• Ikuti kami :

Soal Perbedaan!

Dipublikasikan Jumat, 22 Juli 2016 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Pada suatu ketika, saya pernah diajak seseorang untuk mendakwahi kawan-kawan NU di sebuah wilayah. Saya tanya: “Apa yang ente maksud dengan dakwah?” Ternyata ada yang memahami dakwah sebagai mengajak orang lain masuk ke dalam kelompoknya.

Hal ini terjadi luas di negeri-negeri Muslim dan sering kali menjadi akar pertentangan yang dalam. Kita sering keliru mendudukkan mana wilayah partai, mana wilayah kelompok, mana wilayah jamaah.

Itu kekeliruan yang meratus tahun, khususnya ketika para modernis menganggap bermazhab (baik dalam fikih, kalam, apalagi dalam tasawuf dan filsafat) merupakan sesuatu yang tak perlu. Tak diajarkan Rasul Allah.

Akhirnya lahir generasi-generasi tak bermazhab. Alasan para modernis ialah kembali kepada Al Qur’an dan sunah. Rasulullah tentu saja tidak bermazhab. Siapa yang bermadzhab, ia tidak kembali ke mana-mana. Maka mereka menyimpulkan mazhab itu tidak diperlukan. Bahkan ada yang keras, menyatakan: yang bermazhab itu tempatnya di neraka. Saya berharap mereka sedang bercanda ketika bilang begitu. Kalau serius, ya urus sendirilah dunia-akhirat.

Tentu saja ada juga orang-orang yang keliru dalam memperlakukan mazhab. Ada orang yang memperlakukan mazhab macam agama. Ada yang menempatkan amalan khas tiap mazhab sebagai syariat. Namun, kekeliruan-kekeliruan itu harus dipandang sebagai kekeliruan dalam bermazhab, bukan hakikat mazhab itu sendiri.

Mazhab sebenarnya lahir sebagai bagian dari kekayaan dan kemampuan peradaban Islam dalam mendudukkan serta mengelola perbedaan. Keberagaman memang tak mungkin dihilangkan. Namun, selain keberagaman ada juga persatuan. Selain ada yang berbeda, ada yang sama. Selain ada yang berubah, ada juga yang tetap. Bagaimana mempertahankan persatuan, persamaan, dan ketetapan dalam keberagaman, perbedaan dan perubahan? Nah, itu salah satu alasan mengapa ada mazhab. Dulu.

Mazhab memang bisa saja dibid’ahkan, diharamkan, ataupun dihilangkan. Namun, perbedaan tidak. Dan tanpa mazhab kita rupanya bingung bagaimana menghadapi perbedaan. Kita tampak khawatir dengan perbedaan. Kita gusar pada yang berbeda. Kita kurang memahami atau malah tidak tahu kedudukan perbedaan dan bagaimana menyikapinya.

Perbedaan pandangan terhadap bagaimana seharusnya laku jari telunjuk pada saat bertahiyat tentu berbeda dengan perbedaan preferensi politik. Perbedaan antara Syiah dan Sunni, NU dan Muhammadiyah, PKS dan HTI, atau antara Pak Gulen dan Paman Erdogan tentu berbeda dengan perbedaan antara Islam dan Kristen. Apalagi dengan Viking dan The Jakmania. Jelas kedudukan setiap perbedaan itu berbeda. Walau di akar rumput kelakuan orang-orang dalam berbeda kadang sama saja. Baik anak-anak Viking dan The Jakmania ataupun yang itu.

Dalam masalah perbedaan ini ada juga yang menarik. Kawan-kawan lucu dari kalangan sekuler-liberal sering juga berceracau tentang perbedaan ini. Mereka sering bilang bahwa perbedaan antara agama itu hanya ada di taraf eksoteris, dalam hal laku keagamaan belaka. Di taraf esoteris, hakikat semua agama menyatu, perbedaan luntur seperti jenis jamu. Jadi mereka sangat yakin kalau semua pemeluk agama punya peluang yang sama untuk masuk ke dalam surganya Allah. Yakin betul mereka ini kalau surga dan Allah itu memang seperti yang mereka pikirkan.

Seyakin mereka pada tak terdamaikannya perbedaan-perbedaan yang ada dalam Islam. Bahwa Islam itu tidak tunggal, tidak ada tafsir yang utuh dan satu atasnya. Yang ada hanya keberagaman. Setiap penafsir dan pelaku Islam mengejawantahkan Islam hasil penafsirannya dalam hidupnya. Tidak ada Islam yang murni. Bahkan, Islam yang dijalani Rasul pun sering dikurangajari dengan disebut sebagai terlibat dengan hasrat Muhammad secara pribadi.

Jadi begitu kawan-kawan liberal itu, terutama liberal pemula tingkat pertama. Mereka yakin semua agama itu hakikatnya sama, seyakin bahwa perbedaan-perbedaan dalam Islam itu tak terdamaikan.

Namun, kita lupakan saja kawan-kawan liberal itu. Ada urusan yang lebih penting. Kita semua secara bersama-sama sedang gagal memahami perbedaan dan tiba-tiba saja menjarah perilaku The Jakmania dan Viking, khususnya di media sosial. Wilayah berantem tambah elek-elekan itu sebenarnya wilayah “ulayat” para pendukung kesebelasan sepak bola. “Adat” para pendaku dakwah Islam seharusnya lebih baik dari itu. Kegagalan mendudukkan taraf perbedaan berdampak pada kekeliruan dalam menyikapi perbedaan. Dan ini sebenarnya agak terkait dengan soal mazhab tadi.

Ketika kita telah keliru dalam mendudukkan perbedaan, akan lahir sebuah sikap yang lebih akut.

Beberapa kelompok, karena tidak dapat mengelola perbedaan, akhirnya berpikir untuk menyamakan semua Muslim di seluruh kawasan, bahkan di seluruh dunia. Artinya, semua Muslim harus masuk ke dalam kelompok mereka. Harus sama dan sekelompok dengan mereka. Sesuatu yang pada taraf
tertentu menyelisihi sunatullah.

Sebuah kelompok, misalnya, katakanlah Kelompok Palawija dari Desa Bedoyo (bukan nama sebenarnya), hanya bisa berhasil mencapai tujuan politiknya kalau dan hanya kalau semua orang Islam di Indonesia sudah masuk dalam Kelompok Palawija dari Desa Bedoyo tersebut. Kalau masih ada orang-orang yang bergabung dengan Kelompok Unggas-unggasan dari Desa Sebelah (juga bukan nama sebenarnya), tujuan Kelompok Palawija tidak akan pernah tercapai.

Yang terjadi adalah saling mendakwahi antara Kelompok Palawija dan Kelompok Unggas-unggasan, yang mengakibatkan kekecewaan di antara sebagian masing-masing kelompok dan akhirnya melahirkan Kelompok Ultra-Palawija dan Kelompok Ultra-Unggas-unggasan. Kelompok ultra-ultraan selalu lahir dari bermacam kekecewaan terhadap kelompok induknya, disertai ketidakmampuan untuk “berdialog” dengan kenyataan.

Tujuan-tujuan politik macam ini menjadi terlihat muskil karena di Indonesia ada orang-orang NU Madura. Bagaimana cara mengajak mereka masuk ke dalam kelompok lain? Perlu waktu berapa lama? Dan ngapain mereka di-tidak-NU-kan? Toh dengan menjadi orang NU pun, kalau mereka benar, mereka bisa masuk surga dan mendapat ridha Allah. Jadi yang bener ajalah.

Di beberapa negara, perbedaan-perbedaan yang tak terkelola tapi berkelanjutan ini menghasilkan pertentangan panjang dan bahkan peperangan antarsesama Muslim. Pertentangan yang telah mengeras berakibat saling bunuh dan pengafiran. Satu keadaan tak beradab yang memang menjadi ujian bagi Muslim hari ini. Kita buang-buang waktu dan tenaga berhantam tak ada artinya sesama kita.

Kita sesama Muslim adalah saudara. Saudara yang diikat iman, keyakinan terhadap Allah, dan kesatuan sebagai sesama umat Muhammad. Namun, kita juga ada dalam keberagaman, dan keberagaman ialah sebuah keniscayaan, sunatullah. Bagaimana kita bisa bersaudara dalam bermacam perbedaan yang ada? Di situ kita memerlukan kemampuan menakar rasa, pikir, sikap, dan kata. Kemampuan mengenali diri dan hubungannya dengan keseluruhan di luar diri. Kemampuan menempatkan diri. Orang-orang Melayu menyebut kemampuan ini sebagai “tahu diri”.

Di Turki, Mesir, Suriah, Irak, Palestina, dan beberapa tempat lain, Muslim sedang diuji untuk menghadapi perbedaan. Di negeri kita tentu ada juga sedikit-sedikit pengaruhnya. Sebab, saat ini selain sepak bola dan Pokemon, berantem juga sudah menjagat (sebuah ikhtiar dari beberapa pihak dalam pembahasa-Indonesiaan secara utuh kata globalize).

Mari kita berikhtiar untuk menyikapi penjagatan berantem-beranteman tersebut dengan baik dan benar seperti mana JS Badudu memperlakukan bahasa Indonesia. Perbedaan sebenarnya menyenangkan dan akan melahirkan laku-laku baru yang dinamis. Jika dulu kritik terhadap perilaku bermazhab (bukan terhadap mazhab itu sendiri sebenarnya) melahirkan sikap antimazhab, siapa tahu perbedaan harakah akhir-akhir ini juga melahirkan manusia-manusia baru nirharakah tak ultramazhab tetapi penuh dengan cinta. Muslim-Muslim berdaulat yang siap mengulur cinta pada Muslim lain dari golongan dan negara mana pun. Muslim nirharakah yang siap bekerja demi peradaban Islam yang sehat, yang akan bermanfaat untuk semua. Muslim yang banyak bekerja dan sedikit berantem.

Muslim nirharakah memang sering ditengarai sebagai Muslim yang terpisah dari kawanannya dan mudah diterkam serigala-serigala. Tentu saja postulat macam ini memang ditujukan kepada Muslim nirharakah berkelas kambing. Sebab, ada juga kemungkinan justru serigala yang akan diterkam Muslim nirharakah.

Tulisan Terkait (Edisi Lama)

Populer

IKLAN BARIS