• Ikuti kami :

Seruan Tulus untuk Para Bapak

Dipublikasikan Sabtu, 01 April 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Perbedaan Antara Bapaknya Anak-anak dengan Mesin ATM dan Tenaga Outsource

Pekan ini, NuuN.id berkesempatan melakukan wawancara sambil lalu kepada dua orang bapak muda yang baru memiliki seorang anak. Kami ingin menangkap potret para bapak muda dengan anaknya melalui obrol-obrol ala warung kopi. Tanpa perlu pemaksaan atau iming-imingan, kedua bapak ini terlihat berbinar ketika kami tanya-tanyai seputar kehidupannya sebagai bapak.  

Bapak yang pertama adalah seorang programmer yang cukup kondang di sebuah kota di selatan Pulau Sumatra. Sebagai orang yang biasa bekerja di balik layar, ia merasa tidak perlu mengumumkan jati dirinya. “Cukup cerita saya yang sampai pada para pembaca NuuN.id, nanti kalau disebar, ketahuan kalau hobi saya nge-hack. Lah, anak saya yang baru satu tahun empat bulan sedang diproyeksikan untuk jadi hacker, bisa gagal ini,” katanya sambil mulai menyesap kopi.

Bapak kedua adalah seorang sarjana dari univesitas terkemuka di Depok dan gemar melakukan berbagai jenis pekerjaan. Ia bukan hanya sangat dekat dengan putranya, tetapi juga menyempatkan diri mengurusi fanpage parenting di laman Facebook. Betul-betul sesempatnya. Kebalikan dari bapak yang pertama, ia sangat ingin namanya disebut dalam tulisan ini. Katanya, “Saya ini sudah kadung terkenal, sekalian saja umumkan”.

Namun demi perimbangan, kami memutuskan untuk tidak menyebutkan jati diri bapak kedua. Yang penting pembaca bisa mengenali sudut pandang bapak-bapak muda ini terhadap anak-anaknya. Jarang tho kita temui curhat bapak tentang anaknya. Kalau pembaca ingin menebak-nebak kedua sosok ini, tentu kami tak dapat melarang.

Begitu mengetahui kehamilan istrinya masing-masing, para bapak muda ini merasa amat senang dan bersyukur. “Dibilang senang, saya haru sampai ingin menangis, tapi walaupun menangis, ini tangisan syukur,” ujar bapak pertama. Anak pertama memang selalu jadi pengalaman pertama. Terutama soal segala kebahagiaannya. Selama kehamilan sang istri, kedua bapak ini mengaku tak pernah merasa kerepotan, saking bahagianya. Sekadar istri yang minta perhatian lebih, diusap-usap punggungnya, dan minta dikipasi tidak dirasakan sebagai sesuatu yang merepotkan. Paling ada sedikit was-was karena ingin menjaga janin di kandungan dengan baik.

Laju motor yang biasanya sampai 100 km/jam, jadi menurun drastis ke 30–40 km/jam, sampai harus melipir sabar di bagian pinggir jalan. Apalagi, di negeri yang pajaknya seperti tak cukup untuk menambal lubang jalanan begini. Jalanan berlubang sama banyaknya dengan reklame iklan. Mau protes dan update status negara tidak hadir bagi ibu-ibu hamil yang dibonceng motor,kesannya malah jadi pengeluh dan perengek. Maka sebagai calon bapak teladan, dada para bapak ini dibusungkan, dengan segala daya yang sudah diberikan oleh Tuhan, mereka berdua sekuatnya waspada agar guncangan sekecil apapun tidak perlu dialami istri dan janin.

Di antara momen paling mengkhawatirkan dari seluruh fase kehamilan adalah proses melahirkan. Saat itu, ada dua nyawa yang dipertaruhkan. Peristiwa mulia sekaligus menegangkan. Wafatnya sang ibu yang ikhlas terhitung syahid, wafatnya sang anak akan menjadi syafaat bagi kedua orang tua kelak. Tentu yang nyawanya sedang tak terancam, sang bapak, ada pada kondisi panik tapi harus tegar, cemas tapi harus kuat. Meskipun begitu, melihat istri kepayahan dan kesakitan, para bapak ini pun menguatkan pijakan kaki, mendukung istri yang tengah berjuang.

Saat itu, harapan para Bapak jadi amat sederhana, semoga keduanya sehat walafiat, lahir dengan selamat.

Setelah merasa lega dari urusan pertaruhan nyawa, saat-saat sang bapak berjumpa dengan anak pertama mereka juga menjadi saat yang paling dinanti dan mendebarkan. “Sebelum jadi Bapak, saya pernah bikin pengumuman ke orang-orang kalau saya belum pernah dan takut gendong bayi baru lahir. Ringkih begitu," kata bapak pertama sambil tertawa-tawa. “Tapi waktu pertama kali lihat buah hati sendiri, untuk beberapa saat saya lupa pernah bikin pengumuman macam begitu, langsung saya gendong,” lanjutnya. Rasa cinta sang bapak rupanya dapat mengalahkan khawatir dan takut.

“Kalau saya sih berani-berani aja gendong bayi. Malah gendongnya sembari disenandungkan lagu ini: cepatlah besar matahariku, menangis yang keras jaganlah ragu, tinjulah congkaknya dunia buah hatiku, doa kami di nadimu," cerita bapak kedua sambil bernyanyi dengan gembiranya. Begitulah kedua bapak ini menyambut kehadiran sang buah hati pertama. Dikasihinya sang bayi dengan pelukan mesra serta gendongan dan lantunan sayang.

Sebagai laki-laki yang memiliki pandangan jauh ke depan, mereka berdua memiliki kesamaan. Sama-sama ingin punya empat anak. Bapak pertama amat berusaha berdikari dalam hidupnya. Berencana punya empat anak dianggapnya jadi pilihan yang semoga berdaulat dan ideal atas sumber daya yang tersedia. “Punya dua anak itu program orang lain, tiga kayaknya kurang, lima kebanyakan,“ begitu selorohnya. Kalau bagi bapak kedua, ingin punya 4 anak itu alasannya sederhana saja, “Saya mau punya anak 4 biar nanti yang tahlilin ramai."

Dikaruniai anak laki-laki atau perempuan, bukan masalah bagi keduanya, tapi karena yang mengandung dan melahirkan adalah pekerjaan para istri, semoga angka itu sudah dinegosiasikan dan mencapai kesepakatan dengan seadil-adilnya.

Matahari semakin rendah ke ufuk barat. Obrolan kami bertambah hangat. Kali ini soal harapan baik dan doa-doa pada nama yang diberikan kepada anak-anak mereka. Bapak pertama dan istrinya amat mendambakan anak perempuan mereka memiliki mahkota kecerdasan di dalam dirinya. Selain dua kata lain, nama Aisha pun dipilih sebagai kata ketiga. “Maksudnya sih ingin menisbatkan pada Aisyah radiyallahu‘anh, putri Abu Bakar Ash Shidiq sekaligus istri Rasulullah SAW yang cerdas,” jelas bapak pertama dengan senyum lebar yang tak surut barang sesenti.

Kami mengangguk-angguk setuju. Beliau memang sosok wanita yang istimewa, hafal dua ribuan hadits, dan menjadi guru sekaligus ulama wanita pertama yang paling dijadikan rujukan ulama lain yang sezaman dan hidup setelahnya. Nama ini mengandung pesan yang amat dalam bagi seluruh perempuan di dunia, menjadi wanita cerdas itu adalah tanggung jawab dirinya sendiri.

“Anak saya dikasih nama begitu, moga-moga bisa punya keshalihan dan kealiman seperti dua ulama tersebut, juga setia jadi pengikut nabi,“ seru bapak kedua dengan takzim. Ia memang memberi nama depan Muhammad bagi putra pertamanya, diiringi dengan dua nama ulama sohor. Nama Muhammad sendiri tercatat sebagai nama yang diberikan oleh paling banyak oleh orang tua di dunia, mengalahkan nama Michael, kata Helmy Yahya di kuis “Siapa Berani?”. Meskipun Muslim belum jadi mayoritas di dunia, rupanya kebanyakan Muslim mengharapkan anak-anaknya memiliki sifat terpuji dan kemuliaan serta ketinggian derajat seperti Sang Junjungan.

Memberi nama Muhammad yang diiringi dua nama ulama sohor mungkin terdengar amat berat dan muluk. Ya, namanya juga doa. Untung sampai usia 2 tahun ini, sang anak tetap sehat bugar, selamat dan sejahtera. Konon orang dahulu kalau mendapati anaknya sakit-sakitan, “dibuanglah” sang anak ke tempat sampah. Keberatan nama dan membuang sial, kata mereka. Biasanya setelah itu sang anak tak lagi sakit-sakitan.

Allah menciptakan bayi dalam keadaan lemah dan selalu butuh pertolongan. Di rahim sang ibu ia menggantung. Tempat janin hidup selama 9 bulan 10 hari ini dinamakan rahim karena sebetulnya pada kerahiman Allahlah segumpal darah yang menjadi janin ini menggantungkan diri. Setelah lahir ke dunia ia masih tak berdaya. Amat bergantung kepada orang-orang di sekitarnya, terutama kedua orang tua. Jasa orang tua juga orang-orang di sekitar kita sebetulnya tak terhitung. Payahlah kita jika coba menghitung untuk membayar balik itu semua. Apalagi kalau kita hitung pula utang kehidupan dan kerahiman Allah pada kita. Sungguh tak tahu diri dan tak tahu malu kalau berani durhaka. “Walaupun bayi sangat tergantung sama kita, ngurus bayi itu enggak merepotkan, kok!” tiba-tiba bapak kedua memecah obrolan,“Yang merepotkan itu ibunya, kalau sedang minta tolong gantian ngasuh anak,” katanya melanjutkan dengan mimik serius.

Sambil tertawa karena selorohan bapak kedua, bapak pertama pun menyampaikan, “Yang berat itu sebetulnya gendong anak yang lagi sakit, apalagi pas maunya anak digendong cuma sama bapaknya aja.”

Sebelum tiba waktunya berangkat kerja, kedua bapak ini menyempatkan diri bermain dengan buah hati mereka. Paling sering digendongi, dipeluki, dan diciumi, sebelum kerja musti setor muka ke anak. “Kerja jadi tidak tenang, kalau belum ketemu dia pagi-pagi," kata bapak pertama. “Kalau pagi disempatkan juga mandiin anak,” timpal bapak kedua.

Kalau pulang dari tempat kerja, rasa kangen sama anak membuncah-buncah tak karuan. Maka saat jumpa, yang dilakukan adalah mengajaknya main. “Namanya masih punya anak balita, paling banter ya ngajak main, masa iya mau diajak buka toko online,” kata bapak programmer. “Lepas pulang kerja, sebetulnya waktu yang baik untuk mendidik anak,” ujar bapak kedua. Tugas mendidik itu sebetulnya milik bapak, ibu itu bagian mengasuh dan memelihara saat bapak sedang tidak di tempat. Menyediakan waktu khusus mendidik, seperti juga memberi kasih sayang dan perlindungan adalah pekerjaan utama bapak. “Anak-anak itu harus merasakan langsung kasih sayang dari tangan bapaknya,” kata bapak pertama sambil menjulurkan kedua tangannya, “Masa iya kita cuma jadi bapak ATM,” lanjutnya lagi.

Di zaman serba galau dan tidak menentu begini, informasi yang benderang dan kelam berpadu, berseliweran sesuka hati. Paparan tak perlu dan merusak macam itu tentu perlu dijaga dari anak-anak kita. Hal yang paling ditakutkan kedua bapak ini adalah anaknya bisa melenceng dari ajaran akhlak dan kebenaran yang diajarkan orang tua, juga melenceng dari fitrahnya. Berat rasanya jika mendapati anak kita mengingkari sesuatu yang benar dan membenarkan sesuatu yang keliru.

Bagi kedua bapak ini, kunci utama dalam menjaga anak-anak adalah membangun kedekatan dan keakraban dalam keluarga. Waktu dan kebersamaan perlu dibangun sejak dini. “Sesibuk apapun, harus ada quality time, waktu khusus ketika satu keluarga berbagi berbagai macam hal, berkasih sayang, dan beroleh ketenangan,“ kata bapak pertama. Kalau bapak kedua coba menggambarkannya dengan agak ilmiah. “Waktu yang berkualitas dalam keluarga adalah saat semua anggota keluarga beraktivitas bersama antarpribadi tanpa anasir lain, baik orang lain, gawai, atau mainan.“ Ya, ilmiah dalam ukuran dirinya sendiri memang.

Jika kedekatan dan keakraban sudah terbangun, rasa saling percaya pun otomatis tumbuh. Jika sudah begitu, tentu setiap orang akan lebih mudah berdialog dan menjalankan pendidikan bagi anak-anaknya. Oleh karenanya, kedua orang tua tak boleh berhenti belajar, belajar apa saja.

Bagi bapak muda programmer, tidak elok jika orang tua berusaha menutup akses informasi seperti tv atau internet kepada anak. Secara umum informasi yang ada di tv atau internet memang tidak ramah anak. “Menutup seluruh akses informasi itu jelas tidak mudah, soalnya anak saya sudah terlanjur dibina jadi hacker, ini. Selain itu, orangtua tidak mungkin dapat mengawasi anak selama 24 jam penuh. Cepat atau lambat, anak juga akan berinteraksi dengan dunia yang luas, pada banyak orang dengan ragam latar belakang. Anak-anak perlu mengenal 'dunia', orang tua perlu pandai dan membina mereka. Secara bertahap anak-anak diberikan pemahaman dan cara pandang yang benar terhadap zaman,” katanya dengan berapi-api.

“Iya, intinya kita bantu anak merumuskan jati diri dan tunjukan jalan yang kita, orang tuanya, tahu,“ tiba-tiba bapak yang satunya menimpali.

Anak itu pada dasarnya seorang individu. Bukan milik orang tuanya. Ia dilahirkan sendirian dan kelak akan bertanggung jawab atas segala perbuatannya di hadapan Tuhan sendirian. Ia bisa memilih jalan apa saja dalam hidupnya, termasuk memilih jadi artis sinetron striping atau ikut Indonesian Idol, kelak dewasa.

Tiba-tiba bapak pertama bangkit, membeli lima kilo kopi bubuk.

“Buat apa itu, Pak?”

“Oh, ini buat jaga-jaga,kalau-kalau putri saya bikin keputusan sambil ngantuk, saya selalu punya stok kopi Americano yang bisa membuka matanya lebar-lebar,” jawab bapak pertama sambil menyunggingkan cengiran.

“Kalau buat saya sih boleh-boleh aja anak memilih begitu, setelah ia jadi orang. Juga tuntas belajar keterampilan materi yang dilombakan pada ahlinya. Ngapain ikut lomba kalau enggak menang?” seloroh bapak kedua sambil menyeruput habis kopinya.  

Rupanya kopi kami sudah habis semua. Mahgrib pun menjelang. Sebagai pamungkas, sebelum pulang dan kembali bercengkerama dengan keluarga, para bapak ini hendak menyeru seluruh bapak di Indonesia,

“Anak itu amanah yang perlu dijaga, dirawat, dan dididik sedapat mungkin untuk menjadi hamba dari Pencipta Alam Semesta. Mereka bukan mesin penghasil keuntungan dan kehormatan orang tua. Ajarkan  anak-anak kita bahwa berani jujur itu hebat, tapi berkata kasar tidak.”

“Jadilah bapak yang bertanggung jawab, yang turun langsung menangani perkara berumah tangga. Jangan mengandalkan istri semata atau malah meng-outsource pihak ketiga untuk menyelesaikan masalah.”   

Itu.


Tulisan Terkait (Edisi Anak)

Populer

IKLAN BARIS