• Ikuti kami :

Tauhid Ahlussunnah wal Jama’ah: antara Imam al-Asy’ari dan Ibn Taymiyyah
Bagian Ke 2

Dipublikasikan Sabtu, 19 Agustus 2017 dalam rubrik  Makalah


Tauhid Menurut Imam Ibn Taymiyyah
Ibn Taymiyyah menekankan bahwa tauhid yang wajib adalah tauhid uluhiyah yang bermakna “menyembah Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun sehingga ketaatan seluruhnya menjadi milik-Nya, dan tidak takut kecuali pada Allah, tidak berdoa kecuali pada Allah, dan Allah menjadi yang paling dicintai seorang hamba daripada segala sesuatu sehingga mereka mencintai karena Allah, membenci karena Allah, menyembah kepada Allah, dan berpasrah pada-Nya”.22 Pengertian tauhid ini memiliki dua aspek, keyakinan (i‘tiqadi) dan praktis (‘amali). Yang pertama disebut tawhid al-ma‘rifah wa al-itsbat,23 sedangkan yang kedua disebut tawhid al-‘ibadah, yang lebih lanjut lagi didefinisikan oleh Ibn Taymiyyah sebagai “menyatakan (tahqiq) kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah [dengan] bermaksud Allah dengan ibadah dan menghendaki-Nya dengan (ibadah) itu bukan selain-Nya”.24 Ibadah sendiri didefinisikan oleh Ibn Taymiyyah sebagai “nama untuk semua yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan, lahir maupun batin”.25

Reformulasi yang demikian ditujukan sebagai kritik atas formulasi “al-mubtadi‘un fi al-tawhid min ahl al-kalam”,26 yang menurut Ibn Taymiyyah membatasi makna ketuhanan (ilahiyyah) pada sifat mencipta (al-khalq), kuasa (al-qudrah), dahulu (al-qidam), dan semacamnya seraya abai pada esensi tauhid yang berupa pengesaan Allah dalam ibadah dan mengakibatkan mereka terjerumus dalam kesyirikan yang menafikan Islam.27

Secara lebih terperinci, Ibn Taymiyyah membagi tauhid ke dalam tiga jenis: (1) al-rububiyah, (2) al-uluhiyah, dan (3) al-asma wa al-shifat. Yang pertama bermakna meyakni bahwa Allah SWT adalah “Pencipta segala sesuatu, Tuhannya (Rabbuhu), Pemiliknya, tidak ada pencipta selain-Nya [...]. Segala apa yang ada, gerakan maupun diam, adalah dengan ketentuan, ketetapan, kehendak, dan cipta-Nya”.28 Hal ini didasarkan atas analisis terhadap kata al-Rabb yang dimaknai sebagai “yang menghidup-kembangkan (yu-rabbi) hamba-Nya, memberi bentuk, kemudian memberi petunjuknya pada semua keadaannya, ibadah atau lainnya”.29 Ringkasnya, tauhid ini dapat dibagi ke dalam dua kategori: (1) kemutlakan kekuasaan Allah SWT dan (2) kesempurnaan kasih sayang dan hikmah-Nya.30 Tauhid rububiyah ini, pada aspek tertentu, paralel dengan tauhid af‘al sebagaimana yang dijabarkan Imam al-Asy’ari. Keduanya merupakan konseptualisasi dari Tuhan dalam kemutlakan kuasa-Nya.

Yang kedua adalah tauhid uluhiyah yang didefinisikan sebagai penyembahan pada Allah tanpa penyekutuan.31 Karenanya, seseorang yang meyakini Allah SWT sebagai Pengatur dan Pencipta segala sesuatu (al-Rabb), tetapi menyembah yang lain, adalah orang menyekutukan Tuhan (musyrik) dalam penyembahan kepada-Nya.32 Hal itu karena kata al-Ilah bermakna “yang dipertuhan dan disembah dengan cinta, kepasrahan, pengagungan, dan penghormatan”33 yang berhubungan dengan perintah dan larangan, cinta, takut, dan harapan, sedangkan kata al-Rabb bermakna “yang menghidup-kembangkan (yurabbi) hamba-Nya, memberi bentuk kemudian memberi petunjuknya pada semua keadaannya, ibadah atau lainnya”34 yang berkonsekuensi kepasrahan dan penyerahan diri.35 Tauhid uluhiyah, dengan demikian adalah tauhid ibadah, karena yang dipertuhan (al-ma’luh) adalah yang disembah (al-ma‘bud).36 Ibn Taymiyyah menegaskan sentralitas tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah ini dengan menyatakan bahwa tauhid inilah yang “didakwahkan oleh Al-Quran dari pertama hingga terakhir dan semua kitab suci dan para utusan”37 dan juga “jantung keimanan dan awal serta akhir Islam”.38 Yang termasuk dalam pengertian ibadah, menurut Ibn Taymiyyah, adalah “semua kekhususan Tuhan, maka tidak (boleh) ditunduki selain-Nya, tidak (boleh) ditakuti selain-Nya, tidak (boleh) dipasrahi selain-Nya, tidak (boleh) dijadikan objek doa selain-Nya, tidak (boleh) sholat pada selain-Nya, tidak (boleh) puasa karena selain-Nya, tidak (boleh) bersedekah kecuali karena-Nya, dan tidak (boleh) dikunjungi untuk berhaji kecuali rumah-Nya”.39 Bagi Ibn Taymiyyah, tauhid uluhiyah berarti bahwa ibadah—segala perbuatan lahir batin yang diridhai Allah SWT—hanya boleh ditujukan kepada Allah SWT.

Dengan konsep tauhid uluhiyah ini, Ibn Taymiyyah mengkritik ulama kalam yang (dalam pandangannya) membatasi pembahasan tauhid pada tauhid rububiyah seraya abai terhadap tauhid uluhiyah yang justru merupakan inti tauhid. Kesalahan ini menggiring pada kesalahan lain, di antaranya: anggapan bahwa orang yang meyakini Allah SWT sebagai satu-satunya yang mampu mencipta alam dianggap telah bersyahadat, padahal kemampuan mencipta bukanlah makna dari al-Ilah, melainkan al-Rabb.40 Untuk membuktikan bahwa tauhid rububiyah tidak cukup, Ibn Taymiyyah menyatakan bahwa kaum musyrikin Arab mengakui keesaan Allah SWT dalam menciptakan langit dan bumi, tetapi itu tidak mengeluarkan mereka dari kesyirikan41 karena mereka menyekutukan-Nya dalam ibadah.

Yang ketiga adalah tauhid al-asma wa al-shifat. Maknanya adalah mengesakan Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya sebagaimana diriwayatkan dalam Al-Qur’an dan hadits, dengan mengafirmasi penjelasan dalam Al-Quran dan hadits dan menegasikan segala yang berlawanan dengan kemahasempurnaan Allah. Tauhid ini menafikan penggambaran sifat (takyif), pengingkaran sifat ketuhanan (ta‘thil), penafsiran dalil dengan makna yang salah (tahrif), penyerupaan dengan sifat makhluk (tamtsil).42 Tauhid ini, secara ringkas, adalah mengimani semua nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT tanpa penggambaran, penyerupaan, dan penyelewengan makna.

Beberapa Catatan
Elaborasi Imam Al-Asy’ari terhadap konsep tauhid merupakan tanggapan terhadap situasi teologis-intelektual zamannya. Ketika itu, banyak aliran-aliran yang menyimpang dalam akidah hadir di tengah umat. Hal ini terlihat dari cara pemaparan istilah tauhid dalam kitab-kitab Al-Asy’ari yang mayoritas merupakan tanggapan terhadap berbagai pandangan teologis yang menyimpang itu. Beberapa yang dapat disebut, di samping yang telah dikutip sebelumnya, adalah diskusi mengenai konsep tauhid dalam kitab al-Ibanah yang ditujukan sebagai respon terhadap golongan Jahmiyyah.43 Hal yang sama dapat ditemukan dalam kitab Al-Maqalat, istilah tauhid didiskusikan untuk membantah pandangan Syi‘ah Rafidlah, Khawarij, Murji’ah, dan Mu‘tazilah.44

Ibn Taymiyyah, yang hidup kurang lebih lima abad sesudah Imam al-Asy’ari, berada dalam posisi yang lebih baik untuk mengonseptualisasi tauhid secara lebih terperinci dan sistematis. Hal ini didorong pula oleh apa yang dipandang Ibn Taymiyyah sebagai korupsi dalam bidang akidah yang disebabkan oleh (1) penggunaan rasio yang dalam pandangan Ibn Taymiyyah tidak proporsional45 dan (2) infiltrasi filsafat dalam ilmu kalam.46 Secara terperinci, Ibn Taymiyyah memaparkan bantahannya terhadap konsep tauhid ulama kalam yang dibagi dalam aspek dzat, shifat, dan af‘al.47 Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Ibn Taymiyyah berusaha untuk memperbaiki apa yang dipandang sebagai penyimpangan dalam wacana teologis ahlussunnah wal jamaah,48 walaupun sejumlah pandangan Ibn Taymiyyah memunculkan kritik dari berbagai ulama yang sezaman dan yang hidup sesudahnya. Dinamika seperti ini adalah sesuatu yang wajar dan harus disikapi dengan tepat dan beradab.

Terdapat beberapa perbedaan yang dapat dicatat dari perbandingan kedua konsep tauhid yang sudah dipaparkan tersebut. Di antaranya adalah perbedaan keduanya dalam formulasi tauhid. Konsep tauhid Al-Asy’ari yang dalam pembentukannya lebih banyak merespon kemunculan aliran-aliran non-ahlussunnah saat itu lebih bersifat intelektual-rasional, suatu kecenderungan yang diwarisi oleh pengikutnya. Ibn Taymiyyah, di sisi lain, yang menerima warisan keilmuan yang lebih lengkap dan bereaksi terhadap dinamika yang ada pada zamannya membangun konsep tauhidnya secara relatif lebih detail dan lengkap dengan mengaitkan aspek kognitif dan praktis.49

Perbedaan lainnya dapat dilihat dari cara pandang terhadap hubungan antara kata al-ilah dan al-rabb. Konsep tauhid Al-Asy’ari dan para pengikutnya menegaskan bahwa keduanya memiliki makna dasar berbeda, tetapi memiliki pengertian (madlul) yang sama sehingga tidak terbayangkan mengimani salah satunya beserta mengingkari terhadap yang lain. Ringkasnya, setiap yang beriman terhadap keesaan Allah SWT sebagai al-rabb pasti beriman kepadanya sebagai al-ilah di saat yang sama.

Al-Taftazani (w. 792/1390), misalnya, menulis “Hakikat tauhid adalah meyakini ketiadaan sekutu [bagi Allah SWT] dalam ketuhanan (ilahiyah) dan kekhususan-Nya. Dan tidak ada pertentangan antara umat Islam bahwa pengaturan alam semesta, penciptaan jasad, dan keharusan disembah (istihqaq al-ibadah) dan dahulunya sifat yang ada pada dzat-Nya semuanya adalah di antara kekhususan [sifat ketuhanan].”50 Dalam pernyataan ini, Al-Taftazani menekankan bahwa pengaturan alam dan penciptaan (yang menurut Ibn Taymiyyah merupakan tauhid rububiyah) serta keharusan yang disembah (yang menurut Ibn Taymiyyah merupakan tauhid uluhiyah) adalah satu kesatuan. Keimanan terhadap salah satunya memustahilkan pengingkaran pada yang lain.51 Salah satu argumen yang untuk membuktikan hal ini adalah surah Ali ‘Imran ayat 80, Al-Naml ayat 25, dan Al-Syu‘ara ayat 97 dan 98.

Di sisi lain, Ibn Taymiyyah menekankan sentralitas tauhid uluhiyah seraya menggambarkan kemungkinan keterpisahannya secara praktis dari tauhid rububiyah. Beliau, misalnya, mengutip kasus kaum musyrikin yang bertauhid hanya dengan tauhid rububiyah saja seraya berargumen dengan surah Luqman ayat 25 dan surah al-Mu’minun ayat 86 dan 87.52 

Dengan demikian, salah satu perbedaan penting dalam konsep tauhid kedua madzhab ini adalah dalam memandang hubungan antara tauhid uluhiyah dan rububiyah. Al-Asy'ari dan pengikutnya menjadikan keduanya saling melekat sehingga tidak terbayangkan apabila seseorang yang mengimani salah satunya juga mengingkari yang lain. Bagi Ibn Taymiyyah, setiap orang yang bertauhid uluhiyah pasti bertauhid rububiyah, tetapi tidak sebaliknya.

Namun demikian, terdapat beberapa poin yang disepakati oleh keduanya dalam persoalan tauhid. Secara umum, kesepakatannya: keduanya mengimani semua berita yang datangnya dari Al-Quran dan Hadits yang mendeskripsikan Sifat Allah SWT. Hal itu tidak berdampak pada penyamaan dengan makhluk. Selain itu, keduanya sepakat bahwa Allah SWT Maha Esa, tak ada yang menyerupai-Nya dalam sifat dan nama-Nya, tak ada yang membantunya dalam mencipta dan mengatur seluruh makhluk. Keduanya juga bersepakat dalam hal-hal lain yang dijelaskan dalam Al-Quran dan hadits yang pasti makna dan transmisinya (qath‘iy al-dalalah wa al-wurud).

Hal-hal semacam inilah yang semestinya menjadi pegangan bersama, dipelajari dan diamalkan bersama oleh semua Muslim, baik yang awam maupun yang alim. Adapun persoalan lain yang tidak bersifat demikian, semestinyalah hanya dibicarakan oleh mereka yang otoritatif di bidangnya atau para pencari ilmu yang sungguh-sungguh. Melakukan hal yang sebaliknya dapat menimbulkan apa yang sering kali kita saksikan sepanjang sejarah umat Islam hingga hari ini, yakni ketegangan bahkan permusuhan yang disebabkan oleh perdebatan orang-orang yang tidak tahu.

Walhasil, dalam membaca dan menimbang pandangan para ulama, selayaknya seorang Muslim bersikap adil dan beradab, yang salah satunya adalah dengan menjadikan yang pasti benar (qathi‘iy al-dalalah wa al-wurud min al-Kitab wa al-Sunnah) sebagai pemersatu umat Islam. Kita harus menempatkan para ulama yang otoritatif sebagai pihak yang berhak berbicara di wilayah selainnya. Sekali lagi, hal ini untuk menghindari potensi perpecahan yang amat mungkin timbul dari penekanan yang tidak proporsional terhadap aspek zhanniyat dari agama dengan adanya keterlibatan orang awam.

Tentu saja hal ini tidak berarti meniadakan perbedaan. Sebaliknya, perbedaan bukan saja terjadi, melainkan juga merupakan bagian integral dari sejarah panjang umat Islam. Lebih jauh lagi, beberapa peristiwa di zaman Nabi SAW menunjukkan bahwa beberapa bentuk perbedaan pemahaman, yang berakibat perbedaan perbuatan, bukan hanya terjadi, tapi juga diizinkan.53 Namun, yang perlu digarisbawahi adalah bahwa perbedaan itu harus muncul dari ijtihad seorang ulama yang punya otoritas untuk berijtihad.

Wallahu a‘lam.

Tulisan Terkait (Edisi Menata Fikiran)

IKLAN BARIS