• Ikuti kami :

Tahu Bulat, Bakso Kotak, dan Salaman Raja Salman

Dipublikasikan Kamis, 09 Maret 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Mame de
Shikaku de
Yawaraka de

(Kata-kata Jepang)

Pada zaman dahulu kala, orang-orang Timur Asing (Cina dan Jepang) telah memulai tradisi tak makan daging. Mereka hanya memakan makanan nabati. Vegetarian kalau istilah orang sekarang. Salah satu masakan yang mereka olah demi memperolah protein nabati ialah tahu, atau tofu kata orang Jepang.

Tahu berasal dari sari kacang kedelai yang diendap-padatkan dan kemudian dipotong berbentuk persegi. Cuplikan kata-kata Jepang di atas, menunjukkan bahwa pada awalnya tahu memang berbentuk segi empat. Kata-kata itu saya telusuri dengan penuh saksama ketika mempelajari sejarah tahu dengan pendekatan kajian pustaka selintas lalu. Sumber pustaka yang saya cari berasal dari mesin pencari dalam jaringan bernama Google. Terjemahannya kira-kira begini:

Dari kedelai
Segi empat
Lembut

Saya sudah tanyakan kepada kawan saya yang lulusan Sastra Jepang, UI, perkara kata-kata itu beserta artinya. Menurut kawan saya itu, artinya memang begitu. Dengan demikian anggaplah kita dapat menyimpulkan dengan saksama bahwa tahu itu memang terbuat dari kedelai, berbentuk segi empat dan bertekstur lembut. Pada keseharian kita pun telah menemukan bahwa tahu memang berbentuk segi empat.

Sementara bakso, berbentuk bulat. Hal ini saya temukan setelah menelusuri sejarah bakso dengan cara melakukan kajian pustaka selintas lalu melalui mesin pencari dalam jaringan bernama Google.

Konon, kata Google, bakso berasal dari daerah Fuzhou, Cina, pada penghujung Dinasti Ming. Ada seorang anak baik hati bernama Meng Bo yang ingin membantu ibunya menikmati daging. Ibunya telah tua dan tak kuat lagi mengunyah daging. Meng Bo kemudian menumbuk daging babi sampai halus dan membuat bulatan-bulatan kecil untuk direbus. Jadilah bakso, arti harafiahnya: gilingan daging babi!

Sampai di sini kita perlu menyepakati bahwa pada awalnya tahu berbentuk segi empat dan bakso berbentuk bulat. Sebagai peradaban yang baik dengan tetangga, terbuka, dan rajin bersilaturahim, peradaban Melayu-Nusantara pun pada akhirnya mengenal bakso dan tahu.

Tentu saja dengan segera kita mencoba membuat bakso dan tahu dengan cara kita. Lidah kita telah mahir mencecap macam-macam bumbu. Dari mana pun asalnya masakan itu, nenek moyang kita telah melakukan ubah-suai yang saksama terhadap masakan-masakan itu sehingga cita rasa Indonesia tetap kukuh di masakan seasing apa pun.

Bakso telah “diislamkan”, masih bulat tapi dagingnya telah berbeda. Bakso tak lagi menggunakan daging babi, diganti daging sapi. Jadilah bakso sapi.

Sedangkan, tahu di negeri kita telah mengalami ubah-suai seperlunya sehingga mengandung rasa yang lebih gurih dan kulitnya berwarna kuning. Ini menunjukkan kreativitas bangsa kita yang memang tinggi dan tidak menelan mentah-mentah resep bangsa lain. Boleh dikatakan, bangsa kita ialah bangsa yang memiliki kedaulatan rasa yang mumpuni.

Meski demikian, tahu tetaplah berbentuk kotak dan bakso tetap berbentuk bulat. Bakso tetaplah bakso sebagaimana tahu tetap tahu. Bakso ialah daging giling yang dicampur tepung serta bahan lain, dibulatkan, kemudian direbus. Daging yang dikeringkan namanya dendeng, sementara yang ditusuk dan dibakar namanya sate. Tahu ialah sari kacang kedelai yang diendap-padatkan, bukan yang dijamurkan. Kedelai yang dijamurkan namanya tempe, yang difermentasi namanya taoco, dan yang diperah sarinya kemudian dicampur gula merah namanya kecap.

Namun, pada zaman ini telah terjadi perubahan yang radikal, yang tak pernah terjadi dalam sejarah. Selama tiga abad kehadiran tahu dan bakso, baru pada abad ini kita menemukan tahu berbentuk bulat dan bakso berbentuk kotak. Tahu bulat, bakso kotak. Yang satu digoreng dadakan, yang satu disajikan hangat. Inilah zaman ketika bentuk bakso dan tahu dapat dipertukarkan.

Perubahan bentuk tahu dari kotak menjadi bulat telah berdampak sistemik. Kata-kata Jepang di atas perlu diperbetulkan kembali. Bait terkenal itu (setidaknya terkenal menurut Google) telah kehilangan ketepatannya pada kenyataan tahu hari ini. Oleh karena itu, karya sastra tersebut perlu dirombak seluruhnya. Paling tidak ditambah.

Dari kedelai
Segi empat atau bulat
Lembut
Digoreng dadakan
Lima ratusan
Wakwaw

Pun halnya dengan perubahan bentuk bakso. Anak-anak kita memerlukan lagu yang telah dipersesuaikan dengan kenyataan kebaksoan kita hari ini.

Bakso bulat seperti bola pingpong
Jadi anak jangan suka bohong
Kalau bohong digigit kambing ompong

Tambah satu bait:
Bakso kotak seperti bentuk dadu
Jadi ayah jangan jadi duda
Kalau duda mainnya sama janda

Mungkin bait tambahan tersebut tampak kurang bermoral bagi anak-anak. Tapi ingat, tidak ada catatan sejarah yang menyatakan pernah ada seorang anak yang berbohong kemudian digigit kambing ompong. Kawan-kawan saya semasa kecil banyak yang berbohong dan tidak pernah digigit kambing ompong. Mereka tak pernah punya kambing. Kalaupun ada kambing, kambingnya bergigi, tidak ompong. Dan kambing yang ompong akan kesulitan menggigit sesuatu.

Lagu kanak-kanak memang sering kali kehilangan moralitas dan kewajarannya bagi kanak-kanak. Dari sini kita dapat melihat dampak sistemik dari perubahan bentuk bakso dan tahu yang tertukar.

Sampai di sini kita mafhum bahwa sesuatu itu menjadi sesuatu karena ada sesuatu yang membuatnya menjadi sesuatu. Tahu menjadi tahu karena ia merupakan sari kedelai yang diendap-padatkan, berbentuk kotak dan lembut (mengikuti kata-kata Jepang di atas). Tetapi tahu kemudian tetap menjadi tahu meski bentuknya bulat dan digoreng dadakan. Artinya, tahu tidak berubah menjadi tempe karena bentuknya.

Ketahuan sebuah tahu ditentukan dari bahannya (kedelai) dan cara membuatnya. Sekalipun tahu berbentuk segitiga, selama ia ialah sari kedelai yang diendap-padatkan, tahu tetaplah tahu. Kedelai tidak menjadi tahu ketika ia direbus dan diberi ragi. Itu tempe, bukan tahu.

Pun bakso, bulat atau kotak ia tetaplah bakso, bukan tekwan. Bakso menjadi bakso karena kebaksoannya. Meski tak berbentuk bulat dan tak berbahan daging babi giling, ia tetaplah bakso. Bakso sapi berbentuk kotak tetaplah bakso. Bakso kotak namanya.

Babi pun demikian. Ia tetap haram untuk dimakan. Sekalipun seekor babi jantan disunat sebelum disembelih, ia tetap haram. Babi tidak menjadi halal meski diberi merek Cap Onta dan dibeli Raja Salman.

Satu lagi, pengicuh tetaplah pengicuh meski ia bersalaman dengan Raja Salman.


Tulisan Terkait (Edisi Kuliner)

IKLAN BARIS