• Ikuti kami :

Sarung, Peci, dan Kaus Slank: Konservasi dan Inovasi Kaum Santri dalam Merespons Modernitas

Dipublikasikan Senin, 01 Mei 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Tulisan ini berangkat dari perihal busana, atribut yang berperan penting dalam kehidupan kita, dirapal dalam rumus sandang-pangan-papan (busana, makanan, dan tempat tinggal). Busana adalah identitas. Tiap suku di negeri ini miliki pakaian adat. Masing-masing bangsa di dunia pun demikian. Dalam momen Shanghai World Expo 2010 yang diikuti 200 negara, saya berkesempatan menyaksikan keanekaragaman gaya berbusana lintas negeri. Ada pria kekar suku Maori berkulit hitam kemilau menari-nari dengan iringan musik tradisional Selandia Baru. Ada pula perempuan berparas ayu dengan pakaian adat French Polynesia, daratan nan mungil di tengah Pasifik. Sementara itu, petugas stand Mauritania berpakaian khas Arab-Afrika. Tak lupa pula parade model campuran Indonesia-Cina berlenggak-lenggok dengan varian kebaya pada malam 17 Agustus. Beragam. Pakaian ialah identitas.

Namun, terkadang kita sering bersikap tak adil terhadap pakaian. Tak sedikit orang awam yang melabeli pemakai cadar dengan sebutan ninja atau salafi. Padahal apabila kita merujuk kitab Safinatunnaja, panduan fiqih dasar karya Salim Bin Samir Alhadrami, yang bermakam di Tanah Abang, tertera perkara aurat perempuan yang disebutkan bahwa aurat perempuan adalah seluruh badan, kecuali muka dan telapak tangan. Itu dalam shalat. Di luar shalat, seluruh bagian, tanpa terkecuali ialah aurat. Tentu saja perkara ini sering menjadi perdebatan. Namun jelas sudah, di dalam madzhab Syafi’i pun ada pendapat yang menyatakan pakaian Muslimah ialah yang menutup seluruh tubuh. Di antara yang konsisten memakai qaul ini ialah para siswi dan jemaah Tarekat Idrisiyyah, Pagendingan, Tasikmalaya dan santriwati di Dayah MUDI, Samalanga, Bireun, Aceh.

Pakaian adalah identitas. Seorang ulama senior Purwakarta (Alm.), pernah dengan bangga bercerita bahwa Beliau menjadikan jas yang baru dipakai beberapa hari sebagai sumpal saluran pembuangan air kolam. Sekilas lucu, mungkin dianggap konyol, namun di situlah letak hakikat jatidiri.

Pakaian adalah identitas. Semasa kuliah, saya pernah mendapat hadiah kaus dari Indonesia Unite, isi tulisannya, "Saya kapok melancong ke Malaysia!" Agaknya si pembuat T-shirt jengah dengan beragam klaim Negeri Jiran atas kekayaan budaya Indonesia. Aksi tersebut sekaligus diazamkan untuk mendongkrak daya jual pariwisata kita.

Busana sebagai identitas sebuah kelompok juga dapat ditilik dalam kehidupan para santri, yang terkenal sebagai kaum sarungan. Sebutan itu awalnya terlontar dari Hadi Subeno, aktivis Partai Nasional Indonesia pada awal dekade 1960-an. Meski awalnya bernada ejekan, toh kalangan santri nyaman saja dengan sebutan tersebut. Nyatanya mereka sehari-hari memang bersarung, plus berpeci tentunya. Sarung dan peci ialah pasangan serasi yang tak terpisahkan. Berkat inisiasi Bung Karno, peci menjadi simbol nasional. Saat acara kenegaraan, non-Muslim pun mengenakan peci. Dalam poster Kabinet Pembangunan VI, Menparpostel Joop Ave dan Menpan TB Silalahi berhiaskan peci hitam. Padahal mereka bukan Muslim. Dalam salah satu buku yang membahas kisah Bung Karno dan para istrinya, disebutkan bahwa peci berasal dari Turki. Adapun asal penamaannya adalah dari bahasa Belanda pet (topi) dan je (kecil). Nama lain peci adalah kopiah dan songkok.  

Peci dan sarung telah mendarah daging dalam tradisi kaum santri. Sampai-sampai para ulama sepuh rata-rata tak pernah melepas sarungnya. Sebut saja Alm. K.H. Ilyas Ruhiyat, Cipasung dan K.H. Maimun Zubair. Bahkan, saya menyaksikan sendiri K.H. Irfan Hielmy, Rektor IAID Darussalam, Ciamis, yang  notabene seorang modernis, senantiasa memakai sarung, termasuk saat menengok sebuah Madrasah Aliyah yang diampu istrinya di kawasan Indihiang, Tasikmalaya. K.H. Kafabihi Mahrus, Lirboyo, yang relatif muda juga tak pernah lepas dari sarung.

Keteguhan para kiai pada peci dan sarung setali tiga uang dengan para penganut Sikh yang senantiasa menggunakan penutup kepala saat memirsa Liga Primer Inggris, sejak era Harry Kewell hingga Romelu Lukaku. Peci, dalam tilikan kaum pesantren, memiliki sanksi sosial yang berat jika dilepas. Kaum santri menganggap orang yang sengaja tak berpeci telah hilang muru’ahnya. Penutup kepala, alas kaki, dan tak makan sembarangan di pasar-pasar atau pinggiran jalan, ialah di antara syarat ‘adalah (keadilan) dalam periwayatan ilmu hadits. Malah jika ketentuan itu dilanggar, ada hukuman yang lebih bikin bergidik: menjurus pada kefasiqan.

Tak hanya doktrin teologis, sarung dan peci dapat ditinjau dari segi sosial. AA Navis, dalam bukunya Surat dan Kenangan Haji menjelaskan klasifikasi pola berpakaian para ulama di Minangkabau pada awal abad 20 sampai akhir perang dunia kedua. Ulama lulusan Mekah atau yang sudah naik haji mengenakan jubah dan sorban. Ulama lulusan Mesir menggunakan jas, dasi, pantalon, serta kopiah (peci). Sedangkan ulama lulusan lembaga dalam negeri setia mengenakan peci dan sarung.

Dalam keseharian di pesantren, contoh yang sangat ketat menerapkan peraturan bersarung adalah Pondok Pesantren Warudoyong, Sukabumi. Antitesisnya adalah Pesantren Cibeureum, di kota yang sama. Santri Cibeureum tak rikuh mengenakan celana jin saat keluar pondok. Sementara santri Warudoyong selama 24 jam di dalam dan luar pondok senantiasa bersarung. Saya punya pengalaman pribadi pada bulan Syawal 1434 H/Agustus 2013 ketika mengikuti diklat di Pesantren Albarokatul Haramain, Cihamerang, Purwakarta. Pengasuhnya adalah Ayahanda Niha, juara Pildacil I di Lativi. Suatu hari, saya mencoba pakai celana jin ke tungku, dapur umum. Saya kira dibolehkan, toh hanya ngaliwet, masukin kayu bakar ke perapian, ngulek sambal, dsb. Ternyata teman-teman di sana kurang sreg dengan hal itu. Karena santri di sana jago-jago balaghah (ilmu retorika), mereka menggunakan ujaran metaforis untuk menyatakan hal tersebut. Mafhumlah saya, bahwa di sana berjin dianggap tak layak.

Absolutisme sarung mengalami perubahan gradual seiring angin modernitas. Sekira 1995, kakak saya diminta oleh gurunya menghadiri acara di Pesantren Modern Almusaddadiyah, Garut. Pak Kiai mewanti-wanti kakak saya agar bersarung ke acara tersebut. Ternyata hampir tidak ada yang bersarung di sana. Semua pria bercelana, yang perempuan memakai rok. Hal serupa mudah kita jumpai di Pondok-pondok Modern Cabang Gontor. Kombinasi paling lazim di pondok macam ini ialah peci hitam, baju putih, dan celana bahan hitam.

Demikianlah, gelombang modernitas memasuki relung-relung pesantren. Tak hanya busana, tetapi juga gaya hidup dan pola konsumsi. Kaum santri mafhum betul, Syeikh Nawawi Banten dalam Sulam Attaufiq tegas mengharamkan alat musik. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin membolehkan alat musik dengan persyaratan ketat. Namun, para santri yang berjiwa muda mencari penyaluran dengan caranya sendiri. Kobong (sebutan khas di Jawa Barat untuk kamar-kamar tempat tidur santri) tak lagi steril dari alunan musik. Adakalanya radio tape disembunyikan di bawah bantal usang. Kaset-kaset ditaruh di bawah tumpukan buku, bahkan tak jarang bersebelahan dengan onggokan beras, ikan asin, dan terasi. Kaset yang dikoleksi beragam, ada Iwan fals, Godbless, Power Metal, Iron Maiden, Metallica, dan sejumlah grup cadas lain.

Namun, rasanya tak berlebihan jika mendaulat Slank sebagai grup yang paling membekas dan mewakili suara hati anak muda 90-an. Keliaran dan keterusterangan anak-anak Potlot ini menemukan momentum dan tempat hinggap yang tepat pada jiwa-jiwa muda santri yang butuh pelampiasan. Daun pintu, dinding toilet, hingga bagian belakang lemari pakaian dan kitab, dihiasi tulisan “SLANK” yang khas mirip kupu-kupu. Tak berhenti di grafiti, Slank juga mewujud dalam busana, khususnya kaus. Hanya di pesantrenlah kita dapat menemukan kombinasi sarung, peci, dan kaus hitam bertuliskan Slank.

Fenomena yang menjangkiti para santri tersebut sejatinya ialah bagian dari upaya berdialog dengan modernitas. Seni memilih dan menyiasati perubahan menjadi kunci kesuksesan kaum santri dalam menghadapi arus modernitas. Mereka dituntut mencari formula yang tepat dalam dua tugas besar berupa pelestarian (konservasi) dan pembaharuan (inovasi). Pada santri senantiasa menyesuaikan diri dengan derap modernitas namun tetap berbasiskan turats (teks klasik).

Hal tersebut menunjukkan harmoni antara yang bihari (Bahasa Sunda: dahulu) dengan yang baharu. Keserasian antara yang lalu dengan masa kini. Tak selayaknya warisan lama dihilangkan sama sekali, melainkan perlu dijadikan energi terbarukan oleh generasi pengganti. Jika para pendahulu telah menemukan jawaban, kita perlu untuk mengelaborasi dan mengembangkannya. Sebaliknya, jika kita tak mempelajari khazanah lama, terjadilah pareumeun obor, missing link antara yang bihari dengan yang baharu. Kita perlu melakukan berbagai inovasi, tak sekadar copy paste yang lama, karena tantangan yang dihadapi senantiasa berkembang. Maka, perubahan sebagai respons atas keadaan, merupakan keniscayaan. Akan tetapi, perubahan itu tentu perlu menjejak pada yang lama dan tak memulainya dari “ruang kosong”.

Disiplin ilmu mantiq (logika) bahkan punya rumusan baku berbau teologis dalam mengartikan makhluk: al-alam mutaghayyir (alam/makhluk senantiasa berubah), wakullu mutaghayyir haditsun (setiap yang berubah adalah baharu), yuntiju al-alam haditsun (simpulan: alam/makhluk adalah baharu). Walhasil, kaum santri tak perlu gagap dengan tuntutan perubahan. Yang perlu dilakukan adalah senantiasa menempa diri agar tidak tergerus dalam arus perubahan, dengan jurus mengonservasi warisan bihari dan berinovasi dengan berabagai ekspresi baharu. Nasidaria, sejak jauh-jauh hari telah menentukan garis demarkasi kemoderenan dan puncak perubahan dalam angka tahun 2000 dan memberikan tips dalam menghadapi modernitas. Simaklah nasihat mereka:

Wahai pemuda remaja
Sambutlah tahun 2000
Penuh semangat
Dengan bekal ketrampilan,
Serta ilmu dan iman
Bekal ilmu dan iman


Wallahu a’lam bish shawab.

Tulisan Terkait (Edisi Pakaian)

Populer

IKLAN BARIS