• Ikuti kami :

Sejarah: Cara Pandang Seorang Muslim

Dipublikasikan Senin, 20 Februari 2017 dalam rubrik  Peristiwa

Secara umum, orang Indonesia memahami sejarahnya terbagi dalam beberapa babak. Dimulai pada masa Hindu-Buddha, kemudian kedatangan Islam, disusul penguasaan kolonial, masa pergerakan, proklamasi 1945 hingga era Republik Indonesia. Pembabakan semacam ini memang memudahkan kita untuk memahami dinamika perjalanan suatu bangsa atau peradaban. Namun, ada hal yang menarik dari pemahaman mengenai pembagian periode-periode ini.

Mari sedikit kita uraikan pembabakan sejarah Indonesia di atas dengan keterangan waktu. Sejarah adalah masa lalu, seluruh masa lalu. Akan tetapi, di rujukan kita pada umumnya, masa lalu dibedakan menjadi prasejarah dan sejarah. Sejarah hanya bisa dikatakan sejarah apabila ditemukan bukti tertulis pada zaman itu seperti prasasti, dokumen, catatan, kitab, dan lain sebagainya. Sementara itu, prasejarah adalah masa lalu yang diketahui ketika bukti sejarah tertulis belum ditemukan.

Sejarah Indonesia sendiri bermula pada saat ditemukannya prasasti Yupa di Kutai, Kalimantan Timur. Dalam prasasti ini memang tidak ditemukan angka tahun, tetapi diperkirakan berasal dari abad ke-4. Hal ini berdasarkan pembandingan huruf-hurufnya dengan temuan lain yang memiliki angka tahun. Isi prasasti ini di antaranya tentang upacara keagamaan, raja-raja Kutai, dan pengaruh Hindu pada kerajaan ini. Maka berdasarkan kaidah bahwa sejarah dimulai ketika tulisan ditemukan, titik waktu ini diambil sebagai awal sejarah Indonesia sekaligus masuknya Hindu—yang kemudian disusul Buddha—di Indonesia.

Masa berikutnya adalah masa Islam. Kita sebetulnya tidak mungkin mengambil abad ke-13 yang telanjur populer sebagai titik awal kedatangan Islam ke Indonesia. Sebab, angka itu biasanya merujuk pada batu nisan Sultan Malik al-Saleh yang berangka tahun 1296. Apabila Malik al-Saleh—raja dan pendiri Kerajaan Samudera Pasai—wafat pada Ramadhan tahun 1296 M, agaknya tak mungkin kerajaan ini didirikan dari alam kubur. Bahkan, Syed Muhammad Naquib al-Attas menyebut Kerajaan Samudera Pasai muncul sekitar abad ke-9 atau abad ke-10 M. Kalau kita pikir ulang, mungkinkah “para pedagang Muslim” ujug-ujug datang mendirikan kerajaan baru di tanah tempat tinggal orang? Maka kita anggap saja dahulu Islam mulai memasuki wilayah Indonesia sejak abad ke-8. Artinya, sebelum Islam masuk, kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha berkuasa selama empat abad. Tetapi, pembabakan ini sedikit bermasalah karena kerajaan Buddha, Sriwijaya, runtuh pada abad ke-13.

Kemudian, kedatangan pertama bangsa Barat yang berniat melakukan penjajahan terjadi pada tahun 1511. Kala itu Portugis tiba di Malaka, kemudian Spanyol tiba di wilayah Filipina pada 1521. Keduanya segera membangun benteng pertahanan dan meriam begitu menjejakkan kaki di Nusantara. Jauh sebelum masa ini tiba, sebetulnya sudah ramai “orang asing” datang ke Nusantara untuk melakukan perdagangan, mereka ini sekadar datang dan pergi. Penghuni kepulauan yang sekarang disebut Indonesia saat itu pun tidak kegirangan kala bertemu banyak orang asing. Orang Indonesia saat itu adalah manusia kosmopolit.

Maka ketika Portugis, Spanyol, Inggris, Prancis, hingga Belanda berdatangan dan berusaha memonopoli perdagangan di Nusantara dengan segala rupa cara, tentu hal ini mengejutkan. Bahkan, Belanda tak kunjung hengkang dan malah mengangkat diri sebagai penguasa sampai Jepang mengambil alih kekuasaan di tahun 1942. Artinya, sebelum kolonialisme masuk, Islam sudah menancapkan pengaruhnya selama lebih dari enam abad. Akan tetapi, apakah begitu kolonialisme Barat masuk maka seluruh kerajaan Islam langsung runtuh dan lenyap kekuasaannya? Sejarawan Taufik Abdullah sendiri mengatakan, Indonesia dijajah 350 tahun adalah sebuah mitos.

Masa kolonialisme sering disebut-sebut berlangsung selama 350 tahun berkat pidato Soekarno yang amat heroik pada 1950 guna memompa semangat revolusi mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia. Kalau kita hitung sejak 1511-1945, artinya kolonialisme di Indonesia berlangsung selama 434 tahun. Ahai! Lebih lama dari yang disebutkan oleh Soekarno. Dan hal ini tentu saja sama bermasalahnya dengan pembabakan sebelumnya.

Pernahkah negara-negara Barat ini betul-betul menguasai kita seutuhnya, lahir dan batin? Apakah kita pernah berhenti melawan kolonialisme hingga kita memproklamasikan kemerdekaan? Banten, Makasar, Gowa-Tallo, Ternate, Tidore, Banjarmasin, Mataram, Palembang, hingga Aceh adalah wilayah-wilayah yang gencar melawan sampai titik terakhir. Maka bagaimana sebetulnya konsep penjajahan bagi bangsa yang tak berhenti melakukan perlawanan dan berjuang hingga proklamasi sudah dikumandangkan?

Setelah era kolonialisme, kita pun memasuki abad ke-19, era pergerakan nasional yang melahirkan proklamasi pada 1945. Di era republik sendiri kita biasa membabakkan Indonesia secara berurutan ke masa revolusi, Orde Lama, Orde Baru, dan terakhir era reformasi. Usianya baru menjelang 72 tahun.

Tak bisa kita mungkiri bahwa narasi dan cara pandang sejarah Indonesia yang kita kenali selama ini masih didominasi kajian para orientalis. Secara umum, narasi dan cara pandang yang dibawa para indolog Belanda generasi pertama itu bermasalah sejak awal.

Di dalam buku Historical Fact and Fiction, Syed Muhammad Naquib al-Attas mengkritik kerangka berpikir penulisan sejarah para orientalis yang mengutamakan urutan secara kronologis. “The when” atau kekapanan dianggap menjadi nadi penulisan sejarah. Ada anggapan, dengan menemukan kronologi suatu peristiwa sejarah terlebih dahulu, aspek “the how” dan “the why” pada peristiwa sejarah dengan sendirinya dapat terjelaskan. Mereka menggunakan metode induktif. Para sejarawan model ini mulai mengumpulkan berbagai sumber sejarah berupa dokumen resmi, catatan perjalanan, laporan ekspedisi bersenjata, dan segala bentuk sumber lainnya. Yang dicari dari data-data tersebut ialah catatan waktu kejadian. Setelah itu para sejarawan menuliskan hasil kajiannya dan memberi kesimpulan.

Kerangka berfikir semacam itu telah menjadikan sejarah sebagai pelajaran hafalan yang membosankan. Para pelajar sering sibuk mencari dan mengingat-ingat yang sekadar peristiwa, angka tahun, dan urutannya.

Dengan alasan tidak berhasil menemukan sumber-sumber sejarah yang memuat keterangan waktu secara jelas, beberapa pengkaji sejarah (khususnya para orientalis) seringkali abai terhadap peran Islam di Indonesia. Secara tidak langsung kita pun mengikuti hal tersebut dan memaknai tradisi Islam di Indonesia amat rendah. Kebudayaan Islam dipandang tak mampu melahirkan karya tulis yang berharga dan tak membawa pengaruh yang penting dalam sejarah kebangsaan Indonesia. Islam di Indonesia hanyalah kebudayaan “pinggiran” yang jauh dari tempat dan ajaran asalnya. Begitu kira-kira beberapa pandangan umum yang kerap kita dengar.

Persoalannya, masa pengaruh Islam itu ialah 700 tahun lamanya. Artinya ada 700 tahun yang hilang dalam sejarah bangsa kita. Ada 700 tahun yang tak betul-betul dikaji dan ditafsirkan secara memadai bagi kebangsaan dan kedirian kita. Kita sering merasa tak perlu berbuat apa-apa dan menerima begitu saja hal ini. Jika dalam satu tahun Republik Indonesia bisa mengalami berbagai dinamika yang mengubah kehidupan sosial, 700 tahun tentu bukan waktu yang sebentar dan bisa disapu begitu saja dalam sejarah kita. Tidak adil rasanya jika kita tidak melakukan ikhtiar pengkajian terhadap kurun masa 700 tahun tersebut.

Sementara itu, 434 tahun kolonalisme di Indonesia banyak ditulis dan dikenal luas oleh anak negeri. Akhirnya, selama beberapa waktu lamanya kehadiran Islam hanya dimaknai sebagai pelitur luar yang menutup lapisan pengaruh Hindu-Buddha dan pengaruh animisme-dinamisme pada masa sebelumnya. Miskinnya penulisan sejarah Islam di Indonesia juga berasal dari keterbatasan cara pandang, kemampuan menempatkan sumber sejarah dan kerangka penulisan sejarah. Al-Attas mengatakan, para orientalis telah gagal dalam menuliskan sejarah kedatangan dan pengaruh Islam di Nusantara. Tentu kita tak perlu ikut gagal karena terus mengekor cara orientalis dalam melihat dan memaknai sejarah.

Bagi al-Attas, para orientalis kurang mahir dalam meletakkan peristiwa sejarah sebagai peristiwa masa lampau karena beberapa hal. Salah satunya, mereka masih memperlakukan data sejarah sepertimana data ekonomi atau data ilmu sosial yang dialami langsung dan terjadi saat pengkajinya masih hidup. Padahal, sumber dan data sejarah perlu diperlakukan berbeda dari data ekonomi atau data-data sosial hari ini. Penulis atau penelitinya tidak mengalami langsung peristiwa tersebut. Ada jarak yang teramat jauh antara peristiwa dan penulis—baik waktu, suasana zaman, nilai-nilai yang dianut, norma yang berlaku, maupun kebudayaan yang melekat—yang perlu didekatkan.

Cara untuk menembus jarak tersebut ialah usaha untuk memahami makna atau sebab batin pada setiap yang zahir. Setiap yang zahir memiliki sebab batin, setiap yang terindra memiliki hakikat asal. Oleh karena itu, setiap data sejarah yang berhasil diperoleh pasti mengandung nilai dan hakikat tertentu. Data yang berasal dari masa lalu, tak dapat kita nilai dan kita maknai dengan cara berpikir kita saat ini. Tanpa mengenali hal-hal yang perlu dikenali pada masa lalu, tulisan sejarah sangat mungkin menjadi sesat dan menyesatkan.

Salah seorang peneliti sejarah peradaban alam Melayu, Prof. Tatiana Denisova (berasal dari Rusia), mengatakan: janganlah kita mengaibkan suatu sumber sejarah hanya karena penilaian akal abad modern kita. Ketika kita menemukan hal yang kita anggap hanya khayalan yang mustahil terjadi (menurut akal kita di masa kini), tak serta-merta sumber tersebut harus kita singkirkan. Janganlah kita terlalu yakin bahwa akal kita mengalami revolusi, makin kini makin maju, sementara makin lampau makin primitif. Bagaimana kalau ternyata daya pikir dan hasil pemikiran kita di abad modern inilah yang justru mengalami kemunduran?

Al-Attas tidak menolak dan masih menganggap kronologi sebagai hal dasar yang penting dalam penulisan sejarah. Akan tetapi, ia mengingatkan, meneliti sejarah adalah mencari makna. Oleh karena itu, “the why” (kemengapaan) dan “the how” (kebagaimanaan) perlu menjadi tujuan utama dalam penelitian dan penulisan sejarah.

Al-Attas mengatakan, untuk menuliskan sejarah, kita tidak perlu melulu terpatok pada sumber tertulis yang bisa jadi sangat terbatas. Setiap data zahir atau tertulis memiliki nilai dan sebab batin di dalamnya. Oleh sebab itu, sejarawan juga perlu memahami persoalan-persoalan batin yang melingkupi suatu data sejarah. Jika kita membahas sejarah Islam dan peradaban Melayu, penelitinya perlu memiliki penguasaan yang utuh dan otoritatif mengenai agama yang sedang diselidiki; memahami pandangan alam dan bahasa yang dapat memproyeksikan pandangan alam masyarakat saat itu; kemudian menguasai simbol-simbol yang dipakai saat itu beserta maknanya yang benar; mengetahui tradisi intelektual dan keagamaan para penganutnya; serta memiliki daya akal yang kokoh dalam melakukan analisis, baik secara rasional maupun empiris.

Tanpa itu semua, kita akan berlaku layaknya para orientalis Barat yang terpaku pada sumber fisik dan melakukan verifikasi pada yang sekadar fisik. Kita akan kesulitan menemukan kebenaran dan penjelasan tanpa menimbulkan syak wasangka. Pada akhirnya, anggapan bahwa sejarah adalah hal yang selalu memiliki sumber tertulis menjadi hal yang perlu ditelaah ulang.


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Daftar Pustaka

Al-Attas, Syed Muhammad Naquib, Historical Fact and Fiction, Kuala Lumpur, UTM Press, 2011, hlm xi—xviii.

Denisova, Tatiana, Refleksi Historiografi Alam Melayu, Kuala Lumpur, UTM Press, 2011, hlm 17—18.


Tulisan Terkait (Edisi Peranakan)

IKLAN BARIS