• Ikuti kami :

Sebab Berharap Itu tidak Bayar

Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2015 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Apa arti 70 tahun Indonesia merdeka di tengah bangsa yang dipimpin oleh seorang Mas Joko Widodo? Kita bisa bertanya pada siapa atau menjawab siapa tetapi untuk apa? Masihkah merdeka berkelindan dengan hidup sehari-hari, dengan pekerjaan, kepadatan, atau cinta yang diam-diam kita rindukan?

Kemerdekaan dan pertanyaan memang selalu ada, sebagai mana selalu adanya korban-korban revolusi seperti dikisahkan Idrus dan Mochtar Lubis dalam karangan-karangan mereka. Revolusi juga melahirkan gadis gila, gadis yang kehilangan kewarasannya karena diperkosa beramai-ramai dalam keadaan revolusi. Revolusi kita juga adalah pemuda-pemuda yang menenteng senjata seenaknya dalam keadaan yang selalu dianggap darurat dan karena kedaruratannya hal-hal di luar hukum seolah dapat dimaklumi. Dan Revolusi juga adalah kumpulan orang salah tangkap, salah bunuh, salah tuduh, berjajar-jajar alpa ditulis dalam buku sejarah, tak sempat bertemu keadilan, dan lalu mati.

Maka kemerdekaan adalah perjuangan dan luka yang harus diinsafi bersama-sama. Proklamasi 17 Agustus bukan hanya soal Soekarno-Hatta di Jalan Pegangsaan itu, tetapi juga berjuta mereka yang mati muda, kaum yang mengungsi dari tanah lahirnya, orang tua yang kehilangan anaknya, anak kehilangan bapaknya, istri kehilangan suaminya, kekasih kehilangan kekasihnya, dan sekian tumpuk pengorbanan yang tak pernah dicatat dan teringat. Kemerdekaan juga adalah tentang air mata dan kehilangan. Kemerdekaan juga tentang kematian. Tentang luka dan kepedihan ribuan orang beramai-ramai dengan sukarela atau terpaksa bertarung demi kemerdekaan.

Namun, kemerdekaan selalu menyebutkan perjuangan dan kepahlawanan sembari diam-diam menyelinap melupakan luka. Seperti keseharian melunturkan ingatan tentang yang abadi, tentang pasti mati. Kita tidak hendak melupakan perjuangan namun kita pun tak boleh mengabaikan luka. Kegagahan Soekarno bercatat merah ketika ia menindas musuh-musuh politiknya dengan kuasa. Juga Soeharto yang senyum dan tatapnya menjadi kenangan indah sekaligus ingatan buruk. Kita mesti menata baik-baik, menempatkan sewajarnya yang indah dan yang luka dalam lemari kemerdekaan bangsa ini. Agar elok dipandang dan tak salah tempat.

..,

Pada senyum telanjang Mas Joko Widodo kita taruhkan harapan agar kemerdekaan yang memasuki usia sepuh 70 tahun ini dapat lebih bermakna. Tentu kita berharap yang baik pada Mas Joko sebab mengharap yang buruk-buruk ialah pekerjaan tidak baik. Mas Joko telah berikhtiar menata sejarah kita, Bung Karno dijunjungnya tinggi. Semoga Pak Presiden juga ingat bahwa Bung kita bersama itu ada silap-silap merah, noda di seragam kepanglimaannya. Sebab, kita perlu kejujuran, bukan untuk saling menelanjangi tetapi untuk saling menyembuhkan luka.

Kita juga berharap Presiden pilihan rakyat ini dapat membawa Indonesia ke arah yang lebih baik, sebab Mas Joko ialah presiden luar biasa. Takhta kepresidenannya beralas pertarungan sengit, ejek-ejekan antara dua kubu di media sosial. Kubu pendukung Mas Joko dan pendukung Prabowo telah bertarung tak kenal lelah di media sosial, bertentang kata habis-habisan. Presiden Joko Widodo melangkah ke istana dengan beribu-ribu, berpuluh ribu, beratus ribu bahkan berjuta-juta saling ejek antaranak bangsa. Hingga hari ini. Para pendukung Mas Joko tak lelah membela jagoannya sebagaimana para pendukung Prabowo tak ada lelah mengomentari dan mengejeki kiprah Mas Joko. Entah berapa putus pertemanan di Facebook dan Twitter yang mengiringi kekuasaan Joko Widodo yang amat kita harapkan itu.

Ada beberapa yang sudah bisa berpikir jernih tapi masih banyak yang asyik-masyuk dengan ejek-ejekan di media sosial itu. Dukungan, pembelaan, pemujaan yang berhadapan dengan nyinyiran, cie-cie-an, kesebelan tak henti-henti di sosial media kita. Amat cergas rakyat kita melibatkan perasaan, meski Mas Joko dan Pak Bowo sudah pelukan dan saling memaafkan.

Maka mari kita berharap sekali lagi agar Presiden yang melangkah dalam suasana ejek-ejekan antaranak bangsa itu dapat menjalankan pemerintahan dengan baik, dapat membawa kita menjadi sejahtera, dan kita dapat bersama-sama teguh berdiri di hadapan bangsa dunia.

Mari berharap agar Mas Joko sehat walafiat dan dengan selamat memimpin bangsa ini, boleh selama lima tahun, kurangnya juga tidak apa-apa. Rakyat akan tetap tahan dipimpin selama apa pun oleh pemimpin jenis apa pun.

Mari kita terus berharap pada Mas Joko karena berharap itu tidak perlu bayar dan tidak ada salahnya kita berharap. Kalaulah harapan-harapan kita pada Mas Joko tidak ada yang terpenuhi, itu tidak apa-apa. Nanti kita buat harapan-harapan lain.

Akan tetapi, royan pertarungan Joko melawan Prabowo di pemilu presiden lalu memang masih terasa sampai sekarang. Saling ejek (tingkat pertarungan paling kanak-kanak) masih berlangsung antarkedua kubu. Demokrasi dan media sosial membuat rakyat amat gembira merayakan kebebasan untuk saling mengejek.

Usaha merangkak dari pertarungan kelas ejek-ejekan menuju perbalahan gagasan amat dinantikan. Kita tidak memerlukan ejek-ejekan di tingkat kebangsaan. Sebab, bangsa ini terlalu besar untuk sekadar berejek satu sama lain. Kemerdekaan kita raih dengan susah payah, dengan pengorbanan semua pihak. Sangat sayang rasanya dan terasa kurang menghormati mereka yang telah kehilangan untuk kemerdekaan ini jika kemudian antaranak bangsa hanya ejek-ejekan di media sosial perkara Mas Joko dan sebagainya.

Mari terus berharap karena (sekali lagi) berharap itu memang gratis. Bersyukurlah atas apa yang kamu bisa peroleh dengan gratis agar kamu mampu berlapang dada ketika harus membayar.

Mari kita berharap!

..,

Mari kita berharap pada 70 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ini para pendukung Presiden Joko dapat membuka pikiran dan hatinya sehingga bukan hanya pembelaan membabi buta yang dapat mereka sumbangkan bagi Presiden melainkan juga kritik yang membangun, saran yang melempangkan jalan dan doa yang dapat membimbing hati-pikiran.

Mari kita berharap pada 70 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ini para pendukung Prabowo pada pemilihan presiden lalu tetap dengan setia mencinta republik ini meski dipimpin oleh pemimpin yang begitu. Mari berharap mereka tidak berpindah jadi warga negara Turki hanya karena sebal tidak jadi dipimpin oleh Pak Prabowo.

Pak Prabowo sendiri masih tetap mencintai Indonesia (sebagaimana Insya Allah begitu juga Mas Joko) meskipun Jenderal Orde Baru itu mungkin kecewa akan kekalahannya. Tapi, cinta dan kesetiaan tentu melampai tapal batas kalah dan menang,dan Indonesia jauh berada di sekadar batas-batas kalah dan menang itu. Cinta beralas kemenangan dan kekalahan adalah cinta tanpa kesetiaan dan penuh dengan kepentingan. Mari kita berharap agar kita dijauhkan dari cinta yang semodel begitu.

..,

Pada kemerdekaan yang memasuki usia ke-70 tahun ini mari kita berharap kepada diri kita sendiri (bukan kepada Arab, Cina, atau Amerika) agar kita dapat memanfaatkan kemerdekaan yang diraih dengan susah payah ini dengan baik. Mari berharap kita tidak menjadi manusia-manusia yang menyia-nyiakan perjuangan para pahlawan dan pengorbanan mereka yang terluka serta kehilangan untuk kemerdekaan Republik.

Kita isi kemerdekaan dengan tidak membuang sampah sembarangan, sebab siapa tahu di tempat kita membuang sampah secara sembarangan itu dahulu pada pertengahan 1947 ada pemuda terluka menganga meregang nyawa, tewas ditembus peluru sekutu. Pemuda pejuang yang menukar nyawa demi mempertahankan kemerdekaan. Alangkah durhakanya kita menyampahi tempat pemuda pahlawan tak dikenal tak dikenang itu mengorbankan jiwa untuk kita juga. Tanpa pengorbanan pemuda yang masih dalam keadaan mungkin itu, yang tak pasti ya ada dan tidak ada itu, kita tentu tak akan bisa membuang sampah sembarangan. Jangankan membuang sampah, tanpa kemerdekaan kita mungkin sedang berperang atau bekerja rodi pada hari ini. Maka syukurilah kemerdekaan ini dan buanglah sampah pada tempatnya.

..,

Kita juga harus berharap agar kita dapat selalu bersyukur. Andaikata kita belum merdeka, tentu tahun lalu bangsa kita tidak dapat menyelenggarakan pemilu dan tentu juga kita tidak dapat saling mengejek di media sosial. Karena kita sudah merdeka maka kita bisa mengetik dengan tenang, saling menuduh dan membangun pembelaan. Andaikata Belanda masih berkuasa, andaikata devide at impera itu masih berlaku, niscaya mereka melakukan politik belah bambu. Pendukung Joko dipersenjatai, dibela-belai, dikipas-kipasi. Sementara pendukung Bowo diinjak dan direndahkan. Maka berperanglah kita tidak dalam kata-kata tetapi berperang dengan pedang dan senapan. Apalagi jika kita masih di zaman Ken Arok, kita satu sama lain akan berhunus golok saling membunuh berdarah-darah. Untunglah kita sudah merdeka hingga kita hanya berhunus tanda pagar dan bersungut kata-kata. Tak ada yang berdarah.

Mari kita berharap bahwa kita adalah bangsa yang bisa bersyukur. Syukuri kemerdekaan ini tidak hanya dengan ejek-ejekan di media sosial, tetapi juga dengan membaca buku dan belajar menata alur berpikir yang tertib (catatan: tulisan ini memang sengaja tidak dibangun di atas alur berpikir yang tertib agar kita dapat belajar mengenali tulisan yang tidak dibangun di atas alur berpikir yang tertib, saya harap para pembaca dapat mengerti).

..,

Mari berharap pada 70 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ini perusahan-perusahaan asing berhenti menambangi alam kita, berhenti membabati hutan bangsa ini, berhenti meraupi ikan-ikan di laut kita. Mari berharap kita bisa benar-benar berdaulat, mampu mengurus diri kita sendiri dengan sesedikit mungkin bantuan asing dan sebanyak mungkin kita dapat membantu negara lain. Mari berharap kita menjadi bangsa yang dihormati bangsa lainnya di dunia.

Mari berharap di 70 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia perusahaan-perusahaan waralaba asing bertobat dan berhenti menghisapi rakyat kita. Mari berharap rakyat memiliki kesadaran ekonomi dan mari berharap kelak nanti nilai tukar rupiah seimbang dengan dolar: 1 rupiah setara dengan 1 dolar Amerika dan ekonomi kita bangkit membubung-bubung di langit dunia.

Mari berharap kesejahteraan rakyat segera meningkat agar mereka yang miskin di desa-desa dan di kota-kota dapat terlepas dari kekhawatiran dan rasa cemas sehingga mereka dapat bekerja dengan tenang dan turut menyumbangkan tenaga dan pikirannya bagi kemerdekaan ini. Orang lapar, khawatir, dan cemas memang agak sulit diharapkan perannya. Oleh karena itu, mari kita berharap kemiskinan tidak merajalela dan pengangguran tidak merambah luas.

Mari kita berharap para pemuda-pemudi kita dapat mengisi 70 Indonesia Merdeka dengan hal-hal yang lebih bermanfaat selain dengan memfoto-fotoi diri sendiri dan kemudian memajangnya secara semena-mena di media sosial. Mari berharap pemuda-pemudi kita mengenal Soekarni, Sayuti Melik, Wikana, dan Chaerul Saleh selain mengenal Dewi Persik, Julia Perez, dan Duo Srigala.

Mari berharap bangsa ini dapat mengerti bahwa meraih kemerdekaan itu susah. Tidak mudah untuk menjadi bangsa berdaulat. Selain perlu pengorbanan dan perjuangan yang sangat besar luar biasa, kemerdekaan ini ditebus dengan revolusi dengan korban-korbannya sebagai mana dikisahkan Idrus dan Mochtar Lubis itu.

Mari berharap kita dapat berhenti bertanya, “Apakah kita sudah benar-benar Merdeka?” Sebab, kemerdekaan yang sekarang ini sudah ada dan sudah diraih benar-benar berkat perjuangan yang tulus dan tak tulus, sukarela dan terpaksa, dari para pahlawan kita dahulu.

..,

Sumber Foto : https://s-media-cache-ak0.pinimg.com

Tulisan Terkait (Edisi Lama)

Populer

IKLAN BARIS