• Ikuti kami :

Sebuah Resep untuk Kebangkitan Umat

Dipublikasikan Senin, 19 Mei 2014 dalam rubrik  Peristiwa

Musuh tidak datang dari luar benteng ketika Palestina direbut dari tangan umat Islam di akhir abad kelima Hijriah. Pasukan Islam yang biasanya tangguh mendadak kehilangan semangat mempertahankan kota itu. Umat Islam yang tengah “sakit” jadi penyebab utamanya. Setelah mengkaji peristiwa kekalahan umat Islam di Perang Salib, begitulah kesimpulan Dr Majid Irsan al-Kilani.

Misteri Masa Kelam IslamMemang ada faktor luar yang tidak bisa dimungkiri. Kala itu bencana alam terjadi dan menyebabkan krisis ekonomi. Hanya saja, umat Islam sudah terlebih dulu hancur dari dalam. Masyarakat terlalu mencintai materi, kemunafikan merebak, nilai-nilai runtuh, moral semakin terpuruk.

Dalam kegentingan, para penguasa memilih mengurus diri sendiri. Mereka sibuk menambah kekayaan. Menurut Dr Majid Irsan al-Kilani, umat seperti hidup pada masa Jahiliyah. Setiap orang hanya sibuk mengurus perut dan kemaluannya. Umat Islam juga digerogoti pemikiran keliru. Aliran tasawuf dan filsafat yang menyimpang muncul.

Imbasnya terjadi perselisihan antara ahli fiqih, ahli tasawuf, dan filsuf. Umat Islam terpecah dalam kelompok-kelompok yang bercirikan mazhabisme. Sikap fanatik terhadap mazhab kerap berujung pertikaian fisik antarpemeluknya. Para fuqaha dari setiap mazhab lebih sering mempermasalahkan hal kecil dan senang berdebat untuk mencari perhatian penguasa agar dapat dipekerjakan sebagai qadi.

Perbincangan mengenai idealisme dan masalah-masalah besar hanya menjadi sarana bagi para orator, penceramah, dan guru untuk mengais rejeki. Tujuan ilmu pun rusak seiring dengan rusaknya moral para ulama. Mereka tidak lagi punya hasrat menyebarkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dalam kondisi masyarakat yang sakit, seruan untuk berjihad hanya menjadi ajakan kepada mayat hidup. Kehancuran tinggal menunggu waktu. Pasukan Salib yang merangsek ke Palestina tinggal melakukan pekerjaan sisanya.

Demikian Dr. Majid Irsan al-Kilani menggambarkan umat Islam lima abad setelah wafatnya Rasulullah, dalam buku Hakadza Zhahara Jiil Shalahidin wa Hakadza’Aadat al-Quds, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib. Namun, kondisi berubah dalam 90 tahun kemudian, Palestina kembali direbut umat Islam. Apa gerangan yang terjadi? Perubahan ini yang dianalisis Majid dalam bukunya.

Menurut dia, perbaikan (ishlah) sempat dilakukan Nizham al-Mulk melalui jalur politik. Tapi usaha itu gagal. Berdasarkan catatan sejarah, Majid menyimpulkan gerakan ulama yang menjadi resep kebangkitan umat Islam. Imam Abu Hamid al-Ghazali, seorang ahli fiqih, filsafat, dan tasawuf yang juga mujtahid yang merintis jalan keluar masalah umat saat itu.

Berbeda dengan usaha ishlah sebelumnya, al-Ghazali memilih mundur dari lingkungan yang penuh keraguan dan jabatan-jabatan yang menggiurkan. Beliau memfokuskan perhatian pada upaya pembenahan diri untuk mengevaluasi dan memperbaharui pemikiran dan konsepnya selama ini.

Proses tersebut dilakukan agar ia bisa kembali ke tengah masyarakat dan memulai ishlah; menjalankan prinsip al amr bi al-ma’ruf wa an-nahy ‘an al-munkar. Imam al-Ghazali mengadopsi langkah-langkah ishlah dari sumber-sumber ajaran Islam dengan pemahamannya yang luas dan dalam atas warisan intelektual generasi awal. Sikap yang dipilih al-Ghazali, memberikan teladan integritas ulama ideal di tengah kekuasaan dan materi.

Al-Ghazali melihat permasalahan umat Islam disebabkan oleh kerusakan ilmu. Untuk mengobatinya, ia menggunakan beberapa metode, yaitu berusaha memproduksi generasi baru ulama; melahirkan sistem baru bidang pendidikan dan pengajaran; menghidupkan misi al amr bi al-ma’ruf wa an-nahy ‘an al-munkar; mengkritik penguasa dzalim; memberantas materialisme dan praktik-praktik keagamaan negatif serta meluruskan persepsi umum tentang dunia dan akhirat; menyeru kepada keadilan sosial; dan memberantas aliran-aliran pemikiran sesat—dengan mengkritik dan meluruskan penyimpangan para filsuf, ahli tasawuf dan fuqaha yang tercermin dalam karya-karyanya.

Al-Ghazali mendirikan madrasah sebagai institusi pendidikan untuk mengimplementasikan metode-metode tersebut. Fase selanjutnya dari gerakan ishlah adalah mulai menjamurnya madrasah dan institusi pendidikan yang mengadopsi metode yang dikembangkan al- Ghazali. Pondasi gerakan ulama yang dibangun Hujjat al-Islam itu dilanjutkan oleh ulama-ulama lain seperti Abdul Qadir Jailani, yang mendirikan madrasah al-Qadariyyah di Ibu Kota Baghdad.

Tidak hanya di pusat kota, madrasah-madrasah dengan model dan misi yang sama pun bermunculan di daerah desa dan pedalaman seperti madrasah al-‘Adawiyah, madrasah al-Suhrawardiyah, dan madrasah al-Bayaniyyah. Dari sekian madrasah yang didirikan para ulama inilah tokoh dan pemimpin Islam dicetak.

Nama-nama seperti Nuruddin Zanki dan Shalahudin al-Ayyubi, adalah contoh pelajar yang terpengaruh ide-ide yang disebarkan madrasah ishlah. Di bawah pimpinan Shalahudin al-Ayyubi pula pasukan Islam berhasil merebut kembali Palestina. Sebagian besar anggota pasukan itu adalah kaum fuqaha dan sufi alumni madrasah-madrasah ishlah.

Demikianlah usaha perubahan masyarakat yang dilakukan oleh ulama dengan mengutamakan kegiatan keilmuan untuk mengubah pola pikir dan cara pandang masyarakat. Melalui proses panjang yang sistematis, tidak lebih dari satu abad, tercetaklah generasi baru yang berbeda dari sebelumnya. Panglima Shalahudin al-Ayyubi, menurut Majid, adalah wakil sebuah generasi yang telah dibentuk melalui proses ishlah yang dilakukan oleh para ulama selama lima dekade.

Buku Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib sangat layak dibaca. Fenomena sejarah yang berulang dapat kita lihat dalam realitas kekinian sehingga kajian sejarah seperti ini akan tetap aktual dan layak dijadikan bahan referensi. Sebab, model perbaikan yang dipaparkan telah teruji secara historis untuk mengembalikan kejayaan Islam.

Yang perlu dikritisi dari buku ini adalah penyuntingannya ke Bahasa Indonesia yang banyak bolong. Jangan heran jika kita kerap tersandung salah ejaan atau penggunaan kata yang tidak tepat ketika asik membaca. Terlepas dari itu, semoga kita bisa belajar dari masa lalu.


JudulMisteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib : Refleksi 50 Tahun Dakwah Ulama untuk Membangkitkan Umat dan Merebut Palestina.
PenulisDr. Majid Irsan Al Kilani
PenerbitPustaka Kalam Mediatama
Tebalxv + 352 hlm.
Judul asli

Hakadza Zhahara Jiil Shalahidin wa Hakadza’Aadat al-Quds


Sumber Foto : https://image.freepik.com/

Tulisan Terkait (Edisi Lama)

IKLAN BARIS