• Ikuti kami :

Strukturalisme-strukturalismean Perihal Busana

Dipublikasikan Senin, 08 Mei 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Konon katanya, segala sesuatu yang ada di dunia ini dapat dilihat sebagai sebuah struktur. Segala sesuatu terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan dan membangun keseluruhan. Struktur diyakini memiliki sistem berupa hubungan yang tertata antar unsur yang ada di dalamnya. Paling tidak begitulah yang bisa kita baca di beberapa buku dan Wikipedia.

Dalam hal berbusana, kita pun dapat melihat struktur dan sistem itu. Paling tidak kita dapat melihat sistem berbusana yang tersusun dari tutup kepala, penutup tubuh bagian atas (biasanya antara leher sampai pinggul), penutup tubuh bagian bawah (biasanya antara pinggul sampai mata kaki) dan alas kaki. Orang bisa menggunakan topi, peci, kupluk, caping, kerudung, jilbab dan lain-lain untuk menutup kepalanya. Sementara kaus, blus, kebaya, kemeja dan jas biasa kita kenakan untuk menutup badan bagian atas. Celana, rok, sinjang dan sarung ialah penutup badan bagian bawah. Untuk alas kaki, kita dapat menggunakan sendal, sepatu, terompah atau pun selop.

Seseorang dapat menggunakan peci, jas (dilengkapi dasi serta kemeja), celana panjang dan sepatu pada suatu waktu. Pada lain kali kita menemukan lelaki bercaping, berkaus, bercelana kotor dan tak beralas kaki. Atau kali lainnya kita melihat seorang perempuan paruh baya berkerudung, berkebaya, memakai sinjang (kain batik panjang khas Sunda) dan menggunakan kelom (selop untuk wanita, terbuat dari kayu). Pakaian lengkap dalam tiga kasus tersebut membentuk sebuah struktur berbusana. Fungsi utamanya tentu saja untuk menutup tubuh.

Tentu saja ada sistem tertentu yang menghubungkan peci, jas, dasi, kemeja, celana panjang dan sepatu. Pun pada kerudung-kebaya-sinjang-kelom dan caping-kaus-celana kotor-tak beralas kaki. Setiap unsur memiliki tempat tersendiri. Setiap unsur saling berhubungan dengan pola hubungan tertentu. Kita tahu peci-kerudung-caping ialah penutup kepala sementara jas (dilengkapi jas dan dasi) -kaus-kebaya ialah penutup tubuh bagian atas.

Kita melihat terdapat dua pola hubungan dalam tiga struktur di atas. Pertama hubungan antara peci-jas-celana-sepatu, kerudung-kebaya-sinjang-kelom dan caping-kaus-celana kotor-tak beralas kaki. Selain itu kita juga dapat melihat hubungan yang kedua, antara peci-kerudung-caping, jas-kebaya-kaus, celana-sinjang-celana kotor dan sepatu-kelom-tak beralas kaki. Iseng-iseng kita dapat menukar-nukarkan kedudukan masing-masing unsur dalam tiga struktur di atas. Kita dapat membayangkan seseorang yang bercaping, memakai jas, bercelana kotor dan ber-kelom. Atau kita dapat membayangkan pola lain, seorang lelaki tua memakai kerudung, jas, celana kotor dan sepatu. Dua struktur terakhir yang kita bayangkan itu dapat dipandang sebagai sebuah kejanggalan. Ada yang keliru, ada yang tak pas, ada ketidakwajaran dan boleh jadi ada ketakberterimaan dalam masyarakat kita.

Kekeliruan, ketak-pasan, ketakwajaran dan ketakberterimaan tersebut hadir karena kita mengenali hubungan sebuah tanda dengan makna tertentu dari suatu pola berpakaian. Peci ialah lambang kesalehan para lelaki, sementara kerudung simbol kesalehan kaum hawa. Caping biasa dipakai para petani. Sementara jas dan sepatu ialah pakaian para penggede. Hubungan antara tanda dan makna ini dahulu dianggap pasti dan ajeg.

Namun ada pula yang memandangnya sebagai sesuatu yang sementara dan nisbi. Satu pihak akan melihat pemakaian peci untuk bekerja sebagai kejanggalan, ketidaktepatan bahkan ketidaksopanan. Pihak lain merasa berhak menyatakan caping sebagai ciri petani, lambang nasionalisme atau apa saja. Satu pihak melihat hubungan antara tanda dan makna dengan statis sementara pihak lain melihat keduanya dengan lebih dinamis.

Dapat jadi, sebuah tata busana memiliki makna yang kukuh dalam sekian kurun waktu. Akan tetapi boleh jadi ada semacam penghabluran pada makna sebuah tata berbusana pada kurun berikutnya. Hal ini lah yang kerap kali kita lihat dalam keseharian kita. Jilbab yang menutup aurat sering dianggap sebagai tanda kesalehaan seorang muslimah. Sementara baju koko yang disepadukan dengan peci dan sarung ialah pakaian kesalehan seorang muslim. Tanda dan makna ini tentu saja dibangun melalui kurun waktu tertentu.

Kini orang mengganti sarung dengan pantalon dan tetap merasa saleh. Peci tidak hanya digunakan untuk shalat, tetapi juga untuk kampanye dan berjoget. Boleh jadi ada makna yang sama yang kini diperankan baik oleh sarung maupun oleh pantalon. Jika dulu orang pergi shalat dengan bersarung, kini orang boleh bersarung atau pun berpantalon. Peci juga bisa berubah makna, atau bertambah maknanya. Pada awalnya peci ialah penutup kepala lelaki yang digunakan ketika shalat. Kini boleh jadi peci bermakna menjadi penutup kepala yang digunakan untuk berjoget dan kampanye. Dulu kita menggunakan pakaian khusus untuk shalat, sekarang kita menggunakan pakaian apa saja untuk shalat. Asal menutup aurat.

Kita dapat saja menggeser-geser atau rubuh-merubuhkan simbol-simbol dalam berpakaian. Kita boleh menentang aturan umum dengan menggunakan jas dan dasi untuk mencangkul di sawah. Atau (kalau bisa) bersarung, peci, baju koko ketika berenang di laut. Simbol dan makna bisa kita pertukarkan dan kita main-mainkan secara liar. Kita dapat menggugat dan membongkar bermacam tanda sekalian dengan maknanya. Namun berlebihan dalam melakukannya akan mengantar kita pada ketak-khusyu-an, kekeringan akan makna.

Kita boleh saja memakai kaus dan celana untuk shalat dengan alasan kepraktisan. Akan tetapi bershalat dengan pakaian khusus yang hanya kita pakai untuk shalat ialah ikhtiar untuk menggapai kekhusyuan. Kita boleh jadi melihat lelaki berpeci-sarung yang bermaksiat, namun itu tak berarti seluruh lelaki berpeci-sarung ialah ahli maksiat yang munafik. Mungkin ada beberapa muslimah berjilbab yang fanatik, doktriner, eksklusif dan tak cerdas. Akan tetapi itu tak berarti semua muslimah berjilbab ialah para fanatik, doktriner, eksklusif dan tak cerdas.

Lebih jauh, beberapa orang dengan liar membongkar makna jilbab sebagai lambang kesalehan. Mereka berpendapat bahwa tak ada hubungan antara kesalehan dan jilbab. Bisa jadi ada perempuan tak berjilbab yang saleh dan bisa jadi ada perempuan berjilbab yang tak saleh. Mereka menolak hubungan antara jilbab dan kesalehan. Karena itu, alih-alih menjilbabi kepala mereka, orang-orang ini lebih memilih menjilbab hati mereka, entah dengan jilbab model apa.

                                                                                ***

                        “Kepala saya memang tak berjilbab, tetapi  hati saya senantiasa berjilbab”
                                                               -Anggap Saja Anonim-

                                                                                ***

Perangkat busana kita mungkin terdiri dari suatu struktur dan sistem tertentu. Unsur-unsur berbusana kita boleh jadi memiliki hubungan-hubungan tertentu. Dan keseluruhan sebuah pola berbusana boleh jadi membangun makna tertentu. Pada hari ini, penafsiran-penafsiran dengan cara-cara melihat keruang-waktuan sebuah tata busana sangat mewabah. Khususnya dalam pola berbusana kaum muslimin. Jilbab boleh jadi merupakan busana yang paling sering dibongkar-bongkar maknanya. Beragam pendekatan diupayakan hanya untuk menghasilkan bermacam pemaknaan (yang sering kali liar) terhadap jilbab.

Namun kadang, kaum muslim sendiri kurang pandai merawat tradisinya sendiri. Demi kepraktisan, keluwesan dan kedinamisan banyak tradisi yang kita tinggalkan dan kita tanggalkan. Termasuk tradisi berbusana. Kita terus-menerus menganggap beragam busana dalam tradisi kita sebagai sesuatu yang tak praktis, ribet dan tak dapat dipakai untuk menyusuri berbagai kegiatan yang memerlukan kepraktisan. Tentu saja kita boleh mengganti sebuah bentuk tradisi dengan bentuk tradisi lainnya. Kita boleh mengganti sarung dengan pantalon untuk melaksanakan shalat. Kita boleh shalat tak berpeci. Akan tetapi, kalau tak pandai-pandai, makna-makna yang terkandung dalam sarung dan peci bisa hilang. Kita akan mendangkal tanpa makna-makna itu. Kita hanya akan memiliki makna ala kadarnya, yang kadang tak cukup untuk menelusuri hari-hari yang semakin ruwet.

Akhirnya, kita perlu melihat busana dengan lebih bijak. Perlu difahami bahwa busana ialah bagian dari tradisi kita yang perlu kita jaga baik-baik. Bagi muslim pakaian bukan sekadar struktur penutup tubuh, ada yang lebih dari itu, pakaian ialah juga bentuk penghambaan kita pada Allah Yang Esa. Kita perlu waspada terhadap cara-cara pembongkaran makna terhadap tradisi berpakaian kita. Sehingga kita dapat teguh sekaligus lentur dalam menghadapi macam-macam wacana yang menimpa umat ini tak henti-henti. .


Tulisan Terkait (Edisi Pakaian)

IKLAN BARIS