• Ikuti kami :

Tiga Sumbangan Islam Terhadap Perkembangan Bahasa Melayu

Dipublikasikan Kamis, 05 Maret 2015 dalam rubrik  Tafakur

Bahasa merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dengan bahasa manusia menyampaikan gagasan, berkomunikasi, berpendapat, berpikir, dan menyusun konsep-konsep penting. Tanpa bahasa, manusia tak akan hidup.

Bahasa pun berperan penting dalam perkembangan suatu peradaban. Bahasa adalah sarana untuk menyampaikan ide dan konsep-konsep segala yang wujud. Bahasa adalah rumah bagi yang ada, begitu kata Martin Heidegger.Konsep tentang agama, Tuhan, filsafat, seni, dan ilmu pengetahuan hanya dapat tersampaikan melalui perantara bahasa.

Kuntjaraningrat memasukkan bahasa sebagai salah satu unsur universal yang ada dalam setiap peradaban. Jadi, setiap peradaban atau paling tidak kebudayaan pasti memiliki bahasa. Begitu pula dengan Melayu. Bahasa Melayu merupakan alat yang menjadi dasar terbitnya berbagai pemikiran tentang agama, Tuhan, alam, ilmu pengetahuan, dan sebagainya di dunia Melayu.

Masuknya agama Islam ke wilayah Nusantara memiliki peranan penting dalam perkembangan bahasa Melayu. Setidaknya ada tiga sumbangan penting Islam terhadap bahasa Melayu. Pertama, penggunaan huruf hijaiyah (atau lebih dikenal dengan huruf Arab Jawi) berbahasa Melayu. Kedua, penggunaan bahasa Melayu dalam pembahasan filsafat, agama, dan tasawuf. Dan ketiga, sumbangan kata-kata yang memiliki konsep penting ke dalam bahasa Melayu.

alimSumbangan Islam kepada bahasa Melayu yang pertama adalah pengenalan huruf Arab Jawi. Sebelum Islam datang, budaya tulis-menulis di tanah Melayu tidak begitu marak sehingga catatan-catatan perjalanan bangsa Melayu sebelum Islam sulit untuk ditelusuri. Memang, selain huruf Arab Jawi, orang Melayu pernah mengenal dan menggunakan huruf lain, misalnya huruf Pallawa yang terdapat dalam Prasasti Aceh yang bertarikh 1380. Akan tetapi, dengan huruf Arab Jawilah bangsa Melayu mulai menggiatkan budaya tulis-menulis.

Islam tiba di tanah Melayu tidak hanya membawa konsep agama dan Ketuhanan Yang Esa (tawhid) semata. Islam pun membawa budaya tulis-menulis dengan menggunakan huruf Arab. Budaya tulis ini telah melahirkan bermacam kitab yang berisi berbagai macam ilmu. Kitab-kitab ini biasa disebut ahli filologi sebagai naskah Melayu.

Dalam perkembangannya, orang-orang Melayu menambahkan lima huruf baru yang sesuai dengan lidah mereka dan tidak terdapat dalam fonologi orang-orang Arab. Huruf-huruf itu adalah ca ( چ), nga ( غ ), pa (ف ), ga ( ک), dan nya (  ن  ). Penambahan huruf ini membuat hampir semua bunyi kata lisan dalam bahasa Melayu dapat dituliskan dalam huruf Jawi.

Perkenalan orang-orang Melayu dengan huruf Jawi membuat budaya tulis-menulis tumbuh pesat di tanah Melayu. Oleh karena budaya tulis inilah, sekarang kita dapat menelusuri dan menikmati karya-karya pujangga Melayu dahulu. Syair, hikayat, pantun, gurindam, bahkan karya-karya ilmiah seperti ilmu perbintangan banyak yang ditulis menggunakan huruf Arab Jawi.

Maraknya budaya tulis-menulis ini dapat terlihat dari jumlah naskah Melayu yang tersebar di berbagai negara, di antaranya di perpustakaan Universitas Leiden. Pada tahun 1974 Ismail Husain memperkirakan bahwa jumlah naskah Melayu di perpustakaan Universitas Leiden mencapai 1.500 naskah. Sementara, di Indonesia naskah Melayu banyak disimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI). Data dari katalog PNRI menyebutkan bahwa naskah Melayu koleksi PNRI berjumlah 1.346 (2006).

Jumlah tersebut menunjukkan kekayaan keilmuan orang Melayu pada kisaran abad ke-14 sampai abad-19. Huruf Jawi telah memberikan sumbangan yang sangat penting bagi perkembangan bahasa Melayu. Dengan hadirnya huruf Jawi, bahasa Melayu mengalami perkembangan pesat. Bahasa Melayu bukan hanya diucapkan semata, tetapi telah digunakan untuk menulis surat, ilmu filsafat, pelajaran agama, dan lain sebagainya. Orang Melayu pun lebih mudah mempelajari bahasanya karena hadirnya huruf Jawi ini.

Sayangnya, hari ini kajian terhadap naskah-naskah Melayu ini kurang memadai dilakukan oleh kaum Muslimin. Kajian terhadap naskah Melayu lebih banyak dilakukan oleh para orientalis dan kemudian para ahli filologi dari berbagai universitas. Tentu saja para akademisi ini mengkaji bermacam naskah Melayu ini dengan cara pandang yang bukan Islam.

Sumbangan Islam yang kedua yaitu penggunaan bahasa Melayu dalam pembahasan tasawuf, filsafat, dan ilmu-ilmu lainnya. Ulama-ulama Islam terdahulu banyak menerjemahkan karya-karya monumental peradaban Islam ke dalam bahasa Melayu. Terjemahan Al Qur’an ke dalam bahasa Melayu pun sudah dilakukan pada masa itu.

Salah satu karya terjemahan yang terdaftar dalam katalogus naskah Melayu PNRI yaitu terjemahan kitab Ihya Ullumidien (Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama) karya Hujjatul Islam Imam al-Ghazali. Sayangnya, tidak diketahui siapa penerjemah kitab tersebut. Pun dengan Bidayatu-L-Hidayah yang menurut beberapa kalangan diterjemahkan oleh Syeikh Abdush-Shamad al-Falimbani. Masih banyak karya terjemahan dari bahasa Arab yang berisi berbagai disiplin ilmu, yang ditulis dalam bahasa Melayu. Mulai dari ilmu perbintangan, ilmu kesehatan, kitab fikih, tafsir mimpi, karya sastra, dan lain sebagainya.

Ulama-ulama Melayu juga memperkenalkan ilmu kalam, filsafat, dan tasawuf ke dunia Melayu. Bahasa pengantar yang digunakan oleh para ulama tersebut tentu saja bahasa Melayu. Nuruddin ar-Raniri, Hamzah Fanshuri, Abdurrauf Singkili, dan Abdush-Shamad al-Falimbani merupakan sebagian ulama Melayu yang membahas ilmu kalam, filsafat, dan tasawuf.

Ajaran-ajaran Ibnu Arabi (560-620 H) telah banyak dipelajari di Aceh pada abad ke-17 M. Hamzah Fanshuri, Syamsuddin as-Sumatrani, dan Nuruddin ar-Raniri merupakan tiga ulama yang banyak membahas ajaran Ibnu Arabi. Sementara, Abdush Shamad al-Falimbani banyak memperkenalkan ajaran Imam al-Ghazali. Dua karya al-Falimbani, Sayr as-Salikin ila ‘Ibadah Rabb al-‘Alamin dan Hidayah as-Salikin fi Suluk Maslak al-Muttaqin, berisi ajaran ilmu kalam dan tasawuf Imam al-Ghazali.

Penggunaan bahasa Melayu dalam pembahasan ilmu-ilmu yang luhur tersebut telah memberikan nuansa lain terhadap bahasa Melayu. Bahasa Melayu menjadi bahasa yang ilmiah. Bahasa Melayu mampu menjelaskan konsep ketuhanan yang rumit dan pelik. Berkat para ulama pula, bahasa Melayu mencapai taraf yang tinggi, sebagai bahasa yang mampu digunakan dalam pengkajian ilmiah.

Sumbangan Islam yang ketiga yaitu, penambahan kata-kata yang memiliki konsep penting ke dalam bahasa Melayu. Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar dalam penyebaran ilmu-ilmu Islam memberikan dampak yang baik bagi bahasa Melayu. Bahasa Melayu menjadi kaya dengan kata-kata penting seperti wujud, insan, ilmu, alam, adil, adab,  rakyat, hayat, akhlaq, makhluq, serta masih banyak lagi yang lainnya.

Sebagai contoh kata ilmu yang berasal dari bahasa Arab ilm. Di dalam kata ilm tersimpan corak epistemologis yang khas. Bagaimana cara mengetahui, apa itu pengetahuan, dan apa saja sumber pengetahuan bagi manusia merupakan konsep yang terdapat dalam kata ilm.

Kata ilm berasal dari akar a-l-m, yang juga merupakan akar dari kata alam dan alamat. Makna kata alamat ialah tanda atau ciri atau tapak yang memberi pengetahuan tentang sifat sesuatu yang meninggalkan tapak tersebut.

Oleh karena itu, alam merupakan tanda, ciri, atau tapak dari yang menciptakannya. Dapat ditarik kesimpulan bahwa ilmu dapat diperoleh dengan memikirkan tanda-tanda (alam) yang menyampaikan pengetahuan dari yang ditandakan itu.

Kata ilmu, alam, dan alamat digunakan dalam bahasa Melayu sampai hari ini. Kata-kata tersebut telah menambah perbendaharaan kosakata Melayu. Orang Melayu pun mengenal konsep tentang ilmu dari kata-kata

Sumbangan Islam terhadap bahasa Melayu sangatlah besar. Tiga hal di antaranya dibahas dalam tulisan ini. Sebenarnya masih banyak sumbangan Islam terhadap bahasa Melayu yang belum tergali dengan baik. Kajian tentang Islam dan kebudayaan Melayu memang sangat luas.

Penelitian lebih lanjut sangat diperlukan guna mengetahui peran Islam di dunia Melayu. Kejayaan Islam di tanah Melayu perlu dipelajari dengan teliti guna mengembangkan peradaban Melayu di masa mendatang.

Walahu’alam bishowab. 

Tulisan Terkait (Edisi Lama)

IKLAN BARIS