• Ikuti kami :

Sains dan Falsafah Alam: Selayang Pandang Dialektika antar Peradaban (Islam dan Barat)

Dipublikasikan Selasa, 28 Februari 2017 dalam rubrik  Tafakur

Harus diakui, bahwa filsafat Yunani memang memberikan sumbangan terhadap peradaban Islam. Para pemikir Muslim seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina, al-Biruni, al-Khawarizmi, al-Ghazali, Ibnu Rushd, Ibn Haytham, Fakhruddin ar-Razi, dan para pemikir Muslim lainnya ialah para pembaca filsuf-filsuf masyhur Yunani. Namun Muslim bukanlah pembaca pasif, mereka telah memberi tanggapan kritis terhadap filsafat Yunani, khususnya pemikiran Plato dan Aristoteles.

Karya-karya Plato, Aristoteles, dan pemikir Yunani lain memang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Baytul Hikmah, institusi ilmiah yang didirikan di Baghdad oleh Khalifah Harun ar-Rasyid (170-193/786-809). Baytul Hikmah merupakan institusi ilmiah yang memiliki perpustakaan, lembaga penerjemahan, dan pusat penelitian. Lembaga ini mencapai kejayaannya pada kekhalifahan al-Ma’mun (198-218/813-833). Ribuan karya dari berbagai peradaban diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Merentang dari karya-karya filsafat, sains, logika, matematika, fisika, metafisika, kedokteran, astronomi, dan berbagai bidang ilmu lainnya.

Kitab-kitab filsafat Yunani termasuk yang mendapat perhatian khusus dari lembaga ini. Hunayn ibn Ishaq menerjemahkan sekitar 116 naskah filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab. Sementara Al-Kindi berfokus menerjemahkan berbagai karya filsafat Aristoteles. Tak heran jika peradaban Islam ketika itu penuh dengan terjemahan falsafah Yunani. Muslim menjadi terbiasa dengan karya-karya falsafah tersebut. Filsafat dan sains Yunani dipelajari oleh para pemikir Muslim secara mendalam.

Terkadang materi-materi tertentu dalam filsafat begitu susah sekali bagi mereka. Ibnu Sina, misalnya, pernah mengatakan:

“Setelah menguasai Logika, Fisika, dan Matematika, aku sekarang sampai kepada Metafisika. Aku telah membaca Metafisika Aristoteles tetapi tidak paham apa yang terkandung dan aku bingung maksud pengarang sekalipun aku kembali mengulang membaca hingga 40 kali dan akhirnya aku menghafalnya. Walaupun begitu, aku masih tidak memahami apa yang dimaksudkan dengan itu.... Kemudian aku membeli buku al-Farabi tentang Tujuan Metafisika. Aku pulang ke rumah dan bergegas membacanya, (setelah membacanya) tujuan buku Metafisika itu langsung tersingkap kepadaku.”

Kesusahan tersebut pada akhirnya dapat diatasi dengan kerja keras, ketekunan, dan konsistensi. Muslim pada akhirnya mampu memahami falsafah Yunani. Tak hanya mampu menguasainya, tetapi kemudian kaum Muslim memberikan beragam komentar kritis terhadapnya. Para pemikir Muslim juga tidak bersikap pasif dalam mempelajari filsafat dan sains Yunani kuno. Tidak semua konsep yang ditawarkan para filosof dan saintis Yunani kuno diterima begitu saja.

Ibnu Sina menyatakan:

There is nothing of account to be found in the books of the ancients which we did not include in this book of ours.... To this, I added some of the things which I percieved through my own reflection and whose Validity I Determined through my own theoretical analysis, especially in Physics and Metaphysics—and even in Logic....1

Profesor George Sarton dari Universitas Harvard, seorang sejarawan sains terkemuka, menyatakan:

“I must insist on the fact that, though a major part of the activity of Arabic writing scholars consisted in the translation of Greek works and their assimilation, they did far more than that. They did not simply transmit ancient knowledge, they created a new one…. However, a few Greeks had reached, almost suddenly, extraordinary heights. That is what we call the Greek miracle. But one might speak also, though in difference sense, of an Arabic miracle. The creation of a new civilization of international and encyclopaedic magnitude within less than two centuries is something that we can describe, but not completely explain.” 2

Muslim telah memiliki cara pandangnya sendiri terhadap wujud dan kebenaran. Wahyu ialah pegangan utama kaum Muslim sepanjang abad-abad. Dengan pandangan yang berasal dari wahyu itulah Muslim menimbang dan menakar falsafah Yunani. Beberapa gagasan dari filsuf Yunani mereka modifikasi atau diteroka dari cara pandang Islam. Bahkan para pemikir muslim tak segan menolak berbagai ide Yunani yang dianggap bertentangan dengan ajaran agamanya.

Dialektika antara peradaban semacam ini telah melahirkan beragam pemikiran dan disiplin keilmuan dalam tradisi dan sejarah Islam. Karya-karya luhung dalam berbagai bidang hadir disertai kelahiran berbagai cendekia dan ahli yang mampu mengguar berbagai ilmu. Penemuan-penemuan baru dalam berbagai bidang ilmu bermunculan seiring makin tingginya budaya ilmu di kalangan kaum Muslim. Peradaban Islam ketika itu subur dengan beragam karya ilmiah yang amat penting bagi perkembangan dunia.

Dalam matematika, khususnya aljabar, al-Khawarizmi menulis Aljabr wal Muqabalah. Sementara al-Karkhi (1020) menulis al-Kafi fil Hisab, sebuah kitab tentang artimatika. Al-Battani (850-929) ialah seorang ahli trigonometri, ilmu yang sangat penting bagi astronomi. Ia menulis tentang umbra extensa dan umbra versa (cotangents dan tangents). Karyanya kemudian diterjemahkan ke bahasa Latin dengan judul De Sceintia and De Numeris Stellarum et Motibus (Mengenai Sains dan Jumlah Bintang dan Pergerakannya). Saintis Muslim lainnya dalam bidang matematika adalah al-Biruni yang juga dikenal sebagai perintis ilmu trigonometri modern.

Dalam astronomi, kepakaran sarjana Muslim juga tidak diragukan. Ibn al-Shatir, misalnya, menulis Rasd Ibn Shatir (Observatorium Ibn Shatir). Pengaruh karyanya kepada Copernicus sangat menarik untuk dikaji lebih mendalam. Dalam optika, Ibn Haytham (965-1039) menulis Kitab al-Manazir (Buku Tentang Cermin). Karyanya ini sangat menyumbang bagi penemuan teleskop di awal masa modern Barat.

Dalam bidang Filsafat Alam para pemikir muslim ramai membahas persoalan ini dari berbagai perspektif. Salah satu di antarnya ialah Ibnu Sina yang menulis al-Hikmah al-Mashriqiyyah, Uyunul Hikmah, as-Shifa, an-Najah, dan al-Isyarat wa at-Tanbihat. Dalam karya-karya tersebut Ibnu Sina banyak memberi komentar mendalam terhadap Filsafat Alam Aristoteles. Ilmuan lain, Imam al-Ghazali, menulis Tahafut al-Falasifah yang menolak gagasan metafisika dan beberapa konsep fisika Aristoteles. Berbeda dengan al-Ghazali, Ibnu Rushd menulis Tahafut at-Tahafut yang mengomentari pemikiran Aristoteles dan menolak tafsiran Ibnu Sina atas Aristoteles. Ibnu Rushd menulis berbagai karya yang mengomentari logika, fisika, dan metafisika Aristoteles. Karena itu ia dijuluki Komentator Terkemuka Aristoteles. Sementara Fakhruddin ar-Razi menulis kitab al-Matalib al- Aliyah min al-Ilmil Ilahi, Sharh al-Isyarat wa at-Tanbihat, Sharh al-Qanun fit Tibb, Sharh Uyunil Hikmah, dan ribuan karya monumental lainnya. Kajian filsafat sungguh subur di dunia Muslim pada ketika itu.

Persoalan dalam kajian Filsafat Alam di dunia Muslim pada akhirnya membawa para pemikir kepada persoalan: Bagaimana Alam bermula? Pada titik inilah perbincangan falsafah nan mendalam menghiasi peradaban Islam. Ibn Sina, yang terpengaruh pemikiran Aristoteles, berpendapat bahwa alam ialah azali. Pendapat ini kemudian dikritik oleh Imam al-Ghazali. Al-Ghazali menulis Tahafut al-Falasifah, di dalam kitab ini beliau menolak pengaruh metafisika dan beberapa gagasan Aristoteles tentang alam. Dapat dikatakan, Imam al-Ghazali menolak filsafat Aristotelian. Khususnya pada 3 masalah utama, yaitu: alam adalah azali, Tuhan tidak mengetahui partikular dan tidak ada kebangkitan jasmani di akhirat. Selain itu, al-Ghazali menolak kausalitas yang dikemukakan oleh Aristotelian.

Mengomentari pemikiran al-Ghazali, Ibn Rusyd menulis Tahafut at-Tahafut. Dalam karyanya ini, Ibn Rusyd menjelaskan kesalahpahaman beberapa pemikir mengenai apa yang sebenarnya dimaksud oleh Aristoteles. Bagi Ibn Rusyd, Ibn Sina keliru memahami Aristoteles dan itu juga yang menjadi salah satu sebab kritik Imam al-Ghazali kepadanya. Bagi Ibn Rushd, beberapa pendapat Ibn Sina dan al-Ghazali  perlu dikritisi.

Banyaknya karya para filosof Muslim dalam filsafat alam akhirnya membawa pengaruh kepada Renaissance dalam peradaban Barat modern. Pemikiran saintis modern Barat, Johannes Kepler, Roger Bacon, Galileo Galilei, Newton, dan lainnya tidak terlepas dari sumbangan karya-karya para filosof Muslim.

Pemikiran para sarjana Muslim sebenarnya merupakan mutiara yang tak ternilai harganya, termasuk bagi peradaban Barat. Di antara mutiara tersebut adalah filsafat non-Aristotelian. Gagasan mengenai atom, misalnya, merupakan pemikiran yang umum di kalangan mutakallimun. Hampir semua mutakallimun berpendapat bahwa jika suatu benda dibagi terus menerus, maka ia akan menemui akhirnya. Ada satu titik di mana benda itu tak dapat dibagi lagi. Konsep ini bertentangan dengan gagasan Aristoteles yang berpendapat bahwa suatu benda selalu dapat dibagi tanpa akhir.

Pada masa Yunani pun terdapat filsuf yang berbeda pandangan dengan Aristoteles mengenai hal ini, di antaranya ialah Leucippus dan Democritus. Meski demikian, konsep atom dalam tradisi pemikiran Islam juga berbeda dengan konsep atom Leucippus dan Democritus. Selain mengenai keterbagian dan ketakterbagian benda, filsuf Muslim juga membahas masalah Tuhan, alam, waktu, ruang, gerak, materi, sebab-akibat, dan berbagai konsep lainnya.

Filsafat non-Aristotelian telah subur di dunia Muslim pada abad ke-11, 12, 13, dan 14. Al-Kindi, Imam al-Ghazali, Fakhruddin ar-Razi, dan para mutakallimun menolak teori penciptaan alam model Aristoteles. Al-Ghazali menolak konsep Tuhan dan konsep sebab-akibat Aristoteles. Fakhruddin ar-Razi menolak metafisika dan fisika Aristoteles yang mencakup konsep Tuhan, alam, waktu, ruang, materi, gerak, dan beberapa gagasan lainnya. Muslim tak hanya menerima dan membaca gagasan Aristoteles tetapi juga mengkritik dan bahkan melahirkan pandangan lain yang sama sekali berbeda. Hal ini telah terejawantah dalam ribuan karya.

Ribuan karya para pemikir Muslim tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Terjemahan tersebut dikaji, diteliti, diadopsi, dan dimodifikasi oleh kalangan Barat. Ini lah yang menjadi pemicu dan pemacu zaman pencerahan Barat, yang kemudian dikenal dengan zaman modern. Kemodernan Barat sebenarnya amat bergantung pada sumbangan peradaban Islam.

__________________________________

1 Dikutip dari Dimitri Gutas, Avicenna and The Aristotelian Tradition, Introduction to Reading Avicenna’s Philosophical Works, 238.
2 Ali Abdullah al-Daffa, The Muslim Contribution to Mathematics (New York: Humanities Press, 1977), 11.

Tulisan Terkait (Edisi Alam)

Populer

IKLAN BARIS