• Ikuti kami :

Sampah Nuklir dan Keangkuhan Manusia Modern

Dipublikasikan Selasa, 07 Maret 2017 dalam rubrik  Perbendaharaan Lama

Pascarevolusi industri di Inggris, manusia-manusia di sebagian belahan bumi merasa bahwa sudah saatnya kendali seluruh alam berada dalam genggaman mereka. Alam dalam pandangan manusia-manusia yang euforia terhadap revolusi industri dan fordisme adalah objek yang harus ditundukkan demi kepentingan diri sebesar-besarnya, seluas-luasnya, dan sesuka-sukanya. Teknologi dan hasil darinya menjadi penentu tingkat kebahagiaan manusia modern.

Alih-alih demikian, manusia modern pada akhir abad ke-19 mulai tersadar mengenai dampak dari hasil reka cipta teknologi mereka. Beragam benda hasil teknologi merajai hidup masyarakat modern, termasuk di dalamnya segala benda berbahan plastik dan nuklir. Pada tahun 1980-an, mulai terasa dampak darinya. Beragam benda bekas dari plastik dan yang berurusan dengan radioaktif mulai menumpuk sebagai sampah. Sudah bekas pakai, harus segera dibuang.

Bagaimana cara membuangnya dan mau dibuang ke mana sampah-sampah plastik dan nuklir itu? Membuangnya di tengah-tengah lingkungan mereka hidup jelas terasa bahayanya. Soal membuang sampah ini memang menjadi persoalan kala itu. Sampai-sampai NASA, sebuah lembaga antariksa Pemerintah Amerika Serikat, harus ikut urun rembuk memikirkannya. Lembaga yang tugas aslinya mengurus orang-orang untuk menyambangi Bulan, Mars, Jupiter, dan planet-planet antariksa lainnya itu ikut-ikutan ambil tanggung jawab soal sampah-sampah ini. Rencananya, sampah-sampah yang berbahaya ini, khususnya sampah radioaktif, akan dibuang ke luar angkasa—tapi urung karena banyak kendala.  

Majalah Panji Masyarakat Nomor 346, 1 Januari 1982, halaman 28-29, memat tulisan tentang hal ini. Dari tulisan itu, terlihat dilema yang dihadapi  NASA dan pakar-pakar antariksa kalau sampah-sampah tersebut dibuang keluar bumi. Itulah, semua karena manusia-manusia modern yang kurang mampu berpikir tentang akibat, hanya melulu berbicara mengenai capaian teknologi atas nama kemajuan.

Namun, sekarang manusia modern cukup banyak yang belajar dari kesalahan itu. Mereka mulai memikirkan teknologi-teknologi yang tanggap terhadap kehidupan alam. Istilah masa kininya, teknologi yang ramah lingkungan. Kesadaran ini menghasilkan benda-benda yang juga ramah lingkungan. Tidak main-main, untuk soal ini dibuatkan standar sendiri untuk sebuah produk: eco-labelling.

***

Mendeteksi Sampah Nuklir di Angkasa

Bahan-bahan buangan yang ada dipecahkan tempat sampahnya untuk dihancurkan atau dilenyapkan secara aman dan efektif di atas bumi sekarang ini berupa bahan-bahan plastik dan kimiawi dari berbagai jenis, termasuk senjata kimia yang destruktif itu. Bentuk-bentuk yang potensial membahayakan kehidupan manusia akan dibakar atau diledakkan bila mungkin. Tapi problem yang paling jelek dan mengkhawatirkan ialah sampah buangan dari produk-produk sisa atom atau nuklir, yang kebanyakan berasal dari pusat-pusat reaktor nuklir yang masih beroperasi untuk kepentingan industri berat, riset ilmiah, proyek militer, pengobatan medis, dan pembangkit tenaga listrik.

Produk-produk sampah nuklir ini sangat radioaktif dan sebenarnya berlangsung selamanya! Sampai kini sampah-sampah itu disimpan dalam tambang-tambang sedalam puluhan meter dan di dasar lautan luas yang dimasukkan dalam kotak-kotak timbal (Pb), dengan harapan kita tidak akan melihat lagi dan melupakan mereka sama sekali. Tapi cepat atau lambat, sampah-sampah yang "terlupakan" itu akan datang mengunjungi kita kembali dalam berbagai cara yang tidak dapat diramalkan sekarang! Bahkan sekalipun mereka tidak "muncul", tapi pengelolaan reaktor nuklir yang kontinu dan semakin luas itu tetap akan menghasilkan lebih banyak sampah nuklir, dan bahkan semakin sulit untuk menyembunyikan dan melupakannya!

Menghantam Matahari
Para sarjana fisika nuklir, lingkungan, biologi, dan angkasa telah mengajukan konsep baru untuk membuang sampah-sampah yang masih membahayakan ini ke dalam ruang angkasa yang jauh dari planet bumi yang berpenghuni. Setidaknya banyak macam tempat di dalam lingkungan tata surya ini di mana sampah-sampah radioaktif ini dapat ditempatkan ke dalam orbit stabil yang aman di sekeliling matahari sendiri atau planet-planet terutama planet Merkurius dan Venus. NASA telah membuat proyek studi yang ketat terhadap kemungkinan baru ini mulai tahun 1978 lalu dan menemukan bahwa cara itu dapat dilaksanakan. Tehnik ini dianggap sebagai bentuk lebih maju untuk menyembunyikan di mana tidak dapat tertampak.

Mereka juga memikirkan bahwa penerbangan-penerbangan berawak dalam waktu dekat ini di lingkungan tata surya menjadi semakin sering. Dan ini semakin menjadikan kecemasan yang bertambah untuk menghindari "daerah-daerah tercemar sampah nuklir" tertentu di angkasa luar! Sebab mereka masih tetap dalam orbit-orbit yang relatif stabil dan tenang-tenang saja. Entah mereka dalam orbit sekitar pkanet-planet dalam (Venus dan Merkurius) atau planet-planet luar mulai Mars sampai paling pinggir Pluto. Segi kecemasan yang sangat juga diperhitungkan selama sampah-sampah radioaktif itu masih ada "terbuka" di atas bumi ialah kebolehjadian dapat disalahgunakan oleh para teroris-teroris internasional.

Pemecahan yang paling baik tampaknya ialah melemparkannya ke dalam bintang-bintang kita sendiri sejauh 149,5 juta KM dari bumi. Di sini tidak timbul problem serius terhadap kemungkinan munculnya kembali di depan kita termasuk penerbangan antarplanet. Sebab matahari kita sangat besar dan panas sehingga segala sesuatunya akan diperlemah dan dipecah-hancurkan menjelang mendekatinya, dan kita dapat melupakan selamanya dengan tentram untuk beberapa generasi kita berikutnya. Memang untuk mengirim sejumlah besar sampah-sampah ini diperlukan tenaga dorong yang tinggi ke arah matahari. Bayangkan roket terbesar Saturn V harus menyemburkan tenaga dorong 7,5 juta pon untuk melontarkan muatan Apollo seberat 45 ton dan lepas dari gravitasi bumi menuju bulan itu.

Di samping itu sarjana-sarjana NASA mempertimbangkan tenaga nuklir residu dalam bahan-bahan buangan itu dapat dimanfaatkan lagi untuk memproduksi tenaga dorong nuklir untuk penerbangan antarplanet menuju Matahari sebelum menghantamnya dan hancur punah sama sekali! Tehnik ini berarti bahwa "sampah buangan membawa sendiri ke dalam bak sampah"! Jadi roket pembawanya tidak membutuhkan tameng pelindung radiasi nuklir ataupun memperhitungkan efisiensi bahan bakarnya! Bahkan hanya memerlukan sistem navigasi saja cukup untuk menghantam Matahari dan menghindari serempetan dengan kedua planet Venus dan Merkurius, dalam lintasan itu. Roket sampah ini dapat meledak hancur sebelum mengenainya atau benar-benar berhasil menyentuhnya dan meledak hebat akibat panas radiasi termonuklir Matahari.

Sebagai Komunikasi Nuklir
Kini timbul pertanyaan yang menarik, terutama bagi sarjana-sarjana exobiologi dan astronomi yang berminat menemukan kehidupan mahluk cerdas dan beradab di langit. Misalnya, suatu masyarakat cerdas (ETI) telah membuang sampah radioaktfinya ke dalam bintang induknya sendiri untuk waktu lama. Apakah terjadi efek pada bintang ini yang dapat diamati dari jarak puluhan tahun cahaya dari bumi? Singkatnya, dapatkah kita mendeteksi masyarakat ETI dengan menemukan tumpukan sampah nuklir semacam itu yang diledakkan pada bintang induknya sendiri? Jawabnya: Ya.

Dua sarjana Universitas Soutwestern, Lousiana, Dr. Daniel Whitmire dan Dr. David Wright telah menyelidiki persoalan ini secara terperinci, yang dinyatakan April 1980 lalu. Mereka berpendapat bahwa antara 1 dan 10 pct dari suplai uranium di atas Bumi dapat dikonversikan menjadi produk-produk sampah nuklir dan dilemparkan hancur ke suatu bintang mirip Matahari, maka hantaman itu menghasilkan anomali-anomali yang dapat diamati jelas dalam spektrum optis dari bintang yang bersangkutan! Khususnya emisi-emisi garis dari unsur jarang praseodimium (Pr) akan menjadi lebih kuat daripada normal. Efek ini dapat dideteksi oleh teleskop-teleskop optik sensitif sampai sejauh bintang itu sendiri dapat terlihat! Bahkan efek-efek optis ini berlangsung ribuan juta tahun setelah pembuangan sampah itu berhenti dilakukan oleh masyarakat ETI. Dan masih dapat diamati jauh setelah ETI ini telah punah. Secara tidak langsung, metoda paling murah ini memudahkan komunikasi antar masyarakat-masyarakat ETI lainnya bahwa jauh di sana ada mahluk lain yang sedang mengirim berita.

Tapi kenyataannya ada beberapa komplikasi dalam memilih suatu bintang semacam itu. Sebabnya, bintang ini harus termasuk tipe yang tidak memiliki proses pencampuran reaksi internal yang kuat. Ini kritis bahwa sampah-sampah nuklir yang dilemparkan ke dalam bintang itu tetap berada dekat permukaannya, dan tidak akan diperlemah radioaktifitetnya di dalam interior bintang itu. Peristiwa ini menghalangi pemilihan bintang yang tepat dan sesuai dan akhirnya pilihan jatuh pada jenis Matahari kita. Sebaliknya bintang-bintang mirip Matahari kita itu sangat banyak di langit (kelas spektral G-5) dan di antara mereka sangat mungkin mengadakan proses evolusi kehidupan mahluk.

Sekiranya suatu masyarakat ETI dapat memilih meluncurkan sampah-sampah radioaktifnya ke dalam bintang dekat yang cocok untuk pembuangan itu daripada bintang induknya sendiri, berarti ETI punya keuntungan untuk mengadakan komunikasi mengirim berita gratis ini! Diperhitungkan oleh kedua sarjana Lousiana, Whitmire dan Wright, bahwa tenaga dorong untuk membuang sampah ke bintang-bintang dekat, relatif lebih rendah daripada tenaga untuk melemparkannya ke Matahari, tapi waktu dan sistem navigasi untuk tujuan ini lebih rumit dan besar. Kedua sarjana selanjutnya menyatakan bahwa kita di bumi seharusnya mulai pencarian segala anomali spektrum bintang semacam ini yang dipancarkan oleh semua bintang-bintang yang sesuai dan kita ketahui sampai sekarang. Jarak bintang-bintang mulai dari radius 10, 30, 50 sampai 100 tahun cahaya dari kita. Bila sebagian bintang itu kita temukan anomali mereka, maka mereka harus melakukan pengamatan-pengamatan intensif pada semua panjang gelombang spektral dan berikutnya pada frekwensi-frekwensi radio untuk tujuan komunikasi antar masyarakat ETI.
(BURHAN)

***

Semesta alam, termasuk bumi, adalah milik Allah, bukan milik manusia. Kita manusia hanya diberikan wewenang untuk mengelola, merawat, dan menjaganya dengan baik. Pengelolaan, perawatan, dan penjagaan itu dilakukan demi kebaikan manusia dan sekaligus kebaikan alam.

Soal bumi dan alam semesta ini dipandang sebagai sesuatu yang suci dalam Islam; tidak suci dengan sendirinya, tetapi ia menjadi suci karena terkait dengan Yang Mahasuci. Alam semesta adalah ayat, penanda akan adanya Dia Yang Mahaagung. Dalam tradisi Islam, alam semesta ini disebut dengan ayat kawniyah.

Kemudian pula, menjaga, mengelola, dan merawat alam adalah bentuk penyembahan manusia kepada Yang Mahasuci. Bentuk penyembahan ini diwakili oleh kata ibadah. Memahami alam sebagai ayat, sebagai penanda akan sosok yang ditunjukkan oleh tanda itu, membuat manusia memiliki keinsyafan tinggi akan Dia Yang Mahaagung.

Mengisi bumi memang tugas kita. Tugas yang dilimpahkan Allah kepada makhluk kecil yang bernama manusia. Ini bukan tugas yang main-main. Gunung tidak mau menyanggupi tugas ini, hanya manusia yang menanggapinya. Maka mengisi bumi adalah peribadatan kita kepada Allah Yang Mahaagung dan Suci.

Boleh disimpulkan, urusan merawat, menjaga, dan mengelola bumi dan seisinya itu tidak semata terkait dengan hidup saat ini. Ia juga berkait dengan hidup yang akan datang, di alam akan datang. Urusan ini nantinya akan berkenaan dengan akhirat, dan kita akan mempertanggungjawabkannya di sana, di sebuah pengadilan yang paling adil.

Maka, berpantanglah kita untuk mengotori bumi dan alam semesta ini dengan sampah-sampah yang berbahaya. Berpantanglah kita dari yang semacam itu.

Tulisan Terkait (Edisi Alam)

Populer

IKLAN BARIS