajib kita amalkan dan amankan, dalam Lebaran-Natal ini kita menanamkan dalam hati kita, sedalam-dalamnya, apa arti toleransi. Dan diaturlah acara mula-mula membaca Al-Quran oleh seorang pegawai yang pandai “mengaji”, kemudian itu diiringi oleh seorang pendeta atau pastor yang sengaja diundang, dengan membaca ayat-ayat Injil, terutama yang berkenaan dengan kelahiran “Tuhan” Yesus. Yesus Kristus Juru Selamat Dunia, Anak Alah yang Tunggal, tetapi Dia sendiri adalah Alah Bapak juga, menjelma ke dalam tubuh Santa Maria yang suci, untuk kemudian lahir sebagai manusia.

Tentu saja yang lebih banyak hadir dalam pertemuan Lebaran-Natal itu adalah orang-orang Islam daripada orang-orang yang beragama Kristen. Si orang Islam diharuskan mendengarkan dengan penuh khusyu bahwa Tuhan Alah beranak, dan Yesus ialah Alah. Sebagaimana tadi orang-orang Kristen disuruh mendengar tentang Nabi Muhammad SAW dengan tenang, padahal mereka diajarkan oleh pendetanya bahwa Nabi Muhammad bukan nabi, melainkan penjahat. Dan Al-Quran bukanlah kitab suci, melainkan buku karangan Muhammad saja.

Kedua belah pihak, baik orang Kristen yang disuruh tafakur mendengarkan Al-Quran, atau orang Islam yang disuruh mendengarkan bahwa Tuhan Alah itu ialah satu ditambah dua sama dengan satu, semuanya disuruh mendengar hal-hal yang tidak mereka percayai dan tidak dapat mereka terima. Kemudian datanglah komentar dari protokol, bahwa semuanya itulah yang bernama toleransi, demi kesaktian Pancasila!

Dan sebagai penutup, disuruh ke muka seorang kiai membaca doa. Seluruh hadirin yang Islam membaca amin. Pihak Kristen duduk berdiam diri, dan kita tahu apa yang terasa dalam hatinya, yaitu muak dan mual. Kemudian naik pula yang pendeta menyebut doa-doa hari Natal, dan semua orang Islam berdiam diri saja, dan kita pun tahu apa yang ada dalam hati mereka.

Pada hakikatnya mereka itu tidak ada yang toleransi. Mereka kedua belah pihak hanya menekan perasaan, mendengarkan ucapan-ucapan yang dimuntahkan oleh telinga mereka. Jiwa, raga, hati, sanubari, dan otak tidak bisa menerima. Kalau keterangan orang Islam bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi akhir zaman, penutup sekalian rasul, jiwa raga orang Kristen akan mengatakan bahwa keterangan orang Islam ini harus ditolak, sebab kalau diterima, kita tidak Kristen lagi. Dalam hal kepercayaan, tidak ada toleransi.

Sementara para pastor dan pendeta menerangkan dosa waris Nabi Adam, ditebus oleh Yesus Kristus di atas kayu palang dan manusia ini dilahirkan dalam dosa, dan jalan selamat hanya percaya pada cinta dalam Yesus. Telinga orang Islam muntah mendengarkan.

Bertambah mendalam orang-orang yang beragama itu meyakini agamanya, bertambah muntah terlinganya mendengarkan kepercayaan-kepercayaan yang bertentangan dengan pokok akidah agamanya. Barulah mereka menerima semuanya itu dengan toleransi kalau agama itu tidak ada pegangannya lagi.

Lantaran itu maka kalau dengan menggabungkan Lebaran dengan Natal, Muhammad SAW menjemput syariat sembahyang, lalu turun lagi ke bumi menyampaikan perintah itu, jika misalnya pula berdekatan tanggalnya dengan Mi’raj Nabi Isa, yang menurut kepercayaan Kristen bangkit dari kubur setelah tiga hari, lalu naik ke langit dan kini duduk di sisi kanan Alah, Bapanya yang di surga. Kalau hal-hal seperti ini diadakan untuk toleransi, demi kesaktian Pancasila, atau demi mengamalkan dan mengamankan Pancasila, dengan sungguh-sungguh kita katakan bahwa ini bukan toleransi, melainkan memaksa kedua belah pihak jadi orang munafik, mengangguk-angguk menerima hal yang tak masuk di akal—dengan sengaja dan diatur—supaya membuktikan toleransi.

Baru-baru ini Pimpinan Pusat Ikatan Pemuda Muhammadiyah sudah menjelaskan bahwasanya doa bersama dalam hari peringatan tidaklah dibolehkan dalam ajaran Islam. Doa demikian pun tidak akan dapat diterima karena doa adalah ibadah dan ada sendiri ketentuannya.

Orang Islam meminta kepada Tuhan Allah Yang Satu, yang tidak ada syarikat bagi-Nya, sedang pastor dan pendeta akan berdoa meminta kepada Alah Bapak, Alah Putera, dan Alah Rohul Kudus.

Semangat toleransi yang sejati, yang logis, yang masuk akal ialah ketika orang Islam berdoa, orang Kristen meninggalkan tempat berkumpul. Dan ketika pastor berdoa kepada Tiga Tuhan, orang Islam keluar.

Zaman akhir-akhir ini sudah ada gejala toleransi paksaan itu, dalam hal-hal resmi atau tidak resmi. Untuk tenggang-menenggang, seorang kiai disuruh baca doa dan untuk menunjukkan bahwa pemerintah berlapang dada, ditambah lagi dengan doa orang Katolik. Sesudah itu dengan doa Protestan, sesudah itu dengan doa Hindu-Bali, dan dengan doa secara Buddha.

Orang tidak memperhitungkan bagaimana perasaan dari pemeluk agama itu sendiri, atau orang yang tekun utuh dalam agama yang dipeluknya. Terutama orang Islam yang 85% bangsa Indonesia terdiri dari mereka.

Yang menganjurkan doa bersama, atau perayaan Lebaran-Natal, atau barangkali nanti Natal-Maulid, bukanlah orang yang mempunyai kesadaran agama, melainkan orang-orang sekuler, yang baginya masa bodoh apakah Tuhan satu atau beranak, sebab bagi mereka agama itu hanya iseng! Atau orang sinkretisme, yang mencari segala penyesuaian di antara segala yang berbeda, lalu dari segala yang sesuai itu mereka membuat sesuatu yang baru.

Sinkretisme inilah yang menyebabkan timbulnya agama Shiwa-Buddha di zaman dahulu di Jawa Timur. Sinkretisme ini pulalah yang menyebabkan orang Hindu asli di India menuhankan sapi, dan Hindu-Bali di Indonesia mengganyang daging sapi. Dan Keduanya bisa akur saja, demi sinkretisme cara Indonesia, cari saja yang sesuai dan bikin sesuatu yang baru.

Gejala seperti ini yang kita lihat sekarang. Dengan setengah paksaan dianjurkan doa bersama, ibadat bersama, kebaktian bersama di antara orang-orang berlainan kepercayaan, dan dikatakan itulah semangat Pancasila! Sehingga disadari atau tidak, Pancasila boven alles, di atas dari semua agama, dan orang-orang yang sama sekali tidak mengamalkan satu agama merasa dirinya pemimpin tertinggi, melebihi ulama dan pendeta, kiai dan pastor. Dan barang siapa yang tidak menyetujui, dituduh anti-Pancasila dan tidak toleransi, dan tidak menunjukkan “kepribadian” Indonesia.

Selama pena ini masih bisa menulis dan mulut masih bisa berkata, kita katakan terus terang: “Bukan begitu yang toleransi!”

Bahkan itu adalah merusak agama, memaksa orang menelan sesuatu yang berlawanan dengan inti kepercayaannya. Dan pemuka-pemuka agama yang sadar akan tetap menolaknya. Kita bukanlah menolak Pancasila. Sejak Pancasila diasaskan pada 25 tahun yang lalu, kita sudah menyatakan tidak keberatan.

Tetapi kita tegaskan bahwasanya keselamatan dan keamanan Pancasila itu hanya akan terjamin, apabila umat yang beragama khususnya umat Islam taat setia melaksanakan agamanya, bukan disuruh pindah dari agamanya menuju suatu kekaburan yang dinamai Pancasila. Dan bukan disuruh membuat suatu macam upacara, kebaktian, doa, dan sebagainya bersama-sama dengan pemeluk agama lain yang berlainan akidah dan kepercayaan.

Orang agama lain itu sendiri pun tidak akan dapat menerima suatu upacara baru yang tidak ada dalam agama itu. Dan ini hanya akan bisa dilakukan oleh pemeluk-pemeluk agama yang tidak punya pendirian, yang lupa tanggung jawabnya di hadapan Tuhan karena hendak mengambil muka atasan.

Sehingga pernah terjadi, seorang pembicara di dalam pertemuan besar mengatakan bahwa Nabi Isa disalib, padahal ia pemuka Islam. Dan pernah terjadi seorang kiai membaca doa di hadapan umum, dan doa itu diambil dari “Khutbah Gunung”, pidato Yesus Kristus dalam Injil yang beredar sekarang. Demi toleransi, kiai tidak membaca lagi doa yang warid dari ajaran Rasulullah SAW.

Tentu orang-orang itu dapat pujian atasan dan disambut dengan tepuk tangan oleh orang-orang Kristen, tetapi dia tidak sadar bahwa dengan apa yang dinamainya “toleransi” itu dia telah mengorbankan akidah agamanya.

Tulisan Terkait (Edisi Lama)

IKLAN BARIS