• Ikuti kami :

Tentang Para Pahlawan dan Masa Lalu Kita

Dipublikasikan Rabu, 12 November 2014 dalam rubrik  Tafakur

Awal abad ke-20 sering dinisbatkan sebagai zaman mula hadirnya kesadaran nasional di tanah ini. Kesadaran dari orang-orang yang menghuni kepulauan ini untuk bersatu dalam sebuah nation yang mandiri, terlepas dari yang kolonial. Zaman tumbuhnya “kesadaran nasional”, begitu untuk mudahnya. Atau zaman ketika perasaan keindonesiaan mulai tumbuh pada bangsa kita.

Sekilas ini ialah sebuah pembaharuan yang baik di tanah ini. Sebuah cara pandang baru yang dianut orang-orang, yang telah mendorong dan kemudian melahirkan Indonesia. Akan tetapi, patut direnungkan pandangan Syed Muhammad Naquib al-Attas berikut ini:

Kebudayaan Barat telah menyelundupkan menyerang hati sanubari kita, jiwa kita, dan caranya menghasilkan keadaan demikian ialah bahwa sewaktu bangsa-bangsa Barat menjajahi negara-negara kita mereka telah menjalankan dua tindakan penting yang membawa kesan besar pada nasib kita kini:

Pertama ialah memutuskan Kaum Muslimin daripada ilmu pengetahuan mengenai Islām dengan secara lambat laun menerusi sistem pelajaran.

Kedua ialah memasukkan secara halus ke dalam sistem pelajaran itu faham ilmu Barat dan unsur-unsur, nilai-nilai, dan faham serta konsep-konsep Kebudayaan Barat yang akan sedikit banyak menggantikan unsur-unsur dan nilai-nilai dan faham serta konsep-konsep Islām, dan memutuskan hubungan kebudayaan Islām di kalangan Umat Islām seluruhnya (al-Attas, 2001. Hlm. 47).


Jika kita rasa-rasai, hadirnya “kesadaran nasional” di awal abad ke-20 yang lalu itu memanglah berasal dari orang-orang bangsa kita yang terdidik secara Barat. Hanya saja, bukan sekadar semangat kemerdekaan yang mereka usung. Diam-diam mereka pun mengangkut cara pandang Barat ke negeri ini. Kaum terpelajar Barat inilah yang menggelontorkan kemoderenan dan sekaligus berupaya meninggalkan masa lalu. Kaum terpelajar Barat inilah yang pada mulanya hendak menciptakan suatu kebaruan pada bangsa ini. Mereka yang hendak memisahkan diri, menarik garis tegas antara masa lalu dan masa kesadaran nasional itu.

Tuan Alisjahbana (Sutan Takdir Alisjahbana atau STA) dalam sebuah tulisan bertajuk “Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru: Indonesia-Pra Indonesia” jelas menyatakan hal itu. Baginya, pahlawan-pahlawan yang telah berjuang di tanah ini sebelum abad ke-20 bukanlah pejuang nasional, sebab ide nasionalisme saat itu pun belum ada.

Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Teungku Umar dan lain-lain telah dijadikan orang Pahlawan Indonesia. Borobudur telah menjadi bukti keluhuran Indonesia di masa yang silam, musik gamelan telah menjadi musik Indonesia, buku Hang Tuah sudah menjadi buku hasil kesusastraan Indonesia.

Padahal ketika Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Teungku Umar dan lain-lain itu berjuang dahulu belum ada, belum terbau-bau perasaan keindonesiaan. Dipenogoro berjuang demi Tanah Jawa itu pun agaknya tiada dapat kita katakan bagi seluruh Tanah Jawa. Tuanku Imam Bonjol bagi Minangkabau, Teungku Umar bagi Aceh. Siapa yang dapat menjamin sekarang ini, bahwa baik Diponegoro, baik Tuanku Imam Bonjol, ataupun Teungku Umar tidak akan melabrak bahagian kepulauan ini yang lain sekiranya mereka mendapat kesempatan dahulu? (Alisjahbana dalam Achdiat: 1986. Hlm. 14).


Pendapat ini jelas berbeda dengan pandangan umat Islām. Bagi kaum Muslimin, siapa yang berjuang menegakkan kebenaran dan melawan kezaliman adalah pahlawan Islām. Apatah lagi mereka yang menegakkan keimanan kepada Allāh SWT di tanah ini. Tak terbantahkan lagi, mereka adalah pahlawan Islām sekaligus pahlawan bangsa. Tamar Djaja, seorang penulis dari Himpunan Pengarang Islam telah menyatakan hal ini secara tegas pada tahun 1956.

Kita mengenal nama2 jang mewangi waktu ini dari pahlawan2 kemerdekaan Indonesia zaman lalu seperti Diponegoro dari Djawa, Imam Bondjol di Sumatera, Sulthan Hasanuddin di Sulawesi, Ulupaha di Maluku, Pangeran Antasari di Kalimantan Selatan, Pangeran Ratu Idris di Kalimantan Barat, Teuku Tjik di Tiro, Tenku Umar di Atjeh, Sulthan Thaha di Djambi dan lain2 jang semuanya itu adalah pahlawan2 Islam jang telah berdjasa mempertahankan tanah air dari tjengkraman pendjadjahan (Tamar, 1956. Hlm 2).


Buya Hamka turut serta menegaskan hal itu dalam sebuah artikelnya berjudul “Diponegoro Pahlawan Islam”. Begini kata Hamka.

 Pangeran Diponegoro bersama pahlawan2 lain jang timbul di dalam Abad Kesembilan Belas, adalah penentang2 pendjadjahan, pedjuang-pedjuang jang namanja tertulis sebagai pembuka djalan bagi kita jang datang di belakang buat meneruskan perdjuangan mentjapai kemerdekaan Nusa dan Bangsa. Sebahagian besar dari pedjuang itu mempunjai tjita-tjita jang sama, jaitu mengusir pendjadjahan kafir dan menegakkan pemerintahan berdasar Islam. Pangeran Diponegoro, Imam Bondjol, Teungku Tjhik di Tiro, Pangeran Antasari di Kalimantan, boleh dikatakan samalah tjorak mereka, jaitu berdjuang dalam garis tjita-tjita Islam (Hamka, 1955. Hlm 5).


Perbedaan pendapat antara STA dengan Hamka dan Tamar Djaja di atas bukanlah hanya tentang perebutan pengakuan siapa itu pahlawan Indonesia. Lebih dari itu, perbedaan pandang itu juga menunjukkan bahwa kedua pihak memiliki pandangan yang berbeda tentang sejarah dan kebudayaan Indonesia. Bagi STA dan yang mengikutinya, Indonesia adalah sesuatu yang baru, yang terlepas dari masa lalu, dari Islām, dan harus mengikuti kedinamisan Barat. Mari kita lihat pendapat Tuan Alisjahbana itu, sengaja saya kutipkan agak panjang.

Sangat perlu dinyatakan dengan tegas, bahwa sejarah Indonesia dalam abad kedua puluh, ketika lahir suatu generasi yang baru di lingkungan Nusantara ini, yang dengan insyaf hendak menempuh suatu jalan yang baru bagi bangsa dan negerinya. Zaman sebelum itu, zaman sehingga penutup abad kesembilan belas, ialah zaman prae-Indonesia, zaman jahiliah keindonesiaan, yang hanya mengenal sejarah Oost Indische Compagnie, sejarah Mataram, sejarah Aceh, sejarah Banjarmasin dan lain-lain.

Zaman prae-Indonesia, zaman jahiliah Indonesia itu setinggi-tingginya dapat menegaskan pemandangan dan pengertian kita tentang lahirnya zaman Indonesia, tetapi jangan sekali-kali zaman Indonesia dianggap sambungan atau terusan yang biasa daripadanya. Sebab dalam isinya dan dalam bentuknya keduanya berbeda: Indonesia yang dicita-citakan oleh generasi baru bukan sambungan Mataram, bukan sambungan kerajaan Banten, bukan kerajaan Minangkabau atau Banjarmasin. Menurut susunan pikiran ini, maka kebudayaan Indonesia pun tiadalah mungkin sambungan kebudayaan Jawa, sambungan kebudayaan Melayu, sambungan kebudayaan Sunda atau kebudayaan yang lain (Alisjahbana dalam Achdiat: 1986. Hlm 16).


Hal ini ditegaskan lagi dalam tulisan beliau yang lain, yang berjudul “Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru”.

Apakah semangat Indonesia itu? Semangat Indonesia ialah kemauan yang timbul pada abad kedua puluh ini di kalangan rakyat yang berjuta-juta ini untuk bersatu dan dengan jalan demikian hendak berusaha bersama-sama menduduki tempat yang layak di sisi bangsa-bangsa yang lain. Kemauan dan cita-cita yang dijunjung dengan insyaf dan sedar serupa ini tidak pernah terdapat di lingkungan kepulauan ini sebelum abad kedua puluh (Alisjahbana dalam Achdiat: 1986. Hlm. 28).


Dasar bagi kebaruan itu tak lain, menurut STA, ialah semangat Barat.

 Demikian saya berkeyakinan, bahwa dalam kebudayaan Indonesia yang sedang terjadi sekarang ini akan terdapat sebagiaan besar elementen Barat, elementen yang dynamisch. Hal ini bukan berarti suatu kehinaan bagi sesuatu bangsa. Bangsa kita pun bukan baru sekali ini mengambil dari luar: kebudayaan Hindu, kebudayaan Arab (Alisjahbana dalam Achdiat: 1986. Hlm. 18).


Hal itu memang tidak disepakati semua pihak. Banyak kalangan menilai bahwa semangat Barat bisa menyeret bangsa ini kepada materialisme dan kekeringan batin. Sanusi Pane mengusulkan agar semangat Barat itu mesti dicampur dan diimbangi dengan semangat Timur. Sebab, jika Barat sangat mencintai kebendaan, Timur memberikan kesejahteraan batin. Perpaduan keduanya akan menghasilkan kebudayaan yang sempurna bagi Indonesia.

Haluan yang sempurna ialah menyatukan Faust dengan Arjuna, memesrakan materialism, intellectualism dan individualism dengan spiritualisme, perasaan dan collectivism (Sanusi dalam Achdiat: 1986. Hlm. 25).


Lalu bagaimana pendapat umat Islām? Cukup di sini disampaikan dua pernyataan dari Buya Mohammad Natsir dan Tjokroaminoto. Imaduddin Abdurahman menuturkan bahwa Buya Natsir pernah menyampaikan kepadanya tentang Barat dan Timur itu.

Bahwa bagi kita sebagai orang Islam, tidak mengenal alternatif Barat dan Timur dan sebagainya. Kita hanya mengenal satu alternatif ialah yang haq dan batil. Di mana kita harus selamanya tegak memertahankan yang hak (Imaduddin dalam Anwar [penyunting], 2001. Hlm. 70).


Mengenai Persatuan Indonesia. Apakah yang mendorong umat Islām di kepulauan ini untuk bersatu? Apakah yang seperti dikatakan oleh STA itu? Kesadaran baru akan sebuah nation yang merdeka itukah yang menyebabkan kita hendak bersatu? Umat Islām berbeda dalam hal ini. Dalam pidato di Kongres Syarikat Islam yang pertama di Bandung, 1916, Tjokroaminoto tegas menyatakan:

Kita cinta bangsa sendiri dan dengan kekuatan ajaran agama kita, agama Islam, kita berusaha untuk mempersatukan seluruh bangsa kita, atau sebagian besar bangsa kita (Roem, 1972. Hlm. 20).


Jelas sudah di hadapan kita perbedaan-perbedaan kaum yang murni terdidik pendidikan Barat dengan umat Islām dalam persoalan ini. Bahwa Indonesia yang dikehendaki dua pihak adalah Indonesia yang berbeda. Bahwa cara pandang terhadap masa lalu dari keduanya adalah bertentangan. Adapun memang secara politik itu disatukan oleh proses-proses resmi semacam sidang-sidang PPKI, sidang-sidang BPUPKI, Proklamasi 17 Agustus 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia hingga saat ini. Berani saya sampaikan bahwa bersatunya kita dengan kaum sekuler dalam satu ikatan NKRI ini barulah persatuan yang diakibatkan proses-proses politik. Tentang apa itu Indonesia secara kebudayaan, secara gagasan, kita belumlah sepenuhnya bersepakat.

Bagi kita, umat Islām Indonesia ialah sesuatu yang tak terpisah dengan sejarah para ulama, para wali, para sultan dan umat Islām di masa dahulu. Islām kita haruslah Islām yang menyambung sampai kepada baginda Rasūlullāh SAW. Kita tak dapat melupakan Teuku Umar, Pangeran Diponegoro, Raja Ali Haji, Hamzah Fanshuri, Abdurauf Singkel, dan para wali, sebagaimana mereka tak melupakan Imam al-Ghazālī, Imam Bukhāri, Imam Syafi’ī, Imam al-Asy’ari, para sahabat Nabi, dan tentu saja Rasūlullāh SAW.

Sejarah kita di Nusantara ini tersambung sampai kepada Baginda Nabi. Islām kita bukanlah Islām yang baru, melainkan merupakan ajaran yang telah dianuti kaum Muslimin selama berbelas abad. Oleh karena itu, perjuangan kita bukanlah perjuangan yang terlepas dan berdiri sendiri. Perjuangan hari ini adalah juga kelanjutan perjuangan para ulama dan pahlawan Islām di masa lalu. Yang kita lakukan di negeri Indonesia ini ialah menjalankan dan melanjutkan risalah Nabi.

Sementara kaum sekuler, kaum yang hendak memisahkan agama dan negara, tak berpandangan semacam itu. STA adalah seorang yang ekstrem, yang hendak mengajak bangsa ini untuk berkiblat kepada peradaban Barat. Namun pikirannya taklah tamat. Pada masa sekarang ini, kalimat-kalimat yang lebih halus telah diungkapkan oleh orang-orang sekuler untuk membawa negeri ini ke dalam pemisahan antara agama dan kehidupan dunia. Kaum semacam ini akan terus-menerus memisahkan sejarah kita dari masa lalu dan Islām. Atau yang seperti Sanusi Pane, menyambung-nyambungkan Indonesia ini dengan zaman Hindu-Buddha tanpa menghiraukan peran dan kehadiran Islām.

Orang-orang semacam itu akan terus menafsirkan Indonesia dengan cara-cara mereka. Mereka memang menghendaki Indonesia seperti yang mereka pikirkan. Mereka terus mengasah gagasan-gagasan sekuler tentang Indonesia dan selalu berusaha menerapkannya dalam berbangsa dan bernegara.

Kita tak bisa pula berpangku tangan. Ada dua hal yang dapat kita perbuat. Pertama, kita melanjutkan cita-cita perjuangan para pendahulu kita. Caranya sekarang ini adalah dengan menafsirkan Indonesia dengan cara pandang Islām. Menyatakan kehendak-kehendak kita atas Indonesia. Sebab, kita telah menangguk-reguk hasil perjuangan pahlawan Islām. Kemudian, mencoba mengetrapkan ajaran Islām, bukan hanya dalam kehidupan pribadi, melainkan juga dalam berbangsa dan bernegara. Kedua, kita harus beradab kepada para ulama dan pahlawan Islām. Jangan kita lupakan mereka, jangan kita tak pedulikan ikhtiar mereka. Pelajari apa yang telah mereka ikhtiarkan dan apa yang mereka pikirkan. Lanjutkan perjuangan mereka dan jangan merasa bahwa kita tidak terlibat dengan mereka. Doakan pula mereka dan para syuhada yang telah sangat berkorban bagi bangsa ini, yang karena pengorbanan mereka kita sekarang ini dapat menikmati alam kemerdekaan.

Sekarang ini perhatian kita umat Islām terlalu tercurah pada yang politik. Kita malas mengkaji karya dan ikhtiar pada ulama dan pahlawan pendahulu kita. Pada akhirnya dalam gelanggang politik pun kita seperti kehilangan arah, bahkan tak jarang kalah. Tak dapat kita menyatakan pendapat-pendapat kita dalam politik sebab kita pun tak tahu pasti apa sebenarnya kehendak kebangsaan kita. Ada baiknya kita renungkan pandangan Buya Hamka berikut ini.

Nyoto, pemimpin PKI terkenal, orang kedua sesudah Aidit, jarang absent bila terjadi kongres-kongres atau konferensi kebudayaan, sedang dari pihak Islam boleh dikatakan memandang sepi saja urusan itu. Mereka telah terpelet dalam urusan politik sehari-hari dan tidak ada yang mempunyai minat buat memasuki urusan itu (Hamka, 1979. Hlm. 10).


Pada akhirnya marilah kita mendoa kepada Allāh SWT, semoga para ulama, para pahlawan Islām pahlawan bangsa, serta para syuhada di negeri ini mendapatkan rahmat yang sebesar-besarnya. Dan semoga kita senantiasa diberikan kekuatan untuk tetap menyambung peradaban Nabi, sebagaimana para pendahulu kita menyemainya di negeri ini.

Jakarta, 1 Muharram 1436.

 

Daftar Pustaka

Achdiat K. Mihardja (Penyunting), Polemik Kebudayaan, Pustaka Jaya, Jakarta, 1985 (cetakan ke-4).

Anwar Harjono (Penyunting), Pemikiran dan Perjuangan Mohammad Natsir, Pustaka Firdaus, Jakarta, 2001 (cetakan ke-2),

Hamka, Kebudayaan Islam di Indonesia, Panitia Nasional Menyambut Abad XV Hijriah, Jakarta, 1979.

Mohamad Roem, Bunga Rampai dari Sejarah (I), Penerbit Bulan Bintang, Jakarta, 1977 (cetakan ke-2).

Syed Muhammad Naquib al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, ISTAC, Kuala Lumpur, 2001.

Artikel

Hamka, “Diponegoro Pahlawan Islam”, dalam majalah Hikmah Edisi 22 Januari 1955.

Tamar Djaya, “Peringatan 51 Tahun Pergerakan Islam Indonesia 16 Oktober 1905—16 Oktober 1956”, dalam Suara Masjumi edisi 20 Oktober 1956.

Tulisan Terkait (Edisi Lama)

Populer

IKLAN BARIS